Saturday, 4 June 2011

Asal mula Danau Silosung dan Sipinggan

Alkisah, pada zaman
dahulu di daerah
Silahan, Tapanuli
Utara, hiduplah
sepasang suami-istri
yang memiliki dua
orang anak laki-laki.
Yang sulung bernama
Datu Dalu, sedangkan
yang bungsu bernama
Sangmaima. Ayah
mereka adalah
seorang ahli
pengobatan dan jago
silat. Sang Ayah ingin
kedua anaknya itu
mewarisi keahlian
yang dimilikinya. Oleh
karena itu, ia sangat
tekun mengajari
mereka cara meramu
obat dan bermain silat
sejak masih kecil,
hingga akhirnya
mereka tumbuh
menjadi pemuda yang
gagah dan pandai
mengobati berbagai
macam penyakit.
Pada suatu hari, ayah
dan ibu mereka pergi
ke hutan untuk
mencari tumbuhan
obat-obatan. Akan
tetapi saat hari sudah
menjelang sore,
sepasang suami-istri
itu belum juga
kembali. Akhirnya,
Datu Dalu dan
adiknya memutuskan
untuk mencari kedua
orang tua mereka.
Sesampainya di hutan,
mereka menemukan
kedua orang tua
mereka telah tewas
diterkam harimau.
Dengan sekuat tenaga,
kedua abang-adik itu
membopong orang
tua mereka pulang ke
rumah. Usai acara
penguburan, ketika
hendak membagi
harta warisan yang
ditinggalkan oleh
orang tua mereka,
keduanya baru
menyadari bahwa
orang tua mereka
tidak memiliki harta
benda, kecuali sebuah
tombak pusaka.
Menurut adat yang
berlaku di daerah itu,
apabila orang tua
meninggal, maka
tombak pusaka jatuh
kepada anak sulung.
Sesuai hukum adat
tersebut, tombak
pusaka itu diberikan
kepada Datu Dalu,
sebagai anak sulung.
Pada suatu hari,
Sangmaima ingin
meminjam tombak
pusaka itu untuk
berburu babi di hutan.
Ia pun meminta ijin
kepada abangnya.
“Bang, bolehkah aku
pinjam tombak pusaka
itu ?”
“Untuk keperluan apa,
Dik?”
“Aku ingin berburu
babi hutan.”
“Aku bersedia
meminjamkan tombak
itu, asalkan kamu
sanggup menjaganya
jangan sampai hilang. ”
“Baiklah, Bang! Aku
akan merawat dan
menjaganya dengan
baik. ”
Setelah itu,
berangkatlah
Sangmaima ke hutan.
Sesampainya di hutan,
ia pun melihat seekor
babi hutan yang
sedang berjalan
melintas di depannya.
Tanpa berpikir
panjang,
dilemparkannya
tombak pusaka itu ke
arah binatang itu.
“ Duggg…!!!” Tombak
pusaka itu tepat
mengenai
lambungnya.
Sangmaima pun
sangat senang, karena
dikiranya babi hutan
itu sudah roboh.
Namun, apa yang
terjadi? Ternyata babi
hutan itu melarikan
diri masuk ke dalam
semak-semak.
“Wah, celaka! Tombak
itu terbawa lari, aku
harus mengambilnya
kembali, ” gumam
Sangmaima dengan
perasaan cemas.
Ia pun segera
mengejar babi hutan
itu, namun
pengejarannya sia-sia.
Ia hanya menemukan
gagang tombaknya di
semak-semak.
Sementara mata
tombaknya masih
melekat pada
lambung babi hutan
yang melarikan diri itu.
Sangmaima mulai
panik.
“Waduh, gawat!
Abangku pasti akan
marah kepadaku jika
mengetahui hal ini, ”
gumam Sangmaima.
Namun, babi hutan itu
sudah melarikan diri
masuk ke dalam
hutan. Akhirnya, ia
pun memutuskan
untuk kembali ke
rumah dan
memberitahukan hal
itu kepada Abangnya.
“Maaf, Bang! Aku
tidak berhasil menjaga
tombak pusaka milik
Abang. Tombak itu
terbawa lari oleh babi
hutan, ” lapor
Sangmaima.
