Saturday, 4 June 2011

Makna Gondang Batak

ada tradisi musik
Toba, kata gondang
(Secara harfiah)
memiliki banyak
pengertian. Antara lain
mengandung arti
sebagai :
(1) seperangkat alat
musik,
(2) ensambel musik,
(3) komposisi lagu
(kumpulan dari
beberapa lagu
pasaribu 1987). Makna
lain dari kata ini,
berarti juga sebagai
(1) menunjukkan satu
bagian dari kelompok
kekerabatan, tingkat
usia; atau orang-orang
dalam tingkatan status
sosial tertentu yang
sedang menari
(manortor) pada saat
upacara berlangsung
(Irwansyah,1990).
Pengertian gondang
sebagai perangkat alat
musik, yakni gondang
Batak.
Gondang Batak sering
diidentikkan dengan
gondang sabangunan
atau ogling
sabangunan dan
kadang-kadang juga
diidentikkan dengan
taganing (salah satu
alat musik yang
terdapat di dalam
gondang sabangunan).
Hal ini berarti
memberi kesan
kepada kita seolah-
olah yang termasuk ke
dalam Gondang Batak
itu hanyalah gondang
sabangunan,
sedangkan perangkat
alat musik Batak yang
lain, yaitu :
gondang hasapi tidak
termasuk gondang
Batak. Padahal
sebenarnya gondang
hasapi juga adalah
gondang Batak, akan
tetapi istilah gondang
hasapi lebih dikenal
dengan istilah uning-
uningan daripada
gondang Batak.
Gondang dalam
pengertian ensambel
musik terbagi atas dua
bagian, yakni gondang
sabangunan (gondang
bolon) dan gondang
hasapi (uning-
uningan). Gondang
sabangunan dan
gondang hasapi
adalah dua jenis
ensambel musik yang
terdapat pada tradisi
musik Batak Toba.
Secara umum fungsi
kedua jenis ensambel
ini hampir tidak
memiliki perbedaan
keduanya selalu
digunakan di dalam
upacara yang
berkaitan dengan
religi, adat maupun
upacara-upacara
seremonial lainnya.
Namun demikian
kalau diteliti lebih
lanjut, kita akan
menemukan
perbedaan yang
cukup mendasar dari
kedua ensambel ini.
Sebutan gondang
dalam pengertian
komposisi
menunjukkan arti
sebagai sebuah
komposisi dari lagu
(judul lagu secara
individu) atau
menunjukkan
kumpulan dari
beberapa lagu/
repertoar, yang
masing-masing ini bisa
dimainkan pada
upacara yang berbeda
tergantung
permintaan kelompok
orang yang terlibat
dalam upacara untuk
menari, termasuk di
dalam upacara
kematian saur matua.
Misalnya : gondang si
Bunga Jambu,
gondang si Boru
Mauliate dan
sebagainya. Kata si
bunga jambu, si boru
mauliate dan malim
menunjukkan sebuah
komposisis lagu,
sekaligus juga
merupakan judul dari
lagu (komposisi) itu
sendiri.
Berbeda dengan
gondang samba,
samba Didang-Didang
dan gondang elekelek
(lae-lae). Meskipun
kata gondang di sini
juga memiliki
pengertian komposisi,
namun kata
sombai;didang-didangi
dan elek-elek memiliki
pengertian yang
menunjukkan sifat dari
gondang tersebut,
yang artinya ada
beberapa komposisi
yang bisa
dikategorikan di
dalam gondang-
gondang yang disebut
di atas, yang
merupakan “satu
keluarga gondang”.
Komposisi dalam “satu
keluarga gondang,”
memberi pengertian
ada beberapa
komposisi yang
memiliki sifat dan
fungsi yang sama,
yang dalam
pelaksanaannya
tergantung kepada
jenis upacara dan
permintaan kelompok
orang yang terlibat
dalam upacara.
Misalnya: gondang
Debata (termasuk
di dalamnya komposisi
gondang Debata
Guru, Debata sari,
Bana Bulan, dan
Mulajadi); gondang
Sahalai dan gondang
Habonaran.
Gondang dalam
pengertian repertoar
contohnya si pitu
Gondang. si pitu
Gondang atau
kadang-kadang
disebut juga gondang
parngosi (baca
pargocci) atau
panjujuran Gondang
adalah sebuah
repertoar adalah
reportoar/kumpulan
lagu yang dimainkan
pada bagian awal dari
semua jenis upacara
yang melibatkan
aktivitas musik sebagai
salah satu sarana dari
upacara masyarakat
Batak Toba. Semua
jenis lagu yang
terdapat pada si pitu
Gondang merupakan
“inti” dari keseluruhan
gondang yang ada.
Namun, untuk dapat
mengetahui lebih
lanjut jenis bagian apa
saja yang terdapat
pada si pitu Gondang
tampaknya cukup
rumit juga umumnya
hanya diketahui oleh
pargonsi saja. Lagu-
lagu yang terdapat
pada si pitu Gondang
dapat
dimainkan secara
menyeluruh tanpa
berhenti, atau
dimainkan secara
terpisah (berhenti
pada saat pergantian
gondang). Repertoar
ini tidak boleh
ditarikan. Jumlah
gondang (komposisi
lagu yang dimainkan
harus di dalam jumlah
bilangan ganjil,
misalnya : satu, tiga,
lima, tujuh).
Kata gondang dapat
dipakai dalam
pengertian suatu
upacara misalnya
gondang Mandudu
(” upacara memanggil
roh”) dan upacara
Saem (”upacara
ritual”). Gondang
dapat juga
menunjukkan satu
bagian dari upacara di
mana kelompok
kekerabatan atau satu
kelompok dari
tingkatan usia dan
status sosial tertentu
yang sedang menari,
pada saat upacara
tertentu misalnya :
gondang Suhut,
gondang Boru,
gondang datu,
gondang Naposo dan
sebagainya. Jika
dikatakan gondang
Suhut, artinya pada
saat itu Suhut yang
mengambil bagian
untuk meminta
gondang dan
menyampaikan setiap
keinginannya untuk
dapat menari bersama
kelompok
kekerabatan lain yang
didinginkannya.
Demikian juga Boru,
artinya yang
mendapat kesempatan
untuk menari;
gondang datu, artinya
yang meminta
gondang dan menari;
dan gondang naposo,
artinya muda-mudi
yang mendapat
kesempatan untuk
menari.
Selain kelima
pengertian kata
gondang tersebut, ada
juga pengertian yang
lain yaitu yang dipakai
untuk pembagian
waktu dalam upacara,
misalnya gondang
Sadari Saboringin
yaitu upacara yang
didalamnya
menyertakan aktivitas
margondang dan
dilaksanakan selama
satu hari satu malam.
Dengan demikian,
pengertian gondang
secara keseluruhan
dalam satu upacara
dapat meliputi
beberapa pengertian
seperti yang tertera di
atas. pengertian
gondang sebagai
suatu ensambel musik
tradisional khususnya,
maksudnya untuk
mengiring jalannya
upacara kematian saur
matua.
B. Istilah Gondang
Sabangunan
Banyak istilah yang
diberikan para ahli
kebudayaan ataupun
istilah dari masyarakat
Batak itu sendiri
terhadap gondang
Sabangunan, antara
lain: agung, agung
sabangunan, gordang
parhohas na ualu
(perkakas nan
delapan) dan
sebagainya. Tetapi
semua ini merupakan
istilah saja, karena
masing-masing pada
umumnya mempunyai
pengertian yang sama.
Diantara istilah-istilah
tersebut di atas, istilah
yang paling menarik
perhatian adalah
parhohas na ualu yang
mempunyai
pengertian perkakas
nan delapan. Istilah ini
umumnya dipakai oleh
tokoh-tokoh tua saja,
dan biasanya
disambung lagi
dengan kalimat
“ simaningguak di
langit natondol di
tano ” (artinya berpijak
di atas
tanah sampai juga ke
langit). Menurut
keyakinan suku
bangsa Batak Toba
dahulu, apabila
gondang sabangunan
tersebut dimainkan,
maka suaranya akan
kedengaran sampai ke
langit dan semua
penari mengikuti
gondang itu akan
melompat-lompat
seperti kesurupan di
atas tanah (na tondol
di tano). Biasanya
semua pendengar
mengakui adanya
sesuatu kekuatan di
dalam “gondang” itu
yang dapat membuat
orang bersuka cita,
sedih, dan merasa
bersatu di dalam
suasana kekeluargaan.
