Pernikahan Adat Batak
PENGANTAR
Pada dasarnya, Adat
Perkawinan Adat
Batak, mengandung
nilai sakral. Dikatakan
sakral karena dalam
pemahaman
perakwainan adat
Batak, bermakna
pengorbanan bagi
parboru (pihak
penganten
perempuan) karena ia
"berkorban"
memberikan satu
nyawa manusia yang
hidup yaitu anak
perempuannya
kepada orang lain
pihak paranak (pihak
penganten pria), yang
menjadi besarnya
nanti, sehingga pihak
pria juga harus
menghargainya
dengan
mengorbankan /
mempersembahkan
satu nyawa juga yaitu
menyembelih seekor
hewan (sapi atau
kerbau), yang
kemudian menjadi
santapan (makanan
adat) dalam ulaon
unjuk / adat
perkawinanitu.
Sebagai bukti bahwa
santapan / makanan
adat itu adalah hewan
yang utuh, pihak pria
harus menyerahkan
bagian-bagian tertentu
hewan itu kepala,
leher, rusuk
melingkar, pangkal
paha, bagian bokong
dengan ekornya masih
melekat, hati, jantung
dll). Bagian-bagian
tersebut disebut tudu-
tudu sipanganon
(tanda makanan adat)
yang menjadi jambar
yang nanti dibagi-
bagikan kepada para
pihak yang berhak,
sebagai tanda
penghormatan atau
legitimasi sesuai
fungsi-fungsi (tatanan
adat) keberadaan /
kehadiran mereka
didalam acara adat
tersebut, yang disebut
parjuhut. Sebelum
misi / zending datang
dan orang Batak
masih menganut
agama tradisi lama,
lembu atau kerbau
yang dipotong ini
(waktu itu belum ada
pinahan lobu) tidak
sembarang harus yang
terbaik dan dipilih
oleh datu. Barangkali
ini menggambarkan
hewan yang
dipersembahkan itu
adalah hewan pilihan
sebagai tanda / simbol
penghargaan atas
pengorbanan pihak
perempuan tersebut.
Cara memotongnya
juga tidak
sembarangan, harus
sekali potong/sekali
sayat leher sapi /
kerbau dan
disakasikan parboru
(biasanya borunya)
jika pemotongan
dilakukan ditempat
paranak (ditaruhon
jual). Kalau
pemotongan ditempat
parboru (dialap jual) ,
paranak sendiri yang
menggiring lembu /
kerbau itu hidup-
hidup ketempat
parboru. Daging
hewan inilah yang
menjadi makanan
pokok "parjuhut"
dalam acara adat
perkawinan (unjuk
itu). Baik acara adat
diadakan di tempat
paranak atau parboru,
makanan / juhut itu
tetap paranak yang
membawa /
mempersembahkan
Kalau makanan tanpa
namargoar bukan
makanan adat tetapi
makanan rambingan
biar bagaimanpun
enak dan banyaknya
jenis makananannya
itu. Sebaliknya
"namargoar / tudu-
tudu sipanagnaon"
tanpa "juhutnya"
bukan namrgoar
tetapi "namargoar
rambingan" yang
dibeli dari pasar. Kalau
hal ini terjadi di
tempat paranak
bermakna "paranak"
telah melecehkan
parboru, dan kalau
ditempat parboru
(dialap jula) parboru
sendiri yang
melecehkan dirinya
sendiri. Dari
pengamatan hal
seperti ini sudah
terjadi dua kali di
Batam, yang
menunjukkan betapa
tidak dipahami nilai
luhur adat itu.
Anggapan acara adat
Batak rumit dan
bertele-tele adalah
keliru, sepanjang ia
diselenggarakan sesuai
pemahamn dan nilai
luhur adat itu sendiri.
Ia menajdi rumit dan
bertele-tele karena
diselenggrakan sesuai
pamahaman atau
seleranya.
URUTAN KEGIATAN
Gambar Nama-nama
Bagian Hewan Sapi/
Kerbau (Tanda
makanan Adat)
BAGIAN I PRA NIKAH
Yang dimaksud
dengan pra nikah
disini adalah proses
yang terjadi sebelum
acara adat
pernikahan.
A.Perkenalan dan
bertunangan.
Pernikahan tidak
selalu dengan proses
ini, khususnya ketika
masih masanya
Siti Nurbaya
B. PatuaHata.
Terjemahannya
menyampaiakan
secara resmi kepada
orang tua perempuan
hubungan
muda mudi dan akan
dilanjukan ke tingkat
perkawinan. Dengan
bahasa umum,
melamar secara resmi.
C. Marhori-hori
dinding.
Membicarakan secara
tidak resmi oleh
utusan kedua belah
pihak menyangkut
rencana pernikahan
tersebut
D. Marhusip.
Arti harafiahnya
adalah berbisik.
Maksudnya kelanjutan
pembicaraan angka III
tetapi sudah oleh
utusan resmi, bahkan
ada kalanya sudah
oleh kedua pihak
langsung
E. Pudun Saut.
Parajahaon/
Pengesahan
kesepakatan di
Marhusip di tonga
managajana acara
yang dihadiri dalihan
na tolu dan suhi
ampang na opat
masing-masing pihak.
Disini pihak Paranak/
Pria sudah membawa
makanan adat/
makanan namargoar
Catatan:
Aslinya dikatakan
"Marhata Sinamot"
dimana pembicaraan
langsung tanpa
didahului marhusip.
Yang pokok
dibicarakan dalam
acara adat Pudun Saut
anatara lain adalah:
1. Sinamot.
2. Ulos
3. Parjuhut dan
Jambar
4. Alap Jual atau
Taruhon Jual)
5. Jumlah undangan
6. Tanggal dan tempat
pemberkatan.
7. Tatacara.
(Selengkapnya lihat
dalam Pedoman
Pudun Saut).
BAGIAN II UNJUK
ATAU ACARA ADAT
PERNIKAHAN
Acara ini
diselenggarakan
setelah acara
pernikahan secara
agama sesuai yang
diatur dalam UU
untuk itu.
A. BEBERAPA
Pengertian POKOK
DALAM ADAT
PERKAWINAN
1. Suhut:Kedua pihak
yang punya hajatan
2. Parboru : Orang tua
pengenten
perempuan=Bona ni
haushuton
3. Paranak : Orang tua
pengenten Pria= Suhut
Bolon.
4. Suhut Bolahan
Amak : Suhut yang
menjadi tuan rumah
dimana acara adat
di selenggrakan.
5. Suhut
naniambangan : Suhut
yang dating
6. Hula-hula : Saudara
laki-laki dari isteri
masing-masing suhut.
7. Dongan Tubu :
Semua saudara laki
masing-masing suhut.
8. Boru : Semua yang
isterinya semarga
dengan marga kedua
suhut.
9. Dongan sahuta : Arti
harafiah "teman
sekampung" semua
yang tinggal
dalam huta /
kampung komunitas
(daerah tertentu) yang
sama paradaton /
solupnya.
10. Ale-ale : Sahabat
yang diundang bukan
berdasarkan garis
persaudaraan
(kekerabatan atau
silsilah)
11. Uduran :
Rombongan masing-
masing suhut, maupun
rombongan masing-
masing
hula-hulanya.
12. Raja Parhata (RP),
Protokol (PR) atau
Juru Bicara (JB)
masing-masing
suhut, juru bicara yang
ditetapkan masing-
masng pihak
13. Namargoar :
Tanda Makanan
Adat , bagian-bagian
tubuh hewan yang
dipotong yang
menandakan makanan
adat itu adalah dari
satu hewan
(lembu/kerbau) yang
utuh, yang nantinya
dibagikan.
14. Jambar :
Namargoar yang
dibagikan kepada
yang berhak, sebagai
legitimasi dan fungsi
keberadaannya dalan
acara adat itu.
15. Dalihan Na Tolu
(DNT) : Terjemahan
harafiah"Tungku Nan
Tiga" satu
sistim kekerabatan
dan way of life
masyarakat Adat
Batak
16. Solup : Takaran
beras dari bambu
yang dipakai sebagai
analogi
paradaton, yang
bermakna dihuta
imana acara adat
batak diadakan
solup/paradaton dari
huta itulah yang
dipakai sebagai
rujukan, atau disebut
dengan hukum tradisi
"sidapot solup do na
ro.
B. PROSESI MASUK
TEMPAT ACARA ADAT
(Contoh Acara di
Tempat erempuan)
Raja Parhata/Protokol
Pihak Perempuan =
PRW
Raja Parhata/Protokol
Pihak Laki-laki = PRP
Suhut Pihak Wanita =
SW
Suhut Pihak Pria = SP
I. PRW meminta
semua dongan tubu /
semaraganya bersiap
untuk menyambut
dan menerima
kedatangan
rombongan hula-hula
dan tulang.
II. PRW memberi tahu
kepada Hula-hula,
bahwa SP sudah siap
menyambut dan
menerima kedatangan
Hula-hula.
III. Setelah hula-hula
mengatakan mereka
sudah siap untuk
masuk, PRW
mempersilakan masuk
dengan menyebut
satu persatu, hula-hula
dan tulangnya
secara berurutan
sesuai urutan
rombongan masuk
nanti:
1. Hula-hula,
2. Tulang,
3. Bona Tulang
4. Tulang Rorobot,
5. Bonaniari,
6. Hula-hula
namarhahamaranggi:
7. Hula-hula anak
manjae,
IV. PR Hulahula,
menyampaikan
kepada rombongan
hula-hula dan tulang
yang
sudah disebutkan PRW
pada III, bahwa SW
sudah siap menerima
kedatangan
rombongan hula-hula
dan tulang dengan
permintaan agar
uduran Hula-hula dan
Tulang memasuki
tempat acara, secara
bersama-sama. Untuk
itu diatur
urut-urutan uduran
(rombongan) hula-
hula dan tulang yang
akan memasuki
ruangan. Uduran yang
pertama adalah Hula-
hula,..., diikuti
TULANG
.......sesuai urut-urutan
yang disebut kan PR
W pada III.
V. Menerima
Kedatangan Suhut
Paranak (SP).
Setelah seluruh
rombongan hula-hula
dan tulang dari SW
duduk (acara IV),
rombongan Paranak/
SP dipersilakan
memasuki ruangan.
PRW, memberitahu
bahwa
tempat untuk SP dan
uduran/
rombongannya sudah
disediakan dan SW
sudah siap
menerima kedatangan
mereka beserta Hula-
hula, Tulang SP dan
uduran/
rombongannya. PRP
menyampaikan
kepada dongan tubu ,
bahwa sudah ada
permintaan dari agar
mereka memasuki
ruangan.
Kepada hula-hula dan
tulang (disebutkan
satu perasatu) yaitu:
1. Hula-hula,
2. Tulang,
3. Bona Tulang,
4. Tulang Rorobot,
5. Bonaniari
6. Hula-hula
namarhaha-marnggi:
7. Hula-hula anak
manjae..
PRP memohon, sesuai
permintaan hula-hula
SW agar mereka
masuk bersama-sama
dengan SP. Untuk itu
tatacara dan urutan
memasuki ruangan
diatur, pertama
adalah Uduran/
rombongan SP&
Borunya, disusul Hula-
hula....., Tulang.....dan
seterusnya sesuai urut-
urutan yang telah
dibacakan PR
(Dibacakan sekali lagi
kalau sudah mulai
masuk).
C. MENYERAHKAN
TANDA MAKANAN
ADAT.
(Tudu-tudu Ni
Sipanaganon) Tanda
makanan adat yang
pokok adalah: kepala
utuh, leher
(tanggalan), rusuk
melingkar (somba-
somba) , pangkal paha
(soit), punggung
dengan ekor (upasira),
hati dan jantung
ditempatkan dalam
baskom/ember besar.
Letak tanda makanan
adat itu dalam tubuh
hewan dapat
dilihat dalam gambar.
Gambar Nama
Jambar/Tanda
Makanan Adat(Bagin
Tubuh
Hewan Lembu atau
Kerbau) Tanda
makanan adat
diserahkan SP beserta
Isteri
didampingi saudara
yang lain dipandu PRP,
diserahkan kepada SW
dengan bahasa
adat, yang intinya
menunjukkan
kerendahan hati
dengan mengatakan
walaupun
makanan yang dibawa
itu sedikit/ala
kadarnya semoga ia
tetap membawa
manfaat dan berkat
jasmani dan rohani
hula-hula SW dan
semua yang
menyantap
nya, sambil menyebut
bahasa adat :
Sitiktikma si gompa,
golang golang
pangarahutna, tung so
sadia (otik) pe naung
pinatupa i, sai
godangma
pinasuna.
D. MENYERAHKAN
DENGKE / IKAN OLEH
SW
Aslinya ikan yang
diberikan adalah jenis
"ihan" atau ikan
Batak, sejenis
ikan yang hanya hidup
di Danau Toba dan
sungai Asahan bagian
hulu dan
rasanya memang
manis dan khas. Ikan
ini mempunyai sifat
hidup di air yang
jernih (tio) dan kalau
berenang/berjalan
selalu beriringan
(mudur-udur),
karena itu disebut;
dengke sitio-tio,
dengke si mudur-udur
(ikan yang hidup
jernih dan selalu
beriringan / berjalan
beriringan bersama)
Simbol inilah yang
menjadi harapan
kepada penganeten
dan keluarganya yaitu
seia sekata beriringan
dan murah rejeki (tio
pancarian dohot
pangomoan).
Tetapi sekarang ihan
sudah sangat sulit
didapat, dan jenis ikan
mas sudah
biasa digunakan. Ikan
Masa ini dimasak
khasa Batak yang
disebut "naniarsik"
ikan yang dimasak
(direbus) dengan
bumbu tertentu
sampai airnya
berkurang
pada kadar tertentu
dan bumbunya sudah
meresap kedalam
daging ikan itu.
E. MAKAN BERSAMA
Sebelum bersantap
makan, terlebih
dahulu berdoa dari
suhut Pria (SP) ,
karena pada dasarnya
SP yang membawa
makanan itu walaupun
acara adatnya di
tempat SW.
Untuk kata pengantar
makan, PRP
menyampaikan satu
uppasa (ungkapan
adat)
dalam bahasa Batak
seperti waktu
menyerahakan tanda
makanan adat:
Sitiktikma si gompa,
golang golang
pangarahutna Tung,
sosadiape napinatupa
on, sai godangma
pinasuna.
Ungkapan ini
menggambarkan
kerendahan hati yang
memebawa makanan
(), dengan
mengatakan walaupun
makanan yang
dihidangkan tidak
seberapa (pada hal
hewan
yang diptong yang
menjadi santapan
adalah hewan lembu
atau kerbau yang
utuh), tetapi
mengharapkan agar
semua dapat
menikmatinya serta
membawa
berkat. Kemudian PRP
mempersilakan
bersantap.
F. MEMBAGI JAMBAR/
TANDA MAKANAN
ADAT
Biasanya sebelum
jambar dibagi, terlebih
dahulu dirundingkan
bagian-bagian
mana yang diberikan
SW kepada SP. Tetapi,
yang dianut dalam
acara adat yaitu
Solup Batam, yang
disebut dengan
"JAMBAR
MANGIHUT"dimana
jambar sudah
dibicarakan
sebelumnya dan
dalam acara adatnya
(unjuk) SW tinggal
memberikan
bagian jambar untuk
SP sebagai ulu ni
dengke mulak.
Selanjutnya masing
masing suhut
membagikannya
kepada masing-masing
fungsi dari pihaknya
masing-masing saat
makan sampai selesai
dibagikan.
G. MANAJALO
TUMPAK
(SUMBANGAN TANDA
KASIH)
Arti harafiah tumpak
adalah sumbangan
bentuk uang, tetapi
melihat
keberadaan masing-
masing dalam acara
adat mungkin istilah
yang lebih tepat
adalah tanda kasih.
Yang memberikan
tumpak adalah
undangan SUHUT
PRIA, yang
diantarkan ketempat
SUHUT duduk dengan
memasukkannya
dalam baskom yang
disediakan/
ditempatkan
dihadapan SUHUT,
sambil menyalami
pengenten dan
SUHUT. Setelah selesai
santap makan, PRP
meminta ijin kepada
PRW agar mereke
diberi waktu untuk
menerima para
undangan mereka
untuk mengantarkan
tumpak
(tanda kasih). Setelah
PRW mempersilakan,
PRP menyampai kan
kepada dongan
tubu, boru/bere dan
undangannya bahwa
SP sudah siap
menerima kedatangan
mereka untuk
mengantar tumpak.
Setelah selesai PRP
mengucapkan terima
kasih
atas pemberian tanda
kasih dari para
undangannya
H. ACARA
PERCAKAPAN ADAT.
I. MEMPERSIAPKAN
PERCAKAPAN:
1. RPW menanyakan
apakah sudah siap
memulai percakapan,
yang dijawab oleh
SP, mereka sudah siap
2. Masing-masing PRW
dan PRP
menyampaikan
kepada pihaknya dan
hula-hula
serta tulangnya bahwa
percakapan adat akan
dimulai, dan
memohon kepada
hula-hulanya agar
berkenan memberi
nasehat kepada
mereka dalam
percakapan
adat nanti.
III. MEMULAI
PERCAKAPAN
(PINGGAN
PANUNGKUNAN)
. Pinggan
Panungkunan, adalah
piring yang
didalamnya ada beras,
sirih,
sepotong daging
(tanggo-tanggo) dan
uang 4 lembar. Piring
dengan isinya ini
adalah sarana dan
simbol untuk memulai
percakapan adat.
1. PRP meminta
seorang borunya
mengantar Pinggan
Panungkunan itu
kepada PRW
2. PRW,
menyampaikan telah
menerima Pinggan
Panungkunan dengan
menjelaskan
apa arti semua isi yang
ada dalam beras itu.
Kemudian PRW
mengambil 3 lembar
uang itu, dan
kemudian meminta
salah seorang borunya
untuk mengantar
piring
itu kembali kepada
PRP
3. PRW membuka
percakapan dengan
memulainya dengan
penjelasan makna dari
tiap isi pinggan
panungkunan (beras,
sirih, daging dan
uang), kemudian
menanyakan kepada
makna tanda dan
makanan adat yang
sudah dibawa dan
dihidangkan oleh
pihak
.
4. Akhir dari
pembukaan
percakapan ini,
keluarga mengatakan
bahwa makanan
dan minuman
pertanda pengucapan
syukur karena berada
dalam keadaan sehat,
dan tujuan adalah
menyerahkan
kekurangan sinamot ,
dilanjutkan adat yang
terkait dengan
pernikahan anak
mereka.
IV. PENYERAHAN
PANGGOHI/
KEKURANGAN
SINAMOT
1. Dalam percakapan
selanjutnya, setelah
PRW meminta PRP
menguraikan
apa/berapa yang mau
mereka serahkan , PRP
memberi tahukan
kekurangan
sinamot yang akan
mereka serahkan
adalah sebsar
Rp...Juta, menggenapi
seluruh sinamot
Rp....Juta. (Pada waktu
acara Pudun Saut,
sudah menyerahkan
Rp 15 juta sebagai
bohi sinamot
(mendahulukan
sebagian penyerahan
sinamot di
acara adat na gok)
2. Sebelum PR
mengiakan lebih dulu
RP meminta nasehat
dari Hula-hula dan
pendapat dari boru .
3. Sesudah diiakan
oleh PR , selanjutnya
penyerahan
kekurangan sinamot
kepada suhut oleh RP.
V. Penyerahan
Panandaion.
Tujuan acara ini
memperkenalkan
keluarga pihak
perempuan agar
keluarga pihak
pria mengenal siapa
saja kerabat pihak
perempuan sambil
memberikan uang
kepada yang
bersangkutan.Secara
simbolis, yang
diberikan langsung
hanya
kepada 4 orang saja,
yang disebut dengan
patodoan atau "suhi
ampang na opat"
( 4 kaki dudukan/
pemikul bakul) yang
merupakan symbol
pilar jadinya acara
adat itu. Dengan
demikian biarpun
hanya yang empat itu
yang dikenal/
menerima
langsung, sudah
mewakili menerima
semuanya. (Mungkin
dapat dianalogikan
dengan pemberian
tanda penghargaan
massal kepada
pegawai PNS yang
diwakili 4
orang, masing-masing
1 orang dari tiap
golngan I sampai
golongan IV).
Kepada yang lain
diberikan dalam satu
envelope saja yang
nanti akan
dibagikan kepada
yang bersangkutan.
VI Penyerahan tintin
marangkup.
Diberikan kepada
tulang /paman
penganten pria
(saudara laki ibu
penganten
pria). Yang
menyerahkan adalah
orang tua penganten
perempuan berupa
uang
dari bagian sinamot
itu. Seacara tradisi
penganten pria
mengambil boru
tulangnya untuk
isterinya, sehingga
yang menerima
sinamot seharusnya
tulangnya. Dengan
diterimanya sebagian
sinamot itu oleh
Tulang Pengenten
Pria yang disebut titin
marangkup, maka
Tulang Pria mengaku
penganten
wanita, isteri
ponakannya ini, sudah
dianggapnya sebagai
boru/putrinya
sendiri walaupun itu
boru dari marga lain.
VII. Penyerahan/
Pemberian Ulos oleh
Pihak Perempuan.
Dalam Adat Batak
tradisi lama atau religi
lama, ulos merupakan
sarana
penting bagi hula-
hula, untuk
menyatakan atau
menyalurkan sahala
atau
berkatnya kepada
borunya, disamping
ikan, beras dan kata-
kata berkat. Pada
waktu pembuatannya
ulos dianggap sudah
mempunyai "kuasa".
Karena itu,
pemberian ulos, baik
yang memberi
maupun yang
menerimanya tidak
sembarang
orang, harus
mempunyai alur
tertentu, antara lain
adalah dari Hula-hula
kepada borunya,
orang tua kepada
anank-anaknya.
Dengan pemahaman
iman yang
dianut sekarang, ulos
tidak mempunyai nilai
magis lagi sehingga ia
sebagai
simbol dalam
pelaksaan acara adat.
Ujung dari ulos selalu
banyak rambunya
sehingga disebut "ulos
siganjang/sigodang
rambu"(Rambu,
benang di ujung ulos
yang dibiarkan
terurai).
Pemberian Ulos sesuai
maknanya adalah
sebagai berikut:
Ulos Namarhadohoan
No Uraian Yang
Menerima Keterangan
A Kepada Paranak
1 Pasamot/Pansamot
Orang tua pengenten
pria
2 Hela Pengenten
B Partodoan/Suhi
Ampang Naopat
1 Pamarai Kakak/Adek
dari ayah pengenten
pria
2 Simanggokkon
Kakak/Adek dari
pengenten pria
3.Namborunya Saudra
perempuan dari ayah
pengenten pria
4 Sihunti Ampang
Kakak/Adek
perempuan dari
pengenten pria
Ulos Kepada
Pengenten
NoUraian Yang
Mangulosi Keterangan
A Dari Parboru/
Partodoan
1 Pamarai1 lembar,
wajib Kakak/Adek dari
ayah pengenten
wanita
2 Simandokkon
Kakak/Adek laki-laki
dari pengenten wanita
3.Namborunya
(Parorot) Iboto dari
ayah pengenten
wanita
4 Pariban Kakak/Adek
dari pengenten wanita
B Hula-hula dan
Tulang Parboru
1 Hula-hula 1 lembar,
wajib
2 Tulang 1 lembar,
wajib
3 Bona Tulang 1
lembar, wajib
4 Tulang Rorobot 1
lembar, tidak wajib
C Hula-hula dan
Tulang Paranak
1 Hula-hula 1 lembar,
wajib
2 Tulang 1 lembar,
wajib
3 Bona Tulang 1
lembar, wajib
4 Tulang Rorobot 1
lembar, tidak wajib
Catatan:
1. Hula-hula
namarhahamaranggi
dohot hula-hula anak
manjae ndang ingkon
ulos tanda holong
nasida boi ma nian
bentuk hepeng,
songon na pinatorang.
Songoni angka na
asing na marholong ni
roha.
2. Keruwetan yang
terjadi karena
undangan pihak
permpuan merasa
uloslah
yang mejadi tanda
holong/tanda kasih
sehingga harus
mengulosi, pada hal
sesuai pemahamn
pemebri ulos yang
tidak sembarangan,
ulos yang diberikan itu
artinya sam dengan
kado/tanda kasih
bentuk lain baik
barang atau uang,
tidak ada nilai adat/
sakralnya lagi
VII. Mangujungi Ulaon
(Menyimpulkan Acara
Adat)
1. Manggabei (kata-
kata doa dan restu)
dari pihak SW. Berupa
kata-kata
pengucapan syukur
kepada Tuhan bahwa
acara adat sudah
terselenggara dengan
baik:
a.Ucapan terima kasih
kepada dongan tubu
dan hula-hulanya
b.Permintaan kepada
Tuhan agar rumah
tangga yang baru
diberkati demikian
juga orang tua
pengenten dan
saudara yang lainnya.
2. Mangampu (ucapan
terima kasih) dari
pihak SP
Ucapan terima kasih
kepada semua pihak
baik kepada hula-hula
SW maupun
kepada SP atas
terselenggaranya
acara adat nagok ini.
CATATAN:
Dalam marhata gabe-
gabe dan mangampu,
RP masing-masing
biasanya memberi
kesempatan kepada
Hula-hula dan boru/
ber masing-masing
turut menyampaikan
beberapa kata sesuai
fungsinya baru SUHUT
sebagai penutup. Disini
tidak
pada tempatnya
memberi nasehat
kepada pengenten
panjang lebar, tetapi
senentiasa permintaan
kepada Tuhan agar
rumah tangga yang
baru itu menjadi
rumahtangga yang
diberkati
3. Mangolopkon
(Mengamenkan) oleh
Tua-tua/yang dituakan
di Kampung itu
Kedu suhut dan ,
menyediakan piring
yang diisi beras dan
uang ( biasanya
ratusan lembar
pecahan Rp1.000 yang
baru) kemudian
diserahkan kepada Rja
Huta yang mau
mangolopkon Raja
Huta berdiri sambil
mengangkat piring
yang
berisi beras dan uang
olop-olop itu. Dengan
terlebih dahulu
menyampaikan
kata-kata ucapan Puji
Syukur kepada Tuhan
Karen kasih-Nya cara
adat rampung
dalam suasan dami
(sonang so haribo-
riboan) serta restu
dan harapan
kemudian
diahiri , dengan
mengucapkan: olop
olop, olop olop, olop
olop sambil menabur
kan beras keatas dan
kemudian
membagikan uang
olop-olop itu.
4.Ditutup dengan
doa /ucapan syukur.
Akhirnya acara adat
ditutup dengan doa
oleh Hamba Tuhan.
Sesudah amin, sama-
sama mengucapkan:
horas...! horas...!
horas...!
5. Bersalaman untuk
pulang...BAGIAN III
PASKA PERNIKAHAN
Ada tradisi lama (tidak
semua melakukannya)
setelah acara adat
nagok , ada
lagi acara yang
disebut paulak une/
mebat dan maningkir
tangga. Acara ini
dilakukan setelah
penganten menjalani
kehidupan sebagai
suami isteri
biasanya sesudah 7-14
hari (sesudah robo-
roboan) yang
sebenarnya tidak
wajib lagi dan tidak
ada kaitannya dengan
acara keabsahan
perkawinan adat na
gok. Acara dimaksud
adalah:
I. Paulak Une
Suami isteri dan
utusan pihak pria
dengan muda mudi
(panaruhon)
mengunjungi
rumah mertu/orang
tuanya dengan
membawa lampet
(lampet dari tepung
beras
dibungkus 2 daun
bersilang). Menurut
tradisi jika pihak pria
tidak berkenan
dengan pernikahan itu
(karena perilaku) atau
sang wanita bukan
boru ni raja
lagi, si perempuan bisa
ditinggalkan di rumah
orang tua perempuan
itu.
II. Maningkir Tangga.
(Arti harafiah "Menilik
Tangga)
Pihak orang tua
perempuan
menjenguk rumah
(tangga anaknya) yang
biasanya
masih satu rumah
dengan orang tuanya.
CATATAN:
Sekarang ini ada yang
melaksanakan acara
paulak une dan
maningkir tangga
langsung setelah acara
adat ditempat acara
adat dilakukan, yang
mereka
namakan "Ulaon
Sadari" . Acara ini
sangat keliru, karena
disamping tidak ada
maknanya seperti
dijelaskan diatas,
tetapi juga menambah
waktu dan biaya (
ikan & lampet dan
makanan namargoar)
dan terkesan main-
main/ melecehkan
makna adat itu.
Karena itu diharapkan
acara seperti ini
jangan diadakan lagi
dengan alasan:
1. Dari pemahaman
iman, rumah tangga
yang sudah diberkati
tidak bisa
bercerai lagi dengan
alasan yang disebut
dalam pengertian
Paulak Une, dan
pemahaman adat itu
dilakukan setelah
penganten mengalami
kehidupan sebagai
suami isteri.
2. Terkesan main-
main, hanya tukar
menukar tandok berisi
makananan,
sementara tempat
Paulak Une dan
Maningkir Tangga
yang seharusnya di
rumah
kedua belah pihak.
Rrtinya saling
mengunjungi rumah
satu sama lain,
diadakan di gedung
pertemuan , pura-pura
saling mengunjungi,
yang tidak
sesuai dengan makna
dan arti paulak une
dan maningkir tangga
itu.
3. Menghemat waktu
dan biaya, tidak perlu
lagi harus
menyediakan
makanan
namargoar (paranak)
dan dengke dengan
lampetnya (parboru)
4. Acara itu tidak
harus diadakan dan
tidak ada
hubungannya dengan
keabsahan
acara adat nagok
perkawinan saat ini.
5. Acara Paulak Une
dan Maningkir Tangga
diadakan atau tidak,
diserahkan
saja kepada kedua
SUHUT karena acara
ini adalah acara
pribadi mereka,
biarlah mereka
mengatur sendiri
kapan mereka saling
mengunjungi rumah.
Pemberian Ulos sesuai
maknanya adalah
sebagai berikut: Ulos
Namarhadohoan.
Showing posts with label Adat. Show all posts
Showing posts with label Adat. Show all posts
Saturday, 4 June 2011
Ulos dan Fungsinya
Jenis Ulos Batak dan
Fungsinya.
Orang Batak sudah
dikenal sebagai
“ Bangso”, kenapa..?
Dahulu sudah memiliki
Kerajaan sendiri,
Mardebata Mulajadi
Nabolon (“pencipta
yang maha besar”),
memiliki Surat Aksara
Batak, dan sudah
pernah memiliki Uang
tukar yakni Ringgit
Batak (“Ringgit Sitio
Suara”), uning-uningan
namarragam
(“ musik”), memiliki
Budaya Adat, dan
mempunyai Hukum.
Namun sekarang ini
sudah menjadi Negara
Kesatuan Republik
Indonesia, bahkan
orang Batak Toba
sudah banyak yang
tidak mengetahui
bahasa daerahnya
sendiri, melihat
perkembangan
teknologi sekarang ini,
tor-tor Batak sudah
banyak yang tidak
mengetahuinya,
bahkan dewasa ini
Ulos Batak tidak
dikenal jenis-jenis dan
Fungsinya.
