Saturday, 4 June 2011

Pengobatan ala Batak

Kitab Pengobatan
batak
15. Budaya ritual
dalam pengobatan
Pada saat Mulajadi
Nabolon kembali ke
benua atas, Mulajadi
Nabolon bersabda
kepada Raja Ihat
Manisia dan Siboru
Ihat Manisia. “Jika
kamu sekalian
penghuni Benua
Tengah hendak
berhubungan dan
bersekutu dengan
kami penghuni Benua
Atas, maka segala jenis
sesajen yang hendak
kamu persembahkan
harus disusun rapi dan
bersih serta diiringi
dengan rasa
penyampaian yang
tulus dan suci. Sudah
kuberikan kepadamu
Hata Dua, apa yang
boleh dilakukan dan
apa yang tidak boleh
dilakukan dan dirimu
harus bersih dan suci ”.
Bersumber dari ajaran
tersebut Parmalim
memberikan pelean
atau sesajen suci
dengan dihantar asap
dupa dan air suci serta
bersih tidak boleh
makan daging babi
dan anjing serta darah
dan bangkai. Sebagai
tindak lanjut ajaran
tadi Ugamo Malim
mempunyai rukun dan
aturan yang
dilaksanakan dan
menjadi pedoman
prilaku Parmalim
antara lain :
1. Marari Sabtu,
Pada setiap hari sabtu
atau samisara seluruh
umat Parmalim
berkumpul di tempat
yang sudah ditentukan
baik di Bale
Partonggoan, Bale
Pasogit di pusat
maupun ruma
Parsantian di cabang/
daerah untuk
melakukan sembah
dan puji kepada
Mulajadi Nabolon dan
pada kesempatan itu
para anggota diberi
poda atau bimbingan
agar lebih tekun
berprilaku menghayati
Ugamonya.
2. Martutuaek,
Upacara yang
dilakukan di rumah
umat yang mendapat
kelahiran seorang
anak, atau pemberian
nama kepada anak.
Anak yang baru lahir
sebelum dibawa
bepergian kemana-
mana harus lebih
dahulu diperkenalkan
dengan bumi
terutama air untuk
memebrsihkan dan ini
dilaksanakan
membawa anak
tersebut ke umbul
mata air disertai
dengan bara api
tempat membakar
dupa. Kemudian baru
dibawa ke dunia baru
yaitu pasar dan diberi
buah-buahan, manis
perlambang hari
depan yang makin
manis. Setelah
dirumah dilanjutkan
lagi dengan upacara,
bergantung pada
kemampuan keluarga
tersebut. Pada saat
pulang dari pasar tadi,
siapa saja diinginkan
oleh keluarga si anak
meminta buah-buahan
bawaan si anak tadi
sebagai perlambang
bahwa si anak kelak
akan bersifat
maduma.
3. Mardebata,
yaitu upacara yang
sifatnya individual
dimana seorang
melaksanakan upacara
sendiri tanpa
melibatkan orang lain.
Ritual ini sendiri
mempunyai tujuan
ganda yaitu meminta
keampunan dosa atau
menebus dosa dan
syukuran. Seseorang
yang merasa dirinya
menyimpang dari
aturan patik perlu
menyelenggarakan
perdebatan sebagai
sarana penebus
dosanya. Bagi orang
lain pardebataon itu
mungkin pula untuk
mewujudkan kaulnya.
Mardebata ini boleh
pula melibatkan yang
lain. Hal itu
bergantung kepada
yang mampu. Karena
Mardebata itu boleh
oleh orang seorang
boleh oleh keluarga
dan seterusnya. Jika
upacara dibuat besar-
besaran misalnya
untuk mewujudkan
niatnya harus dengan
menyediakan sesaji
dengan secukupnya
dan boleh pula
dengan dihantar
gendang sabangunan
serta diatur oleh tata
upacara resmi sesuai
dengan tata upacara
dari Ihutan atau dari
Uluan.
Upacara Mardebata
ini bagi yang mampu
nampaknya sudah
seolah-olah pesta,
karena undanganpun
dapat pula
dilaksanakan. Jadi jelas
bergantung pada
nazar dikandung oleh
yang terlibat. Jika satu
nenek moyang sudah
berniat untuk memuja
Mulajadi Nabolon
dengan jalan
Mardebata hal itu
dapat dilakukan oleh
satu nenek moyang
itu.
