Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Saturday, 4 June 2011

Asal mula Tongkat Tunggal Panaluan

Pada suatu hari Raja
Panggana yang
terkenal pandai
memahat dan
mengukir
mengadakan
pengembaraan keliling
negeri. Untuk biaya
hidupnya, Raja
Panggana sering
memenuhi permintaan
penduduk untuk
memahat patung atau
mengukir rumah.
Walaupun sudah
banyak negeri yang
dilaluinya dan banyak
sudah patung dan
ukiran yang
dikerjakannya, masih
terasa padanya
sesuatu kekurangan
yang membuat dirinya
selalu gelisah. Untuk
menghilangkan
kegelisahannya, ia
hendak mengasingkan
diri pada satu tempat
yang sunyi. Di dalam
perjalanan di padang
belantara yang penuh
dengan alang-alang ia
sangat tertarik pada
sebatang pohon
tunggal yang hanya itu
saja terdapat pada
padang belantara
tersebut. Melihat
sebatang pohon
tunggal itu Raja
Panggana tertegun.
Diperhatikannya
dahan pohon itu,
ranting dan daunnya.
Entah apa yang
tumbuh pada diri Raja
Panggana, ia melihat
pohon itu seperti putri
menari.
Dikeluarkannya alat-
alatnya, ia mulai
bekerja memahat
pohon itu menjadi
patung seorang putri
yang sedang menari.
Ia sangat senang,
gelisah hilang. Sebagai
seorang seniman ia
baru pernah
mengagumi hasil
kerjanya yang begitu
cantik dan
mempesona. Seolah-
olah dunia ini telah
menjadi miliknya.
Makin dipandangnya
hasil kerjanya, semakin
terasa pada dirinya
suatu keagungan.
Pada pandangan yang
demikian, ia melihat
patung putri itu
mengajaknya untuk
menari bersama. Ia
menari bersama
patung dipadang
belantara yang sunyi
tiada orang.
Demikianlah kerja Raja
Panggana hari demi
hari bersama putri
yang diciptakannya
dari sebatang kayu.
Raja Panggana merasa
senang dan bahagia
bersama patung putri.
Tetapi apa hendak
dikata, persediaan
makanan Raja
Panggana semakin
habis. Apakah
gunanya saya tetap
bersama patung ini
kalau tidak makan ?
biarlah saya menari
sepuas hatiku dengan
patung ini untuk
terakhir kali. Demikian
Raja Panggana dengan
penuh haru
meninggalkan patung
itu. dipadang rumput
yang sunyi sepi tiada
berkawan. Raja
Panggana sudah
menganggap patung
putri itu sebagian dari
hidupnya.
Berselang beberapa
hari kemudian,
seorang pedagang
kain dan hiasan
berlalu dari tempat
itu. Baoa Partigatiga
demikian nama
pedagang itu tertegun
melihat kecantikan
dan gerak sikap tari
patung putri itu.
Alangkah cantiknya si
patung ini apabila saya
beri berpakaian dan
perhiasan. Baoa
Partigatiga membuka
kain dagangannya.
Dipilihnya pakaian dan
perhiasan yang cantik
dan dipakaikannya
kepada patung sepuas
hatinya.
Ia semakin terharu
pada Baoa Partigatiga
belum pernah melihat
patung ataupun
manusia secantik itu.
dipandanginya patung
tadi seolah-olah ia
melihat patung itu
mengajaknya menari.
Menarilah Baoa
Partigatiga
mengelilingi patung
sepuas hatinya.
Setelah puas menari ia
berusaha membawa
patung dengannya
tetapi tidak dapat,
karena hari sudah
makin gelap, ia
berpikir kalau patung
ini tidak kubawa
biarlah pakaian dan
perhiasan ini
kutanggalkan. Tetapi
apa yang terjadi,
pakaian dan perhiasan
tidak dapat
ditanggalkan Baoa
Partigatiga. Makin
dicoba kain dan
perhiasan makin ketat
melekat pada patung.