2 Musa 19 ayat 10:
Dung i didok Jahowa
ma tusi Musa laho
maho tumopot
bangso i jala urasi
nasida sadarion dohot
marsogot asa ditatap
nasida Ulos na.
Dengan dasar ini
Bersama Toba dot
Com,
mensosialisasikan Jenis
dan Fungsi Ulos Batak:
I. Ulos Antak-Antak,
dipakai selendang
orang tua melayat
orang meninggal, dan
dipakai sebagai kain
dililit/ hohop hohop
waktu acara
manortor.
II. Ulos Bintang
Maratur,
Ulos ini merupakan
Ulos yang paling
banyak kegunaannya
didalam acara-acara
yakni: Diberikan
kepada anak yang
memasuki rumah baru
oleh orang tua, kalau
diadat Toba Ulos ini
diberikan waktu
selamatan Hamil 7
Bulan oleh orang tua,
tetapi lain halnya
kalau di Tarutung Ulos
ini yang diberikan
waktu acara suka cita
(“gembira”), Ulos ini
juga diberikan kepada
Pahompu yang baru
lahir, parompa
walaupun kebanyakan
kasih mangiring
apalagi yang
maksudnya agar anak
yang baru lahir diiringi
anak selanjutnya,
kemudian ulos ini
dipakai untuk
pahompu yang
dibabtis dan juga
dipakai untuk sebagai
selendang.
III. Ulos Bolean,
Ulos ini dipakai
sebagai selendang
pada acara-acara
kedukaan.
IV. Ulos Mangiring,
Ulos ini dipakai
selendang, Tali-tali,
juga Ulos ini diberikan
kepada anak cucu
yang baru lahir
terutama anak
pertama yang
dimaksud sebagai
Simbol keinginan agar
sianak diiringi anak
yang seterusnya,
bahkan Ulos ini dapat
dipakai sebagai
Parompa.
V. Ulos Padang Ursa,
dipakai sebagai Tali-
tali dan Selendang.
VI.. Ulos Pinan Lobu-
Lobu,
dipakai sebagai
Selendang.
VII. Ulos Pinuncaan,
Ulos ini sebenarnya
terdiri dari lima bagian
yang ditenun secara
terpisah yang
kemudian disatukan
dengan rapi hingga
menjadi bentuk satu
Ulos yang
kegunaannya antara
lain:
Ulos ini dapat dipakai
berbagai keperluan
acara-acara duka cita
atau suka cita, dalam
acara adat ulos ini
dipakai/ disandang
oleh Raja-Raja Adat
maupun oleh Rakyat
Biasa selama
memenuhi pedoman
misalnya, pada pesta
perkawinan atau
upacara adat suhut
sihabolonon/
Hasuhutonlah (“tuan
rumah”) yang
memakai ulos ini,
kemudian pada waktu
pesta besar dalam
acara marpaniaran,
ulos ini juga dipakai/
dililit sebagai kain/
hohop-hohop oleh
keluarga hasuhuton,
dan Ulos ini sebagai
Ulos Passamot pada
acara Perkawinan.
VIII, Ulos Ragi Hotang,
Ulos ini biasa diberi
kepada sepasang
pengantin yang
disebut sebagai Ulos
Hela.
IX. Ragi Huting,
Ulos ini sekarang
sudah Jarang dipakai,
konon jaman orang
tua dulu sebelum
merdeka, anak-anak
perempuan pakai Ulos
Ragi Huting ini sebagai
pakaian sehari-hari
dililit didada (Hoba-
hoba), dan kemudian
dipakai orang tua
sebagai selendang
apabila bepergian.
X. Ulos Sibolang Rasta
Pamontari,
Ulos ini kalau jaman
dulu dipakai untuk
keperluan duka dan
suka cita, tetapi pada
jaman sekarang ini
sibolang bisa
dikatakan symbol
duka cita, dipakai juga
sebagai Ulos Saput
(yang meninggal
orang dewasa yang
belum punya cucu),
dan dipakai sebagai
Ulos Tujung (Janda/
Duda yang belum
punya cucu), dan
kemudian pada
peristiwa duka cita
Ulos ini paling banyak
dipergunakan oleh
keluarga dekat.
XI. Ulos Sibunga
Umbasang dan Ulos
Simpar,
dipakai sebagai
Selendang.
XII. Ulos Sitolu Tuho,
Ulos ini dipakai
sebagai ikat kepala
atau selendang
wanita,
XIII. Ulos Suri-suri
Ganjang,
dipakai sebagai
Hande-hande pada
waktu margondang,
dan dipergunakan
sebagai oleh pihak
Hula-hula untuk
manggabe i borunya
karena itu disebut juga
Ulos gabe-gabe.
XIV. Ulos Ragi
Harangan,
pemakaiannya sama
dengan Ragi Pakko.
XV. Ulos Simarinjam
sisi,
dipakai sebagai kain,
dan juga dilengkapi
dengan Ulos
Pinuncaan disandang
dengan perlengkapan
adat Batak sebagai
Panjoloani yang
memakai ini satu
orang paling depan.
XVI. Ulos Ragi Pakko,
dipakai sebagai
selimut pada jaman
dahulu dan pengantar
wanita yang dari
keluarga kaya bawa
dua ragi untuk selimut
yang dipergunakan
sehari-hari, dan itu
jugalah apabila nanti
setelah tua meninggal
akan disaput pakai
Ragi ditambah Ulos
lainnya yang disebit
Ragi Pakko lantaran
memang warnanya
hitam seperti Pakko.
XVII.Ulos Tumtuman,
dipakai sebagai tali-tali
yang bermotif dan
dipakai anak yang
pertama dari
hasuhutan.
XVIII Ulos Tutur-Tutur,
dipakai sebagai tali-tali
dan sebagai Hande-
hande yang sering
diberikan oleh orang
tua sebagai Parompa
kepada cucunya.
Maka dari jenis dan
fungsi Ulos ini, disebut
pengenalan jati diri
orang batak sesuai
Budaya dan Adatnya,
dan orang Batak
dikenal dari Ulos yang
disandangnya, sian
Tortornya bahkan dari
Tungkot na.
Horassssss.!!!!!.
Fungsinya.
Orang Batak sudah
dikenal sebagai
“ Bangso”, kenapa..?
Dahulu sudah memiliki
Kerajaan sendiri,
Mardebata Mulajadi
Nabolon (“pencipta
yang maha besar”),
memiliki Surat Aksara
Batak, dan sudah
pernah memiliki Uang
tukar yakni Ringgit
Batak (“Ringgit Sitio
Suara”), uning-uningan
namarragam
(“ musik”), memiliki
Budaya Adat, dan
mempunyai Hukum.
Namun sekarang ini
sudah menjadi Negara
Kesatuan Republik
Indonesia, bahkan
orang Batak Toba
sudah banyak yang
tidak mengetahui
bahasa daerahnya
sendiri, melihat
perkembangan
teknologi sekarang ini,
tor-tor Batak sudah
banyak yang tidak
mengetahuinya,
bahkan dewasa ini
Ulos Batak tidak
dikenal jenis-jenis dan
Fungsinya.
2 Musa 19 ayat 10:
Dung i didok Jahowa
ma tusi Musa laho
maho tumopot
bangso i jala urasi
nasida sadarion dohot
marsogot asa ditatap
nasida Ulos na.
Dengan dasar ini
Bersama Toba dot
Com,
mensosialisasikan Jenis
dan Fungsi Ulos Batak:
I. Ulos Antak-Antak,
dipakai selendang
orang tua melayat
orang meninggal, dan
dipakai sebagai kain
dililit/ hohop hohop
waktu acara
manortor.
II. Ulos Bintang
Maratur,
Ulos ini merupakan
Ulos yang paling
banyak kegunaannya
didalam acara-acara
yakni: Diberikan
kepada anak yang
memasuki rumah baru
oleh orang tua, kalau
diadat Toba Ulos ini
diberikan waktu
selamatan Hamil 7
Bulan oleh orang tua,
tetapi lain halnya
kalau di Tarutung Ulos
ini yang diberikan
waktu acara suka cita
(“gembira”), Ulos ini
juga diberikan kepada
Pahompu yang baru
lahir, parompa
walaupun kebanyakan
kasih mangiring
apalagi yang
maksudnya agar anak
yang baru lahir diiringi
anak selanjutnya,
kemudian ulos ini
dipakai untuk
pahompu yang
dibabtis dan juga
dipakai untuk sebagai
selendang.
III. Ulos Bolean,
Ulos ini dipakai
sebagai selendang
pada acara-acara
kedukaan.
IV. Ulos Mangiring,
Ulos ini dipakai
selendang, Tali-tali,
juga Ulos ini diberikan
kepada anak cucu
yang baru lahir
terutama anak
pertama yang
dimaksud sebagai
Simbol keinginan agar
sianak diiringi anak
yang seterusnya,
bahkan Ulos ini dapat
dipakai sebagai
Parompa.
V. Ulos Padang Ursa,
dipakai sebagai Tali-
tali dan Selendang.
VI.. Ulos Pinan Lobu-
Lobu,
dipakai sebagai
Selendang.
VII. Ulos Pinuncaan,
Ulos ini sebenarnya
terdiri dari lima bagian
yang ditenun secara
terpisah yang
kemudian disatukan
dengan rapi hingga
menjadi bentuk satu
Ulos yang
kegunaannya antara
lain:
Ulos ini dapat dipakai
berbagai keperluan
acara-acara duka cita
atau suka cita, dalam
acara adat ulos ini
dipakai/ disandang
oleh Raja-Raja Adat
maupun oleh Rakyat
Biasa selama
memenuhi pedoman
misalnya, pada pesta
perkawinan atau
upacara adat suhut
sihabolonon/
Hasuhutonlah (“tuan
rumah”) yang
memakai ulos ini,
kemudian pada waktu
pesta besar dalam
acara marpaniaran,
ulos ini juga dipakai/
dililit sebagai kain/
hohop-hohop oleh
keluarga hasuhuton,
dan Ulos ini sebagai
Ulos Passamot pada
acara Perkawinan.
VIII, Ulos Ragi Hotang,
Ulos ini biasa diberi
kepada sepasang
pengantin yang
disebut sebagai Ulos
Hela.
IX. Ragi Huting,
Ulos ini sekarang
sudah Jarang dipakai,
konon jaman orang
tua dulu sebelum
merdeka, anak-anak
perempuan pakai Ulos
Ragi Huting ini sebagai
pakaian sehari-hari
dililit didada (Hoba-
hoba), dan kemudian
dipakai orang tua
sebagai selendang
apabila bepergian.
X. Ulos Sibolang Rasta
Pamontari,
Ulos ini kalau jaman
dulu dipakai untuk
keperluan duka dan
suka cita, tetapi pada
jaman sekarang ini
sibolang bisa
dikatakan symbol
duka cita, dipakai juga
sebagai Ulos Saput
(yang meninggal
orang dewasa yang
belum punya cucu),
dan dipakai sebagai
Ulos Tujung (Janda/
Duda yang belum
punya cucu), dan
kemudian pada
peristiwa duka cita
Ulos ini paling banyak
dipergunakan oleh
keluarga dekat.
XI. Ulos Sibunga
Umbasang dan Ulos
Simpar,
dipakai sebagai
Selendang.
XII. Ulos Sitolu Tuho,
Ulos ini dipakai
sebagai ikat kepala
atau selendang
wanita,
XIII. Ulos Suri-suri
Ganjang,
dipakai sebagai
Hande-hande pada
waktu margondang,
dan dipergunakan
sebagai oleh pihak
Hula-hula untuk
manggabe i borunya
karena itu disebut juga
Ulos gabe-gabe.
XIV. Ulos Ragi
Harangan,
pemakaiannya sama
dengan Ragi Pakko.
XV. Ulos Simarinjam
sisi,
dipakai sebagai kain,
dan juga dilengkapi
dengan Ulos
Pinuncaan disandang
dengan perlengkapan
adat Batak sebagai
Panjoloani yang
memakai ini satu
orang paling depan.
XVI. Ulos Ragi Pakko,
dipakai sebagai
selimut pada jaman
dahulu dan pengantar
wanita yang dari
keluarga kaya bawa
dua ragi untuk selimut
yang dipergunakan
sehari-hari, dan itu
jugalah apabila nanti
setelah tua meninggal
akan disaput pakai
Ragi ditambah Ulos
lainnya yang disebit
Ragi Pakko lantaran
memang warnanya
hitam seperti Pakko.
XVII.Ulos Tumtuman,
dipakai sebagai tali-tali
yang bermotif dan
dipakai anak yang
pertama dari
hasuhutan.
XVIII Ulos Tutur-Tutur,
dipakai sebagai tali-tali
dan sebagai Hande-
hande yang sering
diberikan oleh orang
tua sebagai Parompa
kepada cucunya.
Maka dari jenis dan
fungsi Ulos ini, disebut
pengenalan jati diri
orang batak sesuai
Budaya dan Adatnya,
dan orang Batak
dikenal dari Ulos yang
disandangnya, sian
Tortornya bahkan dari
Tungkot na.
Horassssss.!!!!!.
Adat Batak untuk orang meninggal
Upacara Adat
Kematian Suku Batak
Oleh Bulman Harianja
BA
Pendahuluan
Berbicara tentang Sari
Matua, Saur Matua
dan Mauli Bulung
adalah berbicara
tentang
kematian seseoang
dalam konteks adat
Batak. Adalah
aksioma, semua orang
harus mati, dan hal itu
dibenarkan oleh
semua agama.
Bukankah pada
Kidung Jemaat 334
disebut: “Tiap orang
harus mati, bagai
rumput yang kering.
Makhluk hidup harus
busuk, agar lahir yang
baru. Tubuh ini akan
musnah, agar hidup
disembuhkan. di
akhirat bangkitlah,
masuk sorga yang
megah. ”
Selain yang disebutkan
diatas, masih ada jenis
kematian lain seperti
“ Martilaha” (anak
yang belum berumah
tangga meninggal
dunia), “Mate
Mangkar” (yang
meninggal suami atau
isteri, tetapi belum
berketurunan),
“ Matipul Ulu” (suami
atau isteri meninggal
dunia dengan anak
yang masih kecil-
kecil),
“ Matompas
Tataring” (isteri
meninggal lebih
dahulu juga
meninggalkan anak
yang masih kecil).
Sari matua
Tokoh adat yang
dihubungi Ev H
Simanjuntak, BMT
Pardede, Constan
Pardede, RPS Janter
Aruan SH membuat
defenisi : “Sari Matua
adalah seseorang yang
meninggal dunia
apakah suami atau
isteri yang sudah
bercucu baik dari
anak laki-laki atau
putri atau keduanya,
tetapi masih ada di
antara anak-anaknya
yang belum kawin
(hot ripe).
Mengacu kepada
defenisi diatas,
seseorang tidak bisa
dinobatkan (dialihkan
statusnya dari Sari
Matua ke Saur Matua.
Namun dalam
prakteknya, ketika
hasuhuton
“ marpangidoan” (bermohon)
kepada dongan
sahuta, tulang, hula-
hula dan semua yang
berhadir pada acara
ria raja atau
pangarapotan, agar
yang meninggal Sari
Matua itu ditolopi
(disetujui) menjadi
Saur Matua.
Sering hasuhuton
beralasan, “benar
masih ada anak kami
yang belum hot ripe
(kawin), tetapi ditinjau
dari segi usia sudah
sepantasnya berumah
tangga, apalagi anak-
anak kami ini sudah
bekerja dan
sebenarnya, anak
kami inilah yang
membelanjai orang
tua kami yang tengah
terbaring di rumah
duka. “Semoga
dengan acara adat ini
mereka secepatnya
menemukan jodoh
(asa tumibu dapotan
sirongkap ni tondi,
manghirap sian nadao,
manjou sian najonok).
Status Sari Matua
dinaikkan setingkat
menjadi Saur Matua
seperti ini ditemukan
pada beberapa acara
adat.
Tokoh adat diatas
berkomentar,
permintaan hasuhuton
itu sudah
memplesetkan nilai
adat yang diciptakan
leluhur. Pengertian
Sari Matua, orang itu
meninggal, sebelum
tugasnya sebagai
orang tua belum
tuntas yakni
mengawinkan anak-
anaknya. Tidak diukur
dari segi umur,
pangkat, jabatan dan
kekayaan.
Mereka memprediksi,
terjadinya peralihan
status, didorong oleh
umpasa yang disalah
tafsirkan yakni: “Pitu
lombu jonggi,
marhulang-hulanghon
hotang, raja pinaraja-
raja, matua husuhuton
do
pandapotan. ” (semua
tergantung suhut).
Umpasa ini sasarannya
adalah untuk
“ sibuaton” (parjuhutna-
boan), karena bisa
saja permintaan
hadirin parjuhutna
diusulkan lombu sitio-
tio atau horbo, tetapi
karena kurang
mampu, hasuhuton
menyembelih
simarmiak-miak (B2),
atau sebaliknya jika
mampu, simarmiak-
miak marhuling-
hulinghon lombu,
simarmiak-miak
marhuling-hulinghon
horbo. Faktor lain ujar
mereka, adanya
“ ambisi” pihak
keluarga mengejar
cita-cita orang Batak
yakni hamoraon,
hagabeon,
hasangapon.
Selanjutnya, dongan
sahuta, terkesan
“ tanggap mida bohi”,
karena mungkin pihak
hasuhuton orang
“ terpandang”.
Sebenarnya, untuk
meredam “ambisi”
hasuhuton, senjata
pamungkas berada
ditangan Dongan
Sahuta. Benar ada
umpasa yang
mengatakan : “Tinallik
landurung bontar
gotana, sisada
sitaonon dohot las ni
roha do namardongan
sahuta, nang pe asing-
asing margana. ” Tetapi
bukankah ada umpasa
yang paling mengena:
“ Tinallik bulu duri,
sajongkal dua jari,
dongan sahuta do raja
panuturi dohot
pengajari. ” Mereka
harus menjelaskan
dampak negatif dari
peralihan status Sari
Matua ke Saur Matua
berkenaan dengan
anak-anak almarhum
yang belum hot ripe.
Artinya, jika kelak
dikemudian hari, anak
tersebut resmi kawin,
karena dulu sudah
dianggap kawin, tentu
dongan sahuta tidak
ikut campur tangan
dalam seluruh
kegiatan/proses
perkawinan.
Barangkali, bila hal itu
diutarakan, mungkin
pihak hasuhuton akan
berpikir dua kali,
sekaligus hal ini
mengembalikan citra
adat leluhur.
Selanjutnya, ada pula
berstatus “Mate
Mangkar” berubah
menjadi Sari Matua,
karena diantara
anaknya sudah ada
yang berumah tangga
namun belum
dikaruniai cucu.
Hasuhuton beralasan,
parumaen (menantu)
sudah mengandung
(“ manggora pamuro”).
Hebatnya lagi,
parjuhutna (boan)
sigagat duhut (bukan
simarmiak-miak
merhuling-hulinghon
horbo).
Saya kurang setuju
menerima adat yang
demikian ”, ujar Ev H
Simanjuntak. Lahir
dulu, baru kita sebut
Si Unsok atau Si Butet,
kalau orang yang
meninggal tadi dari
Mate Mangkar
menjadi Sari Matua,
lalu ompu si apa kita
sebut? Ompu
Sipaimaon ?”, katanya
memprotes. Kalau
hanya mengharapkan
manjalo tangiang
menjadi
partangiangan, kenapa
kita sungkan
menerima apa yang
diberikan Tuhan
kepada kita,
sambungnya. Soal
boan sigagat duhut,
menurut Simanjuntak,
hal itu sudah
melampaui ambang
batas normal adat
Batak. Seharusnya
simarmiak-miak,
karena kerbau adalah
ternak yang paling
tinggi dalam adat
Batak, tegasnya.
Ulos tujung dan
sampe tua
Ulos tujung, adalah
ulos yang ditujungkan
(ditaruh diatas kepala)
kepada mereka yang
menghabaluhon
(suami atau isteri yang
ditinggalkan
almarhum). Jika yang
meninggal adalah
suami, maka penerima
tujung adalah isteri
yang diberikan hula-
hulanya. Sebaliknya
jika yang meninggal
adalah isteri, penerima
tujung adalah suami
yang diberikan
tulangnya. Tujung
diberikan kepada
perempuan balu atau
pria duda karena
“ mate mangkar” atau
Sari Matua, sebagai
simbol duka cita dan
jenis ulos itu adalah
sibolang.
Dahulu, tujung itu
tetap dipakai kemana
saja pergi selama hari
berkabung yang
biasanya seminggu
dan sesudahnya baru
dilaksanakan “ungkap
tujung” (melepas ulos
dari kepala). Tetapi
sekarang hal itu sudah
tidak ada lagi, sebab
tujung tersebut
langsung diungkap
(dibuka) oleh tulang
ataupun hula-hula
sepulang dari kuburan
(udean). Secara ratio,
yang terakhir ini lebih
tepat, sebab kedukaan
itu akan lebih cepat
sirna, dan suami atau
isteri yang ditinggal
almarhum dalam
waktu relatif singkat
sudah dapat kembali
beraktifitas mencari
nafkah. Jika tujung
masih melekat di
kepala, kemungkinan
yang bersangkutan
larut dalam duka
(margudompong)
yang eksesnya bisa
negatif yakni semakin
jauh dari Tuhan atau
pesimis bahkan apatis.
Ulos Sampe Tua,
adalah ulos yang
diberikan kepada
suami atau isteri
almarhum yang sudah
Saur Matua, tetapi
tidak ditujungkan
diatas kepala,
melainkan diuloskan
ke bahu oleh pihak
hula-hula ataupun
tulang. Jenis ulos
dimaksud juga
bernama Sibolang.
Ulos Sampe Tua
bermakna Sampe
(sampailah) tua
(ketuaan-berumur
panjang dan diberkati
Tuhan).
Akhir-akhir ini pada
acara adat Sari Matua,
sering terlihat ulos
yang seharusnya
adalah tujung,
berobah menjadi ulos
sampe tua. Alasannya
cukup sederhana,
karena suami atau
isteri yang ditinggal
sudah kurang pantas
menerima tujung,
karena faktor usia dan
agar keluarga yang
ditinggalkan beroleh
tua.
Konsekwensi penerima
ulos Sampe Tua
adalah suami ataupun
isteri tidak boleh
kawin lagi. Seandainya
pesan yang tersirat
pada ulos Sampe Tua
ini dilanggar, kawin
lagi dan punya anak
kecil lalu meninggal,
ulos apa pula
namanya. Tokoh adat
Ev H Simanjuntak,
BMT Pardede, Raja
Partahi Sumurung
Janter Aruan SH dan
Constant Pardede
berpendapat
sebaiknya ulos yang
diberikan adalah
tujung, sebab kita
tidak tahu apa yang
terjadi kedepan. Toh
tujung itu langsung
dibuka sepulang dari
kuburan, ujar mereka.
Saur Matua
Seseorang disebut
Saur Matua, ketika
meninggal dunia
dalam posisi “Titir
maranak, titir
marboru,
marpahompu sian
anak, marpahompu
sian boru ”. Tetapi
sebagai umat
beragama, hagabeon
seperti diuraikan
diatas, belum tentu
dimiliki seseorang.
Artinya seseorang juga
berstatus saur matua
seandainya anaknya
hanya laki-laki atau
hanya perempuan,
namun sudah
semuanya hot ripe
dan punya cucu.
Khusus tentang
parjuhutna, Ev H
Simanjuntak bersama
rekannya senada
mengatakan, yang
cocok kepada ina
adalah lombu sitio-tio
atau kalau harus
horbo, namanya
diperhalus dengan
sebutan “lombu sitio-
tio marhuling-
hulinghon horbo”.
Sebab kelak jika
bapak yang
meninggal, “boan”-
nya adalah horbo
(sigagat duhut).
Diminta tanggapannya
apakah keharusan
boan dari mereka
yang Saur Matua
lombu sitio-tio atau
sigagat duhut, tokoh
adat ini menjelaskan,
hal itu relatif
tergantung
kemampuan
hasuhuton, bisa saja
simarmiak-miak.
Disinilah pemakaian
umpasa “Pitu lombu
jonggi, marhulang-
hulanghon hotang,
raja pinaraja-raja,
matua hasuhuton do
pandapotan ”.
Kalangan hula-hula,
terutama dongan
sahuta harus
memaklumi kondisi
dari hasuhuton agar
benar-benar “tinallik
landorung bontar
gotana, sada sitaonon
do na mardongan
sahuta nang pe pulik-
pulik margana ”.
Jangan terjadi seperti
cerita di Toba, akibat
termakan adat
akhirnya mereka lari
malam (bungkas) kata
mereka.
Masih seputar Saur
Matua khususnya
kepada kaum bapak,
predikat isteri tercinta,
kawin lagi dan punya
keturunan. Kelak jika
bapak tersebut
meninggal dunia, lalu
anak yang
ditinggalkan berstatus
lajang, sesuai dengan
defenisi yang
dikemukakan diawal
tulisan ini, sang bapak
menjadi Sari Matua.
Mauli Bulung
Mauli Bulung, adalah
seseorang yang
meninggal dunia
dalam posisi titir
maranak, titir
marboru,
marpahompu sian
anak, marpahompu
sian boru sahat tu
namar-nini, sahat tu
namar-nono dan
kemungkinan ke
“marondok-ondok”
yang selama hayatnya,
tak seorangpun dari
antara keturunannya
yang meninggal dunia
(manjoloi) (Seseorang
yang beranak pinak,
bercucu, bercicit
mungkin hingga ke
buyut).
Dapat diprediksi, umur
yang Mauli Bulung
sudah sangat panjang,
barangkali 90 tahun
keatas, ditinjau dari
segi generasi. Mereka
yang memperoleh
predikat mauli bulung
sekarang ini sangat
langka.
Dalam tradisi adat
Batak, mayat orang
yang sudah Mauli
Bulung di peti mayat
dibaringkan lurus
dengan kedua tangan
sejajar dengan badan
(tidak dilipat).
Kematian seseorang
dengan status mauli
bulung, menurut adat
Batak adalah
kebahagiaan tersendiri
bagi keturunannya.
Tidak ada lagi isak
tangis. Mereka boleh
bersyukur dan
bersuka cita, berpesta
tetapi bukan hura-
hura, memukul
godang ogung
sabangunan, musik
tiup, menari, sebagai
ungkapan rasa syukur
dan terima kasih
kepada Tuhan yang
Maha Kasih lagi
Penyayang.
Kematian Suku Batak
Oleh Bulman Harianja
BA
Pendahuluan
Berbicara tentang Sari
Matua, Saur Matua
dan Mauli Bulung
adalah berbicara
tentang
kematian seseoang
dalam konteks adat
Batak. Adalah
aksioma, semua orang
harus mati, dan hal itu
dibenarkan oleh
semua agama.
Bukankah pada
Kidung Jemaat 334
disebut: “Tiap orang
harus mati, bagai
rumput yang kering.
Makhluk hidup harus
busuk, agar lahir yang
baru. Tubuh ini akan
musnah, agar hidup
disembuhkan. di
akhirat bangkitlah,
masuk sorga yang
megah. ”
Selain yang disebutkan
diatas, masih ada jenis
kematian lain seperti
“ Martilaha” (anak
yang belum berumah
tangga meninggal
dunia), “Mate
Mangkar” (yang
meninggal suami atau
isteri, tetapi belum
berketurunan),
“ Matipul Ulu” (suami
atau isteri meninggal
dunia dengan anak
yang masih kecil-
kecil),
“ Matompas
Tataring” (isteri
meninggal lebih
dahulu juga
meninggalkan anak
yang masih kecil).
Sari matua
Tokoh adat yang
dihubungi Ev H
Simanjuntak, BMT
Pardede, Constan
Pardede, RPS Janter
Aruan SH membuat
defenisi : “Sari Matua
adalah seseorang yang
meninggal dunia
apakah suami atau
isteri yang sudah
bercucu baik dari
anak laki-laki atau
putri atau keduanya,
tetapi masih ada di
antara anak-anaknya
yang belum kawin
(hot ripe).
Mengacu kepada
defenisi diatas,
seseorang tidak bisa
dinobatkan (dialihkan
statusnya dari Sari
Matua ke Saur Matua.
Namun dalam
prakteknya, ketika
hasuhuton
“ marpangidoan” (bermohon)
kepada dongan
sahuta, tulang, hula-
hula dan semua yang
berhadir pada acara
ria raja atau
pangarapotan, agar
yang meninggal Sari
Matua itu ditolopi
(disetujui) menjadi
Saur Matua.
Sering hasuhuton
beralasan, “benar
masih ada anak kami
yang belum hot ripe
(kawin), tetapi ditinjau
dari segi usia sudah
sepantasnya berumah
tangga, apalagi anak-
anak kami ini sudah
bekerja dan
sebenarnya, anak
kami inilah yang
membelanjai orang
tua kami yang tengah
terbaring di rumah
duka. “Semoga
dengan acara adat ini
mereka secepatnya
menemukan jodoh
(asa tumibu dapotan
sirongkap ni tondi,
manghirap sian nadao,
manjou sian najonok).
Status Sari Matua
dinaikkan setingkat
menjadi Saur Matua
seperti ini ditemukan
pada beberapa acara
adat.
Tokoh adat diatas
berkomentar,
permintaan hasuhuton
itu sudah
memplesetkan nilai
adat yang diciptakan
leluhur. Pengertian
Sari Matua, orang itu
meninggal, sebelum
tugasnya sebagai
orang tua belum
tuntas yakni
mengawinkan anak-
anaknya. Tidak diukur
dari segi umur,
pangkat, jabatan dan
kekayaan.
Mereka memprediksi,
terjadinya peralihan
status, didorong oleh
umpasa yang disalah
tafsirkan yakni: “Pitu
lombu jonggi,
marhulang-hulanghon
hotang, raja pinaraja-
raja, matua husuhuton
do
pandapotan. ” (semua
tergantung suhut).
Umpasa ini sasarannya
adalah untuk
“ sibuaton” (parjuhutna-
boan), karena bisa
saja permintaan
hadirin parjuhutna
diusulkan lombu sitio-
tio atau horbo, tetapi
karena kurang
mampu, hasuhuton
menyembelih
simarmiak-miak (B2),
atau sebaliknya jika
mampu, simarmiak-
miak marhuling-
hulinghon lombu,
simarmiak-miak
marhuling-hulinghon
horbo. Faktor lain ujar
mereka, adanya
“ ambisi” pihak
keluarga mengejar
cita-cita orang Batak
yakni hamoraon,
hagabeon,
hasangapon.
Selanjutnya, dongan
sahuta, terkesan
“ tanggap mida bohi”,
karena mungkin pihak
hasuhuton orang
“ terpandang”.
Sebenarnya, untuk
meredam “ambisi”
hasuhuton, senjata
pamungkas berada
ditangan Dongan
Sahuta. Benar ada
umpasa yang
mengatakan : “Tinallik
landurung bontar
gotana, sisada
sitaonon dohot las ni
roha do namardongan
sahuta, nang pe asing-
asing margana. ” Tetapi
bukankah ada umpasa
yang paling mengena:
“ Tinallik bulu duri,
sajongkal dua jari,
dongan sahuta do raja
panuturi dohot
pengajari. ” Mereka
harus menjelaskan
dampak negatif dari
peralihan status Sari
Matua ke Saur Matua
berkenaan dengan
anak-anak almarhum
yang belum hot ripe.