Gondang sabangunan
disebut “parhohas na
ualu, karena terdiri
dari delapan jenis
instrumen tradisional
Batak Toba, yaitu
taganing, sarune,
gordang, ogling
ihutan, ogling oloan,
ogling panggora,
ogung doal dan hesek
tanpa odap.
Kedelapan intrumen
itu merupakan
lambang dari
kedelapan mata angin,
yang disebut “desa na
ualu” dan merupakan
dasar yang dipakai
untuk sebutan Raja Na
Ualu (Raja Nan
Delapan) bagi
komunitas musik
gondang sabangunan.
Pada masa awal
perkembangan musik
gondang Batak,
instrumen-instrumen
ini masing-masing
dimainkan oleh satu
orang saja. Tetapi
sejalan dengan
perubahan
jaman, ogling oloan
dan ogling ihutan
telah dapat dimainkan
hanya oleh satu orang
saja. Sedangkan odap
sudah tidak dipakai
lagi. Kadang-kadang
peran hesek juga
dirangkap oleh
pemain taganing,
sehingga jumlah
pemain ensambel itu
bervariasi.
Keseluruhan pemain
yang memainkan
instrumen-instrumen
dalam gondang
sabangunan ini
disebut pargonsi dan
kegiatan yang
menggunakan
perangkatperangkat
musik tradisional ini
disebut margondang
(memainkan
gondang).
C. Jenis Dan Fungsi
Instrumen Gondang
Sabangunan
Gondang sabangunan
sebagai kumpulan
alat-alat musik
tradiosional Batak
Toba, terdiri dari :
taganing, gordang,
sarune, ogling oloan,
ogling ihutan, ogling
panggora, ogling doal
dan hesek. Dalam
uraian berikut ini akan
dijelaskan
masingmasing
instrumen yakni
fungsinya.
1. Taganing
Dari segi teknis,
instrumen taganing
memiliki tanggung
jawab dalam
penguasaan repertoar
dan memainkan
melodi bersama-sama
dengan sarune.
Walaupun tidak
seluruh repetoar
berfungsi sebagai
pembawa melodi,
namun pada setiap
penyajian gondang,
taganing berfungsi
sebagai “pengaba”
atau “dirigen” (pemain
group gondang)
dengan isyarat- isyarat
ritme yang harus
dipatuhi oleh seluruh
anggota ensambel dan
pemberi semangat
kepada pemain
lainnya.
2. Gordang
Gordang ini berfungsi
sebagai instrumen
ritme variabel, yaitu
memainkan iringan
musik lagu yang
bervariasi.
3. Sarune
Sarune berfungsi
sebagai alat untuk
memainkan melodi
lagu yang dibawakan
oleh taganing.
4. Ogung Oloan
(pemiapin atau Yang
Harus Dituruti)
Agung Oloan
mempunyai fungsi
sebagai instrumen
ritme konstan, yaitu
memainkan iringan
irama lagu dengan
model yang tetap.
Fungsi agung oloan ini
umumnya sama
dengan fungsi agung
ihutan, agung
panggora dan agung
doal dan sedikit sekali
perbedaannya. agung
doal
memperdengarkan
bunyinya tepat
di tengah-tengah dari
dua pukulan hesek
dan menimbulkan
suatu efek synkopis
nampaknya
merupakan suatu ciri
khas dari gondang
sabangunan.
Fungsi dari agung
panggora ditujukan
pada dua bagian. Di
satu bagian, ia
berbunyi berbarengan
dengan tiap pukulan
yang kedua, sedang di
bagian lain sekali ia
berbunyi berbarengan
dengan agung ihutan
dan sekali lagi
berbarengan dengan
agung oloan.
Oleh karena musik
dari gondang
sabangunan ini pada
umumnya dimainkan
dalam tempo yang
cepat, maka para
penari maupun
pendengar hanya
berpegang pada bunyi
agung oloan dan
ihutan saja.
Berdasarkan hal ini,
maka ogling oloan
yang berbunyi lebih
rendah itu berarti
“ pemimpin” atau
“Yang harus di
turuti” , sedang ogling
ihutan yang berbunyi
lebih tinggi, itu “Yang
menjawab” atau “Yang
menuruti”. Maka
dapat disimpulkan
bahwa peranan dan
fungsi yang
berlangsung antara
ogling dan ihutan
dianggap oleh orang
Batak Toba sebagai
suatu permainan
“ tanya jawab”
5. Ogung Ihutan atau
Ogung pangalusi
(Yang menjawab atau
yang menuruti).
6. Ogung panggora
atau Ogung
Panonggahi (Yang
berseru atau yang
membuat orang
terkejut).
7. Ogung Doal (Tidak
mempunyai arti
tertentu)
8. Hesek
Hesek ini berfungsi
menuntun instrumen
lain secara bersama-
sama dimainkan.
Tanpa hesek,
permainan musik
instrumen akan terasa
kurang lengkap.
Walaupun alat dan
suaranya sederhana
saja, namun
peranannya penting
dan menentukan.
D. Susunan Gondang
Sabangunan
Menurut falasafah
hidup orang Batak
Toba, “bilangan”
mempunyai makna
dan pengaruh dalam
kehidupan sehari-hari
dan aktivitas adat.
“ Bilangan genap”
dianggap bilangan sial,
karena membawa
kematian atau
berakhir pada
kematian. Ini terlihat
dari anggota tubuh
dan binatang yang
selalu genap. menurut
Sutan Muda
Pakpahan, hal itu
semuanya berakhir
pada kematian,
dukacita dan
penderitaan
(Nainggolan, 1979).
Maka di dalam segala
aspek kehidupan
diusahakan selalu
“bilangan ganjil” yang
disebut bilangan na
pisik yang dianggap
membawa berkat dan
kehidupan.
Dengan kata lain
“ bilangan genap”
adalah lambang
segala ciptaan didunia
ini yang dapat dilihat
dan hakekatnya akan
berlalu, sedang
“ bilangan ganjil”
adalah lambang
kehidupan dan
Pencipta yang tiada
terlihat yang
hakekatnya kekal.
Itulah sebabnya
susunan acara
gondang sabangunan
selalu dalam bilangan
ganjil. Nama tiap
acara, disebut
“ gondang” yang dapat
diartikan jenis lagu
untuk nomor sesuatu
acara. Susunan nomor
acara juga harus
menunjukkan pada
bilangan ganjil seperti
Satu, tiga, atau lima
dan sebanyak-
banyaknya tujuh
nomor acara.
Sedangkan jumlah
acara juga boleh
menggunakan acara
bilangan genap,
misalnya :
dua nomor acara,
empat atau enam.
Selanjutnya susunan
acara itu hendaknya
memenuhi tiga bagian,
yang merupakan
bentuk upacara secara
umum, yaitu
pendahuluan yang
disebut gondang
mula-mula,
pemberkatan yang
disebut gondang pasu-
pasu, dan penutup
yang disebut gondang
hasatan. Ketiga bagian
gondang inilah yang
disebut si pitu
Gondang (Si Tujuh
Gondang). Walaupun
dapat dilakukan satu,
tiga, lima, dan
sebanyakbanyaknya
tujuh nomor acara
atau jenis gondang
yang diminta.
“Gondang mulamula i
ma tardok patujulona
na marpardomuan tu
par Tuhanon, tu
sabala ni angka Raja
dohot situan na
torop ”. Artinya
Gondang mula-mula
merupakan
pendahuluan atau
pembukaan yang
berhubungan dengan
Ketuhanan, kuasa roh
raja-raja dan khalayak
ramai.
Bentuk upacara yang
termasuk gondang
mula-mula antara lain:
1. Gondang alu-alu,
untuk mengadukan
segala keluhan kepada
yang tiada terlihat
yaitu Tuhan Yang
Maha Pencipta,
biasanya dilakukan
tanpa tarian.