4. Pasahat Tondi,
Upacara kematian
dibagi dalam dua
tahap. Pertama adalah
pengurasan jenazah
menjelang
pemakaman, kedua
adalah pasahat tondi.
Pemberangkatan
jenazah dipimpin oleh
Ihutan atau
Ulupunguan dengan
upacara doa : “Borhat
ma ho tu habangsa
panjadianmu ”,
Artinya : Berangkatlah
engkau ke tempat
kejadianmu. Satu
minggu setelah
pemakaman, keluarga
yang ditinggal
mengadakan
pangurason
tersemayamkan di
rumah. Satu bulan
setelah pemakaman,
dilanjutkan dengan
Upacara Pasahat
Tondi yaitu upacara
mengantar roh dalam
hati harfiah. Tuhan
menciptakan manusia
atas dua bagian yaitu
badan dan roh
(pamatang dohot
tondi). Apabila badan
mati, toh tidak ikut
mati, ia akan kembali
kepada penciptanya,
sesuai dengan
pandangan ketuhanan
Parmalim, bahwa
“ Ngolu dohot
hamatean huaso ni
Debata ” artinya
“kehidupan dan
kematian adalah
kuasa Tuhan. Upacara
ini adalah upacara
tonggo-tonggo atau
dosa. Dapat dilakukan
dengan sederhana
dan dapat pula
dilakukan dengan
besar-besaran
bergantung pada
kemampuan keluarga
yang ditinggal. Tentu
dengan demikian
sesaji harus terhidang
dan upacara harus
memenuhi
keseluruhan tata tertib
acara berdasarkan
Ugamo Malim. Ini
bulan berarti bahwa
acara tidak boleh
dibuat sederhana.
Boleh dengan acara
sederhana, yang
pokok adalah
bagaimana inti
pasahat tondi itu
harus terlaksana.
5. Mangan Napaet,
adalah upacara atau
berpuasa untuk
menebus dosa
dilaksanakan selama
24 jam penuh pada
setiap penghujung
tahun kalender batak
yaitu pada ari hurung
bulan hurung.
Upacara ini adalah
bersifat umum
dilaksanakan oleh
setiap cabang atau
ganup punguan.
Perangkat dasar
upacara ini selain
pangurason dan
pardupaon yang
terpenting ialah
makanan napaet,
diramu dari beberapa
jenis buah dan daun
yang pahit, seperti
daun pepaya, buah
ingkir, babal, cabe
rawit, jeruk bali muda
dan gara.
Mangan Napaet
dilakukan pada awal
puasa dan pada akhir
sebelum berbuka,
sedangkan ritual
dimulai jam. 12.00
tengah hari. pada saat
semua jemaat
berkumpul di
parsantian atau
dirumah Ihutan/
Ulupunguan, upacara
dasar dimulai berupa
puji-pujian kepada
Mulajadi Nabolon-
Raja Nasiak bagi dan
kemudian untuk
mengingatkan
hukumnya mangan
napaet. Mangan
Napaet dimulai
dengan cara
mengedarkan napaet
tadi secara estafet.
Mangan Napaet
adalah merupakan
pengabdian warga
parmalim kepada Raja
Nasiak bagi yang
menderita untuk
manusia. Dan juga arti
mangan napaet
adalah symbol
kehidupan dari pahit
menjadi manis, karena
sudah mangan napaet
akan diakhiri dengan
mangan natonggi dan
inilah permulaan
hidup prilaku baru
untuk dilaksanakan
dalam kehidupan
sehari-hari. setelah
mangan napaet maka
dilaksanakan pula
upacara persembahan
kambing putih kepada
Mulajadi Nabolon.
6. Upacara Sipaha
Sada,
adalah merupakan
upacara yang paling
hikmad dan
mengandung nilai
religius yang paling
dalam, bagi Umat
Parmalim. Pelaksanaan
upacara ini disambut
gembira karena sehari
sebelumnya Parmalim
baru saja selesai
mengadakan upacara
mangan napaet yaitu
satu cara upacara
pembebasan manusia
dari dosa.
Upacara Sipaha Sada
adalah penyambutan
datangnya tahun baru
Ugamo Malim atau
pada Sipaha Sada
inilah pergantian
tahun terjadi. Boleh
dikatakan Sipaha Sada
ini adalah tahun baru
batak. Pada upacara
ini pada umumnya
seluruh orang batak
melakukan dialog
bathin. Dan hari
berikutnya dinamai
Suma. Pada hari itu
diperingati hari lahir
Simarimbulubosi.