Artinya, jika kelak
dikemudian hari, anak
tersebut resmi kawin,
karena dulu sudah
dianggap kawin, tentu
dongan sahuta tidak
ikut campur tangan
dalam seluruh
kegiatan/proses
perkawinan.
Barangkali, bila hal itu
diutarakan, mungkin
pihak hasuhuton akan
berpikir dua kali,
sekaligus hal ini
mengembalikan citra
adat leluhur.
Selanjutnya, ada pula
berstatus “Mate
Mangkar” berubah
menjadi Sari Matua,
karena diantara
anaknya sudah ada
yang berumah tangga
namun belum
dikaruniai cucu.
Hasuhuton beralasan,
parumaen (menantu)
sudah mengandung
(“ manggora pamuro”).
Hebatnya lagi,
parjuhutna (boan)
sigagat duhut (bukan
simarmiak-miak
merhuling-hulinghon
horbo).
Saya kurang setuju
menerima adat yang
demikian ”, ujar Ev H
Simanjuntak. Lahir
dulu, baru kita sebut
Si Unsok atau Si Butet,
kalau orang yang
meninggal tadi dari
Mate Mangkar
menjadi Sari Matua,
lalu ompu si apa kita
sebut? Ompu
Sipaimaon ?”, katanya
memprotes. Kalau
hanya mengharapkan
manjalo tangiang
menjadi
partangiangan, kenapa
kita sungkan
menerima apa yang
diberikan Tuhan
kepada kita,
sambungnya. Soal
boan sigagat duhut,
menurut Simanjuntak,
hal itu sudah
melampaui ambang
batas normal adat
Batak. Seharusnya
simarmiak-miak,
karena kerbau adalah
ternak yang paling
tinggi dalam adat
Batak, tegasnya.
Ulos tujung dan
sampe tua
Ulos tujung, adalah
ulos yang ditujungkan
(ditaruh diatas kepala)
kepada mereka yang
menghabaluhon
(suami atau isteri yang
ditinggalkan
almarhum). Jika yang
meninggal adalah
suami, maka penerima
tujung adalah isteri
yang diberikan hula-
hulanya. Sebaliknya
jika yang meninggal
adalah isteri, penerima
tujung adalah suami
yang diberikan
tulangnya. Tujung
diberikan kepada
perempuan balu atau
pria duda karena
“ mate mangkar” atau
Sari Matua, sebagai
simbol duka cita dan
jenis ulos itu adalah
sibolang.
Dahulu, tujung itu
tetap dipakai kemana
saja pergi selama hari
berkabung yang
biasanya seminggu
dan sesudahnya baru
dilaksanakan “ungkap
tujung” (melepas ulos
dari kepala). Tetapi
sekarang hal itu sudah
tidak ada lagi, sebab
tujung tersebut
langsung diungkap
(dibuka) oleh tulang
ataupun hula-hula
sepulang dari kuburan
(udean). Secara ratio,
yang terakhir ini lebih
tepat, sebab kedukaan
itu akan lebih cepat
sirna, dan suami atau
isteri yang ditinggal
almarhum dalam
waktu relatif singkat
sudah dapat kembali
beraktifitas mencari
nafkah. Jika tujung
masih melekat di
kepala, kemungkinan
yang bersangkutan
larut dalam duka
(margudompong)
yang eksesnya bisa
negatif yakni semakin
jauh dari Tuhan atau
pesimis bahkan apatis.
Ulos Sampe Tua,
adalah ulos yang
diberikan kepada
suami atau isteri
almarhum yang sudah
Saur Matua, tetapi
tidak ditujungkan
diatas kepala,
melainkan diuloskan
ke bahu oleh pihak
hula-hula ataupun
tulang. Jenis ulos
dimaksud juga
bernama Sibolang.
Ulos Sampe Tua
bermakna Sampe
(sampailah) tua
(ketuaan-berumur
panjang dan diberkati
Tuhan).
Akhir-akhir ini pada
acara adat Sari Matua,
sering terlihat ulos
yang seharusnya
adalah tujung,
berobah menjadi ulos
sampe tua. Alasannya
cukup sederhana,
karena suami atau
isteri yang ditinggal
sudah kurang pantas
menerima tujung,
karena faktor usia dan
agar keluarga yang
ditinggalkan beroleh
tua.
Konsekwensi penerima
ulos Sampe Tua
adalah suami ataupun
isteri tidak boleh
kawin lagi. Seandainya
pesan yang tersirat
pada ulos Sampe Tua
ini dilanggar, kawin
lagi dan punya anak
kecil lalu meninggal,
ulos apa pula
namanya. Tokoh adat
Ev H Simanjuntak,
BMT Pardede, Raja
Partahi Sumurung
Janter Aruan SH dan
Constant Pardede
berpendapat
sebaiknya ulos yang
diberikan adalah
tujung, sebab kita
tidak tahu apa yang
terjadi kedepan. Toh
tujung itu langsung
dibuka sepulang dari
kuburan, ujar mereka.
Saur Matua
Seseorang disebut
Saur Matua, ketika
meninggal dunia
dalam posisi “Titir
maranak, titir
marboru,
marpahompu sian
anak, marpahompu
sian boru ”. Tetapi
sebagai umat
beragama, hagabeon
seperti diuraikan
diatas, belum tentu
dimiliki seseorang.
Artinya seseorang juga
berstatus saur matua
seandainya anaknya
hanya laki-laki atau
hanya perempuan,
namun sudah
semuanya hot ripe
dan punya cucu.
Khusus tentang
parjuhutna, Ev H
Simanjuntak bersama
rekannya senada
mengatakan, yang
cocok kepada ina
adalah lombu sitio-tio
atau kalau harus
horbo, namanya
diperhalus dengan
sebutan “lombu sitio-
tio marhuling-
hulinghon horbo”.
Sebab kelak jika
bapak yang
meninggal, “boan”-
nya adalah horbo
(sigagat duhut).
Diminta tanggapannya
apakah keharusan
boan dari mereka
yang Saur Matua
lombu sitio-tio atau
sigagat duhut, tokoh
adat ini menjelaskan,
hal itu relatif
tergantung
kemampuan
hasuhuton, bisa saja
simarmiak-miak.
Disinilah pemakaian
umpasa “Pitu lombu
jonggi, marhulang-
hulanghon hotang,
raja pinaraja-raja,
matua hasuhuton do
pandapotan ”.
Kalangan hula-hula,
terutama dongan
sahuta harus
memaklumi kondisi
dari hasuhuton agar
benar-benar “tinallik
landorung bontar
gotana, sada sitaonon
do na mardongan
sahuta nang pe pulik-
pulik margana ”.
Jangan terjadi seperti
cerita di Toba, akibat
termakan adat
akhirnya mereka lari
malam (bungkas) kata
mereka.
Masih seputar Saur
Matua khususnya
kepada kaum bapak,
predikat isteri tercinta,
kawin lagi dan punya
keturunan. Kelak jika
bapak tersebut
meninggal dunia, lalu
anak yang
ditinggalkan berstatus
lajang, sesuai dengan
defenisi yang
dikemukakan diawal
tulisan ini, sang bapak
menjadi Sari Matua.
Mauli Bulung
Mauli Bulung, adalah
seseorang yang
meninggal dunia
dalam posisi titir
maranak, titir
marboru,
marpahompu sian
anak, marpahompu
sian boru sahat tu
namar-nini, sahat tu
namar-nono dan
kemungkinan ke
“marondok-ondok”
yang selama hayatnya,
tak seorangpun dari
antara keturunannya
yang meninggal dunia
(manjoloi) (Seseorang
yang beranak pinak,
bercucu, bercicit
mungkin hingga ke
buyut).
Dapat diprediksi, umur
yang Mauli Bulung
sudah sangat panjang,
barangkali 90 tahun
keatas, ditinjau dari
segi generasi. Mereka
yang memperoleh
predikat mauli bulung
sekarang ini sangat
langka.
Dalam tradisi adat
Batak, mayat orang
yang sudah Mauli
Bulung di peti mayat
dibaringkan lurus
dengan kedua tangan
sejajar dengan badan
(tidak dilipat).
Kematian seseorang
dengan status mauli
bulung, menurut adat
Batak adalah
kebahagiaan tersendiri
bagi keturunannya.
Tidak ada lagi isak
tangis. Mereka boleh
bersyukur dan
bersuka cita, berpesta
tetapi bukan hura-
hura, memukul
godang ogung
sabangunan, musik
tiup, menari, sebagai
ungkapan rasa syukur
dan terima kasih
kepada Tuhan yang
Maha Kasih lagi
Penyayang.
Pengobatan ala Batak
Kitab Pengobatan
batak
15. Budaya ritual
dalam pengobatan
Pada saat Mulajadi
Nabolon kembali ke
benua atas, Mulajadi
Nabolon bersabda
kepada Raja Ihat
Manisia dan Siboru
Ihat Manisia. “Jika
kamu sekalian
penghuni Benua
Tengah hendak
berhubungan dan
bersekutu dengan
kami penghuni Benua
Atas, maka segala jenis
sesajen yang hendak
kamu persembahkan
harus disusun rapi dan
bersih serta diiringi
dengan rasa
penyampaian yang
tulus dan suci. Sudah
kuberikan kepadamu
Hata Dua, apa yang
boleh dilakukan dan
apa yang tidak boleh
dilakukan dan dirimu
harus bersih dan suci ”.
Bersumber dari ajaran
tersebut Parmalim
memberikan pelean
atau sesajen suci
dengan dihantar asap
dupa dan air suci serta
bersih tidak boleh
makan daging babi
dan anjing serta darah
dan bangkai. Sebagai
tindak lanjut ajaran
tadi Ugamo Malim
mempunyai rukun dan
aturan yang
dilaksanakan dan
menjadi pedoman
prilaku Parmalim
antara lain :
1. Marari Sabtu,
Pada setiap hari sabtu
atau samisara seluruh
umat Parmalim
berkumpul di tempat
yang sudah ditentukan
baik di Bale
Partonggoan, Bale
Pasogit di pusat
maupun ruma
Parsantian di cabang/
daerah untuk
melakukan sembah
dan puji kepada
Mulajadi Nabolon dan
pada kesempatan itu
para anggota diberi
poda atau bimbingan
agar lebih tekun
berprilaku menghayati
Ugamonya.
2. Martutuaek,
Upacara yang
dilakukan di rumah
umat yang mendapat
kelahiran seorang
anak, atau pemberian
nama kepada anak.
Anak yang baru lahir
sebelum dibawa
bepergian kemana-
mana harus lebih
dahulu diperkenalkan
dengan bumi
terutama air untuk
memebrsihkan dan ini
dilaksanakan
membawa anak
tersebut ke umbul
mata air disertai
dengan bara api
tempat membakar
dupa. Kemudian baru
dibawa ke dunia baru
yaitu pasar dan diberi
buah-buahan, manis
perlambang hari
depan yang makin
manis. Setelah
dirumah dilanjutkan
lagi dengan upacara,
bergantung pada
kemampuan keluarga
tersebut. Pada saat
pulang dari pasar tadi,
siapa saja diinginkan
oleh keluarga si anak
meminta buah-buahan
bawaan si anak tadi
sebagai perlambang
bahwa si anak kelak
akan bersifat
maduma.
3. Mardebata,
yaitu upacara yang
sifatnya individual
dimana seorang
melaksanakan upacara
sendiri tanpa
melibatkan orang lain.
Ritual ini sendiri
mempunyai tujuan
ganda yaitu meminta
keampunan dosa atau
menebus dosa dan
syukuran. Seseorang
yang merasa dirinya
menyimpang dari
aturan patik perlu
menyelenggarakan
perdebatan sebagai
sarana penebus
dosanya. Bagi orang
lain pardebataon itu
mungkin pula untuk
mewujudkan kaulnya.
Mardebata ini boleh
pula melibatkan yang
lain. Hal itu
bergantung kepada
yang mampu. Karena
Mardebata itu boleh
oleh orang seorang
boleh oleh keluarga
dan seterusnya. Jika
upacara dibuat besar-
besaran misalnya
untuk mewujudkan
niatnya harus dengan
menyediakan sesaji
dengan secukupnya
dan boleh pula
dengan dihantar
gendang sabangunan
serta diatur oleh tata
upacara resmi sesuai
dengan tata upacara
dari Ihutan atau dari
Uluan.
Upacara Mardebata
ini bagi yang mampu
nampaknya sudah
seolah-olah pesta,
karena undanganpun
dapat pula
dilaksanakan. Jadi jelas
bergantung pada
nazar dikandung oleh
yang terlibat. Jika satu
nenek moyang sudah
berniat untuk memuja
Mulajadi Nabolon
dengan jalan
Mardebata hal itu
dapat dilakukan oleh
satu nenek moyang
itu.
4. Pasahat Tondi,
Upacara kematian
dibagi dalam dua
tahap. Pertama adalah
pengurasan jenazah
menjelang
pemakaman, kedua
adalah pasahat tondi.
Pemberangkatan
jenazah dipimpin oleh
Ihutan atau
Ulupunguan dengan
upacara doa : “Borhat
ma ho tu habangsa
panjadianmu ”,
Artinya : Berangkatlah
engkau ke tempat
kejadianmu. Satu
minggu setelah
pemakaman, keluarga
yang ditinggal
mengadakan
pangurason
tersemayamkan di
rumah. Satu bulan
setelah pemakaman,
dilanjutkan dengan
Upacara Pasahat
Tondi yaitu upacara
mengantar roh dalam
hati harfiah. Tuhan
menciptakan manusia
atas dua bagian yaitu
badan dan roh
(pamatang dohot
tondi). Apabila badan
mati, toh tidak ikut
mati, ia akan kembali
kepada penciptanya,
sesuai dengan
pandangan ketuhanan
Parmalim, bahwa
“ Ngolu dohot
hamatean huaso ni
Debata ” artinya
“kehidupan dan
kematian adalah
kuasa Tuhan. Upacara
ini adalah upacara
tonggo-tonggo atau
dosa. Dapat dilakukan
dengan sederhana
dan dapat pula
dilakukan dengan
besar-besaran
bergantung pada
kemampuan keluarga
yang ditinggal. Tentu
dengan demikian
sesaji harus terhidang
dan upacara harus
memenuhi
keseluruhan tata tertib
acara berdasarkan
Ugamo Malim. Ini
bulan berarti bahwa
acara tidak boleh
dibuat sederhana.
Boleh dengan acara
sederhana, yang
pokok adalah
bagaimana inti
pasahat tondi itu
harus terlaksana.
5. Mangan Napaet,
adalah upacara atau
berpuasa untuk
menebus dosa
dilaksanakan selama
24 jam penuh pada
setiap penghujung
tahun kalender batak
yaitu pada ari hurung
bulan hurung.
Upacara ini adalah
bersifat umum
dilaksanakan oleh
setiap cabang atau
ganup punguan.
Perangkat dasar
upacara ini selain
pangurason dan
pardupaon yang
terpenting ialah
makanan napaet,
diramu dari beberapa
jenis buah dan daun
yang pahit, seperti
daun pepaya, buah
ingkir, babal, cabe
rawit, jeruk bali muda
dan gara.
Mangan Napaet
dilakukan pada awal
puasa dan pada akhir
sebelum berbuka,
sedangkan ritual
dimulai jam. 12.00
tengah hari. pada saat
semua jemaat
berkumpul di
parsantian atau
dirumah Ihutan/
Ulupunguan, upacara
dasar dimulai berupa
puji-pujian kepada
Mulajadi Nabolon-
Raja Nasiak bagi dan
kemudian untuk
mengingatkan
hukumnya mangan
napaet. Mangan
Napaet dimulai
dengan cara
mengedarkan napaet
tadi secara estafet.
Mangan Napaet
adalah merupakan
pengabdian warga
parmalim kepada Raja
Nasiak bagi yang
menderita untuk
manusia. Dan juga arti
mangan napaet
adalah symbol
kehidupan dari pahit
menjadi manis, karena
sudah mangan napaet
akan diakhiri dengan
mangan natonggi dan
inilah permulaan
hidup prilaku baru
untuk dilaksanakan
dalam kehidupan
sehari-hari. setelah
mangan napaet maka
dilaksanakan pula
upacara persembahan
kambing putih kepada
Mulajadi Nabolon.
6. Upacara Sipaha
Sada,
adalah merupakan
upacara yang paling
hikmad dan
mengandung nilai
religius yang paling
dalam, bagi Umat
Parmalim. Pelaksanaan
upacara ini disambut
gembira karena sehari
sebelumnya Parmalim
baru saja selesai
mengadakan upacara
mangan napaet yaitu
satu cara upacara
pembebasan manusia
dari dosa.
Upacara Sipaha Sada
adalah penyambutan
datangnya tahun baru
Ugamo Malim atau
pada Sipaha Sada
inilah pergantian
tahun terjadi. Boleh
dikatakan Sipaha Sada
ini adalah tahun baru
batak. Pada upacara
ini pada umumnya
seluruh orang batak
melakukan dialog
bathin. Dan hari
berikutnya dinamai
Suma. Pada hari itu
diperingati hari lahir
Simarimbulubosi.
Upacara dipusatkan di
Bale Pasogit. Upacara
ini melakukan sesajen
juga kepada Mulajadi
Nabolon termasuk
kepada ketiga wujud
pancaran kuasa yaitu
Batara Guru, Debata
Sori dan Debata
Balabulan dan
seterusnya sampai
kepada Raja
Nasiakbagi
dihantarkan dengan
asap dupa, air suci
dan dengan bunyi
gendang sabangunan.
Upacara ini
dilaksanakan bersama
di Bale Pasogit.
Dengan demikian
semua umat Parmalim.
Pada upacara ini
dilaksanakan dengan
tertib dan memang
benar-benar tertib
dan hikmad karena
dianggap hari tersebut
adalah memperingati
kelahiran Tuhan.
7. Upacara Sipaha
Lima,
yaitu upacara
dilakukan pada bulan
kelima kelender Batak
untuk menyampaikan
puji-pujian kepada
Mulajadi Nabolon
termasuk kepada
wujud Pancaran
Kuasanya mulai dari
Debata Batara Guru-
Debata Sori dan
Balabulan dan
seterusnya kepada
Raja Nasiakbagi,
karena atas berkatnya
semua mereka
memperoleh rahmat,
sehat jasmani dan
rohani. Upacara ini
disebut Upacara
Kurban, karena sajian
yang dipersembahkan
adalah hewan kurban
dari kerbau atau
lembu.
Sajian pertama kepada
Mulajadi Nabolon
yang seterusnya
diantar dengan asap
dupa dan air suci dan
dengan bunyi gendang
sabangunan.
Penyelenggaraan
upacara Sipaha Lima
ditetapkan pada hari
ke 12-13 dan 14
menjelang bulan
purnama. Hari
tersebut dinamakan
Boraspati, Singkora
dan Samisara berkisar
antara bulan Juli-
Agustus pada bulan
Masehi. Upacara
diadakan dengan
sajian yang lengkap
dilaksanakan dengan
penuh khikmad tanpa
syukur Parmalim
kepada Tuhannya dan
agar diberi
keselamatan dan
kesejahteraan pada
hari-hari berikutnya.
Jika pandangan Batak
Tua mengenai
ketuhanan
dikembangkan
Parmalim dengan
ugamo Malim, maka
berikut ini yaitu oleh
masyarakat Batak
sekarang masih
memperilakukan
pandangan tersebut
pada kehidupannya
sehari-hari dalam
bentuk budaya ritual.
Untuk lebih
memahami pendapat
ini marilah kita mulai
lagi melihat
pandangan dan
kehidupan masyarakat
Batak dahulu dengan
masyarakat Batak
sekarang.
Lambang wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
adalah hembang atau
bendera-bendera
berwarna hitam
diatas, putih ditengah
dan merah dibawah
dalam satu kesatuan
yang disebut Debata
Natolu. Warna Hitam
adalah lambang
Debata Batara Guru
dari wujud pandang
kuasa Mulajadi
Nabolon dalam
kebijakan atau
hahomion. Artinya
adalah bahwa pikiran
manusia tidak mampu
meneliti atau
memikirkan kebijakan
Mulajadi Nabolon.
Hahomion Mulajadi
Nabolon itu dapat
dialami tetapi tak
dapat dipikirkan.
Sebagaimana warna
hitam pekat demikian
pulalah gepalnya
pikiran manusia atau
kebijakan Mulajadi
Nabolon. Manusia
tidak dapat
meramalkan dan
meraba seperti
gelapnya warna hitam,
demikian pulalah
dangkalnya dan
gelapnya pikiran
manusia tentang
kebijakan Tuhan.
Manusia tidak mampu
untuk itu. oleh sebab
itu lambang hitam dari
Batara Guru adalah
pertanda penyerahan
diri kepadaNya.
Hanya terserah pada
kebijakan Tuhanlah
kehidupan manusia.
Manusia tidak akan
dapat berjalan pada
warna hitam yang
ketat, malam yang
gelap. Maksudnya
manusia tidak akan
dapat berjalan di
dunia ini oleh dirinya
sendiri. Sebab itu
berserah kepadaNya-
lah dikemanakan
hidup ini. Apalah arti
manusia dibandingkan
dengan Kuasa Agung
yang dimilikiNya.
Berserah kepada
kebijakan Tuhanlah
hidup ini karena
Dialah kebenaran
yang menetapkan
kebijakan itu. jadi arti
warna hitam pada
lambing adalah
berserah diri kepada
kebijakan Tuhan atau
berserah diri kepada
hahomion ni Debata
atau dengan kata lain :
“Tung asi ni roha ni
Debata ma”. Warna
putih dari hembang
adalah lambing
Debata Sorisohaliapan
sebagai wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
mengenai kesucian
atau hahomion. Putih
tidak dapat
dibedakan. Dengan
demikian dalam warna
putih tidak terdapat
perbedaan.
Demikianlah Debata
Sohaliapan bahwa
pada diriNya tidak ada
perbedaan maka
sering dikatakan Putih
ada perbedaan pada
dirinya. Dia harus
sama dengan yang
lain. Apabila dia sudah
sama dengan yang
lain, dan itu pula-lah
hukum kekuatan
baginya dan dialah
menjadi penguasa
hukum kekuatan itu
(habonaron).
Warna merah dari
hembang adalah
lambing Debata
Balabulan sebagai
wujud pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
mengenai kekuatan.
Balabulan adalah
wujud kejadian
kekuatan alam itu.
merah adalah warna
tanah atau rata dalam
bahasa batak, merah
itu adalah perlambang
kegairahan untuk
hidup. Justru
kegairahan untuk
hidup itulah maka
timbul keberanian.
Seseorang yang berani
ia tidak takut mati,
maka sering kita
dengar : “Mardomu di
tano rara hita”.
maksudnya mereka
baru berjumpa setelah
mati. Agar mati itu
jangan sampai terjadi
maka harus tetap
kuat. Agar tetap kuat
inilah dilambangkan
dengan merah yaitu
wujud pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
menjadi kekuatan.
Warna merah adalah
perlambang kekuatan
dan agar tetap kuat
(hagogoon). Setiap
manusia
mengharapkan
kekuatan ada
padanya. Kekuatan itu
belum sempurna
apabila hanya untuk
diri sendiri. Dan lebih
tidak sempurna lagi
apabila tidak diridhoi
Tuhan. Apabila kita
padu arti ketiga warna
tadi, maka dapatlah
kita ambil kesimpulan
bahwa hitam itu
adalah kebijakan
Tuhan, putih itu
adalah kesucian Tuhan
dari Tuhan, dan
merah adalah
kekuatan Tuhan
(hahomion-
hamalimon-
hagogoon). Dengan
melihat bendera atau
lambang yang
warnanya hitam
diatas, putih ditengah
dan merah dibawah,
itu berarti
menggambarkan
kebijakan, kesucian
dan kekuatan dari
Tuhan. Artinya yang
dilambangkan dalam
bendera itu adalah
Batara Guru sebagai
wujud pancaran kuasa
kebijakan, Debata
Sorisohaliapan sebagai
wujud pancaran kuasa
kesucian dan
Debatabulan sebagai
wujud pancaran kuasa
kekuatan dari
Mulajadi Nabolon.
Lambang ini boleh
dipisah-pisah seperti
satu bendera tetapi
dipacakkan
berdekatan, dengan
ketentuan hitam di
kanan, putih ditengah
dan merah dikiri.
Kesimpulan arti
lambang bahwa warna
hitam – putih – merah
merupakan kebijakan-
kesuciannya dan
kekuatannya tidak
dapat dibandingkan,
tidak bermula dan
tidak akan berakhir
dan mula segala yang
ada. Ini adalah
merupakan keyakinan
orang batak pada
umumnya dari dahulu
sampai sekarang.
Mengapa penulis
berani mengatakan
demikian, baiklah
penjelasan berikut ini.
Mungkin kita geli
apabila diingat pada
masa-masa kanak-
kanak dahulu disuruh
orangtua memakai
boning menalu diikat
ditangan jika ada
wabah penyakit. Agar
kita jangan dihinggapi
penyakit, agar kita
jangan dihinggapi
penyakit, demikian
pandangan kita waktu
itu. kegelian hati kita
sekarang inipun
sebenarnya tidak
berdasar karena
sampai saat inipun kita
semua dan
masyarakatpun sehari-
hari.
Bonang Manalu tiga
benang masing-masing
warna hitam atau biru,
putih dan merah
dipilin menjadi satu
adalah symbol doa
masyarakat batak
merupakan keyakinan
bahwa seseorang akan
selamat apabila yakin
bahwa tidak ada yang
lebih kuat dari Tuhan
Yang Maha Esa mula
kebijakan, kesucian
dan kekuatan itu.
apabila saya memakai
bonang manalu
berarti saya telah
yakin bahwa apapun
yang akan terjadi baik
pada saat ada wabah
penyakit saya akan
tetap selamat berkat
kepercayaan saya
yaitu Tuhan yang saya
puja itu jauh lebih
kuat dari kita
seluruhnya. Saya yakin
dan percaya bahwa
saya akan tetap
selamat berkat
kepercayaan saya
bahwa Tuhanku
pemilik hahomion itu
pemilik kesucian itu
pemilik kekuatan itu
adalah lebih kuat dari
segala yang ada untuk
melindungi saya.
Ulos yang masih
dipakai orang batak
dalam kehidupan ada
adatnya adalah
bonang manalu,
warna pokok dari
setiap ulos batak
adalah hitam putih
dan merah, sedang
warna lain adalah
variasi kehidupan.
Justru inilah ritual ulos
dalam adat batak.
Symbol Tuhanlah yang
tergambar dalam ulos
batak. Mangulosi
dalam adat batak
adalah upacara ritual
dan khikmadnya
masih dapat dirasakan
masyarakat batak.
Gorga adalah bonang
manalu perlambang
doa masyarakat batak
akan kekuatan Tuhan
Yang Maha Esa
mampu mengayomi
manusia. Gorga itu
dipakai pada rumah
maka disebut ruma
gorga. Penghuni Ruma
Gorga akan tetap
yakin bahwa mereka
akan selamat-selamat
berkat perlindungan
Tuhan Yang Maha Esa.
Gorma warna hitam-
putih-merah dalam
kehidupan orang
batak bukan lah
hiasan atau hiburan,
tetapi adalah symbol
keyakinan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
Gorga dimana sajapun
dipakai terutama pada
solubolon selain
dirumah adalah
bermakna keyakinan
tersebut. Hidup orang
batak tidak dapat
terlepas dari
Bataraguru dari
Debata Sorisohaliapan
dan Debata Balabulan
dalam arti
kekerabatannya yaitu
hahomion ni Debata.
gambaran Bataraguru,
gambaran Debata
Sorisohaliapan dan
gambaran
Debatabulan terdapat
pada kehidupan
masyarakat batak
dalihan natolu.
Justru dalihan natolu
pandangan hidup
orang batak adalah
perwujudan
kehidupan dan titisan
dari banua ginjang.
Dalihan Natolu adalah
gambaran
tersebut.bahwa hula-
hula adalah titisan
hahomion dari wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
yaitu Bataraguru.
Hasuhuton
namardongan tubu
adalah titisan
hamalimon dari wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
yaitu Debata
Sirisohaliapan dan
Boru adalah titisan
kekuatan dari wujud
pancaran kuasa v yaitu
Debata Balabulan.
Kita tidak akan heran
tetapi mungkin akan
kagum bahwa ulos
dari hula-hula lebih
banyak hitamnya dari
warna putih dan
merah maka ulos
hula-hula itu warna
sibolang dan sitolu
tuho. Demikian ulos
dari hasuhuton atau
yang dipakai
hasuhuton
namardongan tubu
lebih banyak putihnya
dari warna hitam dan
merah maka ulos
hasuhuton warna ragi
idup. Tentu demikian
pula ulos boru atau
yang dipakai boru
lebih banyak warna
merahnya dari pada
warna putih dan hitam
maka ulos boru atau
yang dipakai boru itu
warna sadum dan
warna mangiring.
Perhatikan ulos
parompa kebanyakan
berwarna hitam-biru
dan putih. Budaya
batak cukup tinggi
dan bernilai tinggi
dalam kehidupan
spiritual. Budaya itu
akan tumbuh dan
berkembang. Oleh
sebaba itu masih perlu
kita lihat hal-hal yang
lama apa kaitannya
dengan masa depan.
Salah satu dari yang
lama itu misalnya
mengenai sajian
diperuntukkan kepada
Mulajadi Nabolon dan
Debata Natolu yaitu
Bataraguru-Debata
Sori dan Balabulan.
Sajian untuk Nabolon
dan Debata Natolu
adalah kambing Putih
dan kepada
Bataraguru adalah
manuk jarum bosi
berarti warna hitam,
kepada Debata Sori
adalah manuk putih
warna putih dan
kepada Balabulan
adalah manuk mira
polin berarti warna
merah. Bila pengertian
bonang manalu telah
kita ketahui beserta
ulos gorga apakah arti
dan makna sajian atau
pelean dengan warna
tadi yang diberikan
kepada Tuhanh Yang
Maha Esa. Dan apabila
dibandingkan dengan
pengertian pelean
sekarang ini, apakah
pelean yang
diciptakan nenek
moyang kita itu tidak
sejajar dengan
perkembangan zaman.
8. Tortor Pangurasan
Tortor Pangurason
(Tari Pembersihan).
Tari ini biasanya
digelar pada saat
pesta besar yang
mana lebih dahulu
dibersihkan tempat
dan lokasi pesta
sebelum pesta dimulai
agar jauh dari mara
bahaya dengan
menggunakan jeruk
purut.
9. Tortor Sipitu Cawan
(Tari tujuh cawan)
Tari ini biasa digelar
pada saat pengukuhan
seorang raja, tari ini
juga berasal dari 7
putri kayangan yang
mandi disebuah telaga
di puncak gunung
pusuk buhit
bersamaan dengan
datangnya piso sipitu
sasarung (Pisau tujuh
sarung).Gbr dibawah.