2. Gondang Samba-
Samba, sebagai
persembahan kepada
Yang Maha Pencipta.
Semua penari
berputar di tempat
masing-masing dengan
kedua tanganbersikap
menyembah.
Yang termasuk
gondang pasu-
pasuan :
1. Gondang Sampur
Marmere,
menggambarkan
permohonan agar
dianugrahi dengan
keturunan banyak.
2. Gondang Marorot,
menggambarkan
permohonan kelahiran
anak yang dapat
diasuh.
3. Gondang Saudara,
menggambarkan
permohonan tegaknya
keadilan dan
kemakmuran.
4. Gondang Sibane-
bane,
menggambarkan
permohonan adanya
kedamaian dan
kesejahteraan.
5. Gondang Simonang-
monang,
menggambarkan
permohonan agar
selalu memperoleh
kemenangan.
6. Gondang Didang-
didang,
menggambarkan
permohonan
datangnya sukacita
yang selalu
didambakan manusia.
7. Gondang Malim,
menggambarkan
kesalehan dan
kemuliaan seorang
imam yang tidak mau
ternoda.
8. Gondang Mulajadi,
menggambarkan
penyampaian segala
permohonan kepada
Yang Maha pencipta
sumber segala
anugerah.
Angerah pasu-pasuan i
ma tardok gondang
sinta-sinta pangidoan
hombar tusintuhu ni
na ginondangkan
dohot barita ngolu.
Artinya gondang pasu-
pasuanmerupakan
penggambaran cita-
cita dan pernohonan
sesuai dengan acara
pokok dan kisah
hidup.
Sedangkan yang
termasuk gondang
penutup (gondang
hasatan):
Gondang Sitio-tio,
menggambarkan
kecerahan hidup masa
depan sebagai
jawabanterhadap
upacara adat yang
telah dilaksanakan.
Gondang Hasatan,
menggambarkan
penghargaan yang
pasti tentang segala
yang dipinta akan
diperoleh dalam
waktu yang tidak
lama.
Gondang hasatan i ma
pas ni roha na ingkon
sabat saut sude na
pinarsinta.
Artinya : Gondang
hasatan ialah : suatu
keyakinan yang pasti
bahwa semua cita-cita
akan tercapai. Lagu-
lagu untuk ini biasanya
pendek-pendek saja.
Dari ketiga bagian
gondang tersebut di
atas, maka para
peminta gondang
menentukan beberapa
nomor acara gondang
dan nama gondang
yang akan ditarikan.
Masing- masing
gondang ditarikan
satu nilai satu kali saja.
Contohnya:
Sebagai pendahuluan :
Gondang Alu-alu
(tidak ditarikan).
I. Gondang Mula-mula
(1x). Biasanya
gondang ini disatukan
dengan Gondang
Samba-samba. Di
Gondang Mula-mula =
menari dengan tidak
membuka tangan dan
hanya
sebentar.
Di Gondang Samba-
mamba = menari
sambil membuka
tangan
II. Gondang Pasu-
pasuan (3x) atau (5x).
III. Gondang Sahatan
(1x) atau (2x).
Yang umum
dilaksanakan terdiri
dari tujuh nomor
acara (Si pitu
Gondang)
dengan susunan :
1. Gondang Mula-
mula : 1x = Gondang
Mula-mula.
2. Gondang Samba-
samba : 1x = Idem
3. Gondang Sampur
Marmere : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
4. Gondang Marorot :
1x = Idem
5. Gondang Saudara :
1x = Idem
6. Gondang sitio-tio :
1x = Idem
7. Gondang Hasatan :
1x = Idem
————————————————————————————–
Jumlah : 7x (2 G. Mula-
mula + 3 G. Pasu-
pasuan+ 2 G
Hasahatan)
Jika diadakan dalam
lima nomor acara
(Silima Gondang),
susunannya adalah
sebagai berikut :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-
samba : 1x Gondang
Mula-mula.
Gondang Sibane-
bane : 1x Gondang
Pasu-pasuan
Gondang Simonang-
monang : 1x Idem
Gondang Didang-
didang : 1x Idem
Gondang Hasatan
sitio-tio : 1x Gondang
Hasahatan
————————————————————————————–
Jumlah : 5x (1. G Mula-
mula + 3 G Pasu-
pasuan + 1 G
Hasatan).
Sedangkan dalam tlga
nomor acara (Sitolu
Gondang), susunannya
ialah :
Gondang Mula-mula
dengan Samba-
samba : 1x = Gondang
Mula-mula
Gondang Sibane-bane
disatukan dengan
Gondang Simonang-
monang : 1x =
Gondang Pasu-pasuan
Gondang Hasahatan
sitio-tio : 1x =
Gondang Hasahatan
———————————————————————————————–
Jumlah : 3x (1 G Mula-
mula + 1 G Pasu-
pasuan + 1 G =
Hasahatan).
Jika hanya nomor
acara (Sisada
Gondang) , maka di
dalamnya sekaligus
dimainkan Gondang
Mula-mula, Gondang
Pasu-pasuan, Gondang
Hasahatan.
E. syarat-Syarat
pemain Gondang
Sabangunan
Para pemain
instrumen-instrumen
yang tergabung dalam
komunitas
gondang,disebut
pargonsi. Biasanya,
sebagian besar warga
masyarakat Batak
Toba tertarik
mendengar alunan
suara yang
dikeluarkan oleh
gondang sabangunan
tersebut, tetapi tidak
semuanya mampu
memainkan alat-alat
tersebut apalagi
mencapai tahap
pargonsi. Hal ini
disebabkan karena
adanya syarat-syarat
tertentu yang harus
dipenuhi seseorang
untuk dapat menjadi
seorang pargonsi.
Syarat-syarat tersebut
seperti yang
dikemukakan seorang
ahlinya, antara lain:
1. Harus mendapat
sahala dari Mulajadi
Na Bolon (Sang
Pencipta).
Sahala ini merupakan
berkat kepintaran
khusus dalam
memainkan alat musik
yang diberikan kepada
seseorang sejak dalam
kandungan. Dengan
kata lain orang
tersebut sudah
dipersiapkan untuk
menjadi seorang
pargonsi sebagai
permintaan Mula Jadi
Na Bolon.
2. Melalui proses
belajar
Seseorang dapat
menjadi pargonsi,
dengan adanya berkat
khusus yang diberikan
Mulajadi Na Bolon
sekaligus dipadukan
dengan proses belajar.
Sehingga itu seseorang
memiliki ketrampilan
khusus untuk dapat
menjadi pargonsi.
Walaupun melalui
proses belajar, tetapi
jika tidak diberikan
sahala kepada orang
tersebut, maka ia
tidak berarti apa-apa
atau tidak menjadi
pargonsi yang pandai.
3. Mempunyai
pengetahuan
mengenai ruhut-ruhut
ni adat (aturan-aturan
dalam adat)
Maksudnya
mengetahui struktur
masyarakat Batak
Toba yaitu Dalihan Na
Tolu dan
penerapannya dalam
masyarakat.
4. Umumnya yang
diberkati Mulajadi Na
Bolon untuk menjadi
seorang pargonsi
adalah laki-laki,
Dengan alasan : Laki-
laki merupakan basil
ciptaan dan pilihan
pertama Mulajadi Na
Bolon. Laki-laki lebih
banyak memiliki
kebebasan daripada
perempuan, karena
para pargonsi sering
diundang memainkan
ke berbagai daerah
untuk memainkan
gondang sabangunan
dalam suatu upacara
adat.
5. Seseorang yang
menjadi pargonsi
harus sudah dewasa
tetapi bukan berarti
harus sudah menikah.
F. Pemain Musik
Gondang Sabangunan
Seperti yang telah
diuraikan pada sub-
bab sebelumnya,
bahwa keseluruhan
pemain yang
menggunakan
instrumen- instrumen
dalam gondang
sabangunan disebut
pargonsi. Dahulu,
istilah pargonsi ini
hanya diberikan
kepada pemain
taganing saja,
sedangkan kepada
pemain instrumen
lainnya hanya
diberikan nama
sesuai dengan nama
instrumen yang
dimainkannya, yaitu
pemain ogling
(parogung), pemain
hesek dan pemain
sarune (parsarune).