“Aku tidak mau tahu
itu! Yang jelas kamu
harus mengembalikan
tombok itu, apa pun
caranya, ” kata Datu
Dalu kepada adiknya
dengan nada kesal. ”
Baiklah, Bang! Hari ini
juga aku akan
mencarinya, ” jawab
Sangmaima.
“Sudah, jangan
banyak bicara! Cepat
berangkat !” perintah
Datu Dalu.
Saat itu pula
Sangmaima kembali
ke hutan untuk
mencari babi hutan
itu. Pencariannya kali
ini ia lakukan dengan
sangat hati-hati. Ia
menelesuri jejak kaki
babi hutan itu hingga
ke tengah hutan.
Sesampainya di tengah
hutan, ia menemukan
sebuah lubang besar
yang mirip seperti gua.
Dengan hati-hati, ia
menyurusi lubang itu
sampai ke dalam.
Alangkah terkejutnya
Sangmaima, ternyata
di dalam lubang itu ia
menemukan sebuah
istana yang sangat
megah.
“Aduhai, indah sekali
tempat ini,” ucap
Sangmaima dengan
takjub.
“Tapi, siapa pula
pemilik istana ini?”
tanyanya dalam hati.
Oleh karena
penasaran, ia pun
memberanikan diri
masuk lebih dalam
lagi. Tak jauh di
depannya, terlihat
seorang wanita cantik
sedang tergeletak
merintih kesakitan di
atas pembaringannya.
Ia kemudian
menghampirinya, dan
tampaklah sebuah
mata tombak
menempel di perut
wanita cantik itu.
“ Sepertinya mata
tombak itu milik
Abangku, ” kata
Sangmaima dalam
hati. Setelah itu, ia pun
menyapa wanita
cantik itu.
“Hai, gadis cantik!
Siapa kamu?” tanya
Sangmaima.
“Aku seorang putri
raja yang berkuasa di
istana ini. ”
“Kenapa mata tombak
itu berada di
perutmu ?”
“Sebenarnya babi
hutan yang kamu
tombak itu adalah
penjelmaanku. ”
“Maafkan aku, Putri!
Sungguh aku tidak
tahu hal itu. ”
“Tidak apalah, Tuan!
Semuanya sudah
terlanjur. Kini aku
hanya berharap Tuan
bisa menyembuhkan
lukaku. ”
Berbekal ilmu
pengobatan yang
diperoleh dari
ayahnya ketika masih
hidup, Sangmaima
mampu mengobati
luka wanita itu dengan
mudahnya. Setelah
wanita itu sembuh
dari sakitnya, ia pun
berpamitan untuk
mengembalikan mata
tombak itu kepada
abangnya.
Abangnya sangat
gembira, karena
tombak pusaka
kesayangannya telah
kembali ke tangannya.
Untuk mewujudkan
kegembiraan itu, ia
pun mengadakan
selamatan, yaitu pesta
adat secara besar-
besaran. Namun
sayangnya, ia tidak
mengundang adiknya,
Sangmaima, dalam
pesta tersebut. Hal itu
membuat adiknya
merasa tersinggung,
sehingga adiknya
memutuskan untuk
mengadakan pesta
sendiri di rumahnya
dalam waktu yang
bersamaan. Untuk
memeriahkan
pestanya, ia
mengadakan
pertunjukan dengan
mendatangkan
seorang wanita yang
dihiasi dengan
berbagai bulu burung,
sehingga menyerupai
seekor burung Ernga.
Pada saat pesta
dilangsungkan, banyak
orang yang datang
untuk melihat
pertunjukkan itu.
Sementara itu, pesta
yang dilangsungkan di
rumah Datu Dalu
sangat sepi oleh
pengunjung. Setelah
mengetahui adiknya
juga melaksanakan
pesta dan sangat
ramai pengunjungnya,
ia pun bermaksud
meminjam
pertunjukan itu untuk
memikat para tamu
agar mau datang ke
pestanya.
“Adikku! Bolehkah aku
pinjam pertunjukanmu
itu ?”
“Aku tidak keberatan
meminjamkan
pertunjukan ini,
asalkan Abang bisa
menjaga wanita
burung Ernga ini
jangan sampai hilang.”