Upacara dipusatkan di
Bale Pasogit. Upacara
ini melakukan sesajen
juga kepada Mulajadi
Nabolon termasuk
kepada ketiga wujud
pancaran kuasa yaitu
Batara Guru, Debata
Sori dan Debata
Balabulan dan
seterusnya sampai
kepada Raja
Nasiakbagi
dihantarkan dengan
asap dupa, air suci
dan dengan bunyi
gendang sabangunan.
Upacara ini
dilaksanakan bersama
di Bale Pasogit.
Dengan demikian
semua umat Parmalim.
Pada upacara ini
dilaksanakan dengan
tertib dan memang
benar-benar tertib
dan hikmad karena
dianggap hari tersebut
adalah memperingati
kelahiran Tuhan.
7. Upacara Sipaha
Lima,
yaitu upacara
dilakukan pada bulan
kelima kelender Batak
untuk menyampaikan
puji-pujian kepada
Mulajadi Nabolon
termasuk kepada
wujud Pancaran
Kuasanya mulai dari
Debata Batara Guru-
Debata Sori dan
Balabulan dan
seterusnya kepada
Raja Nasiakbagi,
karena atas berkatnya
semua mereka
memperoleh rahmat,
sehat jasmani dan
rohani. Upacara ini
disebut Upacara
Kurban, karena sajian
yang dipersembahkan
adalah hewan kurban
dari kerbau atau
lembu.
Sajian pertama kepada
Mulajadi Nabolon
yang seterusnya
diantar dengan asap
dupa dan air suci dan
dengan bunyi gendang
sabangunan.
Penyelenggaraan
upacara Sipaha Lima
ditetapkan pada hari
ke 12-13 dan 14
menjelang bulan
purnama. Hari
tersebut dinamakan
Boraspati, Singkora
dan Samisara berkisar
antara bulan Juli-
Agustus pada bulan
Masehi. Upacara
diadakan dengan
sajian yang lengkap
dilaksanakan dengan
penuh khikmad tanpa
syukur Parmalim
kepada Tuhannya dan
agar diberi
keselamatan dan
kesejahteraan pada
hari-hari berikutnya.
Jika pandangan Batak
Tua mengenai
ketuhanan
dikembangkan
Parmalim dengan
ugamo Malim, maka
berikut ini yaitu oleh
masyarakat Batak
sekarang masih
memperilakukan
pandangan tersebut
pada kehidupannya
sehari-hari dalam
bentuk budaya ritual.
Untuk lebih
memahami pendapat
ini marilah kita mulai
lagi melihat
pandangan dan
kehidupan masyarakat
Batak dahulu dengan
masyarakat Batak
sekarang.
Lambang wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
adalah hembang atau
bendera-bendera
berwarna hitam
diatas, putih ditengah
dan merah dibawah
dalam satu kesatuan
yang disebut Debata
Natolu. Warna Hitam
adalah lambang
Debata Batara Guru
dari wujud pandang
kuasa Mulajadi
Nabolon dalam
kebijakan atau
hahomion. Artinya
adalah bahwa pikiran
manusia tidak mampu
meneliti atau
memikirkan kebijakan
Mulajadi Nabolon.
Hahomion Mulajadi
Nabolon itu dapat
dialami tetapi tak
dapat dipikirkan.
Sebagaimana warna
hitam pekat demikian
pulalah gepalnya
pikiran manusia atau
kebijakan Mulajadi
Nabolon. Manusia
tidak dapat
meramalkan dan
meraba seperti
gelapnya warna hitam,
demikian pulalah
dangkalnya dan
gelapnya pikiran
manusia tentang
kebijakan Tuhan.
Manusia tidak mampu
untuk itu. oleh sebab
itu lambang hitam dari
Batara Guru adalah
pertanda penyerahan
diri kepadaNya.
Hanya terserah pada
kebijakan Tuhanlah
kehidupan manusia.
Manusia tidak akan
dapat berjalan pada
warna hitam yang
ketat, malam yang
gelap. Maksudnya
manusia tidak akan
dapat berjalan di
dunia ini oleh dirinya
sendiri. Sebab itu
berserah kepadaNya-
lah dikemanakan
hidup ini. Apalah arti
manusia dibandingkan
dengan Kuasa Agung
yang dimilikiNya.