Dalam konteks sosial,
pargonsi ini mendapat
perlakuan yang
khusus. Hal
inididukung oleh
adanya prinsip
stratifikasi yang
berhubungan dengan
kedudukan pargonsi
berdasarkan pangkat
dan jabatan. Sikap
khusus yang diberikan
masyarakat kepada
pargonsi itu
disebabkan karena
seorang pargonsi
selain memiliki
ketrampilan teknis,
mendapat sabala dari
Mulajadi Na Bolon,
juga mempunyai
pengetahuan tentang
ruhut-ruhut ni adat
(aturan-aturan adat/
sendi-sendi
peradaban). Sehingga
untuk itu, pargonsi
mendapat
sebutan Batara Guru
Hundul ( artinya :
Dewa Batara Guru
yang duduk) untuk
pemain taganing dan
Batara Guru
Manguntar untuk
pemain sarune.
Mereka berdua
dianggap sejajar
dengan Dewa dan
mendapat perlakuan
istimewa, baik dari
pihak yang
mengundang pargonsi
maupun dari pihak
yang terlibat dalam
upacara tersebut.
Dengan perantaraan
merekalah, melalui
suara gondang
(keseluruhan
instrumen), dapat
disampaikan segala
permohonan dan puji-
pujian kepada
Mulajadi Na Bolon
(Yang Maha Esa) dan
dewa-dewa
bawahannya yang
mempunyai hak
otonomi
Posisi pargonsi tampak
pada saat hendak
diadakannya horja
(upacara pesta) yang
menyertakan gondang
sabangunan untuk
mengiringi jalannya
upacara. Pihak yang
berkepentingan dalam
upacara akan
mengundang pargonsi
dan menemui mereka
dengan permohonan
penuh hormat, yang
disertai napuran tiar
(sirih) diletakkan di
atas piring.
Pada saat upacara
berlangsung, pargonsi
akan dilayani dengan
hormat, seperti ketika
suatu kelompok orang
yang terlibat dalam
Dalihan Na Tolu ingin
menari, maka mereka
akan meminta
gondang kepada
pargonsi dengan
menyerukan sebutan
yang menyanjung dan
terhormat, yaitu : “Ale
Amang panggual
pargonsi, Batara Guru
Humundul, Batar Guru
Manguntar, Na
sinungkun botari na ni
alapan arian,
Parindahan na suksuk,
parlompaan na tabo,
Paraluaon na tingkos,
paratarias na malo ”.
Artinya
“ Yang terhormat para
pemain musik, Batara
Guru Humundul,
Batara Guru
Manguntar. Yang
ditanya sore hari dan
dijemput sore hari
penikmat nasi yang
empuk, penikmat lauk
yang lezat. Penyampai
pesan yang jujur,
pemikir yang cerdas.
Untaian kalimat di
atas menunjukkan
makna dari suatu
sikap yang
menganggap bahwa
pargonsi itu setaraf
dengan Dewa. Mereka
harus selalu disuguhi
dengan makanan yang
empuk dan lezat,
harus dijemput dan
diantar kembali bila
pergi ke suatu tempat
dan mereka itu
dianggap mempunyai
fikiran yang jujur dan
cerdas sehingga dapat
menjadi perantara
untuk
menghubungkan
dengan Mulajadi
Nabolon.
Akan tetapi sejalan
dengan
perkembangan zaman,
penghargaan kepada
pargonsi sudah
berubah. Hal ini
disebabkan kehadiran
musik (suatu sebutan
dari masyarakat Batak
Toba untuk kelompok
brass band) yang
menggantikan
kedudukan gondang
sabangunan sebagai
pengiring upacara.
Apabila pihak yang
terlibat dalam upacara
meminta sebuah
repertoar, mereka
akan menyebut
pargonsi kepada
dirigen atau pimpinan
kelompok musik
tersebut. Walaupun
kedudukan kelompok
musik sama dengan
gondang sabangunan
dengan menyebut
“ pargonsi” kepada
pemain musik, namun
musisi tersebut tidak
dapat dianggap
sebagai Batara Guru
Humundul ataupun
Batara Guru
Manguntar.
Sikap hormat yang
diberikan masyarakat
kepada pargonsi
bukanlah suatu sikap
yang permanen
(tetap), tetapi hanya
dalam konteks
upacara. Di luar
konteks upacara,
sebutan dan sikap
hormat tersebut akan
hilang dan pargonsi
akan mempunyai
kedudukan seperti
anggota masyarakat
lainnya, ada yang
hidup sebagai petani,
pedagang, nelayan
dan sebagainya.
Sejalan dengan uraian
di atas, ada beberapa
penulis Batak Toba
yang menerangkan
sebutan untuk masing-
masing instrumen
dalam gondang
sabangunan. Seperti
pasariboe (1938)
menuliskan sebagai
berikut : oloan
bernama simaremare,
pangalusi bernama
situri-turi, panonggahi
bernama situhur
tolong, doal bernama
sisunggul madam,
taganing bernama
silima hapusan,
gordang bernama
sialton sijarungjung
dan odap bernama
siambaroba. Penulis
Batak Toba lainnya,
pasaribu (1967)
menuliskan taganing
bernama
pisoridandan, gordang
bernama sialtong na
begu, odap bernama
siambaroba, oloan
bernama si aek mual,
pangalusi bernama
sitapi sindar mataniari,
panggora bernama
situhur, doal bernama
diri mengambat
dan hesek bernama
sigaruan nalomlom.
Nama-nama di atas
nama yang diberikan
oleh pemilik instrumen
musik atau pimpinan
komunitas musik yang
sulit sekali dicari
padanannya dalam
bahasa Indonesia dan
bukan menunjukkan
gambaran mengenai
superioritas instrumen
tersebut. Nama-nama
tersebut biasa saja
berbeda pada tiap-
tiap daerah. Khusus
untuk instrumen
sarune tidak
ditemukan adanya
sebutan terhadap
instrumen itu.
TAHAP-TAHAP
UPACARA KEMATIAN
SAUR MATUA
Upacara kematian
pada masyarakat
Batak Toba
merupakan
pengakuan bahwa
masih ada kehidupan
lain dibalik kehidupan
di dunia ini. Adapun
maksud dan tujuan
masyarakat Batak
Toba untuk
mengadakan upacara
kematian itu tentunya
berlatar belakang
kepercayaan tentang
kehidupan .
Saur matua adalah
orang yang meninggal
dunia telah beranak
cucu baik darianak
laki-laki maupun anak
perempuan. Saur
artinya lengkap/
sempurna dalam
kekerabatan, telah
beranak cucu. Karena
yang telah meninggal
itu adalah sempurna
dalam kekerabatan,
maka harus
dilaksanakan dengan
sempurna. Lain halnya
dengan orang yang
meninggal sari matua.
Kalaupun suhut
membuat acara adat
sempurna
sesuai dengan Adat
Dalihan Na Tolu, hal
seperti itu belum tentu
dilakukan karena
masih ada dari
keturunannya belum
sempurna dalam hal
kekerabatan. Dalam
melaksanakan sesuatu
upacara harus melalui
fase-fase (tahapan-
tahapan) yang harus
dilalui oleh setiap yang
melaksanakannya.
Adapun tahapan-
tahapan yang harus
dilalui adalah sebagai
berikut:
1. Acara Sebelum
Upacara di Mulai
Dalam kehidupan ini,
setiap manusia dalam
suatu kebudayaan
selalu berkeinginan
dan berharap dapat
menikmati isi dunia ini
dalam jangka waktu
yang lama. Tetapi
usaha untuk mencapai
keinginan tersebut
adalah di luar
jangkauan
manusia,karena
keterbatasan,
kemampuan dan akal
pikiran yang dimiliki
oleh manusia. Selain
itu, setiap manusia
juga sudah
mempunyai jalan
kehidupannya masing-
masing yang telah
ditentukan batas akhir
kehidupannya. Batas
akhir kehidupan
manusia ini (mati)
dapat terjadi
dikarenakan berbagai
hal,misalnya karena
penyakit yang diderita
dan tidak dapat
disembuhkan lagi
kecelakaan dan
sebab-sebab lain yang
tidak dapat diketahui
secara pasti, maupun
disebabkan penyakit.