10. Mangapus hoda
miakan
Budaya ritual
mangapus hoda
miakan ini sangat
jarang digelar sebab
budaya ini digelar
pada pesta
pengukuhan siraja
batak, ini digelar
terakhir sekali pada
pesta pengukuhan
Raja Sisingamangaraja
menjadi Siraja Batak
dengan menggunakan
makan kuda putih.
11.Tortor tunggal
panaluan
merupakan suatu
budaya ritual ini biasa
digelar apabila suatu
desa dilanda musibah,
maka tanggal
panaluan ditarikan
oleh para dukun
untuk mendapat
petunjuk solusi untuk
mengatasi masalah
tersebut. Sebab
tongkat tunggal
panaluan adalah
perpaduan kesaktian
Debata Natolu yaitu
Benua atas, Benua
tengah dan Benua
bawah. Gbr dibawah.
12. Mangalahat Horbo
Mangalahat Horbo
termasuk budaya
ritual yang sangat
penting sebab setiap
tahun dilaksanakan
pada hari kelahiran
raja, hatorusan acara
ritual ini sekaligus
memberi sesajen
kepada Mulajadi
Nabolon dan Debata
Natolu agar setiap
manusia jauh dari
mara bahaya.
Budaya ritual
mangalakat horbo ini
merupakan kunci dari
seluruh ritual budaya
batak kepada
Mulajadi Nabolon.
13. Bahan pengobatan
ritual yang selalu
harus dibutuhkan.
Dalam pengobatan
tradisional batak tidak
selamanya
menggunakan
tumbuhan. Ada juga
menggunakan
makanan dan budaya
ritual dalam
pengobatan batak,
suku batak selalu
menggunakan anggir
dan daun sirih dari
seluruh kegiatan
pengobatan dan
budaya ritual.
14.Pengobatan dengan
budaya ritual
penyucian
Pengobatan ini biasa
dilakukan dengan
memandikan para
pasien ke dalam air
yang mengalir dengan
menggunakan anggir
dan tumbuhan lain
yang sifatnya
bertujuan membuang
penyakit dari tubuh si
penderita. Biasanya
setelah selesai
dimandikan setibanya
dirumah akan
diberikan makanan
berupa ayam bagi
laki-laki dan ikan bagi
para wanita dengan
tujuan agar roh para
penderita menyatu
dengan badan. Sebab
manusia yang sakit
biasanya karena
rohnya tidak berada
di dalam jasad.
15. Ilmu Pelindung
Dalam Ilmu Pelindung
ini biasanya orang
mencintainya dengan
tujuan agar manusia
tersebut jauh dari
mara bahaya dan
sekaligus
membangunkan roh-
roh kekuatan yang
ada pada tubuh kita.
Dalam memberikan
ilmu pelindung ini
biasanya si penerima
dibersihkan dibungkus
dengan kain 3 warna,
merah, putih, hitam
dengan harapan
merah kekuatan, putih
kesucian dan hitam
kebijakan berdiam
dan bangkit dalam
dirinya dan darahnya,
sambil air jatuh di
kepala si penerima
dan si pemberi saling
memohon untuk ilmu
perlindungan tersebut.
batak
15. Budaya ritual
dalam pengobatan
Pada saat Mulajadi
Nabolon kembali ke
benua atas, Mulajadi
Nabolon bersabda
kepada Raja Ihat
Manisia dan Siboru
Ihat Manisia. “Jika
kamu sekalian
penghuni Benua
Tengah hendak
berhubungan dan
bersekutu dengan
kami penghuni Benua
Atas, maka segala jenis
sesajen yang hendak
kamu persembahkan
harus disusun rapi dan
bersih serta diiringi
dengan rasa
penyampaian yang
tulus dan suci. Sudah
kuberikan kepadamu
Hata Dua, apa yang
boleh dilakukan dan
apa yang tidak boleh
dilakukan dan dirimu
harus bersih dan suci ”.
Bersumber dari ajaran
tersebut Parmalim
memberikan pelean
atau sesajen suci
dengan dihantar asap
dupa dan air suci serta
bersih tidak boleh
makan daging babi
dan anjing serta darah
dan bangkai. Sebagai
tindak lanjut ajaran
tadi Ugamo Malim
mempunyai rukun dan
aturan yang
dilaksanakan dan
menjadi pedoman
prilaku Parmalim
antara lain :
1. Marari Sabtu,
Pada setiap hari sabtu
atau samisara seluruh
umat Parmalim
berkumpul di tempat
yang sudah ditentukan
baik di Bale
Partonggoan, Bale
Pasogit di pusat
maupun ruma
Parsantian di cabang/
daerah untuk
melakukan sembah
dan puji kepada
Mulajadi Nabolon dan
pada kesempatan itu
para anggota diberi
poda atau bimbingan
agar lebih tekun
berprilaku menghayati
Ugamonya.
2. Martutuaek,
Upacara yang
dilakukan di rumah
umat yang mendapat
kelahiran seorang
anak, atau pemberian
nama kepada anak.
Anak yang baru lahir
sebelum dibawa
bepergian kemana-
mana harus lebih
dahulu diperkenalkan
dengan bumi
terutama air untuk
memebrsihkan dan ini
dilaksanakan
membawa anak
tersebut ke umbul
mata air disertai
dengan bara api
tempat membakar
dupa. Kemudian baru
dibawa ke dunia baru
yaitu pasar dan diberi
buah-buahan, manis
perlambang hari
depan yang makin
manis. Setelah
dirumah dilanjutkan
lagi dengan upacara,
bergantung pada
kemampuan keluarga
tersebut. Pada saat
pulang dari pasar tadi,
siapa saja diinginkan
oleh keluarga si anak
meminta buah-buahan
bawaan si anak tadi
sebagai perlambang
bahwa si anak kelak
akan bersifat
maduma.
3. Mardebata,
yaitu upacara yang
sifatnya individual
dimana seorang
melaksanakan upacara
sendiri tanpa
melibatkan orang lain.
Ritual ini sendiri
mempunyai tujuan
ganda yaitu meminta
keampunan dosa atau
menebus dosa dan
syukuran. Seseorang
yang merasa dirinya
menyimpang dari
aturan patik perlu
menyelenggarakan
perdebatan sebagai
sarana penebus
dosanya. Bagi orang
lain pardebataon itu
mungkin pula untuk
mewujudkan kaulnya.
Mardebata ini boleh
pula melibatkan yang
lain. Hal itu
bergantung kepada
yang mampu. Karena
Mardebata itu boleh
oleh orang seorang
boleh oleh keluarga
dan seterusnya. Jika
upacara dibuat besar-
besaran misalnya
untuk mewujudkan
niatnya harus dengan
menyediakan sesaji
dengan secukupnya
dan boleh pula
dengan dihantar
gendang sabangunan
serta diatur oleh tata
upacara resmi sesuai
dengan tata upacara
dari Ihutan atau dari
Uluan.
Upacara Mardebata
ini bagi yang mampu
nampaknya sudah
seolah-olah pesta,
karena undanganpun
dapat pula
dilaksanakan. Jadi jelas
bergantung pada
nazar dikandung oleh
yang terlibat. Jika satu
nenek moyang sudah
berniat untuk memuja
Mulajadi Nabolon
dengan jalan
Mardebata hal itu
dapat dilakukan oleh
satu nenek moyang
itu.
4. Pasahat Tondi,
Upacara kematian
dibagi dalam dua
tahap. Pertama adalah
pengurasan jenazah
menjelang
pemakaman, kedua
adalah pasahat tondi.
Pemberangkatan
jenazah dipimpin oleh
Ihutan atau
Ulupunguan dengan
upacara doa : “Borhat
ma ho tu habangsa
panjadianmu ”,
Artinya : Berangkatlah
engkau ke tempat
kejadianmu. Satu
minggu setelah
pemakaman, keluarga
yang ditinggal
mengadakan
pangurason
tersemayamkan di
rumah. Satu bulan
setelah pemakaman,
dilanjutkan dengan
Upacara Pasahat
Tondi yaitu upacara
mengantar roh dalam
hati harfiah. Tuhan
menciptakan manusia
atas dua bagian yaitu
badan dan roh
(pamatang dohot
tondi). Apabila badan
mati, toh tidak ikut
mati, ia akan kembali
kepada penciptanya,
sesuai dengan
pandangan ketuhanan
Parmalim, bahwa
“ Ngolu dohot
hamatean huaso ni
Debata ” artinya
“kehidupan dan
kematian adalah
kuasa Tuhan. Upacara
ini adalah upacara
tonggo-tonggo atau
dosa. Dapat dilakukan
dengan sederhana
dan dapat pula
dilakukan dengan
besar-besaran
bergantung pada
kemampuan keluarga
yang ditinggal. Tentu
dengan demikian
sesaji harus terhidang
dan upacara harus
memenuhi
keseluruhan tata tertib
acara berdasarkan
Ugamo Malim. Ini
bulan berarti bahwa
acara tidak boleh
dibuat sederhana.
Boleh dengan acara
sederhana, yang
pokok adalah
bagaimana inti
pasahat tondi itu
harus terlaksana.
5. Mangan Napaet,
adalah upacara atau
berpuasa untuk
menebus dosa
dilaksanakan selama
24 jam penuh pada
setiap penghujung
tahun kalender batak
yaitu pada ari hurung
bulan hurung.
Upacara ini adalah
bersifat umum
dilaksanakan oleh
setiap cabang atau
ganup punguan.
Perangkat dasar
upacara ini selain
pangurason dan
pardupaon yang
terpenting ialah
makanan napaet,
diramu dari beberapa
jenis buah dan daun
yang pahit, seperti
daun pepaya, buah
ingkir, babal, cabe
rawit, jeruk bali muda
dan gara.
Mangan Napaet
dilakukan pada awal
puasa dan pada akhir
sebelum berbuka,
sedangkan ritual
dimulai jam. 12.00
tengah hari. pada saat
semua jemaat
berkumpul di
parsantian atau
dirumah Ihutan/
Ulupunguan, upacara
dasar dimulai berupa
puji-pujian kepada
Mulajadi Nabolon-
Raja Nasiak bagi dan
kemudian untuk
mengingatkan
hukumnya mangan
napaet. Mangan
Napaet dimulai
dengan cara
mengedarkan napaet
tadi secara estafet.
Mangan Napaet
adalah merupakan
pengabdian warga
parmalim kepada Raja
Nasiak bagi yang
menderita untuk
manusia. Dan juga arti
mangan napaet
adalah symbol
kehidupan dari pahit
menjadi manis, karena
sudah mangan napaet
akan diakhiri dengan
mangan natonggi dan
inilah permulaan
hidup prilaku baru
untuk dilaksanakan
dalam kehidupan
sehari-hari. setelah
mangan napaet maka
dilaksanakan pula
upacara persembahan
kambing putih kepada
Mulajadi Nabolon.
6. Upacara Sipaha
Sada,
adalah merupakan
upacara yang paling
hikmad dan
mengandung nilai
religius yang paling
dalam, bagi Umat
Parmalim. Pelaksanaan
upacara ini disambut
gembira karena sehari
sebelumnya Parmalim
baru saja selesai
mengadakan upacara
mangan napaet yaitu
satu cara upacara
pembebasan manusia
dari dosa.
Upacara Sipaha Sada
adalah penyambutan
datangnya tahun baru
Ugamo Malim atau
pada Sipaha Sada
inilah pergantian
tahun terjadi. Boleh
dikatakan Sipaha Sada
ini adalah tahun baru
batak. Pada upacara
ini pada umumnya
seluruh orang batak
melakukan dialog
bathin. Dan hari
berikutnya dinamai
Suma. Pada hari itu
diperingati hari lahir
Simarimbulubosi.
Upacara dipusatkan di
Bale Pasogit. Upacara
ini melakukan sesajen
juga kepada Mulajadi
Nabolon termasuk
kepada ketiga wujud
pancaran kuasa yaitu
Batara Guru, Debata
Sori dan Debata
Balabulan dan
seterusnya sampai
kepada Raja
Nasiakbagi
dihantarkan dengan
asap dupa, air suci
dan dengan bunyi
gendang sabangunan.
Upacara ini
dilaksanakan bersama
di Bale Pasogit.
Dengan demikian
semua umat Parmalim.
Pada upacara ini
dilaksanakan dengan
tertib dan memang
benar-benar tertib
dan hikmad karena
dianggap hari tersebut
adalah memperingati
kelahiran Tuhan.
7. Upacara Sipaha
Lima,
yaitu upacara
dilakukan pada bulan
kelima kelender Batak
untuk menyampaikan
puji-pujian kepada
Mulajadi Nabolon
termasuk kepada
wujud Pancaran
Kuasanya mulai dari
Debata Batara Guru-
Debata Sori dan
Balabulan dan
seterusnya kepada
Raja Nasiakbagi,
karena atas berkatnya
semua mereka
memperoleh rahmat,
sehat jasmani dan
rohani. Upacara ini
disebut Upacara
Kurban, karena sajian
yang dipersembahkan
adalah hewan kurban
dari kerbau atau
lembu.
Sajian pertama kepada
Mulajadi Nabolon
yang seterusnya
diantar dengan asap
dupa dan air suci dan
dengan bunyi gendang
sabangunan.
Penyelenggaraan
upacara Sipaha Lima
ditetapkan pada hari
ke 12-13 dan 14
menjelang bulan
purnama. Hari
tersebut dinamakan
Boraspati, Singkora
dan Samisara berkisar
antara bulan Juli-
Agustus pada bulan
Masehi. Upacara
diadakan dengan
sajian yang lengkap
dilaksanakan dengan
penuh khikmad tanpa
syukur Parmalim
kepada Tuhannya dan
agar diberi
keselamatan dan
kesejahteraan pada
hari-hari berikutnya.
Jika pandangan Batak
Tua mengenai
ketuhanan
dikembangkan
Parmalim dengan
ugamo Malim, maka
berikut ini yaitu oleh
masyarakat Batak
sekarang masih
memperilakukan
pandangan tersebut
pada kehidupannya
sehari-hari dalam
bentuk budaya ritual.
Untuk lebih
memahami pendapat
ini marilah kita mulai
lagi melihat
pandangan dan
kehidupan masyarakat
Batak dahulu dengan
masyarakat Batak
sekarang.
Lambang wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
adalah hembang atau
bendera-bendera
berwarna hitam
diatas, putih ditengah
dan merah dibawah
dalam satu kesatuan
yang disebut Debata
Natolu. Warna Hitam
adalah lambang
Debata Batara Guru
dari wujud pandang
kuasa Mulajadi
Nabolon dalam
kebijakan atau
hahomion. Artinya
adalah bahwa pikiran
manusia tidak mampu
meneliti atau
memikirkan kebijakan
Mulajadi Nabolon.
Hahomion Mulajadi
Nabolon itu dapat
dialami tetapi tak
dapat dipikirkan.
Sebagaimana warna
hitam pekat demikian
pulalah gepalnya
pikiran manusia atau
kebijakan Mulajadi
Nabolon. Manusia
tidak dapat
meramalkan dan
meraba seperti
gelapnya warna hitam,
demikian pulalah
dangkalnya dan
gelapnya pikiran
manusia tentang
kebijakan Tuhan.
Manusia tidak mampu
untuk itu. oleh sebab
itu lambang hitam dari
Batara Guru adalah
pertanda penyerahan
diri kepadaNya.
Hanya terserah pada
kebijakan Tuhanlah
kehidupan manusia.
Manusia tidak akan
dapat berjalan pada
warna hitam yang
ketat, malam yang
gelap. Maksudnya
manusia tidak akan
dapat berjalan di
dunia ini oleh dirinya
sendiri. Sebab itu
berserah kepadaNya-
lah dikemanakan
hidup ini. Apalah arti
manusia dibandingkan
dengan Kuasa Agung
yang dimilikiNya.
Berserah kepada
kebijakan Tuhanlah
hidup ini karena
Dialah kebenaran
yang menetapkan
kebijakan itu. jadi arti
warna hitam pada
lambing adalah
berserah diri kepada
kebijakan Tuhan atau
berserah diri kepada
hahomion ni Debata
atau dengan kata lain :
“Tung asi ni roha ni
Debata ma”. Warna
putih dari hembang
adalah lambing
Debata Sorisohaliapan
sebagai wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
mengenai kesucian
atau hahomion. Putih
tidak dapat
dibedakan. Dengan
demikian dalam warna
putih tidak terdapat
perbedaan.
Demikianlah Debata
Sohaliapan bahwa
pada diriNya tidak ada
perbedaan maka
sering dikatakan Putih
ada perbedaan pada
dirinya. Dia harus
sama dengan yang
lain. Apabila dia sudah
sama dengan yang
lain, dan itu pula-lah
hukum kekuatan
baginya dan dialah
menjadi penguasa
hukum kekuatan itu
(habonaron).
Warna merah dari
hembang adalah
lambing Debata
Balabulan sebagai
wujud pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
mengenai kekuatan.
Balabulan adalah
wujud kejadian
kekuatan alam itu.
merah adalah warna
tanah atau rata dalam
bahasa batak, merah
itu adalah perlambang
kegairahan untuk
hidup. Justru
kegairahan untuk
hidup itulah maka
timbul keberanian.
Seseorang yang berani
ia tidak takut mati,
maka sering kita
dengar : “Mardomu di
tano rara hita”.
maksudnya mereka
baru berjumpa setelah
mati. Agar mati itu
jangan sampai terjadi
maka harus tetap
kuat. Agar tetap kuat
inilah dilambangkan
dengan merah yaitu
wujud pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
menjadi kekuatan.
Warna merah adalah
perlambang kekuatan
dan agar tetap kuat
(hagogoon). Setiap
manusia
mengharapkan
kekuatan ada
padanya. Kekuatan itu
belum sempurna
apabila hanya untuk
diri sendiri. Dan lebih
tidak sempurna lagi
apabila tidak diridhoi
Tuhan. Apabila kita
padu arti ketiga warna
tadi, maka dapatlah
kita ambil kesimpulan
bahwa hitam itu
adalah kebijakan
Tuhan, putih itu
adalah kesucian Tuhan
dari Tuhan, dan
merah adalah
kekuatan Tuhan
(hahomion-
hamalimon-
hagogoon). Dengan
melihat bendera atau
lambang yang
warnanya hitam
diatas, putih ditengah
dan merah dibawah,
itu berarti
menggambarkan
kebijakan, kesucian
dan kekuatan dari
Tuhan. Artinya yang
dilambangkan dalam
bendera itu adalah
Batara Guru sebagai
wujud pancaran kuasa
kebijakan, Debata
Sorisohaliapan sebagai
wujud pancaran kuasa
kesucian dan
Debatabulan sebagai
wujud pancaran kuasa
kekuatan dari
Mulajadi Nabolon.
Lambang ini boleh
dipisah-pisah seperti
satu bendera tetapi
dipacakkan
berdekatan, dengan
ketentuan hitam di
kanan, putih ditengah
dan merah dikiri.
Kesimpulan arti
lambang bahwa warna
hitam – putih – merah
merupakan kebijakan-
kesuciannya dan
kekuatannya tidak
dapat dibandingkan,
tidak bermula dan
tidak akan berakhir
dan mula segala yang
ada. Ini adalah
merupakan keyakinan
orang batak pada
umumnya dari dahulu
sampai sekarang.
Mengapa penulis
berani mengatakan
demikian, baiklah
penjelasan berikut ini.
Mungkin kita geli
apabila diingat pada
masa-masa kanak-
kanak dahulu disuruh
orangtua memakai
boning menalu diikat
ditangan jika ada
wabah penyakit. Agar
kita jangan dihinggapi
penyakit, agar kita
jangan dihinggapi
penyakit, demikian
pandangan kita waktu
itu. kegelian hati kita
sekarang inipun
sebenarnya tidak
berdasar karena
sampai saat inipun kita
semua dan
masyarakatpun sehari-
hari.
Bonang Manalu tiga
benang masing-masing
warna hitam atau biru,
putih dan merah
dipilin menjadi satu
adalah symbol doa
masyarakat batak
merupakan keyakinan
bahwa seseorang akan
selamat apabila yakin
bahwa tidak ada yang
lebih kuat dari Tuhan
Yang Maha Esa mula
kebijakan, kesucian
dan kekuatan itu.
apabila saya memakai
bonang manalu
berarti saya telah
yakin bahwa apapun
yang akan terjadi baik
pada saat ada wabah
penyakit saya akan
tetap selamat berkat
kepercayaan saya
yaitu Tuhan yang saya
puja itu jauh lebih
kuat dari kita
seluruhnya. Saya yakin
dan percaya bahwa
saya akan tetap
selamat berkat
kepercayaan saya
bahwa Tuhanku
pemilik hahomion itu
pemilik kesucian itu
pemilik kekuatan itu
adalah lebih kuat dari
segala yang ada untuk
melindungi saya.
Ulos yang masih
dipakai orang batak
dalam kehidupan ada
adatnya adalah
bonang manalu,
warna pokok dari
setiap ulos batak
adalah hitam putih
dan merah, sedang
warna lain adalah
variasi kehidupan.
Justru inilah ritual ulos
dalam adat batak.
Symbol Tuhanlah yang
tergambar dalam ulos
batak. Mangulosi
dalam adat batak
adalah upacara ritual
dan khikmadnya
masih dapat dirasakan
masyarakat batak.
Gorga adalah bonang
manalu perlambang
doa masyarakat batak
akan kekuatan Tuhan
Yang Maha Esa
mampu mengayomi
manusia. Gorga itu
dipakai pada rumah
maka disebut ruma
gorga. Penghuni Ruma
Gorga akan tetap
yakin bahwa mereka
akan selamat-selamat
berkat perlindungan
Tuhan Yang Maha Esa.
Gorma warna hitam-
putih-merah dalam
kehidupan orang
batak bukan lah
hiasan atau hiburan,
tetapi adalah symbol
keyakinan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
Gorga dimana sajapun
dipakai terutama pada
solubolon selain
dirumah adalah
bermakna keyakinan
tersebut. Hidup orang
batak tidak dapat
terlepas dari
Bataraguru dari
Debata Sorisohaliapan
dan Debata Balabulan
dalam arti
kekerabatannya yaitu
hahomion ni Debata.
gambaran Bataraguru,
gambaran Debata
Sorisohaliapan dan
gambaran
Debatabulan terdapat
pada kehidupan
masyarakat batak
dalihan natolu.
Justru dalihan natolu
pandangan hidup
orang batak adalah
perwujudan
kehidupan dan titisan
dari banua ginjang.
Dalihan Natolu adalah
gambaran
tersebut.bahwa hula-
hula adalah titisan
hahomion dari wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
yaitu Bataraguru.
Hasuhuton
namardongan tubu
adalah titisan
hamalimon dari wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
yaitu Debata
Sirisohaliapan dan
Boru adalah titisan
kekuatan dari wujud
pancaran kuasa v yaitu
Debata Balabulan.
Kita tidak akan heran
tetapi mungkin akan
kagum bahwa ulos
dari hula-hula lebih
banyak hitamnya dari
warna putih dan
merah maka ulos
hula-hula itu warna
sibolang dan sitolu
tuho. Demikian ulos
dari hasuhuton atau
yang dipakai
hasuhuton
namardongan tubu
lebih banyak putihnya
dari warna hitam dan
merah maka ulos
hasuhuton warna ragi
idup. Tentu demikian
pula ulos boru atau
yang dipakai boru
lebih banyak warna
merahnya dari pada
warna putih dan hitam
maka ulos boru atau
yang dipakai boru itu
warna sadum dan
warna mangiring.
Perhatikan ulos
parompa kebanyakan
berwarna hitam-biru
dan putih. Budaya
batak cukup tinggi
dan bernilai tinggi
dalam kehidupan
spiritual. Budaya itu
akan tumbuh dan
berkembang. Oleh
sebaba itu masih perlu
kita lihat hal-hal yang
lama apa kaitannya
dengan masa depan.
Salah satu dari yang
lama itu misalnya
mengenai sajian
diperuntukkan kepada
Mulajadi Nabolon dan
Debata Natolu yaitu
Bataraguru-Debata
Sori dan Balabulan.
Sajian untuk Nabolon
dan Debata Natolu
adalah kambing Putih
dan kepada
Bataraguru adalah
manuk jarum bosi
berarti warna hitam,
kepada Debata Sori
adalah manuk putih
warna putih dan
kepada Balabulan
adalah manuk mira
polin berarti warna
merah. Bila pengertian
bonang manalu telah
kita ketahui beserta
ulos gorga apakah arti
dan makna sajian atau
pelean dengan warna
tadi yang diberikan
kepada Tuhanh Yang
Maha Esa. Dan apabila
dibandingkan dengan
pengertian pelean
sekarang ini, apakah
pelean yang
diciptakan nenek
moyang kita itu tidak
sejajar dengan
perkembangan zaman.
8. Tortor Pangurasan
Tortor Pangurason
(Tari Pembersihan).
Tari ini biasanya
digelar pada saat
pesta besar yang
mana lebih dahulu
dibersihkan tempat
dan lokasi pesta
sebelum pesta dimulai
agar jauh dari mara
bahaya dengan
menggunakan jeruk
purut.
9. Tortor Sipitu Cawan
(Tari tujuh cawan)
Tari ini biasa digelar
pada saat pengukuhan
seorang raja, tari ini
juga berasal dari 7
putri kayangan yang
mandi disebuah telaga
di puncak gunung
pusuk buhit
bersamaan dengan
datangnya piso sipitu
sasarung (Pisau tujuh
sarung).Gbr dibawah.
10. Mangapus hoda
miakan
Budaya ritual
mangapus hoda
miakan ini sangat
jarang digelar sebab
budaya ini digelar
pada pesta
pengukuhan siraja
batak, ini digelar
terakhir sekali pada
pesta pengukuhan
Raja Sisingamangaraja
menjadi Siraja Batak
dengan menggunakan
makan kuda putih.
11.Tortor tunggal
panaluan
merupakan suatu
budaya ritual ini biasa
digelar apabila suatu
desa dilanda musibah,
maka tanggal
panaluan ditarikan
oleh para dukun
untuk mendapat
petunjuk solusi untuk
mengatasi masalah
tersebut. Sebab
tongkat tunggal
panaluan adalah
perpaduan kesaktian
Debata Natolu yaitu
Benua atas, Benua
tengah dan Benua
bawah. Gbr dibawah.
12. Mangalahat Horbo
Mangalahat Horbo
termasuk budaya
ritual yang sangat
penting sebab setiap
tahun dilaksanakan
pada hari kelahiran
raja, hatorusan acara
ritual ini sekaligus
memberi sesajen
kepada Mulajadi
Nabolon dan Debata
Natolu agar setiap
manusia jauh dari
mara bahaya.
Budaya ritual
mangalakat horbo ini
merupakan kunci dari
seluruh ritual budaya
batak kepada
Mulajadi Nabolon.
13. Bahan pengobatan
ritual yang selalu
harus dibutuhkan.
Dalam pengobatan
tradisional batak tidak
selamanya
menggunakan
tumbuhan. Ada juga
menggunakan
makanan dan budaya
ritual dalam
pengobatan batak,
suku batak selalu
menggunakan anggir
dan daun sirih dari
seluruh kegiatan
pengobatan dan
budaya ritual.
14.Pengobatan dengan
budaya ritual
penyucian
Pengobatan ini biasa
dilakukan dengan
memandikan para
pasien ke dalam air
yang mengalir dengan
menggunakan anggir
dan tumbuhan lain
yang sifatnya
bertujuan membuang
penyakit dari tubuh si
penderita. Biasanya
setelah selesai
dimandikan setibanya
dirumah akan
diberikan makanan
berupa ayam bagi
laki-laki dan ikan bagi
para wanita dengan
tujuan agar roh para
penderita menyatu
dengan badan. Sebab
manusia yang sakit
biasanya karena
rohnya tidak berada
di dalam jasad.
15. Ilmu Pelindung
Dalam Ilmu Pelindung
ini biasanya orang
mencintainya dengan
tujuan agar manusia
tersebut jauh dari
mara bahaya dan
sekaligus
membangunkan roh-
roh kekuatan yang
ada pada tubuh kita.
Dalam memberikan
ilmu pelindung ini
biasanya si penerima
dibersihkan dibungkus
dengan kain 3 warna,
merah, putih, hitam
dengan harapan
merah kekuatan, putih
kesucian dan hitam
kebijakan berdiam
dan bangkit dalam
dirinya dan darahnya,
sambil air jatuh di
kepala si penerima
dan si pemberi saling
memohon untuk ilmu
perlindungan tersebut.
Makna Gondang Batak
ada tradisi musik
Toba, kata gondang
(Secara harfiah)
memiliki banyak
pengertian. Antara lain
mengandung arti
sebagai :
(1) seperangkat alat
musik,
(2) ensambel musik,
(3) komposisi lagu
(kumpulan dari
beberapa lagu
pasaribu 1987). Makna
lain dari kata ini,
berarti juga sebagai
(1) menunjukkan satu
bagian dari kelompok
kekerabatan, tingkat
usia; atau orang-orang
dalam tingkatan status
sosial tertentu yang
sedang menari
(manortor) pada saat
upacara berlangsung
(Irwansyah,1990).
Pengertian gondang
sebagai perangkat alat
musik, yakni gondang
Batak.
Gondang Batak sering
diidentikkan dengan
gondang sabangunan
atau ogling
sabangunan dan
kadang-kadang juga
diidentikkan dengan
taganing (salah satu
alat musik yang
terdapat di dalam
gondang sabangunan).
Hal ini berarti
memberi kesan
kepada kita seolah-
olah yang termasuk ke
dalam Gondang Batak
itu hanyalah gondang
sabangunan,
sedangkan perangkat
alat musik Batak yang
lain, yaitu :
gondang hasapi tidak
termasuk gondang
Batak. Padahal
sebenarnya gondang
hasapi juga adalah
gondang Batak, akan
tetapi istilah gondang
hasapi lebih dikenal
dengan istilah uning-
uningan daripada
gondang Batak.
Gondang dalam
pengertian ensambel
musik terbagi atas dua
bagian, yakni gondang
sabangunan (gondang
bolon) dan gondang
hasapi (uning-
uningan). Gondang
sabangunan dan
gondang hasapi
adalah dua jenis
ensambel musik yang
terdapat pada tradisi
musik Batak Toba.
Secara umum fungsi
kedua jenis ensambel
ini hampir tidak
memiliki perbedaan
keduanya selalu
digunakan di dalam
upacara yang
berkaitan dengan
religi, adat maupun
upacara-upacara
seremonial lainnya.
Namun demikian
kalau diteliti lebih
lanjut, kita akan
menemukan
perbedaan yang
cukup mendasar dari
kedua ensambel ini.
Sebutan gondang
dalam pengertian
komposisi
menunjukkan arti
sebagai sebuah
komposisi dari lagu
(judul lagu secara
individu) atau
menunjukkan
kumpulan dari
beberapa lagu/
repertoar, yang
masing-masing ini bisa
dimainkan pada
upacara yang berbeda
tergantung
permintaan kelompok
orang yang terlibat
dalam upacara untuk
menari, termasuk di
dalam upacara
kematian saur matua.