Berserah kepada
kebijakan Tuhanlah
hidup ini karena
Dialah kebenaran
yang menetapkan
kebijakan itu. jadi arti
warna hitam pada
lambing adalah
berserah diri kepada
kebijakan Tuhan atau
berserah diri kepada
hahomion ni Debata
atau dengan kata lain :
“Tung asi ni roha ni
Debata ma”. Warna
putih dari hembang
adalah lambing
Debata Sorisohaliapan
sebagai wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
mengenai kesucian
atau hahomion. Putih
tidak dapat
dibedakan. Dengan
demikian dalam warna
putih tidak terdapat
perbedaan.
Demikianlah Debata
Sohaliapan bahwa
pada diriNya tidak ada
perbedaan maka
sering dikatakan Putih
ada perbedaan pada
dirinya. Dia harus
sama dengan yang
lain. Apabila dia sudah
sama dengan yang
lain, dan itu pula-lah
hukum kekuatan
baginya dan dialah
menjadi penguasa
hukum kekuatan itu
(habonaron).
Warna merah dari
hembang adalah
lambing Debata
Balabulan sebagai
wujud pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
mengenai kekuatan.
Balabulan adalah
wujud kejadian
kekuatan alam itu.
merah adalah warna
tanah atau rata dalam
bahasa batak, merah
itu adalah perlambang
kegairahan untuk
hidup. Justru
kegairahan untuk
hidup itulah maka
timbul keberanian.
Seseorang yang berani
ia tidak takut mati,
maka sering kita
dengar : “Mardomu di
tano rara hita”.
maksudnya mereka
baru berjumpa setelah
mati. Agar mati itu
jangan sampai terjadi
maka harus tetap
kuat. Agar tetap kuat
inilah dilambangkan
dengan merah yaitu
wujud pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
menjadi kekuatan.
Warna merah adalah
perlambang kekuatan
dan agar tetap kuat
(hagogoon). Setiap
manusia
mengharapkan
kekuatan ada
padanya. Kekuatan itu
belum sempurna
apabila hanya untuk
diri sendiri. Dan lebih
tidak sempurna lagi
apabila tidak diridhoi
Tuhan. Apabila kita
padu arti ketiga warna
tadi, maka dapatlah
kita ambil kesimpulan
bahwa hitam itu
adalah kebijakan
Tuhan, putih itu
adalah kesucian Tuhan
dari Tuhan, dan
merah adalah
kekuatan Tuhan
(hahomion-
hamalimon-
hagogoon). Dengan
melihat bendera atau
lambang yang
warnanya hitam
diatas, putih ditengah
dan merah dibawah,
itu berarti
menggambarkan
kebijakan, kesucian
dan kekuatan dari
Tuhan. Artinya yang
dilambangkan dalam
bendera itu adalah
Batara Guru sebagai
wujud pancaran kuasa
kebijakan, Debata
Sorisohaliapan sebagai
wujud pancaran kuasa
kesucian dan
Debatabulan sebagai
wujud pancaran kuasa
kekuatan dari
Mulajadi Nabolon.
Lambang ini boleh
dipisah-pisah seperti
satu bendera tetapi
dipacakkan
berdekatan, dengan
ketentuan hitam di
kanan, putih ditengah
dan merah dikiri.
Kesimpulan arti
lambang bahwa warna
hitam – putih – merah
merupakan kebijakan-
kesuciannya dan
kekuatannya tidak
dapat dibandingkan,
tidak bermula dan
tidak akan berakhir
dan mula segala yang
ada. Ini adalah
merupakan keyakinan
orang batak pada
umumnya dari dahulu
sampai sekarang.
Mengapa penulis
berani mengatakan
demikian, baiklah
penjelasan berikut ini.
Mungkin kita geli
apabila diingat pada
masa-masa kanak-
kanak dahulu disuruh
orangtua memakai
boning menalu diikat
ditangan jika ada
wabah penyakit. Agar
kita jangan dihinggapi
penyakit, agar kita
jangan dihinggapi
penyakit, demikian
pandangan kita waktu
itu. kegelian hati kita
sekarang inipun
sebenarnya tidak
berdasar karena
sampai saat inipun kita
semua dan
masyarakatpun sehari-
hari.