Pada masyarakat
Batak Toba, bila ada
orangtua yang
menderita penyakit
yang sulit untuk
disembuhkan, maka
pada keturunanya
beserta sanak famili
biasanya melakukan
acara adat khusus
baginya, yang disebut
dengan Manulangi
(memberi makan).
Sebelum diadakan
acara manulangi ini,
maka pada
keturunannya
beserta sanak famili
lebih dahulu harus
mengadakan
musyawarah untuk
menentukan berbagai
persyaratan, seperti
menentukan hari
pelaksanaan adat
panulangion itu, jenis
ternak yang akan
dipotong, dan
jumlahnya serta biaya
yang diperlukan untuk
mempersiapkan
makanan tersebut.
Sesuai dengan hari
yang sudah
ditentukan,
berkumpullah semua
keturunan dan sanak
famili di rumah
orangtua tersebut dan
dipotonglah seekor
ternak babi untuk
kemudian dimasak lagi
dengan baik sebagai
makanan yang akan
disuguhkan untuk
dimakan bersama-
sama. Pada waktu itu
juga turut diundang
hula-hula dari suhut,
dongan tubu, dan
natua-tua ni huta
(orang yang dituakan
di kampung tersebut).
Kemudian acara
panulangion dimulai
dengan sepiring
makanan yang terdiri
dari sepiring nasi dan
lauk yang sudah
dipersiapkan,
diberikan kepada
orangtua tersebut
oleh anak sulugnya.
Pada waktu Eanulangi,
si anak tersebut
menyatakan kepada
orangtuanya bahwa
mereka sebenarnya
khawatir melihat
penyakitnya. Maka
sebelum tiba
waktunya, ia berharap
agar orangtuanya
dapat merestui semua
keturunananya hingga
beroleh umur yang
panjang, murah rezeki
dan tercapai kesatuan
yang lebih mantap. Ia
juga mendoakan agar
orangtuanya dapat
lekas sembuh. Setelah
anaknya yang sulung
selesai memberikan
makan, maka
dilanjutkan oleh adik-
adiknya sampai
kepada yang bungsu
beserta cucu-cucunya.
Sambil disuguhi
makanan, semua
keturunannya direstui
dan diberi nasehat-
nasehat. Pada waktu
itu ada juga orangtua
yang membagi harta
warisannya walaupun
belum resmi berlaku.
Setelah selesai
memberi makan,
maka selanjutnya
keturunan dari
orangtua itu harus
manulangi hula-
hulanya dengan
makanan agar hula-
hulanya juga
memberkati mereka.
Acara kemudian
dilanjutkan dengan
makan bersama-sama.
Sambil makan, salah
seorang dari pihak
boru (suhut)
memotong haliang
(leher babi) dan
dibagi-bagikan kepada
hadirin. Setelah selesai
makan, diadakanlah
pembagian ”jambar
(suku-suku daging).
Gaor bontar (kepala
baglan atas sebelah
kiri untuk boru (anak
perempuan), Osang
(mulut bagian bawah)
untuk hula-hula,
Hasatan (ekor) untuk
keluarga suhut, soit
(perut bagian tengah)
untuk dongan
sabutuha (teman
semarga) dan jambar
(potongan daging-
daging) untuk semua
yang hadir). Setelah
pembagian jambar
maka mulailah kata-
kata sambutan yang
pertama oleh anak
Sulung dari orangtua
ini dilanjutkan dari
pihak boru, dongan
sabutuha, dongan
sahuta, dan terakhir
dari hula-hula.
Setelah selesai kata
mangampui, maka
acarapun selesai dan
diadakanlah doa
penutup. Setelah
acara panulangion itu
selesai, maka pada
hari berikutnya pihak
hula-hula pergi
menjenguk orangtua
tadi dengan
membawa dengke
(ikan) dan sehelai ulos
(kain adat batak) yang
disebut ulos
mangalohon ulos
naganjang
(memberikan kain
adat). Ketika hula-hula
menyampaikan
makanan itu kepada
orangtua yang sakit,
disitulah merka
memberikan ulos
naganjang kepada
orangtua itu dengan
meletakkannya di atas
pundak (bahu)
orangtua tersebut.
Tujuan dari pemberian
ulos dan makanan ini
adalah supaya
orangtua tersebut
cepat sembuh,
berumur panjang dan
dapat membimbing
semua keturunannya
hingga selamat dan
sejahtera di hari-hari
mendatang.
Setelah pemberian
ikan dan ulos itu maka
pihak boru brdoa dan
menyuguhkan daging
lengkap dengan suku-
sukunya kepada pihak
hula-hula. Pada waktu
yang ditentukan oleh
Yang Maha Kuasa,
akhirnya orangtua
yang gaur matua itu
meninggal dunia,
maka semua keluarga
menangis dan ada
yang meratap sebagai
pertanda bahwa
sudah tiba waktunya
bagi mereka untuk
berpisah. Sesudah
mayat tersebut
dibersihkan maka
dikenakan pakaian
yang rapi dan
diselimuti dengan kain
batak (ulos).
selanjutnya
dibaringkan di ruang
tengah yang kakinya
mengarah ke jabu
(bona rumah suhut).
Pada saat yang
bersamaan, pihak laki-
laki baik dari
keturunan orangtua
yang meninggal
maupun sanak
saudara berkumpul di
rumah duka dan
membicarakan
bagaimana upacara
yang akan
dilaksanakan kepada
orangtua yang sudah
saur matua itu. Dari
musyawarah keluarga
akan diperoleh hasil-
hasil dari setiap hal
yang dibicarakan.
Hasil-hasil ini dicatat
oleh para suhut untuk
kemudian untuk
dipersiapkan ke
musyawarah umum.
penentuan hari untuk
musyawarah umum ini
juga sudah ditentukan.
Dan mulailah
dihubungi pihak famili
dan mengundang
pihak hula-hula, boru,
dongan tubu. raja
adat, parsuhuton
supaya hadir dalam
musyawarah umum
(Mangarapot).
Sesudah acara
mangarapot selesai,
maka diadakanlah
pembagian tugas bagi
pihak hasuhuton.
Beberapa orang dari
pihak hasuhuton pergi
mengundang
(Manggokkon hula-
hula, boru, dongan
sabutuha (yang terdiri
dari ternan semarga,
teman sahuta, teman
satu kampung) serta
sanak saudara yang
ada di rantau. Pihak
suhut lainnya ada
yang memesan peti
mayat, membeli dan
mempersiapkan
beberapa ekor ternak
(kerbau atau babi
atau yang lainnya)
sebagai makanan
pesta atau untuk
borotan.
Mereka yang bekerja
pada saat upacara
adalah pihak boru
yang disebut
Parhobas. Dan
sebagian dari pihak
suhut mempersiapkan
pakaian adat untuk
keturunan orangtua
yang meninggal saur
matua itu, yaitu semua
anak laki-lakinya, cucu
lakilaki dari yang
pertama (sulung) dan
cucu laki-laki dari
anaknya
perempuan.Pakaian
adat ini terdiri dari
ulos yang
diselempangkan di
atas bahu dan topi
adat yang dipakai di
atas kepala. Pihak
boru lainnya pergi
mengundang pargonsi
dengan memberikan
napuran tiar (sirih)
yang diletakkan di
atas sebuah piring
beserta dengan uang
honor dari pargonsi
selama mereka
memainkan gondang
sabangunan
dalam upacara saur
matua. pemberian
napuran tiar ini
menunjukkan sikap
hormat kepada
pargonsi agar pargonsi
bersedia menerima
undangan tersebut
dan tidak menerima
undangan lain pada
waktu yang
bersamaan.
2. Acara Pelaksanaan
Upacara Kematian
Saur Matua
Setelah keperluan
upacara selesai
dipersiapkan barulah
upacara kematian
gaur matua ini dapat
dimulai. Pelaksanaan
upacara kematian saur
matua ini terbagi atas
dua bagian yaitu :
1. Upacara di jabu (di
dalam rumah)
termasuk di dalamnya
upacara di jabu
menuju maralaman
(upacara di rumah
menuju ke halaman ).