Misalnya : gondang si
Bunga Jambu,
gondang si Boru
Mauliate dan
sebagainya. Kata si
bunga jambu, si boru
mauliate dan malim
menunjukkan sebuah
komposisis lagu,
sekaligus juga
merupakan judul dari
lagu (komposisi) itu
sendiri.
Berbeda dengan
gondang samba,
samba Didang-Didang
dan gondang elekelek
(lae-lae). Meskipun
kata gondang di sini
juga memiliki
pengertian komposisi,
namun kata
sombai;didang-didangi
dan elek-elek memiliki
pengertian yang
menunjukkan sifat dari
gondang tersebut,
yang artinya ada
beberapa komposisi
yang bisa
dikategorikan di
dalam gondang-
gondang yang disebut
di atas, yang
merupakan “satu
keluarga gondang”.
Komposisi dalam “satu
keluarga gondang,”
memberi pengertian
ada beberapa
komposisi yang
memiliki sifat dan
fungsi yang sama,
yang dalam
pelaksanaannya
tergantung kepada
jenis upacara dan
permintaan kelompok
orang yang terlibat
dalam upacara.
Misalnya: gondang
Debata (termasuk
di dalamnya komposisi
gondang Debata
Guru, Debata sari,
Bana Bulan, dan
Mulajadi); gondang
Sahalai dan gondang
Habonaran.
Gondang dalam
pengertian repertoar
contohnya si pitu
Gondang. si pitu
Gondang atau
kadang-kadang
disebut juga gondang
parngosi (baca
pargocci) atau
panjujuran Gondang
adalah sebuah
repertoar adalah
reportoar/kumpulan
lagu yang dimainkan
pada bagian awal dari
semua jenis upacara
yang melibatkan
aktivitas musik sebagai
salah satu sarana dari
upacara masyarakat
Batak Toba. Semua
jenis lagu yang
terdapat pada si pitu
Gondang merupakan
“inti” dari keseluruhan
gondang yang ada.
Namun, untuk dapat
mengetahui lebih
lanjut jenis bagian apa
saja yang terdapat
pada si pitu Gondang
tampaknya cukup
rumit juga umumnya
hanya diketahui oleh
pargonsi saja. Lagu-
lagu yang terdapat
pada si pitu Gondang
dapat
dimainkan secara
menyeluruh tanpa
berhenti, atau
dimainkan secara
terpisah (berhenti
pada saat pergantian
gondang). Repertoar
ini tidak boleh
ditarikan. Jumlah
gondang (komposisi
lagu yang dimainkan
harus di dalam jumlah
bilangan ganjil,
misalnya : satu, tiga,
lima, tujuh).
Kata gondang dapat
dipakai dalam
pengertian suatu
upacara misalnya
gondang Mandudu
(” upacara memanggil
roh”) dan upacara
Saem (”upacara
ritual”). Gondang
dapat juga
menunjukkan satu
bagian dari upacara di
mana kelompok
kekerabatan atau satu
kelompok dari
tingkatan usia dan
status sosial tertentu
yang sedang menari,
pada saat upacara
tertentu misalnya :
gondang Suhut,
gondang Boru,
gondang datu,
gondang Naposo dan
sebagainya. Jika
dikatakan gondang
Suhut, artinya pada
saat itu Suhut yang
mengambil bagian
untuk meminta
gondang dan
menyampaikan setiap
keinginannya untuk
dapat menari bersama
kelompok
kekerabatan lain yang
didinginkannya.
Demikian juga Boru,
artinya yang
mendapat kesempatan
untuk menari;
gondang datu, artinya
yang meminta
gondang dan menari;
dan gondang naposo,
artinya muda-mudi
yang mendapat
kesempatan untuk
menari.
Selain kelima
pengertian kata
gondang tersebut, ada
juga pengertian yang
lain yaitu yang dipakai
untuk pembagian
waktu dalam upacara,
misalnya gondang
Sadari Saboringin
yaitu upacara yang
didalamnya
menyertakan aktivitas
margondang dan
dilaksanakan selama
satu hari satu malam.
Dengan demikian,
pengertian gondang
secara keseluruhan
dalam satu upacara
dapat meliputi
beberapa pengertian
seperti yang tertera di
atas. pengertian
gondang sebagai
suatu ensambel musik
tradisional khususnya,
maksudnya untuk
mengiring jalannya
upacara kematian saur
matua.
B. Istilah Gondang
Sabangunan
Banyak istilah yang
diberikan para ahli
kebudayaan ataupun
istilah dari masyarakat
Batak itu sendiri
terhadap gondang
Sabangunan, antara
lain: agung, agung
sabangunan, gordang
parhohas na ualu
(perkakas nan
delapan) dan
sebagainya. Tetapi
semua ini merupakan
istilah saja, karena
masing-masing pada
umumnya mempunyai
pengertian yang sama.
Diantara istilah-istilah
tersebut di atas, istilah
yang paling menarik
perhatian adalah
parhohas na ualu yang
mempunyai
pengertian perkakas
nan delapan. Istilah ini
umumnya dipakai oleh
tokoh-tokoh tua saja,
dan biasanya
disambung lagi
dengan kalimat
“ simaningguak di
langit natondol di
tano ” (artinya berpijak
di atas
tanah sampai juga ke
langit). Menurut
keyakinan suku
bangsa Batak Toba
dahulu, apabila
gondang sabangunan
tersebut dimainkan,
maka suaranya akan
kedengaran sampai ke
langit dan semua
penari mengikuti
gondang itu akan
melompat-lompat
seperti kesurupan di
atas tanah (na tondol
di tano). Biasanya
semua pendengar
mengakui adanya
sesuatu kekuatan di
dalam “gondang” itu
yang dapat membuat
orang bersuka cita,
sedih, dan merasa
bersatu di dalam
suasana kekeluargaan.
Gondang sabangunan
disebut “parhohas na
ualu, karena terdiri
dari delapan jenis
instrumen tradisional
Batak Toba, yaitu
taganing, sarune,
gordang, ogling
ihutan, ogling oloan,
ogling panggora,
ogung doal dan hesek
tanpa odap.
Kedelapan intrumen
itu merupakan
lambang dari
kedelapan mata angin,
yang disebut “desa na
ualu” dan merupakan
dasar yang dipakai
untuk sebutan Raja Na
Ualu (Raja Nan
Delapan) bagi
komunitas musik
gondang sabangunan.
Pada masa awal
perkembangan musik
gondang Batak,
instrumen-instrumen
ini masing-masing
dimainkan oleh satu
orang saja. Tetapi
sejalan dengan
perubahan
jaman, ogling oloan
dan ogling ihutan
telah dapat dimainkan
hanya oleh satu orang
saja. Sedangkan odap
sudah tidak dipakai
lagi. Kadang-kadang
peran hesek juga
dirangkap oleh
pemain taganing,
sehingga jumlah
pemain ensambel itu
bervariasi.
Keseluruhan pemain
yang memainkan
instrumen-instrumen
dalam gondang
sabangunan ini
disebut pargonsi dan
kegiatan yang
menggunakan
perangkatperangkat
musik tradisional ini
disebut margondang
(memainkan
gondang).
C. Jenis Dan Fungsi
Instrumen Gondang
Sabangunan
Gondang sabangunan
sebagai kumpulan
alat-alat musik
tradiosional Batak
Toba, terdiri dari :
taganing, gordang,
sarune, ogling oloan,
ogling ihutan, ogling
panggora, ogling doal
dan hesek. Dalam
uraian berikut ini akan
dijelaskan
masingmasing
instrumen yakni
fungsinya.
1. Taganing
Dari segi teknis,
instrumen taganing
memiliki tanggung
jawab dalam
penguasaan repertoar
dan memainkan
melodi bersama-sama
dengan sarune.
Walaupun tidak
seluruh repetoar
berfungsi sebagai
pembawa melodi,
namun pada setiap
penyajian gondang,
taganing berfungsi
sebagai “pengaba”
atau “dirigen” (pemain
group gondang)
dengan isyarat- isyarat
ritme yang harus
dipatuhi oleh seluruh
anggota ensambel dan
pemberi semangat
kepada pemain
lainnya.
2. Gordang
Gordang ini berfungsi
sebagai instrumen
ritme variabel, yaitu
memainkan iringan
musik lagu yang
bervariasi.
3. Sarune
Sarune berfungsi
sebagai alat untuk
memainkan melodi
lagu yang dibawakan
oleh taganing.
4. Ogung Oloan
(pemiapin atau Yang
Harus Dituruti)
Agung Oloan
mempunyai fungsi
sebagai instrumen
ritme konstan, yaitu
memainkan iringan
irama lagu dengan
model yang tetap.
Fungsi agung oloan ini
umumnya sama
dengan fungsi agung
ihutan, agung
panggora dan agung
doal dan sedikit sekali
perbedaannya. agung
doal
memperdengarkan
bunyinya tepat
di tengah-tengah dari
dua pukulan hesek
dan menimbulkan
suatu efek synkopis
nampaknya
merupakan suatu ciri
khas dari gondang
sabangunan.
Fungsi dari agung
panggora ditujukan
pada dua bagian. Di
satu bagian, ia
berbunyi berbarengan
dengan tiap pukulan
yang kedua, sedang di
bagian lain sekali ia
berbunyi berbarengan
dengan agung ihutan
dan sekali lagi
berbarengan dengan
agung oloan.
Oleh karena musik
dari gondang
sabangunan ini pada
umumnya dimainkan
dalam tempo yang
cepat, maka para
penari maupun
pendengar hanya
berpegang pada bunyi
agung oloan dan
ihutan saja.
Berdasarkan hal ini,
maka ogling oloan
yang berbunyi lebih
rendah itu berarti
“ pemimpin” atau
“Yang harus di
turuti” , sedang ogling
ihutan yang berbunyi
lebih tinggi, itu “Yang
menjawab” atau “Yang
menuruti”. Maka
dapat disimpulkan
bahwa peranan dan
fungsi yang
berlangsung antara
ogling dan ihutan
dianggap oleh orang
Batak Toba sebagai
suatu permainan
“ tanya jawab”
5. Ogung Ihutan atau
Ogung pangalusi
(Yang menjawab atau
yang menuruti).
6. Ogung panggora
atau Ogung
Panonggahi (Yang
berseru atau yang
membuat orang
terkejut).
7. Ogung Doal (Tidak
mempunyai arti
tertentu)
8. Hesek
Hesek ini berfungsi
menuntun instrumen
lain secara bersama-
sama dimainkan.
Tanpa hesek,
permainan musik
instrumen akan terasa
kurang lengkap.
Walaupun alat dan
suaranya sederhana
saja, namun
peranannya penting
dan menentukan.
D. Susunan Gondang
Sabangunan
Menurut falasafah
hidup orang Batak
Toba, “bilangan”
mempunyai makna
dan pengaruh dalam
kehidupan sehari-hari
dan aktivitas adat.
“ Bilangan genap”
dianggap bilangan sial,
karena membawa
kematian atau
berakhir pada
kematian. Ini terlihat
dari anggota tubuh
dan binatang yang
selalu genap. menurut
Sutan Muda
Pakpahan, hal itu
semuanya berakhir
pada kematian,
dukacita dan
penderitaan
(Nainggolan, 1979).
Maka di dalam segala
aspek kehidupan
diusahakan selalu
“bilangan ganjil” yang
disebut bilangan na
pisik yang dianggap
membawa berkat dan
kehidupan.
Dengan kata lain
“ bilangan genap”
adalah lambang
segala ciptaan didunia
ini yang dapat dilihat
dan hakekatnya akan
berlalu, sedang
“ bilangan ganjil”
adalah lambang
kehidupan dan
Pencipta yang tiada
terlihat yang
hakekatnya kekal.
Itulah sebabnya
susunan acara
gondang sabangunan
selalu dalam bilangan
ganjil. Nama tiap
acara, disebut
“ gondang” yang dapat
diartikan jenis lagu
untuk nomor sesuatu
acara. Susunan nomor
acara juga harus
menunjukkan pada
bilangan ganjil seperti
Satu, tiga, atau lima
dan sebanyak-
banyaknya tujuh
nomor acara.
Sedangkan jumlah
acara juga boleh
menggunakan acara
bilangan genap,
misalnya :
dua nomor acara,
empat atau enam.
Selanjutnya susunan
acara itu hendaknya
memenuhi tiga bagian,
yang merupakan
bentuk upacara secara
umum, yaitu
pendahuluan yang
disebut gondang
mula-mula,
pemberkatan yang
disebut gondang pasu-
pasu, dan penutup
yang disebut gondang
hasatan. Ketiga bagian
gondang inilah yang
disebut si pitu
Gondang (Si Tujuh
Gondang). Walaupun
dapat dilakukan satu,
tiga, lima, dan
sebanyakbanyaknya
tujuh nomor acara
atau jenis gondang
yang diminta.
“Gondang mulamula i
ma tardok patujulona
na marpardomuan tu
par Tuhanon, tu
sabala ni angka Raja
dohot situan na
torop ”. Artinya
Gondang mula-mula
merupakan
pendahuluan atau
pembukaan yang
berhubungan dengan
Ketuhanan, kuasa roh
raja-raja dan khalayak
ramai.
Bentuk upacara yang
termasuk gondang
mula-mula antara lain:
1. Gondang alu-alu,
untuk mengadukan
segala keluhan kepada
yang tiada terlihat
yaitu Tuhan Yang
Maha Pencipta,
biasanya dilakukan
tanpa tarian.
2. Gondang Samba-
Samba, sebagai
persembahan kepada
Yang Maha Pencipta.
Semua penari
berputar di tempat
masing-masing dengan
kedua tanganbersikap
menyembah.
Yang termasuk
gondang pasu-
pasuan :
1. Gondang Sampur
Marmere,
menggambarkan
permohonan agar
dianugrahi dengan
keturunan banyak.
2. Gondang Marorot,
menggambarkan
permohonan kelahiran
anak yang dapat
diasuh.
3. Gondang Saudara,
menggambarkan
permohonan tegaknya
keadilan dan
kemakmuran.
4. Gondang Sibane-
bane,
menggambarkan
permohonan adanya
kedamaian dan
kesejahteraan.
5. Gondang Simonang-
monang,
menggambarkan
permohonan agar
selalu memperoleh
kemenangan.
6. Gondang Didang-
didang,
menggambarkan
permohonan
datangnya sukacita
yang selalu
didambakan manusia.
7. Gondang Malim,
menggambarkan
kesalehan dan
kemuliaan seorang
imam yang tidak mau
ternoda.
8. Gondang Mulajadi,
menggambarkan
penyampaian segala
permohonan kepada
Yang Maha pencipta
sumber segala
anugerah.
Angerah pasu-pasuan i
ma tardok gondang
sinta-sinta pangidoan
hombar tusintuhu ni
na ginondangkan
dohot barita ngolu.
Artinya gondang pasu-
pasuanmerupakan
penggambaran cita-
cita dan pernohonan
sesuai dengan acara
pokok dan kisah
hidup.
Sedangkan yang
termasuk gondang
penutup (gondang
hasatan):
Gondang Sitio-tio,
menggambarkan
kecerahan hidup masa
depan sebagai
jawabanterhadap
upacara adat yang
telah dilaksanakan.
Gondang Hasatan,
menggambarkan
penghargaan yang
pasti tentang segala
yang dipinta akan
diperoleh dalam
waktu yang tidak
lama.
Gondang hasatan i ma
pas ni roha na ingkon
sabat saut sude na
pinarsinta.
Artinya : Gondang
hasatan ialah : suatu
keyakinan yang pasti
bahwa semua cita-cita
akan tercapai. Lagu-
lagu untuk ini biasanya
pendek-pendek saja.
Dari ketiga bagian
gondang tersebut di
atas, maka para
peminta gondang
menentukan beberapa
nomor acara gondang
dan nama gondang
yang akan ditarikan.
Masing- masing
gondang ditarikan
satu nilai satu kali saja.
Contohnya:
Sebagai pendahuluan :
Gondang Alu-alu
(tidak ditarikan).
I. Gondang Mula-mula
(1x). Biasanya
gondang ini disatukan
dengan Gondang
Samba-samba. Di
Gondang Mula-mula =
menari dengan tidak
membuka tangan dan
hanya
sebentar.
Di Gondang Samba-
mamba = menari
sambil membuka
tangan
II. Gondang Pasu-
pasuan (3x) atau (5x).
III. Gondang Sahatan
(1x) atau (2x).
Yang umum
dilaksanakan terdiri
dari tujuh nomor
acara (Si pitu
Gondang)
dengan susunan :
1. Gondang Mula-
mula : 1x = Gondang
Mula-mula.
2. Gondang Samba-
samba : 1x = Idem
3. Gondang Sampur
Marmere : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
4. Gondang Marorot :
1x = Idem
5. Gondang Saudara :
1x = Idem
6. Gondang sitio-tio :
1x = Idem
7. Gondang Hasatan :
1x = Idem
————————————————————————————–
Jumlah : 7x (2 G. Mula-
mula + 3 G. Pasu-
pasuan+ 2 G
Hasahatan)
Jika diadakan dalam
lima nomor acara
(Silima Gondang),
susunannya adalah
sebagai berikut :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-
samba : 1x Gondang
Mula-mula.
Gondang Sibane-
bane : 1x Gondang
Pasu-pasuan
Gondang Simonang-
monang : 1x Idem
Gondang Didang-
didang : 1x Idem
Gondang Hasatan
sitio-tio : 1x Gondang
Hasahatan
————————————————————————————–
Jumlah : 5x (1. G Mula-
mula + 3 G Pasu-
pasuan + 1 G
Hasatan).
Sedangkan dalam tlga
nomor acara (Sitolu
Gondang), susunannya
ialah :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-
samba : 1x = Gondang
Mula-mula
Gondang Sibane-bane
disatukan dengan
Gondang Simonang-
monang : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
Gondang Hasahatan
sitio-tio : 1x =
Gondang Hasahatan
———————————————————————————————–
Jumlah : 3x (1 G Mula-
mula + 1 G Pasu-
pasuan + 1 G =
Hasahatan).
Jika hanya nomor
acara (Sisada
Gondang) , maka di
dalamnya sekaligus
dimainkan Gondang
Mula-mula, Gondang
Pasu-pasuan, Gondang
Hasahatan.
E. syarat-Syarat
pemain Gondang
Sabangunan
Para pemain
instrumen-instrumen
yang tergabung dalam
komunitas
gondang,disebut
pargonsi. Biasanya,
sebagian besar warga
masyarakat Batak
Toba tertarik
mendengar alunan
suara yang
dikeluarkan oleh
gondang sabangunan
tersebut, tetapi tidak
semuanya mampu
memainkan alat-alat
tersebut apalagi
mencapai tahap
pargonsi. Hal ini
disebabkan karena
adanya syarat-syarat
tertentu yang harus
dipenuhi seseorang
untuk dapat menjadi
seorang pargonsi.
Syarat-syarat tersebut
seperti yang
dikemukakan seorang
ahlinya, antara lain:
1. Harus mendapat
sahala dari Mulajadi
Na Bolon (Sang
Pencipta).
Sahala ini merupakan
berkat kepintaran
khusus dalam
memainkan alat musik
yang diberikan kepada
seseorang sejak dalam
kandungan. Dengan
kata lain orang
tersebut sudah
dipersiapkan untuk
menjadi seorang
pargonsi sebagai
permintaan Mula Jadi
Na Bolon.
2. Melalui proses
belajar
Seseorang dapat
menjadi pargonsi,
dengan adanya berkat
khusus yang diberikan
Mulajadi Na Bolon
sekaligus dipadukan
dengan proses belajar.
Sehingga itu seseorang
memiliki ketrampilan
khusus untuk dapat
menjadi pargonsi.
Walaupun melalui
proses belajar, tetapi
jika tidak diberikan
sahala kepada orang
tersebut, maka ia
tidak berarti apa-apa
atau tidak menjadi
pargonsi yang pandai.
3. Mempunyai
pengetahuan
mengenai ruhut-ruhut
ni adat (aturan-aturan
dalam adat)
Maksudnya
mengetahui struktur
masyarakat Batak
Toba yaitu Dalihan Na
Tolu dan
penerapannya dalam
masyarakat.
4. Umumnya yang
diberkati Mulajadi Na
Bolon untuk menjadi
seorang pargonsi
adalah laki-laki,
Dengan alasan : Laki-
laki merupakan basil
ciptaan dan pilihan
pertama Mulajadi Na
Bolon. Laki-laki lebih
banyak memiliki
kebebasan daripada
perempuan, karena
para pargonsi sering
diundang memainkan
ke berbagai daerah
untuk memainkan
gondang sabangunan
dalam suatu upacara
adat.
5. Seseorang yang
menjadi pargonsi
harus sudah dewasa
tetapi bukan berarti
harus sudah menikah.
F. Pemain Musik
Gondang Sabangunan
Seperti yang telah
diuraikan pada sub-
bab sebelumnya,
bahwa keseluruhan
pemain yang
menggunakan
instrumen- instrumen
dalam gondang
sabangunan disebut
pargonsi. Dahulu,
istilah pargonsi ini
hanya diberikan
kepada pemain
taganing saja,
sedangkan kepada
pemain instrumen
lainnya hanya
diberikan nama
sesuai dengan nama
instrumen yang
dimainkannya, yaitu
pemain ogling
(parogung), pemain
hesek dan pemain
sarune (parsarune).
Dalam konteks sosial,
pargonsi ini mendapat
perlakuan yang
khusus. Hal
inididukung oleh
adanya prinsip
stratifikasi yang
berhubungan dengan
kedudukan pargonsi
berdasarkan pangkat
dan jabatan. Sikap
khusus yang diberikan
masyarakat kepada
pargonsi itu
disebabkan karena
seorang pargonsi
selain memiliki
ketrampilan teknis,
mendapat sabala dari
Mulajadi Na Bolon,
juga mempunyai
pengetahuan tentang
ruhut-ruhut ni adat
(aturan-aturan adat/
sendi-sendi
peradaban). Sehingga
untuk itu, pargonsi
mendapat
sebutan Batara Guru
Hundul ( artinya :
Dewa Batara Guru
yang duduk) untuk
pemain taganing dan
Batara Guru
Manguntar untuk
pemain sarune.
Mereka berdua
dianggap sejajar
dengan Dewa dan
mendapat perlakuan
istimewa, baik dari
pihak yang
mengundang pargonsi
maupun dari pihak
yang terlibat dalam
upacara tersebut.
Dengan perantaraan
merekalah, melalui
suara gondang
(keseluruhan
instrumen), dapat
disampaikan segala
permohonan dan puji-
pujian kepada
Mulajadi Na Bolon
(Yang Maha Esa) dan
dewa-dewa
bawahannya yang
mempunyai hak
otonomi
Posisi pargonsi tampak
pada saat hendak
diadakannya horja
(upacara pesta) yang
menyertakan gondang
sabangunan untuk
mengiringi jalannya
upacara. Pihak yang
berkepentingan dalam
upacara akan
mengundang pargonsi
dan menemui mereka
dengan permohonan
penuh hormat, yang
disertai napuran tiar
(sirih) diletakkan di
atas piring.
Pada saat upacara
berlangsung, pargonsi
akan dilayani dengan
hormat, seperti ketika
suatu kelompok orang
yang terlibat dalam
Dalihan Na Tolu ingin
menari, maka mereka
akan meminta
gondang kepada
pargonsi dengan
menyerukan sebutan
yang menyanjung dan
terhormat, yaitu : “Ale
Amang panggual
pargonsi, Batara Guru
Humundul, Batar Guru
Manguntar, Na
sinungkun botari na ni
alapan arian,
Parindahan na suksuk,
parlompaan na tabo,
Paraluaon na tingkos,
paratarias na malo ”.
Artinya
“ Yang terhormat para
pemain musik, Batara
Guru Humundul,
Batara Guru
Manguntar. Yang
ditanya sore hari dan
dijemput sore hari
penikmat nasi yang
empuk, penikmat lauk
yang lezat. Penyampai
pesan yang jujur,
pemikir yang cerdas.
Untaian kalimat di
atas menunjukkan
makna dari suatu
sikap yang
menganggap bahwa
pargonsi itu setaraf
dengan Dewa. Mereka
harus selalu disuguhi
dengan makanan yang
empuk dan lezat,
harus dijemput dan
diantar kembali bila
pergi ke suatu tempat
dan mereka itu
dianggap mempunyai
fikiran yang jujur dan
cerdas sehingga dapat
menjadi perantara
untuk
menghubungkan
dengan Mulajadi
Nabolon.
Akan tetapi sejalan
dengan
perkembangan zaman,
penghargaan kepada
pargonsi sudah
berubah. Hal ini
disebabkan kehadiran
musik (suatu sebutan
dari masyarakat Batak
Toba untuk kelompok
brass band) yang
menggantikan
kedudukan gondang
sabangunan sebagai
pengiring upacara.
Apabila pihak yang
terlibat dalam upacara
meminta sebuah
repertoar, mereka
akan menyebut
pargonsi kepada
dirigen atau pimpinan
kelompok musik
tersebut. Walaupun
kedudukan kelompok
musik sama dengan
gondang sabangunan
dengan menyebut
“ pargonsi” kepada
pemain musik, namun
musisi tersebut tidak
dapat dianggap
sebagai Batara Guru
Humundul ataupun
Batara Guru
Manguntar.
Sikap hormat yang
diberikan masyarakat
kepada pargonsi
bukanlah suatu sikap
yang permanen
(tetap), tetapi hanya
dalam konteks
upacara. Di luar
konteks upacara,
sebutan dan sikap
hormat tersebut akan
hilang dan pargonsi
akan mempunyai
kedudukan seperti
anggota masyarakat
lainnya, ada yang
hidup sebagai petani,
pedagang, nelayan
dan sebagainya.
Sejalan dengan uraian
di atas, ada beberapa
penulis Batak Toba
yang menerangkan
sebutan untuk masing-
masing instrumen
dalam gondang
sabangunan. Seperti
pasariboe (1938)
menuliskan sebagai
berikut : oloan
bernama simaremare,
pangalusi bernama
situri-turi, panonggahi
bernama situhur
tolong, doal bernama
sisunggul madam,
taganing bernama
silima hapusan,
gordang bernama
sialton sijarungjung
dan odap bernama
siambaroba. Penulis
Batak Toba lainnya,
pasaribu (1967)
menuliskan taganing
bernama
pisoridandan, gordang
bernama sialtong na
begu, odap bernama
siambaroba, oloan
bernama si aek mual,
pangalusi bernama
sitapi sindar mataniari,
panggora bernama
situhur, doal bernama
diri mengambat
dan hesek bernama
sigaruan nalomlom.
Nama-nama di atas
nama yang diberikan
oleh pemilik instrumen
musik atau pimpinan
komunitas musik yang
sulit sekali dicari
padanannya dalam
bahasa Indonesia dan
bukan menunjukkan
gambaran mengenai
superioritas instrumen
tersebut. Nama-nama
tersebut biasa saja
berbeda pada tiap-
tiap daerah. Khusus
untuk instrumen
sarune tidak
ditemukan adanya
sebutan terhadap
instrumen itu.
TAHAP-TAHAP
UPACARA KEMATIAN
SAUR MATUA
Upacara kematian
pada masyarakat
Batak Toba
merupakan
pengakuan bahwa
masih ada kehidupan
lain dibalik kehidupan
di dunia ini. Adapun
maksud dan tujuan
masyarakat Batak
Toba untuk
mengadakan upacara
kematian itu tentunya
berlatar belakang
kepercayaan tentang
kehidupan .
Saur matua adalah
orang yang meninggal
dunia telah beranak
cucu baik darianak
laki-laki maupun anak
perempuan. Saur
artinya lengkap/
sempurna dalam
kekerabatan, telah
beranak cucu. Karena
yang telah meninggal
itu adalah sempurna
dalam kekerabatan,
maka harus
dilaksanakan dengan
sempurna. Lain halnya
dengan orang yang
meninggal sari matua.
Kalaupun suhut
membuat acara adat
sempurna
sesuai dengan Adat
Dalihan Na Tolu, hal
seperti itu belum tentu
dilakukan karena
masih ada dari
keturunannya belum
sempurna dalam hal
kekerabatan. Dalam
melaksanakan sesuatu
upacara harus melalui
fase-fase (tahapan-
tahapan) yang harus
dilalui oleh setiap yang
melaksanakannya.
Adapun tahapan-
tahapan yang harus
dilalui adalah sebagai
berikut:
1. Acara Sebelum
Upacara di Mulai
Dalam kehidupan ini,
setiap manusia dalam
suatu kebudayaan
selalu berkeinginan
dan berharap dapat
menikmati isi dunia ini
dalam jangka waktu
yang lama. Tetapi
usaha untuk mencapai
keinginan tersebut
adalah di luar
jangkauan
manusia,karena
keterbatasan,
kemampuan dan akal
pikiran yang dimiliki
oleh manusia. Selain
itu, setiap manusia
juga sudah
mempunyai jalan
kehidupannya masing-
masing yang telah
ditentukan batas akhir
kehidupannya. Batas
akhir kehidupan
manusia ini (mati)
dapat terjadi
dikarenakan berbagai
hal,misalnya karena
penyakit yang diderita
dan tidak dapat
disembuhkan lagi
kecelakaan dan
sebab-sebab lain yang
tidak dapat diketahui
secara pasti, maupun
disebabkan penyakit.
Pada masyarakat
Batak Toba, bila ada
orangtua yang
menderita penyakit
yang sulit untuk
disembuhkan, maka
pada keturunanya
beserta sanak famili
biasanya melakukan
acara adat khusus
baginya, yang disebut
dengan Manulangi
(memberi makan).
Sebelum diadakan
acara manulangi ini,
maka pada
keturunannya
beserta sanak famili
lebih dahulu harus
mengadakan
musyawarah untuk
menentukan berbagai
persyaratan, seperti
menentukan hari
pelaksanaan adat
panulangion itu, jenis
ternak yang akan
dipotong, dan
jumlahnya serta biaya
yang diperlukan untuk
mempersiapkan
makanan tersebut.
Sesuai dengan hari
yang sudah
ditentukan,
berkumpullah semua
keturunan dan sanak
famili di rumah
orangtua tersebut dan
dipotonglah seekor
ternak babi untuk
kemudian dimasak lagi
dengan baik sebagai
makanan yang akan
disuguhkan untuk
dimakan bersama-
sama. Pada waktu itu
juga turut diundang
hula-hula dari suhut,
dongan tubu, dan
natua-tua ni huta
(orang yang dituakan
di kampung tersebut).
Kemudian acara
panulangion dimulai
dengan sepiring
makanan yang terdiri
dari sepiring nasi dan
lauk yang sudah
dipersiapkan,
diberikan kepada
orangtua tersebut
oleh anak sulugnya.
Pada waktu Eanulangi,
si anak tersebut
menyatakan kepada
orangtuanya bahwa
mereka sebenarnya
khawatir melihat
penyakitnya. Maka
sebelum tiba
waktunya, ia berharap
agar orangtuanya
dapat merestui semua
keturunananya hingga
beroleh umur yang
panjang, murah rezeki
dan tercapai kesatuan
yang lebih mantap. Ia
juga mendoakan agar
orangtuanya dapat
lekas sembuh. Setelah
anaknya yang sulung
selesai memberikan
makan, maka
dilanjutkan oleh adik-
adiknya sampai
kepada yang bungsu
beserta cucu-cucunya.