“Baiklah, Adikku! Aku
akan menjaganya
dengan baik. ”
Setelah pestanya
selesai, Sangmaima
segera mengantar
wanita burung Ernga
itu ke rumah
abangnya, lalu
berpamitan pulang.
Namun, ia tidak
langsung pulang ke
rumahnya, melainkan
menyelinap dan
bersembunyi di langit-
langit rumah
abangnya. Ia
bermaksud menemui
wanita burung Ernga
itu secara sembunyi-
sembunyi pada saat
pesta abangnya
selesai.
Waktu yang ditunggu-
tunggu pun tiba. Pada
malam harinya,
Sangmaima berhasil
menemui wanita itu
dan berkata:
“Hai, Wanita burung
Ernga! Besok pagi-pagi
sekali kau harus pergi
dari sini tanpa
sepengetahuan
abangku, sehingga ia
mengira kamu hilang. ”
“Baiklah, Tuan!” jawab
wanita itu.
Keesokan harinya,
Datu Dalu sangat
terkejut.
Wanita burung Ernga
sudah tidak di
kamarnya. Ia pun
mulai cemas, karena
tidak berhasil menjaga
wanita burung Ernga
itu. “Aduh, Gawat!
Adikku pasti akan
marah jika mengetahui
hal ini, ” gumam Datu
Dalu. Namun, belum
ia mencarinya, tiba-
tiba adiknya sudah
berada di depan
rumahnya.
“Bang! Aku datang
ingin membawa
pulang wanita burung
Ernga itu.
Di mana dia?” tanya
Sangmaima pura-pura
tidak tahu.
“Maaf Adikku! Aku
telah lalai, tidak bisa
menjaganya. Tiba-tiba
saja dia menghilang
dari kamarnya, ” jawab
Datu Dalu gugup.
“Abang harus
menemukan burung
itu, ” seru Sangmaima.
“Dik! Bagaimana jika
aku ganti dengan
uang ?” Datu Dalu
menawarkan.
Sangmaima tidak
bersedia menerima
ganti rugi dengan
bentuk apapun.
Akhirnya pertengkaran
pun terjadi, dan
perkelahian antara
adik dan abang itu
tidak terelakkan lagi.
Keduanya pun saling
menyerang satu sama
lain dengan jurus yang
sama, sehingga
perkelahian itu
tampak seimbang,
tidak ada yang kalah
dan menang.
Datu Dalu kemudian
mengambil lesung lalu
dilemparkan ke arah
adiknya. Namun sang
Adik berhasil
menghindar, sehingga
lesung itu melayang
tinggi dan jatuh di
kampung Sangmaima.
Tanpa diduga, tempat
jatuhnya lesung itu
tiba-tiba berubah
menjadi sebuah
danau. Oleh
masyarakat setempat,
danau tersebut diberi
nama Danau Si
Losung.
Sementara itu,
Sangmaima ingin
membalas serangan
abangnya. Ia pun
mengambil piring lalu
dilemparkan ke arah
abangnya. Datu Dalu
pun berhasil
menghindar dari
lemparan adiknya,
sehingga piring itu
jatuh di kampung
Datu Dalu yang pada
akhirnya juga menjadi
sebuah danau yang
disebut dengan Danau
Si Pinggan.
Demikianlah cerita
tentang asal-mula
terjadinya Danau Si
Losung dan Danau Si
Pinggan di daerah
Silahan, Kecamatan
Lintong Ni Huta,
Kabupaten Tapanuli
Utara.
Cerita di atas
termasuk ke dalam
cerita rakyat teladan
yang mengandung
pesan-pesan moral.
Ada dua pesan moral
yang dapat diambil
sebagai pelajaran,
yaitu agar tidak
bersifat curang dan
egois.
- sifat curang. Sifat ini
tercermin pada sifat
Sangmaima yang telah
menipu abangnya
dengan menyuruh
wanita burung Ernga
pergi dari rumah
abangnya secara
sembunyi-sembunyi,
sehingga abangnya
mengira wanita
burung Ernga itu
hilang. Dengan
demikian, abangnya
akan merasa bersalah
kepadanya.
- sifat egois. Sifat ini
tercermin pada
perilaku Sangmaima
yang tidak mau
memaafkan abangnya
dan tidak bersedia
menerima ganti rugi
dalam bentuk apapun
dari abangnya.

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.