2. Upacara maralaman
(di halaman) Kedua
bentuk upacara inilah
yang dilaksanakan
oleh masyarakat Batak
Toba sebelum
mengantarkan jenazah
ke liang kubur.
1. Upacara di jabu (di
dalam rumah)
Pada saat upacara di
jabu akan dimulai,
mayat dari orangtua
yang meninggal
dibaringkan di jabu
bona (ruang tamu).
Letaknya berhadapan
dengan kamar
orangtua yang
meninggal ataupun
kamar anak-anaknya
dan diselimuti dengan
ulos sibolang. Suami
atau isteri yang
ditinggalkan duduk ,
di sebelah kanan tepat
di samping muka yang
meninggal. Kemudian
diikuti oleh anak laki-
laki mulai dari anak
yang paling besar
sampai anak yang
paling kecil. Anak
perempuan dari
orangtua yang
meninggal, duduk di
sebelah kiri
dari peti mayat.
Sedangkan cucu dan
cicitnya ada yang
duduk di belakang
atau di depan
orangtua meeka
masing-masing. Dan
semua unsur dari
dalihan natolu sudah
hadir di rumah duka
dengan mengenakan
ulos.
Upacara di jabu ini
biasanya di buka pada
pagi hari (sekitar jam
10.00 Wib) oleh
pengurus gereja.
Kemudian masing-
masing unsur dalihan
natolu mengadakan
acara penyampaian
kata-kata penghiburan
kepada suhut. Ketika
acara penyampaian
kata-kata penghiburan
oleh unsur-unsur
dalihan natolu sedang
berlangsung, diantara
keturunan orangtua
yang meninggal masih
ada yang menangis.
Pada saat yang
bersamaan, datanglah
pargonsi sesuai
dengan undangan
yang disampaikan
pihak suhut kepada
mereka. Tempat untuk
pargonsi sudah
dipersiapkan lebih
dahulu yaitu di bagian
atas rumah
(bonggar). Kemudian
pargonsi disambut
oleh suhut dan
dipersilahkan duduk di
jabu soding (sebelah
kiri ruang rumah yang
beralaskan tikar. Lalu
suhut menjamu makan
para pargonsi dengan
memberikan sepiring
makanan yang berisi
ikan (dengke) Batak,
sagu-sagu, nasi,
rudang, merata atau
beras yang ditumbuk
dan disertai dengan
napuran tiar (sirih).
Setelah acara makan
bersama para
pargonsi pun
mengambil tempat
mereka yang ada di
atas rumah dan
mempersiapkan
instrumen-instrumen
mereka masing-
masing. Umumnya
semua pemain duduk
menghadap kepada
yang meninggal.
Kegiatan margondang
di dalam rumah
biasanya dilakukan
pada malam hari,
sedangkan pada siang
hari harinya
dipergunakan pargonsi
untuk istirahat. Dan
pada malam hari tiba,
pargonsi pun sudah
bersiap-siap untuk
memainkan gondang
sabangunan.
Kemudian pargonsi
memainkan gondang
Lae-lae atau gondang
elek-elek, yaitu
gondang yang
memeberitahukan
danmengundang
masyarakat sekitarnya
supaya hadir di rumah
duka untuk turut
menari bersama-sama.
Gondang ini juga
dijadikan sebagai
pengumuman kepada
masyarakat bahwa
ada orang tua yang
meninggal saur matua.
Dan pada saat
gondang tersebut
berbunyi, pihak suhut
juga bersiap-siap
mengenakan ulos dan
topi adat karena
sebentar lagi kegiatan
margondang saur
matua akan dimulai.
Kemudian diaturlah
posisi masing-masing
unsur Dalihan Natolu.
Pihak suhut berdiri di
sebelah kanan yang
meninggal, boru
disebelah kiri yang
meninggal dan hula-
hula berdiri di depan
yang meninggal. Jika
masih ada suami atau
isteri yang meninggal
maka mereka berdiri
di sebelah kanan yang
meninggal bersama
dengan suhut hanya
tapi mereka paling
depan.
Kemudian kegiatan
margondang dibuka
oleh pengurus gereja
(pangulani huria).
Semua unsur Dalihan
Natolu berdiri di
tempatnya
masingmasing.
pengurus gereja
berkata kepada
pangonsi agar
dimainkan gondang
mula-mula. Gondang
ini dibunyikan untuk
menggambarkan
bahwa segala yang
ada di dunia ini ada
mulanya, baik itu
manusia, kekayaan
dan kehormatan.
2. Gondang ke dua
yaitu gondang yang
indah dan baik (tanpa
ada menyebutkan
nama gondangnya).
Setelah gondang
berbunyi, maka semua
menari.
3. Gondang Liat-liat,
para pengurus gereja
menari mengelilingi
mayat memberkati
semua suhut dengan
meletakkan tangan
yang memegang ulos
ke atas kepala suhut
dan suhut
membalasnya dengan
meletakkan tangannya
di wajah pengurus
gereja.
4. Gondang Simba-
simba maksudnya
agar kita patut
menghormati gereja.
Dan pihak suhut
menari mendatangi
pengurus gereja satu
persatu dan minta
berkat dari mereka
dengan rneletakkan
ulos ke bahu rnasing-
masing pengurus
gereja. Sedangkan
pengurus gereja
menaruh tangan
mereka ke atas kepala
suhut.
5. Gondang yang
terakhir, hasututon
meminta gondang
hasahatan dan sitio-tio
agar semua mendapat
hidup sejahtera
bahagia dan penuh
rejeki dan setelah
selesai ditarikan
rnereka semuanya
mengucapkan horas
sebanyak tiga kali.
Kemudian masing-
masing unsur dari
Dalihan Natolu
meminta gondang
kepada pargonsi,
mereka juga sering
memberikan uang
kepada pargonsi tetapi
yang memberikan
biasanya adalah pihak
boru walaupun uang
tersebut adalah dari
pihak hula-hula atau
dongan sabutuha.
Maksud dari
pemberian uang itu
adalah sebagai
penghormatan kepada
pargonsi dan untuk
memberi semangat
kepada pargonsi
dalam memainkan
gondang sabangunan.
Jika upacara ini
berlangsung beberapa
malam, maka
kegiatan-kegiatan
pada malam-malam
hari tersebut diisi
dengan menotor
semua unsur Dalihan
Na Tolu. Keesokan
harinya, apabila peti
mayat yang telah
dipesan sebelumnya
oleh suhut sudah
selesai, maka peti
mayat dibawa rnasuk
kedalam rumah dan
mayat
dipersiapkan untuk
dimasukkan ke dalam
peti. Ketika itu
hadirlah dongan
sabutuha, hula-hula
dan boru. Yang
mengangkat mayat
tersebut ke dalam peti
biasanya adalah pihak
hasuhutan yang
dibantu dengan
dongan sabutuha. Tapi
dibeberapa daerah
Batak Toba, yang
memasukkan mayat
ke dalam peti adalah
dongan sabutuha saja.
Kemudian dengan
hati-hati sekali mayat
dimasukkan ke dalam
peti dan diselimuti
dengan ulos sibolang.
posisi peti diletakkan
sarna dengan posisi
mayat sebelumnya.
Maka aktivitas
selanjutnya adalah
pemberian ulos
tujung, ulus sampe,
ulus panggabei.
Yang pertama sekali
memberikan ulos
adalah hula-hula yaitu
ulos tujung sejenis ulos
sibolang kepada yang
ditinggalkan (janda
atau duda) disertai
isak tangis baik dari
pihak suhut maupun
hula-hula sendiri.
Pemberian ulos
bermakna suatu
pengakuan resmi dari
kedudukan seorang
yang telah menjadi
janda atau duda dan
berada dalam suatu
keadaan duka yang
terberat dalam hidup
seseorang ditinggalkan
oleh teman sehidup
semati, sekaligus
pernyataan turut
berduka cita yang
sedalamdalamnya dari
pihak hula-hula. Dan
ulos itu hanya
diletakkan diatas bahu
dan tidak diatas
kepala. Ulos itu
disebut ulos sampe
atau ulos tali-tali. Dan
pada waktu
pemberian ulos
sampe-sampe itu
semua anak keturunan
yang meninggal
berdiri di
sebelah kanan dan
golongan boru di
sebelah kiri daeri peti
mayat.