Sambil disuguhi
makanan, semua
keturunannya direstui
dan diberi nasehat-
nasehat. Pada waktu
itu ada juga orangtua
yang membagi harta
warisannya walaupun
belum resmi berlaku.
Setelah selesai
memberi makan,
maka selanjutnya
keturunan dari
orangtua itu harus
manulangi hula-
hulanya dengan
makanan agar hula-
hulanya juga
memberkati mereka.
Acara kemudian
dilanjutkan dengan
makan bersama-sama.
Sambil makan, salah
seorang dari pihak
boru (suhut)
memotong haliang
(leher babi) dan
dibagi-bagikan kepada
hadirin. Setelah selesai
makan, diadakanlah
pembagian ”jambar
(suku-suku daging).
Gaor bontar (kepala
baglan atas sebelah
kiri untuk boru (anak
perempuan), Osang
(mulut bagian bawah)
untuk hula-hula,
Hasatan (ekor) untuk
keluarga suhut, soit
(perut bagian tengah)
untuk dongan
sabutuha (teman
semarga) dan jambar
(potongan daging-
daging) untuk semua
yang hadir). Setelah
pembagian jambar
maka mulailah kata-
kata sambutan yang
pertama oleh anak
Sulung dari orangtua
ini dilanjutkan dari
pihak boru, dongan
sabutuha, dongan
sahuta, dan terakhir
dari hula-hula.
Setelah selesai kata
mangampui, maka
acarapun selesai dan
diadakanlah doa
penutup. Setelah
acara panulangion itu
selesai, maka pada
hari berikutnya pihak
hula-hula pergi
menjenguk orangtua
tadi dengan
membawa dengke
(ikan) dan sehelai ulos
(kain adat batak) yang
disebut ulos
mangalohon ulos
naganjang
(memberikan kain
adat). Ketika hula-hula
menyampaikan
makanan itu kepada
orangtua yang sakit,
disitulah merka
memberikan ulos
naganjang kepada
orangtua itu dengan
meletakkannya di atas
pundak (bahu)
orangtua tersebut.
Tujuan dari pemberian
ulos dan makanan ini
adalah supaya
orangtua tersebut
cepat sembuh,
berumur panjang dan
dapat membimbing
semua keturunannya
hingga selamat dan
sejahtera di hari-hari
mendatang.
Setelah pemberian
ikan dan ulos itu maka
pihak boru brdoa dan
menyuguhkan daging
lengkap dengan suku-
sukunya kepada pihak
hula-hula. Pada waktu
yang ditentukan oleh
Yang Maha Kuasa,
akhirnya orangtua
yang gaur matua itu
meninggal dunia,
maka semua keluarga
menangis dan ada
yang meratap sebagai
pertanda bahwa
sudah tiba waktunya
bagi mereka untuk
berpisah. Sesudah
mayat tersebut
dibersihkan maka
dikenakan pakaian
yang rapi dan
diselimuti dengan kain
batak (ulos).
selanjutnya
dibaringkan di ruang
tengah yang kakinya
mengarah ke jabu
(bona rumah suhut).
Pada saat yang
bersamaan, pihak laki-
laki baik dari
keturunan orangtua
yang meninggal
maupun sanak
saudara berkumpul di
rumah duka dan
membicarakan
bagaimana upacara
yang akan
dilaksanakan kepada
orangtua yang sudah
saur matua itu. Dari
musyawarah keluarga
akan diperoleh hasil-
hasil dari setiap hal
yang dibicarakan.
Hasil-hasil ini dicatat
oleh para suhut untuk
kemudian untuk
dipersiapkan ke
musyawarah umum.
penentuan hari untuk
musyawarah umum ini
juga sudah ditentukan.
Dan mulailah
dihubungi pihak famili
dan mengundang
pihak hula-hula, boru,
dongan tubu. raja
adat, parsuhuton
supaya hadir dalam
musyawarah umum
(Mangarapot).
Sesudah acara
mangarapot selesai,
maka diadakanlah
pembagian tugas bagi
pihak hasuhuton.
Beberapa orang dari
pihak hasuhuton pergi
mengundang
(Manggokkon hula-
hula, boru, dongan
sabutuha (yang terdiri
dari ternan semarga,
teman sahuta, teman
satu kampung) serta
sanak saudara yang
ada di rantau. Pihak
suhut lainnya ada
yang memesan peti
mayat, membeli dan
mempersiapkan
beberapa ekor ternak
(kerbau atau babi
atau yang lainnya)
sebagai makanan
pesta atau untuk
borotan.
Mereka yang bekerja
pada saat upacara
adalah pihak boru
yang disebut
Parhobas. Dan
sebagian dari pihak
suhut mempersiapkan
pakaian adat untuk
keturunan orangtua
yang meninggal saur
matua itu, yaitu semua
anak laki-lakinya, cucu
lakilaki dari yang
pertama (sulung) dan
cucu laki-laki dari
anaknya
perempuan.Pakaian
adat ini terdiri dari
ulos yang
diselempangkan di
atas bahu dan topi
adat yang dipakai di
atas kepala. Pihak
boru lainnya pergi
mengundang pargonsi
dengan memberikan
napuran tiar (sirih)
yang diletakkan di
atas sebuah piring
beserta dengan uang
honor dari pargonsi
selama mereka
memainkan gondang
sabangunan
dalam upacara saur
matua. pemberian
napuran tiar ini
menunjukkan sikap
hormat kepada
pargonsi agar pargonsi
bersedia menerima
undangan tersebut
dan tidak menerima
undangan lain pada
waktu yang
bersamaan.
2. Acara Pelaksanaan
Upacara Kematian
Saur Matua
Setelah keperluan
upacara selesai
dipersiapkan barulah
upacara kematian
gaur matua ini dapat
dimulai. Pelaksanaan
upacara kematian saur
matua ini terbagi atas
dua bagian yaitu :
1. Upacara di jabu (di
dalam rumah)
termasuk di dalamnya
upacara di jabu
menuju maralaman
(upacara di rumah
menuju ke halaman ).
2. Upacara maralaman
(di halaman) Kedua
bentuk upacara inilah
yang dilaksanakan
oleh masyarakat Batak
Toba sebelum
mengantarkan jenazah
ke liang kubur.
1. Upacara di jabu (di
dalam rumah)
Pada saat upacara di
jabu akan dimulai,
mayat dari orangtua
yang meninggal
dibaringkan di jabu
bona (ruang tamu).
Letaknya berhadapan
dengan kamar
orangtua yang
meninggal ataupun
kamar anak-anaknya
dan diselimuti dengan
ulos sibolang. Suami
atau isteri yang
ditinggalkan duduk ,
di sebelah kanan tepat
di samping muka yang
meninggal. Kemudian
diikuti oleh anak laki-
laki mulai dari anak
yang paling besar
sampai anak yang
paling kecil. Anak
perempuan dari
orangtua yang
meninggal, duduk di
sebelah kiri
dari peti mayat.
Sedangkan cucu dan
cicitnya ada yang
duduk di belakang
atau di depan
orangtua meeka
masing-masing. Dan
semua unsur dari
dalihan natolu sudah
hadir di rumah duka
dengan mengenakan
ulos.
Upacara di jabu ini
biasanya di buka pada
pagi hari (sekitar jam
10.00 Wib) oleh
pengurus gereja.
Kemudian masing-
masing unsur dalihan
natolu mengadakan
acara penyampaian
kata-kata penghiburan
kepada suhut. Ketika
acara penyampaian
kata-kata penghiburan
oleh unsur-unsur
dalihan natolu sedang
berlangsung, diantara
keturunan orangtua
yang meninggal masih
ada yang menangis.
Pada saat yang
bersamaan, datanglah
pargonsi sesuai
dengan undangan
yang disampaikan
pihak suhut kepada
mereka. Tempat untuk
pargonsi sudah
dipersiapkan lebih
dahulu yaitu di bagian
atas rumah
(bonggar). Kemudian
pargonsi disambut
oleh suhut dan
dipersilahkan duduk di
jabu soding (sebelah
kiri ruang rumah yang
beralaskan tikar. Lalu
suhut menjamu makan
para pargonsi dengan
memberikan sepiring
makanan yang berisi
ikan (dengke) Batak,
sagu-sagu, nasi,
rudang, merata atau
beras yang ditumbuk
dan disertai dengan
napuran tiar (sirih).
Setelah acara makan
bersama para
pargonsi pun
mengambil tempat
mereka yang ada di
atas rumah dan
mempersiapkan
instrumen-instrumen
mereka masing-
masing. Umumnya
semua pemain duduk
menghadap kepada
yang meninggal.
Kegiatan margondang
di dalam rumah
biasanya dilakukan
pada malam hari,
sedangkan pada siang
hari harinya
dipergunakan pargonsi
untuk istirahat. Dan
pada malam hari tiba,
pargonsi pun sudah
bersiap-siap untuk
memainkan gondang
sabangunan.
Kemudian pargonsi
memainkan gondang
Lae-lae atau gondang
elek-elek, yaitu
gondang yang
memeberitahukan
danmengundang
masyarakat sekitarnya
supaya hadir di rumah
duka untuk turut
menari bersama-sama.
Gondang ini juga
dijadikan sebagai
pengumuman kepada
masyarakat bahwa
ada orang tua yang
meninggal saur matua.
Dan pada saat
gondang tersebut
berbunyi, pihak suhut
juga bersiap-siap
mengenakan ulos dan
topi adat karena
sebentar lagi kegiatan
margondang saur
matua akan dimulai.
Kemudian diaturlah
posisi masing-masing
unsur Dalihan Natolu.
Pihak suhut berdiri di
sebelah kanan yang
meninggal, boru
disebelah kiri yang
meninggal dan hula-
hula berdiri di depan
yang meninggal. Jika
masih ada suami atau
isteri yang meninggal
maka mereka berdiri
di sebelah kanan yang
meninggal bersama
dengan suhut hanya
tapi mereka paling
depan.
Kemudian kegiatan
margondang dibuka
oleh pengurus gereja
(pangulani huria).
Semua unsur Dalihan
Natolu berdiri di
tempatnya
masingmasing.
pengurus gereja
berkata kepada
pangonsi agar
dimainkan gondang
mula-mula. Gondang
ini dibunyikan untuk
menggambarkan
bahwa segala yang
ada di dunia ini ada
mulanya, baik itu
manusia, kekayaan
dan kehormatan.
2. Gondang ke dua
yaitu gondang yang
indah dan baik (tanpa
ada menyebutkan
nama gondangnya).
Setelah gondang
berbunyi, maka semua
menari.
3. Gondang Liat-liat,
para pengurus gereja
menari mengelilingi
mayat memberkati
semua suhut dengan
meletakkan tangan
yang memegang ulos
ke atas kepala suhut
dan suhut
membalasnya dengan
meletakkan tangannya
di wajah pengurus
gereja.
4. Gondang Simba-
simba maksudnya
agar kita patut
menghormati gereja.
Dan pihak suhut
menari mendatangi
pengurus gereja satu
persatu dan minta
berkat dari mereka
dengan rneletakkan
ulos ke bahu rnasing-
masing pengurus
gereja. Sedangkan
pengurus gereja
menaruh tangan
mereka ke atas kepala
suhut.
5. Gondang yang
terakhir, hasututon
meminta gondang
hasahatan dan sitio-tio
agar semua mendapat
hidup sejahtera
bahagia dan penuh
rejeki dan setelah
selesai ditarikan
rnereka semuanya
mengucapkan horas
sebanyak tiga kali.
Kemudian masing-
masing unsur dari
Dalihan Natolu
meminta gondang
kepada pargonsi,
mereka juga sering
memberikan uang
kepada pargonsi tetapi
yang memberikan
biasanya adalah pihak
boru walaupun uang
tersebut adalah dari
pihak hula-hula atau
dongan sabutuha.
Maksud dari
pemberian uang itu
adalah sebagai
penghormatan kepada
pargonsi dan untuk
memberi semangat
kepada pargonsi
dalam memainkan
gondang sabangunan.
Jika upacara ini
berlangsung beberapa
malam, maka
kegiatan-kegiatan
pada malam-malam
hari tersebut diisi
dengan menotor
semua unsur Dalihan
Na Tolu. Keesokan
harinya, apabila peti
mayat yang telah
dipesan sebelumnya
oleh suhut sudah
selesai, maka peti
mayat dibawa rnasuk
kedalam rumah dan
mayat
dipersiapkan untuk
dimasukkan ke dalam
peti. Ketika itu
hadirlah dongan
sabutuha, hula-hula
dan boru. Yang
mengangkat mayat
tersebut ke dalam peti
biasanya adalah pihak
hasuhutan yang
dibantu dengan
dongan sabutuha. Tapi
dibeberapa daerah
Batak Toba, yang
memasukkan mayat
ke dalam peti adalah
dongan sabutuha saja.
Kemudian dengan
hati-hati sekali mayat
dimasukkan ke dalam
peti dan diselimuti
dengan ulos sibolang.
posisi peti diletakkan
sarna dengan posisi
mayat sebelumnya.
Maka aktivitas
selanjutnya adalah
pemberian ulos
tujung, ulus sampe,
ulus panggabei.
Yang pertama sekali
memberikan ulos
adalah hula-hula yaitu
ulos tujung sejenis ulos
sibolang kepada yang
ditinggalkan (janda
atau duda) disertai
isak tangis baik dari
pihak suhut maupun
hula-hula sendiri.
Pemberian ulos
bermakna suatu
pengakuan resmi dari
kedudukan seorang
yang telah menjadi
janda atau duda dan
berada dalam suatu
keadaan duka yang
terberat dalam hidup
seseorang ditinggalkan
oleh teman sehidup
semati, sekaligus
pernyataan turut
berduka cita yang
sedalamdalamnya dari
pihak hula-hula. Dan
ulos itu hanya
diletakkan diatas bahu
dan tidak diatas
kepala. Ulos itu
disebut ulos sampe
atau ulos tali-tali. Dan
pada waktu
pemberian ulos
sampe-sampe itu
semua anak keturunan
yang meninggal
berdiri di
sebelah kanan dan
golongan boru di
sebelah kiri daeri peti
mayat.
Setelah ulos tujung
diberikan, kemudian
tulang dari yang
meninggal
memberikan ulos
saput (sejenis ulos
ragihotang atau
ragidup), yang
diletakkan pada mayat
dengan digerbangkan
(diherbangkan) diatas
badannya. Dan bona
tulang atau bona ni ari
memberikan ulos
sapot tetapi tidak
langsung diletakkan di
atas badan yang
meninggal tetapi
digerbangkan diatas
mayat peti saja.
Maksud dari
pemberian ulos
ini adalah
menunjukkan
hubungan yang baik
dan akrab antara
tulang dengan bere
(kemenakannya).
Setelah hula-hula
selesai memberikan
ulos-ulos tersebut
kepada suhut, maka
sekarang giliran pihak
suhut memberikan
ulos atau yang lainnya
sebagai pengganti dari
ulos kepada semua
pihak boru. pengganti
dari ulos ini dapat
diberikan sejumlah
uang.
Kemudian aktivitas
selanjutnya setelah
pemberian ulos atau
uang kepada boru
adalah kegiatan
margondang, dimulai
dari pihak suhut,
dongan sabutuha,
boru dan ale-ale.
Semuanya menari
diiringi gondang
sabungan dan mereka
sesuka hati meminta
jenis gondang yang
akan ditarikan.
Sesudah semua
rombongan selesai
menari, maka semua
hadirin diundang
untuk makan
bersama. Sehari
sebelumnya
peti mayat dibawa ke
halaman rumah
orangtua yang saur
matua tersebut,
diadakanlah adat
pandungoi yang
biasanya dilakukan
rada sore hari.
Adat ini menunjukkan
aktivitas memberi
makan (sepiring nasi
beserta lauknya)
kepada orangtua yang
saur matua dan
kepada semua sanak
famili. Setelah
pembagian harta
warisan selesai
dilaksanakan,lalu
semua unsur Dalihan
na Tolu kembali
menari. Mulai dari
pihak suhut,
hasuhutan yang
menari kemudian
dongan sabutuha,
boru, hula-hula dan
ale-ale. Acara ini
berlangsung sampai
selesai ( pagi hari ).
1. Upacara di jabu
menuju maralaman
Keesokan harinya
(tepat pada hari
penguburan) semua
suhut sudah
bersiapsiap lengkap
dengan pakaian
adatnya untuk
mengadakan upacara
di jabu menuju
maralaman. Setelah
semuanya hadir di
rumah duka, maka
upacara ini dimulai,
tepatnya pada waktu
matahari akan naik
(sekitar pukul 10.00
Wib). Anak laki-laki
berdiri di sebelah
kanan peti mayat,
anak perempuan
(pihak boru) berdiri di
sebelah kiri, hula-hula
bersama pengurus
gereja berdiri di depan
peti mayat dan
dongan sabutuha
berdiri di belakang
boru. Kemudian acara
dipimpin oleh
pengurus gereja
mengenakan pakaian
resmi (jubah).
Setelah acara gereja
selesai maka pengurus
gereja menyuruh
pihak boru untuk
mengangkat peti
mayat ke halaman
rumah sambil diiringi
dengan nyanyian
gereja yang
dinyanyikan oleh
hadirin. Lalu peti
mayat ditutup (tetapi
belum dipaku) dan
diangkat secara hati-
hati dan perlahan-
lahan oleh pihak boru
dibantu oleh
hasuhuton juga
dongan sabutuha ke
halaman. peti mayat
tersebut masih tetap
ditutup dengan ulos
sibolang. Lalu peti
mayat itu diletakkan
di halaman rumah
sebelah kanan dan di
depannya diletakkan
palang salib kristen
yang bertuliskan nama
orangtua yang
meninggal.
Sesampainya di
halaman, peti mayat
ditutup dan diletakkan
di atas kayu sebagai
penyanggahnya.
Semua unsur dalihan
Na Tolu yang ada di
dalam rumah
kemudian berkumpul
di halaman rumah
untuk mengikuti acara
selanjutnya.
2. Upacara Maralaman
(di halaman rumah)
Upacara maralaman
adalah upacara
teakhir sebelum
penguburan mayat
yang gaur matua. Di
dalam adat Batak
Toba, kalau seseorang
yang gaur matua
meninggal maka harus
diberangkatkan dari
antaran bidang
(halaman) ke kuburan
(disebut Partuatna).
Maka dalam upacara
maralaman akan
dilaksanakan adat
partuatna. Pada
upacara ini posisi dari
semua unsur dalihan
Na Tolu berbeda
dengan posisi mereka
ketika mengikuti
upacara di dalam
ruah. pihak suhut
berbaris mulai dari
kanan ke kiri (yang
paling besar ke yang
bungsu), dan di
belakang mereka
berdiri parumaen
(menantu perempuan
dari yang meninggal)
posisi dari suhut
berdiri tepat di
hadapan rumah duka.
Anak perempuan dari
yang meninggal
beserta dengan pihak
boru lainnya berdiri
membelakangi rumah
duka kemudian hula-
hula berdiri di
samping kanan rumah
duka.
Semuanya
mengenakan ulos
yang disandang di atas
bahu. Ke semua posisi
ini mengelilingi kayu
borotan yang ada di
tengahtengah
halaman rumah.
Sedangkan peti mayat
diletakkan di sebelah
kanan rumah
duka dan agak jauh
dari tiang kayu
borotan Posisi pemain
gondang sabangunan
pun sudah berbeda
dengan posisi mereka
ketika di dalam
rumah. Pada upacara
ini, posisi mereka
sudah menghadap ke
halaman rumah
(sebelumnya di
bonggar rumah, tetapi
pada upacara
maralaman mereka
berada di bilik
bonggar sebelah
kanan). Kemudian
pargonsi pun bersiap-
siap dengan
instrumennya masing-
masing.
Setelah semua unsur
Dalihan Na Tolu dan
pargonsi berada pada
tempatnya, lalu
pengurus gereja
membuka kembali
upacara di halaman ini
dengan bernyanyi
lebih dahulu, lalu
pembacaan firman
Tuhan, bernyanyi lagi,
kata sambutan dan
penghiburan dari
pengurus gereja, koor
dari ibu-ibu gereja dan
terakhir doa penutup.
Kemudian rombongan
dari pengurus gereja
mengawali kegiatan
margondang. Pertama
sekali mereka
meminta kepada
pargonsi supaya
memainkan sitolu
Gondang (tanpa
menyebut nama
gondangnya) , yaitu
gondang yang
dipersembahkan
kepada Debata
(Tuhan) agar kiranya
Yang Maha Kuasa
berkenan memberkati
upacara ini dari awal
hingga akhirnya dan
memberkati semua
suhut agar beroleh
hidup yang
sejahtera di masa
mendatang. Lalu
pargonsi memainkan
sitolu Gondang itu
secara berturut-turut
tanpa ada yang
menari.
Setelah sitolu
Gondang itu selesai
dimainkan, pengurus
gereja kemudian
meminta kepada
pargonsi yaitu
gondang liat-liat.
Maksud dari gondang
ini adalah agar semua
keturunan dari yang
meninggal saur matua
ini selamat-selamat
dan sejahtera. Pada
jenis gondang ini,
rombongan gereja
menari mengelilingi
borotan (yang
diikatkan kepadanya
seekor kuda)
sebanyak tiga kali,
yang disambut oleh
pihak boru dengan
gerakan mundur.
Gerak tari pada
gondang ini ialah
kedua tangan ditutup
dan digerakkan
menurut irama
gondang. Setelah
mengelilingi borotan,
maka pihak pengurus
gereja memberkati
semua boru dan
suhut.
Kemudian pengurus
gereja meminta
gondang Marolop-
olopan. Maksud dari
gondang ini agar
pengurus gereja
dengan pihak suhut
saling bekerja sama.
pada waktu menari
pengurus gereja
mendatangi suhut dan
unsur Dalihan Natolu
lainnya satu persatu
dan memberkati
mereka dengan
meletakkan ulos di
atas bahu atau saling
memegang wajah,
sedang suhut dan
unsur Dalihan Na Tolu
lainnya memegang
wajah pengurus gereja.
Setelah gondang ini
selesai, maka
pengurus gereja
menutup kegiatan
margondang mereka
dengan meminta
kepada pargonsi
gondang Hasahatan tu
sitiotio. Semua unsur :
Dalihan Na Tolu
menari di tempat dan
kemudian
mengucapkan ‘horas’
sebanyak 3 kali.
Kegiatan margondang
selanjutnya diisi oleh
pihak hasuhutan yang
meminta gondang
Mangaliat kepada
pargonsi. Semua suhut
berbaris menari
mengelilingi kuda
sebanyak 3 kali, yang
disambut oleh pihak
boru dengan gerakan
mundur. Gerakan
tangan sama seperti
gerak yang dilakukan
oleh pengurus gereja
pada waktu mereka
menari gondang
Mangaliat. Setelah
gondang ini selesai
maka suhut
mendatangi pihak
boru dan memberkati
mereka dengan
memegang kepala
boru atau meletakkan
ulos di atas bahu
boru.Sedangkan boru
memegang wajah
suhut.
Setelah hasuhutan
selesai menari pada
gondang Mangaliat,
maka menarilah
dongan sabutuha juga
dengan gondang
Mangaliat, dengan
memberikan ‘beras si
pir ni tondi’ kepada
suhut. Kemudian
mangaliatlah
(mengelilingi borotan)
pihak boru sambil
memberikan beras
atau uang. Lagi giliran
pihak hula-hula untuk
mangaliat. Pihak hula-
hula selain
memberikan beras
atau liang, mereka
juga memberikan ulos
kepada semua
keturunan orangtua
yang meninggal (baik
anak laki-laki dan
anak perempuan).
Ulos yang diberikan
hula-hula kepada
suhut itu merupakan
ulos holong.
Biasanya setelah
keturunan yang
meninggal ini
menerima ulos yang
diberikan hulahula,
lalu mereka
mengelilingi sekali lagi
borotan. Kemudian
pihak ale-ale yang
mangaliat, juga
memberikan beras
atau uang. Dan
kegiatan gondang ini
diakhiri dengan pihak
parhobas dan
naposobulung yang
menari. Pada akhir
dari setiap kelompok
yang menari selalu
dimintakan gondang
Hasahatan atau sitio-
tio dan
mengucapkan ‘horas’
sebanyak 3 kali.
Pada saat setiap
kelompok Dalihan Na
Tolu menari, ada juga
yang mengadakan
pembagian jambar,
dengan memberikan
sepotong daging yang
diletakkan dalam
sebuah piring dan
diberikan kepada
siapa yang
berkepentingan.
Sementara diadakan
pembagian jambar,
kegiatan margondang
terus berlanjut.
Setelah semuanya
selesai menari, maka
acara diserahkan
kepada pengurus
gereja, karena
merekalah yang akan
menurup upacara ini.
Lalu semua unsur
Dalihan Na Tolu
mengelilingi peti
mayat yang tertutup.
Di mulai acara gereja
dengan bernyanyi,
berdoa, penyampaian
firman Tuhan,
bernyanyi, kata
sambutan dari
pengurus gereja,
bernyanyi dan doa
penutup. Kemudian
peti mayat dipakukan
dan siap untuk dibawa
ke tempat
penguburannya yang
terakhir yang telah
dipersiapkan
sebelumnya peti
mayat diangkat oleh
hasuhutan dibantu
dengan boru dan
dong an sahuta,
sambil diiringi
nyanyian gereja yang
dinyanyikan oleh
hadirin sampai ke
tempat
pemakamannya. Acara
pemakaman
diserahkan
sepenuhnya kepada
pengurus gereja.
Setelah selesai acara
pemakaman,
kembalilah semua
yang turut mengantar
ke rumah duka.
3. Acara Sesudah
Upacara Kematian.
Sesampainya pihak
suhut , hasuhutan,
boru, dongan
sabutuha, hula-hula di
rumah duka, maka
acara selanjutnya
adalah makan
bersama. Pada saat
itulah kuda yang
diborotkan tadi sudah
dapat dilepaskan dan
ternak (babi) yang
khusus untuk
makanan pesta atau
upacara yang
dibagikan kepada
semua yang hadir.
Pembagian jambar ini
dipimpin langsung
oleh pengetua adat.
Tetapi terdapat
berbagai variasi pada
beberapa tempat yang
ada pada masyarakat
batak toba. Salah satu
uraian yang diberikan
dalam pembagian
jambar ini adalah
sebagai berikut:
Kepala untuk tulang
Telur untuk pangoli
Somba-somba untuk
bona tulang
satu tulang paha
belakang untuk bona
ni ari
Satu tulang belakang
lainnya untuk
parbonaan
Leher dan sekerat
daging untuk boru
Setelah pembagian
jambar ini selesai
dilaksanakan maka
kepada setiap
hulahula yang
memberikan ulos
karena meninggal saur
matua orang tua ini,
akan diberikan piso
yang disebut
“ pasahatkhon piso-
piso”, yaitu
menyerahkan
sejumlah uang kepada
hula-hula, jumlahnya
menurut kedudukan
masing-masing dan
keadaan.
Bilamana seorang ibu
yang meninggal saur
matua maka diadakan
mangungkap
hombung (buha
hombung), yang
dilakukan oleh hula-
hula dari ibu yang
meninggal, biasanya
dijalankan oleh amana
posona (anak dari ito
atau abang adik yang
meninggal). Buha
Hombung artinya
membuka simpanan
dari ibu yang
meninggal. Hombung
ialah suatu tempat
tersembunyi dalam
rumah, dimana
seorang ibu biasanya
menyimpan harta
keluarga ; pusaka,
perhiasan, emas dan
uang.
Harta kekayaan itu
diminta oleh hula-hula
sebagai kenang-
kenangan, juga
sebagai kesempatan
terakhir untuk
meminta sesuatu dari
simpanan “borunya”
setelah selesai
mangungkap
hombung, maka
upacara ditutup oleh
pengetua adat.
Beberapa hari setelah
selesai upacara
kematian saur matua,
hula-hula datang
untuk mangapuli
(memberikan
penghiburan) kepada
keluarga dari orang
yang meninggal saur
matua dengan
membawa makanan
berupa ikan mas. Yang
bekerja menyedikan
keperluan acara
adalah pihak boru.
Acara mangapuli
dimulai dengan
bernyanyi, berdoa,
kata-kata penghiburan
setelah itu dibalas
(diapu) oleh suhut.
Setelah acara ini
selesai, maka
selesailah pelaksanaan
upacara kematian saur
matua. Latar belakang
dari pelaksanaan
upacara kematian saur
matua ini adalah
karena faktor adat,
yang harus dijalankan
oleh para keturunan
orang tua yang
meninggal tersebut.
Pelaksanaan upacara
ini juga diwujudkan
sebagai penghormatan
kepada orang tua
yang meninggal,
dengan harapan agar
orang tua tersebut
dapat menghormati
kelangsungan hidup
dari para
keturunannya yang
sejahtera dan damai.
Hal ini menunjukkan
bahwa hubungan
antara manusia yang
masih hidup dengan
para kerabatnya yang
sudah meninggal
masih ada hubungan
ini juga menentukan
hidup manusia itu di
dunia dan di akhirat.
Sebagai salah satu
bentuk aktivitas adat ,
maka pelaksanaan
upacara ini tidak
terlepas dari
kehadiran dari unsur-
unsur Dalihan Natolu
yang memainkan
peranan berupa hak
dan kewajiban
mereka. Maka dalihan
natolu inilah yang
mengatur peranan
tersebut sehingga
prilaku setiap unsur
khususnya dalam
kegiatan adat maupun
dalam kehidupan
sehari-hari tidak
menyimpang dari adat
yang sudah ada
Toba, kata gondang
(Secara harfiah)
memiliki banyak
pengertian. Antara lain
mengandung arti
sebagai :
(1) seperangkat alat
musik,
(2) ensambel musik,
(3) komposisi lagu
(kumpulan dari
beberapa lagu
pasaribu 1987). Makna
lain dari kata ini,
berarti juga sebagai
(1) menunjukkan satu
bagian dari kelompok
kekerabatan, tingkat
usia; atau orang-orang
dalam tingkatan status
sosial tertentu yang
sedang menari
(manortor) pada saat
upacara berlangsung
(Irwansyah,1990).
Pengertian gondang
sebagai perangkat alat
musik, yakni gondang
Batak.
Gondang Batak sering
diidentikkan dengan
gondang sabangunan
atau ogling
sabangunan dan
kadang-kadang juga
diidentikkan dengan
taganing (salah satu
alat musik yang
terdapat di dalam
gondang sabangunan).
Hal ini berarti
memberi kesan
kepada kita seolah-
olah yang termasuk ke
dalam Gondang Batak
itu hanyalah gondang
sabangunan,
sedangkan perangkat
alat musik Batak yang
lain, yaitu :
gondang hasapi tidak
termasuk gondang
Batak. Padahal
sebenarnya gondang
hasapi juga adalah
gondang Batak, akan
tetapi istilah gondang
hasapi lebih dikenal
dengan istilah uning-
uningan daripada
gondang Batak.