Bonang Manalu tiga
benang masing-masing
warna hitam atau biru,
putih dan merah
dipilin menjadi satu
adalah symbol doa
masyarakat batak
merupakan keyakinan
bahwa seseorang akan
selamat apabila yakin
bahwa tidak ada yang
lebih kuat dari Tuhan
Yang Maha Esa mula
kebijakan, kesucian
dan kekuatan itu.
apabila saya memakai
bonang manalu
berarti saya telah
yakin bahwa apapun
yang akan terjadi baik
pada saat ada wabah
penyakit saya akan
tetap selamat berkat
kepercayaan saya
yaitu Tuhan yang saya
puja itu jauh lebih
kuat dari kita
seluruhnya. Saya yakin
dan percaya bahwa
saya akan tetap
selamat berkat
kepercayaan saya
bahwa Tuhanku
pemilik hahomion itu
pemilik kesucian itu
pemilik kekuatan itu
adalah lebih kuat dari
segala yang ada untuk
melindungi saya.
Ulos yang masih
dipakai orang batak
dalam kehidupan ada
adatnya adalah
bonang manalu,
warna pokok dari
setiap ulos batak
adalah hitam putih
dan merah, sedang
warna lain adalah
variasi kehidupan.
Justru inilah ritual ulos
dalam adat batak.
Symbol Tuhanlah yang
tergambar dalam ulos
batak. Mangulosi
dalam adat batak
adalah upacara ritual
dan khikmadnya
masih dapat dirasakan
masyarakat batak.
Gorga adalah bonang
manalu perlambang
doa masyarakat batak
akan kekuatan Tuhan
Yang Maha Esa
mampu mengayomi
manusia. Gorga itu
dipakai pada rumah
maka disebut ruma
gorga. Penghuni Ruma
Gorga akan tetap
yakin bahwa mereka
akan selamat-selamat
berkat perlindungan
Tuhan Yang Maha Esa.
Gorma warna hitam-
putih-merah dalam
kehidupan orang
batak bukan lah
hiasan atau hiburan,
tetapi adalah symbol
keyakinan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
Gorga dimana sajapun
dipakai terutama pada
solubolon selain
dirumah adalah
bermakna keyakinan
tersebut. Hidup orang
batak tidak dapat
terlepas dari
Bataraguru dari
Debata Sorisohaliapan
dan Debata Balabulan
dalam arti
kekerabatannya yaitu
hahomion ni Debata.
gambaran Bataraguru,
gambaran Debata
Sorisohaliapan dan
gambaran
Debatabulan terdapat
pada kehidupan
masyarakat batak
dalihan natolu.
Justru dalihan natolu
pandangan hidup
orang batak adalah
perwujudan
kehidupan dan titisan
dari banua ginjang.
Dalihan Natolu adalah
gambaran
tersebut.bahwa hula-
hula adalah titisan
hahomion dari wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
yaitu Bataraguru.
Hasuhuton
namardongan tubu
adalah titisan
hamalimon dari wujud
pancaran kuasa
Mulajadi Nabolon
yaitu Debata
Sirisohaliapan dan
Boru adalah titisan
kekuatan dari wujud
pancaran kuasa v yaitu
Debata Balabulan.
Kita tidak akan heran
tetapi mungkin akan
kagum bahwa ulos
dari hula-hula lebih
banyak hitamnya dari
warna putih dan
merah maka ulos
hula-hula itu warna
sibolang dan sitolu
tuho. Demikian ulos
dari hasuhuton atau
yang dipakai
hasuhuton
namardongan tubu
lebih banyak putihnya
dari warna hitam dan
merah maka ulos
hasuhuton warna ragi
idup. Tentu demikian
pula ulos boru atau
yang dipakai boru
lebih banyak warna
merahnya dari pada
warna putih dan hitam
maka ulos boru atau
yang dipakai boru itu
warna sadum dan
warna mangiring.
Perhatikan ulos
parompa kebanyakan
berwarna hitam-biru
dan putih. Budaya
batak cukup tinggi
dan bernilai tinggi
dalam kehidupan
spiritual. Budaya itu
akan tumbuh dan
berkembang. Oleh
sebaba itu masih perlu
kita lihat hal-hal yang
lama apa kaitannya
dengan masa depan.
Salah satu dari yang
lama itu misalnya
mengenai sajian
diperuntukkan kepada
Mulajadi Nabolon dan
Debata Natolu yaitu
Bataraguru-Debata
Sori dan Balabulan.