Setelah ulos tujung
diberikan, kemudian
tulang dari yang
meninggal
memberikan ulos
saput (sejenis ulos
ragihotang atau
ragidup), yang
diletakkan pada mayat
dengan digerbangkan
(diherbangkan) diatas
badannya. Dan bona
tulang atau bona ni ari
memberikan ulos
sapot tetapi tidak
langsung diletakkan di
atas badan yang
meninggal tetapi
digerbangkan diatas
mayat peti saja.
Maksud dari
pemberian ulos
ini adalah
menunjukkan
hubungan yang baik
dan akrab antara
tulang dengan bere
(kemenakannya).
Setelah hula-hula
selesai memberikan
ulos-ulos tersebut
kepada suhut, maka
sekarang giliran pihak
suhut memberikan
ulos atau yang lainnya
sebagai pengganti dari
ulos kepada semua
pihak boru. pengganti
dari ulos ini dapat
diberikan sejumlah
uang.
Kemudian aktivitas
selanjutnya setelah
pemberian ulos atau
uang kepada boru
adalah kegiatan
margondang, dimulai
dari pihak suhut,
dongan sabutuha,
boru dan ale-ale.
Semuanya menari
diiringi gondang
sabungan dan mereka
sesuka hati meminta
jenis gondang yang
akan ditarikan.
Sesudah semua
rombongan selesai
menari, maka semua
hadirin diundang
untuk makan
bersama. Sehari
sebelumnya
peti mayat dibawa ke
halaman rumah
orangtua yang saur
matua tersebut,
diadakanlah adat
pandungoi yang
biasanya dilakukan
rada sore hari.
Adat ini menunjukkan
aktivitas memberi
makan (sepiring nasi
beserta lauknya)
kepada orangtua yang
saur matua dan
kepada semua sanak
famili. Setelah
pembagian harta
warisan selesai
dilaksanakan,lalu
semua unsur Dalihan
na Tolu kembali
menari. Mulai dari
pihak suhut,
hasuhutan yang
menari kemudian
dongan sabutuha,
boru, hula-hula dan
ale-ale. Acara ini
berlangsung sampai
selesai ( pagi hari ).
1. Upacara di jabu
menuju maralaman
Keesokan harinya
(tepat pada hari
penguburan) semua
suhut sudah
bersiapsiap lengkap
dengan pakaian
adatnya untuk
mengadakan upacara
di jabu menuju
maralaman. Setelah
semuanya hadir di
rumah duka, maka
upacara ini dimulai,
tepatnya pada waktu
matahari akan naik
(sekitar pukul 10.00
Wib). Anak laki-laki
berdiri di sebelah
kanan peti mayat,
anak perempuan
(pihak boru) berdiri di
sebelah kiri, hula-hula
bersama pengurus
gereja berdiri di depan
peti mayat dan
dongan sabutuha
berdiri di belakang
boru. Kemudian acara
dipimpin oleh
pengurus gereja
mengenakan pakaian
resmi (jubah).
Setelah acara gereja
selesai maka pengurus
gereja menyuruh
pihak boru untuk
mengangkat peti
mayat ke halaman
rumah sambil diiringi
dengan nyanyian
gereja yang
dinyanyikan oleh
hadirin. Lalu peti
mayat ditutup (tetapi
belum dipaku) dan
diangkat secara hati-
hati dan perlahan-
lahan oleh pihak boru
dibantu oleh
hasuhuton juga
dongan sabutuha ke
halaman. peti mayat
tersebut masih tetap
ditutup dengan ulos
sibolang. Lalu peti
mayat itu diletakkan
di halaman rumah
sebelah kanan dan di
depannya diletakkan
palang salib kristen
yang bertuliskan nama
orangtua yang
meninggal.
Sesampainya di
halaman, peti mayat
ditutup dan diletakkan
di atas kayu sebagai
penyanggahnya.
Semua unsur dalihan
Na Tolu yang ada di
dalam rumah
kemudian berkumpul
di halaman rumah
untuk mengikuti acara
selanjutnya.
2. Upacara Maralaman
(di halaman rumah)
Upacara maralaman
adalah upacara
teakhir sebelum
penguburan mayat
yang gaur matua. Di
dalam adat Batak
Toba, kalau seseorang
yang gaur matua
meninggal maka harus
diberangkatkan dari
antaran bidang
(halaman) ke kuburan
(disebut Partuatna).
Maka dalam upacara
maralaman akan
dilaksanakan adat
partuatna. Pada
upacara ini posisi dari
semua unsur dalihan
Na Tolu berbeda
dengan posisi mereka
ketika mengikuti
upacara di dalam
ruah. pihak suhut
berbaris mulai dari
kanan ke kiri (yang
paling besar ke yang
bungsu), dan di
belakang mereka
berdiri parumaen
(menantu perempuan
dari yang meninggal)
posisi dari suhut
berdiri tepat di
hadapan rumah duka.
Anak perempuan dari
yang meninggal
beserta dengan pihak
boru lainnya berdiri
membelakangi rumah
duka kemudian hula-
hula berdiri di
samping kanan rumah
duka.
Semuanya
mengenakan ulos
yang disandang di atas
bahu. Ke semua posisi
ini mengelilingi kayu
borotan yang ada di
tengahtengah
halaman rumah.
Sedangkan peti mayat
diletakkan di sebelah
kanan rumah
duka dan agak jauh
dari tiang kayu
borotan Posisi pemain
gondang sabangunan
pun sudah berbeda
dengan posisi mereka
ketika di dalam
rumah. Pada upacara
ini, posisi mereka
sudah menghadap ke
halaman rumah
(sebelumnya di
bonggar rumah, tetapi
pada upacara
maralaman mereka
berada di bilik
bonggar sebelah
kanan). Kemudian
pargonsi pun bersiap-
siap dengan
instrumennya masing-
masing.
Setelah semua unsur
Dalihan Na Tolu dan
pargonsi berada pada
tempatnya, lalu
pengurus gereja
membuka kembali
upacara di halaman ini
dengan bernyanyi
lebih dahulu, lalu
pembacaan firman
Tuhan, bernyanyi lagi,
kata sambutan dan
penghiburan dari
pengurus gereja, koor
dari ibu-ibu gereja dan
terakhir doa penutup.
Kemudian rombongan
dari pengurus gereja
mengawali kegiatan
margondang. Pertama
sekali mereka
meminta kepada
pargonsi supaya
memainkan sitolu
Gondang (tanpa
menyebut nama
gondangnya) , yaitu
gondang yang
dipersembahkan
kepada Debata
(Tuhan) agar kiranya
Yang Maha Kuasa
berkenan memberkati
upacara ini dari awal
hingga akhirnya dan
memberkati semua
suhut agar beroleh
hidup yang
sejahtera di masa
mendatang. Lalu
pargonsi memainkan
sitolu Gondang itu
secara berturut-turut
tanpa ada yang
menari.
Setelah sitolu
Gondang itu selesai
dimainkan, pengurus
gereja kemudian
meminta kepada
pargonsi yaitu
gondang liat-liat.
Maksud dari gondang
ini adalah agar semua
keturunan dari yang
meninggal saur matua
ini selamat-selamat
dan sejahtera. Pada
jenis gondang ini,
rombongan gereja
menari mengelilingi
borotan (yang
diikatkan kepadanya
seekor kuda)
sebanyak tiga kali,
yang disambut oleh
pihak boru dengan
gerakan mundur.
Gerak tari pada
gondang ini ialah
kedua tangan ditutup
dan digerakkan
menurut irama
gondang. Setelah
mengelilingi borotan,
maka pihak pengurus
gereja memberkati
semua boru dan
suhut.