Gondang dalam
pengertian ensambel
musik terbagi atas dua
bagian, yakni gondang
sabangunan (gondang
bolon) dan gondang
hasapi (uning-
uningan). Gondang
sabangunan dan
gondang hasapi
adalah dua jenis
ensambel musik yang
terdapat pada tradisi
musik Batak Toba.
Secara umum fungsi
kedua jenis ensambel
ini hampir tidak
memiliki perbedaan
keduanya selalu
digunakan di dalam
upacara yang
berkaitan dengan
religi, adat maupun
upacara-upacara
seremonial lainnya.
Namun demikian
kalau diteliti lebih
lanjut, kita akan
menemukan
perbedaan yang
cukup mendasar dari
kedua ensambel ini.
Sebutan gondang
dalam pengertian
komposisi
menunjukkan arti
sebagai sebuah
komposisi dari lagu
(judul lagu secara
individu) atau
menunjukkan
kumpulan dari
beberapa lagu/
repertoar, yang
masing-masing ini bisa
dimainkan pada
upacara yang berbeda
tergantung
permintaan kelompok
orang yang terlibat
dalam upacara untuk
menari, termasuk di
dalam upacara
kematian saur matua.
Misalnya : gondang si
Bunga Jambu,
gondang si Boru
Mauliate dan
sebagainya. Kata si
bunga jambu, si boru
mauliate dan malim
menunjukkan sebuah
komposisis lagu,
sekaligus juga
merupakan judul dari
lagu (komposisi) itu
sendiri.
Berbeda dengan
gondang samba,
samba Didang-Didang
dan gondang elekelek
(lae-lae). Meskipun
kata gondang di sini
juga memiliki
pengertian komposisi,
namun kata
sombai;didang-didangi
dan elek-elek memiliki
pengertian yang
menunjukkan sifat dari
gondang tersebut,
yang artinya ada
beberapa komposisi
yang bisa
dikategorikan di
dalam gondang-
gondang yang disebut
di atas, yang
merupakan “satu
keluarga gondang”.
Komposisi dalam “satu
keluarga gondang,”
memberi pengertian
ada beberapa
komposisi yang
memiliki sifat dan
fungsi yang sama,
yang dalam
pelaksanaannya
tergantung kepada
jenis upacara dan
permintaan kelompok
orang yang terlibat
dalam upacara.
Misalnya: gondang
Debata (termasuk
di dalamnya komposisi
gondang Debata
Guru, Debata sari,
Bana Bulan, dan
Mulajadi); gondang
Sahalai dan gondang
Habonaran.
Gondang dalam
pengertian repertoar
contohnya si pitu
Gondang. si pitu
Gondang atau
kadang-kadang
disebut juga gondang
parngosi (baca
pargocci) atau
panjujuran Gondang
adalah sebuah
repertoar adalah
reportoar/kumpulan
lagu yang dimainkan
pada bagian awal dari
semua jenis upacara
yang melibatkan
aktivitas musik sebagai
salah satu sarana dari
upacara masyarakat
Batak Toba. Semua
jenis lagu yang
terdapat pada si pitu
Gondang merupakan
“inti” dari keseluruhan
gondang yang ada.
Namun, untuk dapat
mengetahui lebih
lanjut jenis bagian apa
saja yang terdapat
pada si pitu Gondang
tampaknya cukup
rumit juga umumnya
hanya diketahui oleh
pargonsi saja. Lagu-
lagu yang terdapat
pada si pitu Gondang
dapat
dimainkan secara
menyeluruh tanpa
berhenti, atau
dimainkan secara
terpisah (berhenti
pada saat pergantian
gondang). Repertoar
ini tidak boleh
ditarikan. Jumlah
gondang (komposisi
lagu yang dimainkan
harus di dalam jumlah
bilangan ganjil,
misalnya : satu, tiga,
lima, tujuh).
Kata gondang dapat
dipakai dalam
pengertian suatu
upacara misalnya
gondang Mandudu
(” upacara memanggil
roh”) dan upacara
Saem (”upacara
ritual”). Gondang
dapat juga
menunjukkan satu
bagian dari upacara di
mana kelompok
kekerabatan atau satu
kelompok dari
tingkatan usia dan
status sosial tertentu
yang sedang menari,
pada saat upacara
tertentu misalnya :
gondang Suhut,
gondang Boru,
gondang datu,
gondang Naposo dan
sebagainya. Jika
dikatakan gondang
Suhut, artinya pada
saat itu Suhut yang
mengambil bagian
untuk meminta
gondang dan
menyampaikan setiap
keinginannya untuk
dapat menari bersama
kelompok
kekerabatan lain yang
didinginkannya.
Demikian juga Boru,
artinya yang
mendapat kesempatan
untuk menari;
gondang datu, artinya
yang meminta
gondang dan menari;
dan gondang naposo,
artinya muda-mudi
yang mendapat
kesempatan untuk
menari.
Selain kelima
pengertian kata
gondang tersebut, ada
juga pengertian yang
lain yaitu yang dipakai
untuk pembagian
waktu dalam upacara,
misalnya gondang
Sadari Saboringin
yaitu upacara yang
didalamnya
menyertakan aktivitas
margondang dan
dilaksanakan selama
satu hari satu malam.
Dengan demikian,
pengertian gondang
secara keseluruhan
dalam satu upacara
dapat meliputi
beberapa pengertian
seperti yang tertera di
atas. pengertian
gondang sebagai
suatu ensambel musik
tradisional khususnya,
maksudnya untuk
mengiring jalannya
upacara kematian saur
matua.
B. Istilah Gondang
Sabangunan
Banyak istilah yang
diberikan para ahli
kebudayaan ataupun
istilah dari masyarakat
Batak itu sendiri
terhadap gondang
Sabangunan, antara
lain: agung, agung
sabangunan, gordang
parhohas na ualu
(perkakas nan
delapan) dan
sebagainya. Tetapi
semua ini merupakan
istilah saja, karena
masing-masing pada
umumnya mempunyai
pengertian yang sama.
Diantara istilah-istilah
tersebut di atas, istilah
yang paling menarik
perhatian adalah
parhohas na ualu yang
mempunyai
pengertian perkakas
nan delapan. Istilah ini
umumnya dipakai oleh
tokoh-tokoh tua saja,
dan biasanya
disambung lagi
dengan kalimat
“ simaningguak di
langit natondol di
tano ” (artinya berpijak
di atas
tanah sampai juga ke
langit). Menurut
keyakinan suku
bangsa Batak Toba
dahulu, apabila
gondang sabangunan
tersebut dimainkan,
maka suaranya akan
kedengaran sampai ke
langit dan semua
penari mengikuti
gondang itu akan
melompat-lompat
seperti kesurupan di
atas tanah (na tondol
di tano). Biasanya
semua pendengar
mengakui adanya
sesuatu kekuatan di
dalam “gondang” itu
yang dapat membuat
orang bersuka cita,
sedih, dan merasa
bersatu di dalam
suasana kekeluargaan.
Gondang sabangunan
disebut “parhohas na
ualu, karena terdiri
dari delapan jenis
instrumen tradisional
Batak Toba, yaitu
taganing, sarune,
gordang, ogling
ihutan, ogling oloan,
ogling panggora,
ogung doal dan hesek
tanpa odap.
Kedelapan intrumen
itu merupakan
lambang dari
kedelapan mata angin,
yang disebut “desa na
ualu” dan merupakan
dasar yang dipakai
untuk sebutan Raja Na
Ualu (Raja Nan
Delapan) bagi
komunitas musik
gondang sabangunan.
Pada masa awal
perkembangan musik
gondang Batak,
instrumen-instrumen
ini masing-masing
dimainkan oleh satu
orang saja. Tetapi
sejalan dengan
perubahan
jaman, ogling oloan
dan ogling ihutan
telah dapat dimainkan
hanya oleh satu orang
saja. Sedangkan odap
sudah tidak dipakai
lagi. Kadang-kadang
peran hesek juga
dirangkap oleh
pemain taganing,
sehingga jumlah
pemain ensambel itu
bervariasi.
Keseluruhan pemain
yang memainkan
instrumen-instrumen
dalam gondang
sabangunan ini
disebut pargonsi dan
kegiatan yang
menggunakan
perangkatperangkat
musik tradisional ini
disebut margondang
(memainkan
gondang).
C. Jenis Dan Fungsi
Instrumen Gondang
Sabangunan
Gondang sabangunan
sebagai kumpulan
alat-alat musik
tradiosional Batak
Toba, terdiri dari :
taganing, gordang,
sarune, ogling oloan,
ogling ihutan, ogling
panggora, ogling doal
dan hesek. Dalam
uraian berikut ini akan
dijelaskan
masingmasing
instrumen yakni
fungsinya.
1. Taganing
Dari segi teknis,
instrumen taganing
memiliki tanggung
jawab dalam
penguasaan repertoar
dan memainkan
melodi bersama-sama
dengan sarune.
Walaupun tidak
seluruh repetoar
berfungsi sebagai
pembawa melodi,
namun pada setiap
penyajian gondang,
taganing berfungsi
sebagai “pengaba”
atau “dirigen” (pemain
group gondang)
dengan isyarat- isyarat
ritme yang harus
dipatuhi oleh seluruh
anggota ensambel dan
pemberi semangat
kepada pemain
lainnya.
2. Gordang
Gordang ini berfungsi
sebagai instrumen
ritme variabel, yaitu
memainkan iringan
musik lagu yang
bervariasi.
3. Sarune
Sarune berfungsi
sebagai alat untuk
memainkan melodi
lagu yang dibawakan
oleh taganing.
4. Ogung Oloan
(pemiapin atau Yang
Harus Dituruti)
Agung Oloan
mempunyai fungsi
sebagai instrumen
ritme konstan, yaitu
memainkan iringan
irama lagu dengan
model yang tetap.
Fungsi agung oloan ini
umumnya sama
dengan fungsi agung
ihutan, agung
panggora dan agung
doal dan sedikit sekali
perbedaannya. agung
doal
memperdengarkan
bunyinya tepat
di tengah-tengah dari
dua pukulan hesek
dan menimbulkan
suatu efek synkopis
nampaknya
merupakan suatu ciri
khas dari gondang
sabangunan.
Fungsi dari agung
panggora ditujukan
pada dua bagian. Di
satu bagian, ia
berbunyi berbarengan
dengan tiap pukulan
yang kedua, sedang di
bagian lain sekali ia
berbunyi berbarengan
dengan agung ihutan
dan sekali lagi
berbarengan dengan
agung oloan.
Oleh karena musik
dari gondang
sabangunan ini pada
umumnya dimainkan
dalam tempo yang
cepat, maka para
penari maupun
pendengar hanya
berpegang pada bunyi
agung oloan dan
ihutan saja.
Berdasarkan hal ini,
maka ogling oloan
yang berbunyi lebih
rendah itu berarti
“ pemimpin” atau
“Yang harus di
turuti” , sedang ogling
ihutan yang berbunyi
lebih tinggi, itu “Yang
menjawab” atau “Yang
menuruti”. Maka
dapat disimpulkan
bahwa peranan dan
fungsi yang
berlangsung antara
ogling dan ihutan
dianggap oleh orang
Batak Toba sebagai
suatu permainan
“ tanya jawab”
5. Ogung Ihutan atau
Ogung pangalusi
(Yang menjawab atau
yang menuruti).
6. Ogung panggora
atau Ogung
Panonggahi (Yang
berseru atau yang
membuat orang
terkejut).
7. Ogung Doal (Tidak
mempunyai arti
tertentu)
8. Hesek
Hesek ini berfungsi
menuntun instrumen
lain secara bersama-
sama dimainkan.
Tanpa hesek,
permainan musik
instrumen akan terasa
kurang lengkap.
Walaupun alat dan
suaranya sederhana
saja, namun
peranannya penting
dan menentukan.
D. Susunan Gondang
Sabangunan
Menurut falasafah
hidup orang Batak
Toba, “bilangan”
mempunyai makna
dan pengaruh dalam
kehidupan sehari-hari
dan aktivitas adat.
“ Bilangan genap”
dianggap bilangan sial,
karena membawa
kematian atau
berakhir pada
kematian. Ini terlihat
dari anggota tubuh
dan binatang yang
selalu genap. menurut
Sutan Muda
Pakpahan, hal itu
semuanya berakhir
pada kematian,
dukacita dan
penderitaan
(Nainggolan, 1979).
Maka di dalam segala
aspek kehidupan
diusahakan selalu
“bilangan ganjil” yang
disebut bilangan na
pisik yang dianggap
membawa berkat dan
kehidupan.
Dengan kata lain
“ bilangan genap”
adalah lambang
segala ciptaan didunia
ini yang dapat dilihat
dan hakekatnya akan
berlalu, sedang
“ bilangan ganjil”
adalah lambang
kehidupan dan
Pencipta yang tiada
terlihat yang
hakekatnya kekal.
Itulah sebabnya
susunan acara
gondang sabangunan
selalu dalam bilangan
ganjil. Nama tiap
acara, disebut
“ gondang” yang dapat
diartikan jenis lagu
untuk nomor sesuatu
acara. Susunan nomor
acara juga harus
menunjukkan pada
bilangan ganjil seperti
Satu, tiga, atau lima
dan sebanyak-
banyaknya tujuh
nomor acara.
Sedangkan jumlah
acara juga boleh
menggunakan acara
bilangan genap,
misalnya :
dua nomor acara,
empat atau enam.
Selanjutnya susunan
acara itu hendaknya
memenuhi tiga bagian,
yang merupakan
bentuk upacara secara
umum, yaitu
pendahuluan yang
disebut gondang
mula-mula,
pemberkatan yang
disebut gondang pasu-
pasu, dan penutup
yang disebut gondang
hasatan. Ketiga bagian
gondang inilah yang
disebut si pitu
Gondang (Si Tujuh
Gondang). Walaupun
dapat dilakukan satu,
tiga, lima, dan
sebanyakbanyaknya
tujuh nomor acara
atau jenis gondang
yang diminta.
“Gondang mulamula i
ma tardok patujulona
na marpardomuan tu
par Tuhanon, tu
sabala ni angka Raja
dohot situan na
torop ”. Artinya
Gondang mula-mula
merupakan
pendahuluan atau
pembukaan yang
berhubungan dengan
Ketuhanan, kuasa roh
raja-raja dan khalayak
ramai.
Bentuk upacara yang
termasuk gondang
mula-mula antara lain:
1. Gondang alu-alu,
untuk mengadukan
segala keluhan kepada
yang tiada terlihat
yaitu Tuhan Yang
Maha Pencipta,
biasanya dilakukan
tanpa tarian.
2. Gondang Samba-
Samba, sebagai
persembahan kepada
Yang Maha Pencipta.
Semua penari
berputar di tempat
masing-masing dengan
kedua tanganbersikap
menyembah.
Yang termasuk
gondang pasu-
pasuan :
1. Gondang Sampur
Marmere,
menggambarkan
permohonan agar
dianugrahi dengan
keturunan banyak.
2. Gondang Marorot,
menggambarkan
permohonan kelahiran
anak yang dapat
diasuh.
3. Gondang Saudara,
menggambarkan
permohonan tegaknya
keadilan dan
kemakmuran.
4. Gondang Sibane-
bane,
menggambarkan
permohonan adanya
kedamaian dan
kesejahteraan.
5. Gondang Simonang-
monang,
menggambarkan
permohonan agar
selalu memperoleh
kemenangan.
6. Gondang Didang-
didang,
menggambarkan
permohonan
datangnya sukacita
yang selalu
didambakan manusia.
7. Gondang Malim,
menggambarkan
kesalehan dan
kemuliaan seorang
imam yang tidak mau
ternoda.
8. Gondang Mulajadi,
menggambarkan
penyampaian segala
permohonan kepada
Yang Maha pencipta
sumber segala
anugerah.
Angerah pasu-pasuan i
ma tardok gondang
sinta-sinta pangidoan
hombar tusintuhu ni
na ginondangkan
dohot barita ngolu.
Artinya gondang pasu-
pasuanmerupakan
penggambaran cita-
cita dan pernohonan
sesuai dengan acara
pokok dan kisah
hidup.
Sedangkan yang
termasuk gondang
penutup (gondang
hasatan):
Gondang Sitio-tio,
menggambarkan
kecerahan hidup masa
depan sebagai
jawabanterhadap
upacara adat yang
telah dilaksanakan.
Gondang Hasatan,
menggambarkan
penghargaan yang
pasti tentang segala
yang dipinta akan
diperoleh dalam
waktu yang tidak
lama.
Gondang hasatan i ma
pas ni roha na ingkon
sabat saut sude na
pinarsinta.
Artinya : Gondang
hasatan ialah : suatu
keyakinan yang pasti
bahwa semua cita-cita
akan tercapai. Lagu-
lagu untuk ini biasanya
pendek-pendek saja.
Dari ketiga bagian
gondang tersebut di
atas, maka para
peminta gondang
menentukan beberapa
nomor acara gondang
dan nama gondang
yang akan ditarikan.
Masing- masing
gondang ditarikan
satu nilai satu kali saja.
Contohnya:
Sebagai pendahuluan :
Gondang Alu-alu
(tidak ditarikan).
I. Gondang Mula-mula
(1x). Biasanya
gondang ini disatukan
dengan Gondang
Samba-samba. Di
Gondang Mula-mula =
menari dengan tidak
membuka tangan dan
hanya
sebentar.
Di Gondang Samba-
mamba = menari
sambil membuka
tangan
II. Gondang Pasu-
pasuan (3x) atau (5x).
III. Gondang Sahatan
(1x) atau (2x).
Yang umum
dilaksanakan terdiri
dari tujuh nomor
acara (Si pitu
Gondang)
dengan susunan :
1. Gondang Mula-
mula : 1x = Gondang
Mula-mula.
2. Gondang Samba-
samba : 1x = Idem
3. Gondang Sampur
Marmere : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
4. Gondang Marorot :
1x = Idem
5. Gondang Saudara :
1x = Idem
6. Gondang sitio-tio :
1x = Idem
7. Gondang Hasatan :
1x = Idem
————————————————————————————–
Jumlah : 7x (2 G. Mula-
mula + 3 G. Pasu-
pasuan+ 2 G
Hasahatan)
Jika diadakan dalam
lima nomor acara
(Silima Gondang),
susunannya adalah
sebagai berikut :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-
samba : 1x Gondang
Mula-mula.
Gondang Sibane-
bane : 1x Gondang
Pasu-pasuan
Gondang Simonang-
monang : 1x Idem
Gondang Didang-
didang : 1x Idem
Gondang Hasatan
sitio-tio : 1x Gondang
Hasahatan
————————————————————————————–
Jumlah : 5x (1. G Mula-
mula + 3 G Pasu-
pasuan + 1 G
Hasatan).
Sedangkan dalam tlga
nomor acara (Sitolu
Gondang), susunannya
ialah :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-
samba : 1x = Gondang
Mula-mula
Gondang Sibane-bane
disatukan dengan
Gondang Simonang-
monang : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
Gondang Hasahatan
sitio-tio : 1x =
Gondang Hasahatan
———————————————————————————————–
Jumlah : 3x (1 G Mula-
mula + 1 G Pasu-
pasuan + 1 G =
Hasahatan).
Jika hanya nomor
acara (Sisada
Gondang) , maka di
dalamnya sekaligus
dimainkan Gondang
Mula-mula, Gondang
Pasu-pasuan, Gondang
Hasahatan.
E. syarat-Syarat
pemain Gondang
Sabangunan
Para pemain
instrumen-instrumen
yang tergabung dalam
komunitas
gondang,disebut
pargonsi. Biasanya,
sebagian besar warga
masyarakat Batak
Toba tertarik
mendengar alunan
suara yang
dikeluarkan oleh
gondang sabangunan
tersebut, tetapi tidak
semuanya mampu
memainkan alat-alat
tersebut apalagi
mencapai tahap
pargonsi. Hal ini
disebabkan karena
adanya syarat-syarat
tertentu yang harus
dipenuhi seseorang
untuk dapat menjadi
seorang pargonsi.
Syarat-syarat tersebut
seperti yang
dikemukakan seorang
ahlinya, antara lain:
1. Harus mendapat
sahala dari Mulajadi
Na Bolon (Sang
Pencipta).
Sahala ini merupakan
berkat kepintaran
khusus dalam
memainkan alat musik
yang diberikan kepada
seseorang sejak dalam
kandungan. Dengan
kata lain orang
tersebut sudah
dipersiapkan untuk
menjadi seorang
pargonsi sebagai
permintaan Mula Jadi
Na Bolon.
2. Melalui proses
belajar
Seseorang dapat
menjadi pargonsi,
dengan adanya berkat
khusus yang diberikan
Mulajadi Na Bolon
sekaligus dipadukan
dengan proses belajar.
Sehingga itu seseorang
memiliki ketrampilan
khusus untuk dapat
menjadi pargonsi.
Walaupun melalui
proses belajar, tetapi
jika tidak diberikan
sahala kepada orang
tersebut, maka ia
tidak berarti apa-apa
atau tidak menjadi
pargonsi yang pandai.
3. Mempunyai
pengetahuan
mengenai ruhut-ruhut
ni adat (aturan-aturan
dalam adat)
Maksudnya
mengetahui struktur
masyarakat Batak
Toba yaitu Dalihan Na
Tolu dan
penerapannya dalam
masyarakat.
4. Umumnya yang
diberkati Mulajadi Na
Bolon untuk menjadi
seorang pargonsi
adalah laki-laki,
Dengan alasan : Laki-
laki merupakan basil
ciptaan dan pilihan
pertama Mulajadi Na
Bolon. Laki-laki lebih
banyak memiliki
kebebasan daripada
perempuan, karena
para pargonsi sering
diundang memainkan
ke berbagai daerah
untuk memainkan
gondang sabangunan
dalam suatu upacara
adat.
5. Seseorang yang
menjadi pargonsi
harus sudah dewasa
tetapi bukan berarti
harus sudah menikah.
F. Pemain Musik
Gondang Sabangunan
Seperti yang telah
diuraikan pada sub-
bab sebelumnya,
bahwa keseluruhan
pemain yang
menggunakan
instrumen- instrumen
dalam gondang
sabangunan disebut
pargonsi. Dahulu,
istilah pargonsi ini
hanya diberikan
kepada pemain
taganing saja,
sedangkan kepada
pemain instrumen
lainnya hanya
diberikan nama
sesuai dengan nama
instrumen yang
dimainkannya, yaitu
pemain ogling
(parogung), pemain
hesek dan pemain
sarune (parsarune).
Dalam konteks sosial,
pargonsi ini mendapat
perlakuan yang
khusus. Hal
inididukung oleh
adanya prinsip
stratifikasi yang
berhubungan dengan
kedudukan pargonsi
berdasarkan pangkat
dan jabatan. Sikap
khusus yang diberikan
masyarakat kepada
pargonsi itu
disebabkan karena
seorang pargonsi
selain memiliki
ketrampilan teknis,
mendapat sabala dari
Mulajadi Na Bolon,
juga mempunyai
pengetahuan tentang
ruhut-ruhut ni adat
(aturan-aturan adat/
sendi-sendi
peradaban). Sehingga
untuk itu, pargonsi
mendapat
sebutan Batara Guru
Hundul ( artinya :
Dewa Batara Guru
yang duduk) untuk
pemain taganing dan
Batara Guru
Manguntar untuk
pemain sarune.
Mereka berdua
dianggap sejajar
dengan Dewa dan
mendapat perlakuan
istimewa, baik dari
pihak yang
mengundang pargonsi
maupun dari pihak
yang terlibat dalam
upacara tersebut.
Dengan perantaraan
merekalah, melalui
suara gondang
(keseluruhan
instrumen), dapat
disampaikan segala
permohonan dan puji-
pujian kepada
Mulajadi Na Bolon
(Yang Maha Esa) dan
dewa-dewa
bawahannya yang
mempunyai hak
otonomi
Posisi pargonsi tampak
pada saat hendak
diadakannya horja
(upacara pesta) yang
menyertakan gondang
sabangunan untuk
mengiringi jalannya
upacara. Pihak yang
berkepentingan dalam
upacara akan
mengundang pargonsi
dan menemui mereka
dengan permohonan
penuh hormat, yang
disertai napuran tiar
(sirih) diletakkan di
atas piring.
Pada saat upacara
berlangsung, pargonsi
akan dilayani dengan
hormat, seperti ketika
suatu kelompok orang
yang terlibat dalam
Dalihan Na Tolu ingin
menari, maka mereka
akan meminta
gondang kepada
pargonsi dengan
menyerukan sebutan
yang menyanjung dan
terhormat, yaitu : “Ale
Amang panggual
pargonsi, Batara Guru
Humundul, Batar Guru
Manguntar, Na
sinungkun botari na ni
alapan arian,
Parindahan na suksuk,
parlompaan na tabo,
Paraluaon na tingkos,
paratarias na malo ”.
Artinya
“ Yang terhormat para
pemain musik, Batara
Guru Humundul,
Batara Guru
Manguntar. Yang
ditanya sore hari dan
dijemput sore hari
penikmat nasi yang
empuk, penikmat lauk
yang lezat. Penyampai
pesan yang jujur,
pemikir yang cerdas.
Untaian kalimat di
atas menunjukkan
makna dari suatu
sikap yang
menganggap bahwa
pargonsi itu setaraf
dengan Dewa. Mereka
harus selalu disuguhi
dengan makanan yang
empuk dan lezat,
harus dijemput dan
diantar kembali bila
pergi ke suatu tempat
dan mereka itu
dianggap mempunyai
fikiran yang jujur dan
cerdas sehingga dapat
menjadi perantara
untuk
menghubungkan
dengan Mulajadi
Nabolon.
Akan tetapi sejalan
dengan
perkembangan zaman,
penghargaan kepada
pargonsi sudah
berubah. Hal ini
disebabkan kehadiran
musik (suatu sebutan
dari masyarakat Batak
Toba untuk kelompok
brass band) yang
menggantikan
kedudukan gondang
sabangunan sebagai
pengiring upacara.
Apabila pihak yang
terlibat dalam upacara
meminta sebuah
repertoar, mereka
akan menyebut
pargonsi kepada
dirigen atau pimpinan
kelompok musik
tersebut. Walaupun
kedudukan kelompok
musik sama dengan
gondang sabangunan
dengan menyebut
“ pargonsi” kepada
pemain musik, namun
musisi tersebut tidak
dapat dianggap
sebagai Batara Guru
Humundul ataupun
Batara Guru
Manguntar.
Sikap hormat yang
diberikan masyarakat
kepada pargonsi
bukanlah suatu sikap
yang permanen
(tetap), tetapi hanya
dalam konteks
upacara. Di luar
konteks upacara,
sebutan dan sikap
hormat tersebut akan
hilang dan pargonsi
akan mempunyai
kedudukan seperti
anggota masyarakat
lainnya, ada yang
hidup sebagai petani,
pedagang, nelayan
dan sebagainya.
Sejalan dengan uraian
di atas, ada beberapa
penulis Batak Toba
yang menerangkan
sebutan untuk masing-
masing instrumen
dalam gondang
sabangunan. Seperti
pasariboe (1938)
menuliskan sebagai
berikut : oloan
bernama simaremare,
pangalusi bernama
situri-turi, panonggahi
bernama situhur
tolong, doal bernama
sisunggul madam,
taganing bernama
silima hapusan,
gordang bernama
sialton sijarungjung
dan odap bernama
siambaroba. Penulis
Batak Toba lainnya,
pasaribu (1967)
menuliskan taganing
bernama
pisoridandan, gordang
bernama sialtong na
begu, odap bernama
siambaroba, oloan
bernama si aek mual,
pangalusi bernama
sitapi sindar mataniari,
panggora bernama
situhur, doal bernama
diri mengambat
dan hesek bernama
sigaruan nalomlom.
Nama-nama di atas
nama yang diberikan
oleh pemilik instrumen
musik atau pimpinan
komunitas musik yang
sulit sekali dicari
padanannya dalam
bahasa Indonesia dan
bukan menunjukkan
gambaran mengenai
superioritas instrumen
tersebut. Nama-nama
tersebut biasa saja
berbeda pada tiap-
tiap daerah. Khusus
untuk instrumen
sarune tidak
ditemukan adanya
sebutan terhadap
instrumen itu.
TAHAP-TAHAP
UPACARA KEMATIAN
SAUR MATUA
Upacara kematian
pada masyarakat
Batak Toba
merupakan
pengakuan bahwa
masih ada kehidupan
lain dibalik kehidupan
di dunia ini. Adapun
maksud dan tujuan
masyarakat Batak
Toba untuk
mengadakan upacara
kematian itu tentunya
berlatar belakang
kepercayaan tentang
kehidupan .
Saur matua adalah
orang yang meninggal
dunia telah beranak
cucu baik darianak
laki-laki maupun anak
perempuan. Saur
artinya lengkap/
sempurna dalam
kekerabatan, telah
beranak cucu. Karena
yang telah meninggal
itu adalah sempurna
dalam kekerabatan,
maka harus
dilaksanakan dengan
sempurna. Lain halnya
dengan orang yang
meninggal sari matua.
Kalaupun suhut
membuat acara adat
sempurna
sesuai dengan Adat
Dalihan Na Tolu, hal
seperti itu belum tentu
dilakukan karena
masih ada dari
keturunannya belum
sempurna dalam hal
kekerabatan. Dalam
melaksanakan sesuatu
upacara harus melalui
fase-fase (tahapan-
tahapan) yang harus
dilalui oleh setiap yang
melaksanakannya.
Adapun tahapan-
tahapan yang harus
dilalui adalah sebagai
berikut:
1. Acara Sebelum
Upacara di Mulai
Dalam kehidupan ini,
setiap manusia dalam
suatu kebudayaan
selalu berkeinginan
dan berharap dapat
menikmati isi dunia ini
dalam jangka waktu
yang lama. Tetapi
usaha untuk mencapai
keinginan tersebut
adalah di luar
jangkauan
manusia,karena
keterbatasan,
kemampuan dan akal
pikiran yang dimiliki
oleh manusia. Selain
itu, setiap manusia
juga sudah
mempunyai jalan
kehidupannya masing-
masing yang telah
ditentukan batas akhir
kehidupannya. Batas
akhir kehidupan
manusia ini (mati)
dapat terjadi
dikarenakan berbagai
hal,misalnya karena
penyakit yang diderita
dan tidak dapat
disembuhkan lagi
kecelakaan dan
sebab-sebab lain yang
tidak dapat diketahui
secara pasti, maupun
disebabkan penyakit.
Pada masyarakat
Batak Toba, bila ada
orangtua yang
menderita penyakit
yang sulit untuk
disembuhkan, maka
pada keturunanya
beserta sanak famili
biasanya melakukan
acara adat khusus
baginya, yang disebut
dengan Manulangi
(memberi makan).
Sebelum diadakan
acara manulangi ini,
maka pada
keturunannya
beserta sanak famili
lebih dahulu harus
mengadakan
musyawarah untuk
menentukan berbagai
persyaratan, seperti
menentukan hari
pelaksanaan adat
panulangion itu, jenis
ternak yang akan
dipotong, dan
jumlahnya serta biaya
yang diperlukan untuk
mempersiapkan
makanan tersebut.