Sajian untuk Nabolon
dan Debata Natolu
adalah kambing Putih
dan kepada
Bataraguru adalah
manuk jarum bosi
berarti warna hitam,
kepada Debata Sori
adalah manuk putih
warna putih dan
kepada Balabulan
adalah manuk mira
polin berarti warna
merah. Bila pengertian
bonang manalu telah
kita ketahui beserta
ulos gorga apakah arti
dan makna sajian atau
pelean dengan warna
tadi yang diberikan
kepada Tuhanh Yang
Maha Esa. Dan apabila
dibandingkan dengan
pengertian pelean
sekarang ini, apakah
pelean yang
diciptakan nenek
moyang kita itu tidak
sejajar dengan
perkembangan zaman.
8. Tortor Pangurasan
Tortor Pangurason
(Tari Pembersihan).
Tari ini biasanya
digelar pada saat
pesta besar yang
mana lebih dahulu
dibersihkan tempat
dan lokasi pesta
sebelum pesta dimulai
agar jauh dari mara
bahaya dengan
menggunakan jeruk
purut.
9. Tortor Sipitu Cawan
(Tari tujuh cawan)
Tari ini biasa digelar
pada saat pengukuhan
seorang raja, tari ini
juga berasal dari 7
putri kayangan yang
mandi disebuah telaga
di puncak gunung
pusuk buhit
bersamaan dengan
datangnya piso sipitu
sasarung (Pisau tujuh
sarung).Gbr dibawah.
10. Mangapus hoda
miakan
Budaya ritual
mangapus hoda
miakan ini sangat
jarang digelar sebab
budaya ini digelar
pada pesta
pengukuhan siraja
batak, ini digelar
terakhir sekali pada
pesta pengukuhan
Raja Sisingamangaraja
menjadi Siraja Batak
dengan menggunakan
makan kuda putih.
11.Tortor tunggal
panaluan
merupakan suatu
budaya ritual ini biasa
digelar apabila suatu
desa dilanda musibah,
maka tanggal
panaluan ditarikan
oleh para dukun
untuk mendapat
petunjuk solusi untuk
mengatasi masalah
tersebut. Sebab
tongkat tunggal
panaluan adalah
perpaduan kesaktian
Debata Natolu yaitu
Benua atas, Benua
tengah dan Benua
bawah. Gbr dibawah.
12. Mangalahat Horbo
Mangalahat Horbo
termasuk budaya
ritual yang sangat
penting sebab setiap
tahun dilaksanakan
pada hari kelahiran
raja, hatorusan acara
ritual ini sekaligus
memberi sesajen
kepada Mulajadi
Nabolon dan Debata
Natolu agar setiap
manusia jauh dari
mara bahaya.
Budaya ritual
mangalakat horbo ini
merupakan kunci dari
seluruh ritual budaya
batak kepada
Mulajadi Nabolon.
13. Bahan pengobatan
ritual yang selalu
harus dibutuhkan.
Dalam pengobatan
tradisional batak tidak
selamanya
menggunakan
tumbuhan. Ada juga
menggunakan
makanan dan budaya
ritual dalam
pengobatan batak,
suku batak selalu
menggunakan anggir
dan daun sirih dari
seluruh kegiatan
pengobatan dan
budaya ritual.
14.Pengobatan dengan
budaya ritual
penyucian
Pengobatan ini biasa
dilakukan dengan
memandikan para
pasien ke dalam air
yang mengalir dengan
menggunakan anggir
dan tumbuhan lain
yang sifatnya
bertujuan membuang
penyakit dari tubuh si
penderita. Biasanya
setelah selesai
dimandikan setibanya
dirumah akan
diberikan makanan
berupa ayam bagi
laki-laki dan ikan bagi
para wanita dengan
tujuan agar roh para
penderita menyatu
dengan badan. Sebab
manusia yang sakit
biasanya karena
rohnya tidak berada
di dalam jasad.
15. Ilmu Pelindung
Dalam Ilmu Pelindung
ini biasanya orang
mencintainya dengan
tujuan agar manusia
tersebut jauh dari
mara bahaya dan
sekaligus
membangunkan roh-
roh kekuatan yang
ada pada tubuh kita.
Dalam memberikan
ilmu pelindung ini
biasanya si penerima
dibersihkan dibungkus
dengan kain 3 warna,
merah, putih, hitam
dengan harapan
merah kekuatan, putih
kesucian dan hitam
kebijakan berdiam
dan bangkit dalam
dirinya dan darahnya,
sambil air jatuh di
kepala si penerima
dan si pemberi saling
memohon untuk ilmu
perlindungan tersebut.

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.