Kemudian pengurus
gereja meminta
gondang Marolop-
olopan. Maksud dari
gondang ini agar
pengurus gereja
dengan pihak suhut
saling bekerja sama.
pada waktu menari
pengurus gereja
mendatangi suhut dan
unsur Dalihan Natolu
lainnya satu persatu
dan memberkati
mereka dengan
meletakkan ulos di
atas bahu atau saling
memegang wajah,
sedang suhut dan
unsur Dalihan Na Tolu
lainnya memegang
wajah pengurus gereja.
Setelah gondang ini
selesai, maka
pengurus gereja
menutup kegiatan
margondang mereka
dengan meminta
kepada pargonsi
gondang Hasahatan tu
sitiotio. Semua unsur :
Dalihan Na Tolu
menari di tempat dan
kemudian
mengucapkan ‘horas’
sebanyak 3 kali.
Kegiatan margondang
selanjutnya diisi oleh
pihak hasuhutan yang
meminta gondang
Mangaliat kepada
pargonsi. Semua suhut
berbaris menari
mengelilingi kuda
sebanyak 3 kali, yang
disambut oleh pihak
boru dengan gerakan
mundur. Gerakan
tangan sama seperti
gerak yang dilakukan
oleh pengurus gereja
pada waktu mereka
menari gondang
Mangaliat. Setelah
gondang ini selesai
maka suhut
mendatangi pihak
boru dan memberkati
mereka dengan
memegang kepala
boru atau meletakkan
ulos di atas bahu
boru.Sedangkan boru
memegang wajah
suhut.
Setelah hasuhutan
selesai menari pada
gondang Mangaliat,
maka menarilah
dongan sabutuha juga
dengan gondang
Mangaliat, dengan
memberikan ‘beras si
pir ni tondi’ kepada
suhut. Kemudian
mangaliatlah
(mengelilingi borotan)
pihak boru sambil
memberikan beras
atau uang. Lagi giliran
pihak hula-hula untuk
mangaliat. Pihak hula-
hula selain
memberikan beras
atau liang, mereka
juga memberikan ulos
kepada semua
keturunan orangtua
yang meninggal (baik
anak laki-laki dan
anak perempuan).
Ulos yang diberikan
hula-hula kepada
suhut itu merupakan
ulos holong.
Biasanya setelah
keturunan yang
meninggal ini
menerima ulos yang
diberikan hulahula,
lalu mereka
mengelilingi sekali lagi
borotan. Kemudian
pihak ale-ale yang
mangaliat, juga
memberikan beras
atau uang. Dan
kegiatan gondang ini
diakhiri dengan pihak
parhobas dan
naposobulung yang
menari. Pada akhir
dari setiap kelompok
yang menari selalu
dimintakan gondang
Hasahatan atau sitio-
tio dan
mengucapkan ‘horas’
sebanyak 3 kali.
Pada saat setiap
kelompok Dalihan Na
Tolu menari, ada juga
yang mengadakan
pembagian jambar,
dengan memberikan
sepotong daging yang
diletakkan dalam
sebuah piring dan
diberikan kepada
siapa yang
berkepentingan.
Sementara diadakan
pembagian jambar,
kegiatan margondang
terus berlanjut.
Setelah semuanya
selesai menari, maka
acara diserahkan
kepada pengurus
gereja, karena
merekalah yang akan
menurup upacara ini.
Lalu semua unsur
Dalihan Na Tolu
mengelilingi peti
mayat yang tertutup.
Di mulai acara gereja
dengan bernyanyi,
berdoa, penyampaian
firman Tuhan,
bernyanyi, kata
sambutan dari
pengurus gereja,
bernyanyi dan doa
penutup. Kemudian
peti mayat dipakukan
dan siap untuk dibawa
ke tempat
penguburannya yang
terakhir yang telah
dipersiapkan
sebelumnya peti
mayat diangkat oleh
hasuhutan dibantu
dengan boru dan
dong an sahuta,
sambil diiringi
nyanyian gereja yang
dinyanyikan oleh
hadirin sampai ke
tempat
pemakamannya. Acara
pemakaman
diserahkan
sepenuhnya kepada
pengurus gereja.
Setelah selesai acara
pemakaman,
kembalilah semua
yang turut mengantar
ke rumah duka.
3. Acara Sesudah
Upacara Kematian.
Sesampainya pihak
suhut , hasuhutan,
boru, dongan
sabutuha, hula-hula di
rumah duka, maka
acara selanjutnya
adalah makan
bersama. Pada saat
itulah kuda yang
diborotkan tadi sudah
dapat dilepaskan dan
ternak (babi) yang
khusus untuk
makanan pesta atau
upacara yang
dibagikan kepada
semua yang hadir.
Pembagian jambar ini
dipimpin langsung
oleh pengetua adat.
Tetapi terdapat
berbagai variasi pada
beberapa tempat yang
ada pada masyarakat
batak toba. Salah satu
uraian yang diberikan
dalam pembagian
jambar ini adalah
sebagai berikut:
Kepala untuk tulang
Telur untuk pangoli
Somba-somba untuk
bona tulang
satu tulang paha
belakang untuk bona
ni ari
Satu tulang belakang
lainnya untuk
parbonaan
Leher dan sekerat
daging untuk boru
Setelah pembagian
jambar ini selesai
dilaksanakan maka
kepada setiap
hulahula yang
memberikan ulos
karena meninggal saur
matua orang tua ini,
akan diberikan piso
yang disebut
“ pasahatkhon piso-
piso”, yaitu
menyerahkan
sejumlah uang kepada
hula-hula, jumlahnya
menurut kedudukan
masing-masing dan
keadaan.
Bilamana seorang ibu
yang meninggal saur
matua maka diadakan
mangungkap
hombung (buha
hombung), yang
dilakukan oleh hula-
hula dari ibu yang
meninggal, biasanya
dijalankan oleh amana
posona (anak dari ito
atau abang adik yang
meninggal). Buha
Hombung artinya
membuka simpanan
dari ibu yang
meninggal. Hombung
ialah suatu tempat
tersembunyi dalam
rumah, dimana
seorang ibu biasanya
menyimpan harta
keluarga ; pusaka,
perhiasan, emas dan
uang.
Harta kekayaan itu
diminta oleh hula-hula
sebagai kenang-
kenangan, juga
sebagai kesempatan
terakhir untuk
meminta sesuatu dari
simpanan “borunya”
setelah selesai
mangungkap
hombung, maka
upacara ditutup oleh
pengetua adat.
Beberapa hari setelah
selesai upacara
kematian saur matua,
hula-hula datang
untuk mangapuli
(memberikan
penghiburan) kepada
keluarga dari orang
yang meninggal saur
matua dengan
membawa makanan
berupa ikan mas. Yang
bekerja menyedikan
keperluan acara
adalah pihak boru.
Acara mangapuli
dimulai dengan
bernyanyi, berdoa,
kata-kata penghiburan
setelah itu dibalas
(diapu) oleh suhut.
Setelah acara ini
selesai, maka
selesailah pelaksanaan
upacara kematian saur
matua. Latar belakang
dari pelaksanaan
upacara kematian saur
matua ini adalah
karena faktor adat,
yang harus dijalankan
oleh para keturunan
orang tua yang
meninggal tersebut.
Pelaksanaan upacara
ini juga diwujudkan
sebagai penghormatan
kepada orang tua
yang meninggal,
dengan harapan agar
orang tua tersebut
dapat menghormati
kelangsungan hidup
dari para
keturunannya yang
sejahtera dan damai.
Hal ini menunjukkan
bahwa hubungan
antara manusia yang
masih hidup dengan
para kerabatnya yang
sudah meninggal
masih ada hubungan
ini juga menentukan
hidup manusia itu di
dunia dan di akhirat.
Sebagai salah satu
bentuk aktivitas adat ,
maka pelaksanaan
upacara ini tidak
terlepas dari
kehadiran dari unsur-
unsur Dalihan Natolu
yang memainkan
peranan berupa hak
dan kewajiban
mereka. Maka dalihan
natolu inilah yang
mengatur peranan
tersebut sehingga
prilaku setiap unsur
khususnya dalam
kegiatan adat maupun
dalam kehidupan
sehari-hari tidak
menyimpang dari adat
yang sudah ada

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.