Sesuai dengan hari
yang sudah
ditentukan,
berkumpullah semua
keturunan dan sanak
famili di rumah
orangtua tersebut dan
dipotonglah seekor
ternak babi untuk
kemudian dimasak lagi
dengan baik sebagai
makanan yang akan
disuguhkan untuk
dimakan bersama-
sama. Pada waktu itu
juga turut diundang
hula-hula dari suhut,
dongan tubu, dan
natua-tua ni huta
(orang yang dituakan
di kampung tersebut).
Kemudian acara
panulangion dimulai
dengan sepiring
makanan yang terdiri
dari sepiring nasi dan
lauk yang sudah
dipersiapkan,
diberikan kepada
orangtua tersebut
oleh anak sulugnya.
Pada waktu Eanulangi,
si anak tersebut
menyatakan kepada
orangtuanya bahwa
mereka sebenarnya
khawatir melihat
penyakitnya. Maka
sebelum tiba
waktunya, ia berharap
agar orangtuanya
dapat merestui semua
keturunananya hingga
beroleh umur yang
panjang, murah rezeki
dan tercapai kesatuan
yang lebih mantap. Ia
juga mendoakan agar
orangtuanya dapat
lekas sembuh. Setelah
anaknya yang sulung
selesai memberikan
makan, maka
dilanjutkan oleh adik-
adiknya sampai
kepada yang bungsu
beserta cucu-cucunya.
Sambil disuguhi
makanan, semua
keturunannya direstui
dan diberi nasehat-
nasehat. Pada waktu
itu ada juga orangtua
yang membagi harta
warisannya walaupun
belum resmi berlaku.
Setelah selesai
memberi makan,
maka selanjutnya
keturunan dari
orangtua itu harus
manulangi hula-
hulanya dengan
makanan agar hula-
hulanya juga
memberkati mereka.
Acara kemudian
dilanjutkan dengan
makan bersama-sama.
Sambil makan, salah
seorang dari pihak
boru (suhut)
memotong haliang
(leher babi) dan
dibagi-bagikan kepada
hadirin. Setelah selesai
makan, diadakanlah
pembagian ”jambar
(suku-suku daging).
Gaor bontar (kepala
baglan atas sebelah
kiri untuk boru (anak
perempuan), Osang
(mulut bagian bawah)
untuk hula-hula,
Hasatan (ekor) untuk
keluarga suhut, soit
(perut bagian tengah)
untuk dongan
sabutuha (teman
semarga) dan jambar
(potongan daging-
daging) untuk semua
yang hadir). Setelah
pembagian jambar
maka mulailah kata-
kata sambutan yang
pertama oleh anak
Sulung dari orangtua
ini dilanjutkan dari
pihak boru, dongan
sabutuha, dongan
sahuta, dan terakhir
dari hula-hula.
Setelah selesai kata
mangampui, maka
acarapun selesai dan
diadakanlah doa
penutup. Setelah
acara panulangion itu
selesai, maka pada
hari berikutnya pihak
hula-hula pergi
menjenguk orangtua
tadi dengan
membawa dengke
(ikan) dan sehelai ulos
(kain adat batak) yang
disebut ulos
mangalohon ulos
naganjang
(memberikan kain
adat). Ketika hula-hula
menyampaikan
makanan itu kepada
orangtua yang sakit,
disitulah merka
memberikan ulos
naganjang kepada
orangtua itu dengan
meletakkannya di atas
pundak (bahu)
orangtua tersebut.
Tujuan dari pemberian
ulos dan makanan ini
adalah supaya
orangtua tersebut
cepat sembuh,
berumur panjang dan
dapat membimbing
semua keturunannya
hingga selamat dan
sejahtera di hari-hari
mendatang.
Setelah pemberian
ikan dan ulos itu maka
pihak boru brdoa dan
menyuguhkan daging
lengkap dengan suku-
sukunya kepada pihak
hula-hula. Pada waktu
yang ditentukan oleh
Yang Maha Kuasa,
akhirnya orangtua
yang gaur matua itu
meninggal dunia,
maka semua keluarga
menangis dan ada
yang meratap sebagai
pertanda bahwa
sudah tiba waktunya
bagi mereka untuk
berpisah. Sesudah
mayat tersebut
dibersihkan maka
dikenakan pakaian
yang rapi dan
diselimuti dengan kain
batak (ulos).
selanjutnya
dibaringkan di ruang
tengah yang kakinya
mengarah ke jabu
(bona rumah suhut).
Pada saat yang
bersamaan, pihak laki-
laki baik dari
keturunan orangtua
yang meninggal
maupun sanak
saudara berkumpul di
rumah duka dan
membicarakan
bagaimana upacara
yang akan
dilaksanakan kepada
orangtua yang sudah
saur matua itu. Dari
musyawarah keluarga
akan diperoleh hasil-
hasil dari setiap hal
yang dibicarakan.
Hasil-hasil ini dicatat
oleh para suhut untuk
kemudian untuk
dipersiapkan ke
musyawarah umum.
penentuan hari untuk
musyawarah umum ini
juga sudah ditentukan.
Dan mulailah
dihubungi pihak famili
dan mengundang
pihak hula-hula, boru,
dongan tubu. raja
adat, parsuhuton
supaya hadir dalam
musyawarah umum
(Mangarapot).
Sesudah acara
mangarapot selesai,
maka diadakanlah
pembagian tugas bagi
pihak hasuhuton.
Beberapa orang dari
pihak hasuhuton pergi
mengundang
(Manggokkon hula-
hula, boru, dongan
sabutuha (yang terdiri
dari ternan semarga,
teman sahuta, teman
satu kampung) serta
sanak saudara yang
ada di rantau. Pihak
suhut lainnya ada
yang memesan peti
mayat, membeli dan
mempersiapkan
beberapa ekor ternak
(kerbau atau babi
atau yang lainnya)
sebagai makanan
pesta atau untuk
borotan.
Mereka yang bekerja
pada saat upacara
adalah pihak boru
yang disebut
Parhobas. Dan
sebagian dari pihak
suhut mempersiapkan
pakaian adat untuk
keturunan orangtua
yang meninggal saur
matua itu, yaitu semua
anak laki-lakinya, cucu
lakilaki dari yang
pertama (sulung) dan
cucu laki-laki dari
anaknya
perempuan.Pakaian
adat ini terdiri dari
ulos yang
diselempangkan di
atas bahu dan topi
adat yang dipakai di
atas kepala. Pihak
boru lainnya pergi
mengundang pargonsi
dengan memberikan
napuran tiar (sirih)
yang diletakkan di
atas sebuah piring
beserta dengan uang
honor dari pargonsi
selama mereka
memainkan gondang
sabangunan
dalam upacara saur
matua. pemberian
napuran tiar ini
menunjukkan sikap
hormat kepada
pargonsi agar pargonsi
bersedia menerima
undangan tersebut
dan tidak menerima
undangan lain pada
waktu yang
bersamaan.
2. Acara Pelaksanaan
Upacara Kematian
Saur Matua
Setelah keperluan
upacara selesai
dipersiapkan barulah
upacara kematian
gaur matua ini dapat
dimulai. Pelaksanaan
upacara kematian saur
matua ini terbagi atas
dua bagian yaitu :
1. Upacara di jabu (di
dalam rumah)
termasuk di dalamnya
upacara di jabu
menuju maralaman
(upacara di rumah
menuju ke halaman ).
2. Upacara maralaman
(di halaman) Kedua
bentuk upacara inilah
yang dilaksanakan
oleh masyarakat Batak
Toba sebelum
mengantarkan jenazah
ke liang kubur.
1. Upacara di jabu (di
dalam rumah)
Pada saat upacara di
jabu akan dimulai,
mayat dari orangtua
yang meninggal
dibaringkan di jabu
bona (ruang tamu).
Letaknya berhadapan
dengan kamar
orangtua yang
meninggal ataupun
kamar anak-anaknya
dan diselimuti dengan
ulos sibolang. Suami
atau isteri yang
ditinggalkan duduk ,
di sebelah kanan tepat
di samping muka yang
meninggal. Kemudian
diikuti oleh anak laki-
laki mulai dari anak
yang paling besar
sampai anak yang
paling kecil. Anak
perempuan dari
orangtua yang
meninggal, duduk di
sebelah kiri
dari peti mayat.
Sedangkan cucu dan
cicitnya ada yang
duduk di belakang
atau di depan
orangtua meeka
masing-masing. Dan
semua unsur dari
dalihan natolu sudah
hadir di rumah duka
dengan mengenakan
ulos.
Upacara di jabu ini
biasanya di buka pada
pagi hari (sekitar jam
10.00 Wib) oleh
pengurus gereja.
Kemudian masing-
masing unsur dalihan
natolu mengadakan
acara penyampaian
kata-kata penghiburan
kepada suhut. Ketika
acara penyampaian
kata-kata penghiburan
oleh unsur-unsur
dalihan natolu sedang
berlangsung, diantara
keturunan orangtua
yang meninggal masih
ada yang menangis.
Pada saat yang
bersamaan, datanglah
pargonsi sesuai
dengan undangan
yang disampaikan
pihak suhut kepada
mereka. Tempat untuk
pargonsi sudah
dipersiapkan lebih
dahulu yaitu di bagian
atas rumah
(bonggar). Kemudian
pargonsi disambut
oleh suhut dan
dipersilahkan duduk di
jabu soding (sebelah
kiri ruang rumah yang
beralaskan tikar. Lalu
suhut menjamu makan
para pargonsi dengan
memberikan sepiring
makanan yang berisi
ikan (dengke) Batak,
sagu-sagu, nasi,
rudang, merata atau
beras yang ditumbuk
dan disertai dengan
napuran tiar (sirih).
Setelah acara makan
bersama para
pargonsi pun
mengambil tempat
mereka yang ada di
atas rumah dan
mempersiapkan
instrumen-instrumen
mereka masing-
masing. Umumnya
semua pemain duduk
menghadap kepada
yang meninggal.
Kegiatan margondang
di dalam rumah
biasanya dilakukan
pada malam hari,
sedangkan pada siang
hari harinya
dipergunakan pargonsi
untuk istirahat. Dan
pada malam hari tiba,
pargonsi pun sudah
bersiap-siap untuk
memainkan gondang
sabangunan.
Kemudian pargonsi
memainkan gondang
Lae-lae atau gondang
elek-elek, yaitu
gondang yang
memeberitahukan
danmengundang
masyarakat sekitarnya
supaya hadir di rumah
duka untuk turut
menari bersama-sama.
Gondang ini juga
dijadikan sebagai
pengumuman kepada
masyarakat bahwa
ada orang tua yang
meninggal saur matua.
Dan pada saat
gondang tersebut
berbunyi, pihak suhut
juga bersiap-siap
mengenakan ulos dan
topi adat karena
sebentar lagi kegiatan
margondang saur
matua akan dimulai.
Kemudian diaturlah
posisi masing-masing
unsur Dalihan Natolu.
Pihak suhut berdiri di
sebelah kanan yang
meninggal, boru
disebelah kiri yang
meninggal dan hula-
hula berdiri di depan
yang meninggal. Jika
masih ada suami atau
isteri yang meninggal
maka mereka berdiri
di sebelah kanan yang
meninggal bersama
dengan suhut hanya
tapi mereka paling
depan.
Kemudian kegiatan
margondang dibuka
oleh pengurus gereja
(pangulani huria).
Semua unsur Dalihan
Natolu berdiri di
tempatnya
masingmasing.
pengurus gereja
berkata kepada
pangonsi agar
dimainkan gondang
mula-mula. Gondang
ini dibunyikan untuk
menggambarkan
bahwa segala yang
ada di dunia ini ada
mulanya, baik itu
manusia, kekayaan
dan kehormatan.
2. Gondang ke dua
yaitu gondang yang
indah dan baik (tanpa
ada menyebutkan
nama gondangnya).
Setelah gondang
berbunyi, maka semua
menari.
3. Gondang Liat-liat,
para pengurus gereja
menari mengelilingi
mayat memberkati
semua suhut dengan
meletakkan tangan
yang memegang ulos
ke atas kepala suhut
dan suhut
membalasnya dengan
meletakkan tangannya
di wajah pengurus
gereja.
4. Gondang Simba-
simba maksudnya
agar kita patut
menghormati gereja.
Dan pihak suhut
menari mendatangi
pengurus gereja satu
persatu dan minta
berkat dari mereka
dengan rneletakkan
ulos ke bahu rnasing-
masing pengurus
gereja. Sedangkan
pengurus gereja
menaruh tangan
mereka ke atas kepala
suhut.
5. Gondang yang
terakhir, hasututon
meminta gondang
hasahatan dan sitio-tio
agar semua mendapat
hidup sejahtera
bahagia dan penuh
rejeki dan setelah
selesai ditarikan
rnereka semuanya
mengucapkan horas
sebanyak tiga kali.
Kemudian masing-
masing unsur dari
Dalihan Natolu
meminta gondang
kepada pargonsi,
mereka juga sering
memberikan uang
kepada pargonsi tetapi
yang memberikan
biasanya adalah pihak
boru walaupun uang
tersebut adalah dari
pihak hula-hula atau
dongan sabutuha.
Maksud dari
pemberian uang itu
adalah sebagai
penghormatan kepada
pargonsi dan untuk
memberi semangat
kepada pargonsi
dalam memainkan
gondang sabangunan.
Jika upacara ini
berlangsung beberapa
malam, maka
kegiatan-kegiatan
pada malam-malam
hari tersebut diisi
dengan menotor
semua unsur Dalihan
Na Tolu. Keesokan
harinya, apabila peti
mayat yang telah
dipesan sebelumnya
oleh suhut sudah
selesai, maka peti
mayat dibawa rnasuk
kedalam rumah dan
mayat
dipersiapkan untuk
dimasukkan ke dalam
peti. Ketika itu
hadirlah dongan
sabutuha, hula-hula
dan boru. Yang
mengangkat mayat
tersebut ke dalam peti
biasanya adalah pihak
hasuhutan yang
dibantu dengan
dongan sabutuha. Tapi
dibeberapa daerah
Batak Toba, yang
memasukkan mayat
ke dalam peti adalah
dongan sabutuha saja.
Kemudian dengan
hati-hati sekali mayat
dimasukkan ke dalam
peti dan diselimuti
dengan ulos sibolang.
posisi peti diletakkan
sarna dengan posisi
mayat sebelumnya.
Maka aktivitas
selanjutnya adalah
pemberian ulos
tujung, ulus sampe,
ulus panggabei.
Yang pertama sekali
memberikan ulos
adalah hula-hula yaitu
ulos tujung sejenis ulos
sibolang kepada yang
ditinggalkan (janda
atau duda) disertai
isak tangis baik dari
pihak suhut maupun
hula-hula sendiri.
Pemberian ulos
bermakna suatu
pengakuan resmi dari
kedudukan seorang
yang telah menjadi
janda atau duda dan
berada dalam suatu
keadaan duka yang
terberat dalam hidup
seseorang ditinggalkan
oleh teman sehidup
semati, sekaligus
pernyataan turut
berduka cita yang
sedalamdalamnya dari
pihak hula-hula. Dan
ulos itu hanya
diletakkan diatas bahu
dan tidak diatas
kepala. Ulos itu
disebut ulos sampe
atau ulos tali-tali. Dan
pada waktu
pemberian ulos
sampe-sampe itu
semua anak keturunan
yang meninggal
berdiri di
sebelah kanan dan
golongan boru di
sebelah kiri daeri peti
mayat.
Setelah ulos tujung
diberikan, kemudian
tulang dari yang
meninggal
memberikan ulos
saput (sejenis ulos
ragihotang atau
ragidup), yang
diletakkan pada mayat
dengan digerbangkan
(diherbangkan) diatas
badannya. Dan bona
tulang atau bona ni ari
memberikan ulos
sapot tetapi tidak
langsung diletakkan di
atas badan yang
meninggal tetapi
digerbangkan diatas
mayat peti saja.
Maksud dari
pemberian ulos
ini adalah
menunjukkan
hubungan yang baik
dan akrab antara
tulang dengan bere
(kemenakannya).
Setelah hula-hula
selesai memberikan
ulos-ulos tersebut
kepada suhut, maka
sekarang giliran pihak
suhut memberikan
ulos atau yang lainnya
sebagai pengganti dari
ulos kepada semua
pihak boru. pengganti
dari ulos ini dapat
diberikan sejumlah
uang.
Kemudian aktivitas
selanjutnya setelah
pemberian ulos atau
uang kepada boru
adalah kegiatan
margondang, dimulai
dari pihak suhut,
dongan sabutuha,
boru dan ale-ale.
Semuanya menari
diiringi gondang
sabungan dan mereka
sesuka hati meminta
jenis gondang yang
akan ditarikan.
Sesudah semua
rombongan selesai
menari, maka semua
hadirin diundang
untuk makan
bersama. Sehari
sebelumnya
peti mayat dibawa ke
halaman rumah
orangtua yang saur
matua tersebut,
diadakanlah adat
pandungoi yang
biasanya dilakukan
rada sore hari.
Adat ini menunjukkan
aktivitas memberi
makan (sepiring nasi
beserta lauknya)
kepada orangtua yang
saur matua dan
kepada semua sanak
famili. Setelah
pembagian harta
warisan selesai
dilaksanakan,lalu
semua unsur Dalihan
na Tolu kembali
menari. Mulai dari
pihak suhut,
hasuhutan yang
menari kemudian
dongan sabutuha,
boru, hula-hula dan
ale-ale. Acara ini
berlangsung sampai
selesai ( pagi hari ).
1. Upacara di jabu
menuju maralaman
Keesokan harinya
(tepat pada hari
penguburan) semua
suhut sudah
bersiapsiap lengkap
dengan pakaian
adatnya untuk
mengadakan upacara
di jabu menuju
maralaman. Setelah
semuanya hadir di
rumah duka, maka
upacara ini dimulai,
tepatnya pada waktu
matahari akan naik
(sekitar pukul 10.00
Wib). Anak laki-laki
berdiri di sebelah
kanan peti mayat,
anak perempuan
(pihak boru) berdiri di
sebelah kiri, hula-hula
bersama pengurus
gereja berdiri di depan
peti mayat dan
dongan sabutuha
berdiri di belakang
boru. Kemudian acara
dipimpin oleh
pengurus gereja
mengenakan pakaian
resmi (jubah).
Setelah acara gereja
selesai maka pengurus
gereja menyuruh
pihak boru untuk
mengangkat peti
mayat ke halaman
rumah sambil diiringi
dengan nyanyian
gereja yang
dinyanyikan oleh
hadirin. Lalu peti
mayat ditutup (tetapi
belum dipaku) dan
diangkat secara hati-
hati dan perlahan-
lahan oleh pihak boru
dibantu oleh
hasuhuton juga
dongan sabutuha ke
halaman. peti mayat
tersebut masih tetap
ditutup dengan ulos
sibolang. Lalu peti
mayat itu diletakkan
di halaman rumah
sebelah kanan dan di
depannya diletakkan
palang salib kristen
yang bertuliskan nama
orangtua yang
meninggal.
Sesampainya di
halaman, peti mayat
ditutup dan diletakkan
di atas kayu sebagai
penyanggahnya.
Semua unsur dalihan
Na Tolu yang ada di
dalam rumah
kemudian berkumpul
di halaman rumah
untuk mengikuti acara
selanjutnya.
2. Upacara Maralaman
(di halaman rumah)
Upacara maralaman
adalah upacara
teakhir sebelum
penguburan mayat
yang gaur matua. Di
dalam adat Batak
Toba, kalau seseorang
yang gaur matua
meninggal maka harus
diberangkatkan dari
antaran bidang
(halaman) ke kuburan
(disebut Partuatna).
Maka dalam upacara
maralaman akan
dilaksanakan adat
partuatna. Pada
upacara ini posisi dari
semua unsur dalihan
Na Tolu berbeda
dengan posisi mereka
ketika mengikuti
upacara di dalam
ruah. pihak suhut
berbaris mulai dari
kanan ke kiri (yang
paling besar ke yang
bungsu), dan di
belakang mereka
berdiri parumaen
(menantu perempuan
dari yang meninggal)
posisi dari suhut
berdiri tepat di
hadapan rumah duka.
Anak perempuan dari
yang meninggal
beserta dengan pihak
boru lainnya berdiri
membelakangi rumah
duka kemudian hula-
hula berdiri di
samping kanan rumah
duka.
Semuanya
mengenakan ulos
yang disandang di atas
bahu. Ke semua posisi
ini mengelilingi kayu
borotan yang ada di
tengahtengah
halaman rumah.
Sedangkan peti mayat
diletakkan di sebelah
kanan rumah
duka dan agak jauh
dari tiang kayu
borotan Posisi pemain
gondang sabangunan
pun sudah berbeda
dengan posisi mereka
ketika di dalam
rumah. Pada upacara
ini, posisi mereka
sudah menghadap ke
halaman rumah
(sebelumnya di
bonggar rumah, tetapi
pada upacara
maralaman mereka
berada di bilik
bonggar sebelah
kanan). Kemudian
pargonsi pun bersiap-
siap dengan
instrumennya masing-
masing.
Setelah semua unsur
Dalihan Na Tolu dan
pargonsi berada pada
tempatnya, lalu
pengurus gereja
membuka kembali
upacara di halaman ini
dengan bernyanyi
lebih dahulu, lalu
pembacaan firman
Tuhan, bernyanyi lagi,
kata sambutan dan
penghiburan dari
pengurus gereja, koor
dari ibu-ibu gereja dan
terakhir doa penutup.
Kemudian rombongan
dari pengurus gereja
mengawali kegiatan
margondang. Pertama
sekali mereka
meminta kepada
pargonsi supaya
memainkan sitolu
Gondang (tanpa
menyebut nama
gondangnya) , yaitu
gondang yang
dipersembahkan
kepada Debata
(Tuhan) agar kiranya
Yang Maha Kuasa
berkenan memberkati
upacara ini dari awal
hingga akhirnya dan
memberkati semua
suhut agar beroleh
hidup yang
sejahtera di masa
mendatang. Lalu
pargonsi memainkan
sitolu Gondang itu
secara berturut-turut
tanpa ada yang
menari.
Setelah sitolu
Gondang itu selesai
dimainkan, pengurus
gereja kemudian
meminta kepada
pargonsi yaitu
gondang liat-liat.
Maksud dari gondang
ini adalah agar semua
keturunan dari yang
meninggal saur matua
ini selamat-selamat
dan sejahtera. Pada
jenis gondang ini,
rombongan gereja
menari mengelilingi
borotan (yang
diikatkan kepadanya
seekor kuda)
sebanyak tiga kali,
yang disambut oleh
pihak boru dengan
gerakan mundur.
Gerak tari pada
gondang ini ialah
kedua tangan ditutup
dan digerakkan
menurut irama
gondang. Setelah
mengelilingi borotan,
maka pihak pengurus
gereja memberkati
semua boru dan
suhut.
Kemudian pengurus
gereja meminta
gondang Marolop-
olopan. Maksud dari
gondang ini agar
pengurus gereja
dengan pihak suhut
saling bekerja sama.
pada waktu menari
pengurus gereja
mendatangi suhut dan
unsur Dalihan Natolu
lainnya satu persatu
dan memberkati
mereka dengan
meletakkan ulos di
atas bahu atau saling
memegang wajah,
sedang suhut dan
unsur Dalihan Na Tolu
lainnya memegang
wajah pengurus gereja.
Setelah gondang ini
selesai, maka
pengurus gereja
menutup kegiatan
margondang mereka
dengan meminta
kepada pargonsi
gondang Hasahatan tu
sitiotio. Semua unsur :
Dalihan Na Tolu
menari di tempat dan
kemudian
mengucapkan ‘horas’
sebanyak 3 kali.
Kegiatan margondang
selanjutnya diisi oleh
pihak hasuhutan yang
meminta gondang
Mangaliat kepada
pargonsi. Semua suhut
berbaris menari
mengelilingi kuda
sebanyak 3 kali, yang
disambut oleh pihak
boru dengan gerakan
mundur. Gerakan
tangan sama seperti
gerak yang dilakukan
oleh pengurus gereja
pada waktu mereka
menari gondang
Mangaliat. Setelah
gondang ini selesai
maka suhut
mendatangi pihak
boru dan memberkati
mereka dengan
memegang kepala
boru atau meletakkan
ulos di atas bahu
boru.Sedangkan boru
memegang wajah
suhut.
Setelah hasuhutan
selesai menari pada
gondang Mangaliat,
maka menarilah
dongan sabutuha juga
dengan gondang
Mangaliat, dengan
memberikan ‘beras si
pir ni tondi’ kepada
suhut. Kemudian
mangaliatlah
(mengelilingi borotan)
pihak boru sambil
memberikan beras
atau uang. Lagi giliran
pihak hula-hula untuk
mangaliat. Pihak hula-
hula selain
memberikan beras
atau liang, mereka
juga memberikan ulos
kepada semua
keturunan orangtua
yang meninggal (baik
anak laki-laki dan
anak perempuan).
Ulos yang diberikan
hula-hula kepada
suhut itu merupakan
ulos holong.
Biasanya setelah
keturunan yang
meninggal ini
menerima ulos yang
diberikan hulahula,
lalu mereka
mengelilingi sekali lagi
borotan. Kemudian
pihak ale-ale yang
mangaliat, juga
memberikan beras
atau uang. Dan
kegiatan gondang ini
diakhiri dengan pihak
parhobas dan
naposobulung yang
menari. Pada akhir
dari setiap kelompok
yang menari selalu
dimintakan gondang
Hasahatan atau sitio-
tio dan
mengucapkan ‘horas’
sebanyak 3 kali.
Pada saat setiap
kelompok Dalihan Na
Tolu menari, ada juga
yang mengadakan
pembagian jambar,
dengan memberikan
sepotong daging yang
diletakkan dalam
sebuah piring dan
diberikan kepada
siapa yang
berkepentingan.
Sementara diadakan
pembagian jambar,
kegiatan margondang
terus berlanjut.
Setelah semuanya
selesai menari, maka
acara diserahkan
kepada pengurus
gereja, karena
merekalah yang akan
menurup upacara ini.
Lalu semua unsur
Dalihan Na Tolu
mengelilingi peti
mayat yang tertutup.
Di mulai acara gereja
dengan bernyanyi,
berdoa, penyampaian
firman Tuhan,
bernyanyi, kata
sambutan dari
pengurus gereja,
bernyanyi dan doa
penutup. Kemudian
peti mayat dipakukan
dan siap untuk dibawa
ke tempat
penguburannya yang
terakhir yang telah
dipersiapkan
sebelumnya peti
mayat diangkat oleh
hasuhutan dibantu
dengan boru dan
dong an sahuta,
sambil diiringi
nyanyian gereja yang
dinyanyikan oleh
hadirin sampai ke
tempat
pemakamannya. Acara
pemakaman
diserahkan
sepenuhnya kepada
pengurus gereja.
Setelah selesai acara
pemakaman,
kembalilah semua
yang turut mengantar
ke rumah duka.
3. Acara Sesudah
Upacara Kematian.
Sesampainya pihak
suhut , hasuhutan,
boru, dongan
sabutuha, hula-hula di
rumah duka, maka
acara selanjutnya
adalah makan
bersama. Pada saat
itulah kuda yang
diborotkan tadi sudah
dapat dilepaskan dan
ternak (babi) yang
khusus untuk
makanan pesta atau
upacara yang
dibagikan kepada
semua yang hadir.
Pembagian jambar ini
dipimpin langsung
oleh pengetua adat.
Tetapi terdapat
berbagai variasi pada
beberapa tempat yang
ada pada masyarakat
batak toba. Salah satu
uraian yang diberikan
dalam pembagian
jambar ini adalah
sebagai berikut:
Kepala untuk tulang
Telur untuk pangoli
Somba-somba untuk
bona tulang
satu tulang paha
belakang untuk bona
ni ari
Satu tulang belakang
lainnya untuk
parbonaan
Leher dan sekerat
daging untuk boru
Setelah pembagian
jambar ini selesai
dilaksanakan maka
kepada setiap
hulahula yang
memberikan ulos
karena meninggal saur
matua orang tua ini,
akan diberikan piso
yang disebut
“ pasahatkhon piso-
piso”, yaitu
menyerahkan
sejumlah uang kepada
hula-hula, jumlahnya
menurut kedudukan
masing-masing dan
keadaan.
Bilamana seorang ibu
yang meninggal saur
matua maka diadakan
mangungkap
hombung (buha
hombung), yang
dilakukan oleh hula-
hula dari ibu yang
meninggal, biasanya
dijalankan oleh amana
posona (anak dari ito
atau abang adik yang
meninggal). Buha
Hombung artinya
membuka simpanan
dari ibu yang
meninggal. Hombung
ialah suatu tempat
tersembunyi dalam
rumah, dimana
seorang ibu biasanya
menyimpan harta
keluarga ; pusaka,
perhiasan, emas dan
uang.
Harta kekayaan itu
diminta oleh hula-hula
sebagai kenang-
kenangan, juga
sebagai kesempatan
terakhir untuk
meminta sesuatu dari
simpanan “borunya”
setelah selesai
mangungkap
hombung, maka
upacara ditutup oleh
pengetua adat.
Beberapa hari setelah
selesai upacara
kematian saur matua,
hula-hula datang
untuk mangapuli
(memberikan
penghiburan) kepada
keluarga dari orang
yang meninggal saur
matua dengan
membawa makanan
berupa ikan mas. Yang
bekerja menyedikan
keperluan acara
adalah pihak boru.
Acara mangapuli
dimulai dengan
bernyanyi, berdoa,
kata-kata penghiburan
setelah itu dibalas
(diapu) oleh suhut.
Setelah acara ini
selesai, maka
selesailah pelaksanaan
upacara kematian saur
matua. Latar belakang
dari pelaksanaan
upacara kematian saur
matua ini adalah
karena faktor adat,
yang harus dijalankan
oleh para keturunan
orang tua yang
meninggal tersebut.
Pelaksanaan upacara
ini juga diwujudkan
sebagai penghormatan
kepada orang tua
yang meninggal,
dengan harapan agar
orang tua tersebut
dapat menghormati
kelangsungan hidup
dari para
keturunannya yang
sejahtera dan damai.
Hal ini menunjukkan
bahwa hubungan
antara manusia yang
masih hidup dengan
para kerabatnya yang
sudah meninggal
masih ada hubungan
ini juga menentukan
hidup manusia itu di
dunia dan di akhirat.
Sebagai salah satu
bentuk aktivitas adat ,
maka pelaksanaan
upacara ini tidak
terlepas dari
kehadiran dari unsur-
unsur Dalihan Natolu
yang memainkan
peranan berupa hak
dan kewajiban
mereka. Maka dalihan
natolu inilah yang
mengatur peranan
tersebut sehingga
prilaku setiap unsur
khususnya dalam
kegiatan adat maupun
dalam kehidupan
sehari-hari tidak
menyimpang dari adat
yang sudah ada
Subscribe to:
Posts (Atom)