Baoa Partigatiga
berpikir, biarlah
demikian. Untuk
kepuasan hatiku
baiklah aku menari
sepuas hatiku untuk
terakhir kali dengan
patung ini. Iapun
menari dengan sepuas
hatinya.
Ditinggalkannya
patung itu dengan
penuh haru ditempat
yang sunyi dan sepi
dipadang rumput
tiada berkawam.
Entah apa yang
mendorong, entah
siapa yang menyuruh
seorang dukun
perkasa yang tiada
bandingannya di
negeri itu berlalu dari
padang rumput
tempat patung tengah
menari. Datu Partawar
demikian nama dukun.
Perkasa terpesona
melihat patung di
putri. Alangkah
indahnya patung ini
apabila bernyawa.
Sudah banyak negeri
kujalani, belum
pernah melihat patung
ataupun manusia
secantik ini. Datu
Partawar berpikir
mungkin ini suatu
takdir. Banyak sudah
orang yang kuobati
dan sembuh dari
penyakit. Itu semua
dapat kulakukan
berkat Yang Maha
Kuasa.
Banyak cobaan pada
diriku diperjalanan
malahan segala aji-aji
orang dapat
dilumpuhkan bukan
karena aku, tetapi
karena ia Yang Maha
Agung yang
memberikan tawar ini
kepadaku. Tidak salah
kiranya apabila saya
menyembah Dia Yang
Maha Agung dengan
tawar yang
diberikannya padaku,
agar berhasil
membuat patung ini
bernyawa. Dengan
tekad yang ada
padanya ini Datu
Partawar menyembah
menengadah keatas
dengan mantra, lalu
menyapukan tawar
yang ada pada
tangannya kepada
patung. Tiba-tiba
halilintar berbunyi
menerpa patung.
Sekitar patung
diselimuti embun
putih penuh cahaya.
Waktu embun putih
berangsur hilang
nampaklah seorang
putri jelita datang
bersujud menyembah
Datu Partawar. Datu
Partawar menarik
tangan putri, mencium
keningnya lalu
berkata : mulai saat ini
kau kuberi nama Putri
Naimanggale.
Kemudian Datu
Partawar mengajak
Putri Naimanggale
pulang kerumahnya.
Konon kata cerita
kecantikan Putri
Naimanggale tersiar
ke seluruh negeri. Para
perjaka menghias diri
lalu bertandang ke
rumah Putri
Naimanggale. Banyak
sudah pemuda yang
datang tetapi belum
ada yang berkenan
pada hati Putri
Naimanggale. Berita
kecantikan Putri
Naimenggale sampai
pula ketelinga Raja
Panggana dan Baoa
Partigatiga. Alangkah
terkejutnya Raja
Panggana setelah
melihat Putri
Naimanggale teringat
akan sebatang kayu
yang dipahat menjadi
patung manusia.
Demikian pula Baoa
Partigatiga sangat
heran melihat kain
dan hiasan yang
dipakai Putri
Naimanggale adalah
pakaian yang
dikenakannya kepada
Patung, Putri dipadang
rumput. Ia mendekati
Putri Naimanggale dan
meminta pakaian dan
hiasan itu kembali
tetapi tidak dapat
karena tetap melekat
di Badan Putri
Naimanggale. Karena
pakaian dan hiasan itu
tidak dapat terbuka
lalu Baoa Partigatiga
menyatakan bahwa
Putri Naimanggale
adalah miliknya. Raja
Panggana menolak
malahan balik
menuntut Putri
Naimanggale adalah
miliknya karena dialah
yang memahatnya
dari sebatang kayu.
Saat itu pula
muncullah Datu
Partawar dan tetap
berpendapat bahwa
Putri Naimanggale
adalah miliknya.
Apalah arti patung
dan kain kalau tidak
bernyawa. Sayalah
yang membuat
nyawanya maka ia
berada di dalam
kehidupan. Apapun
kata kalian itu tidak
akan terjadi apabila
saya sendiri tidak
memahat patung itu
dari sebatang kayu.
Baoa Partigatiga
tertarik memberikan
pakaian dan perhiasan
karena pohon kayu itu
telah menajdi patung
yang sangat cantik.
Jadi Putri Naimanggale
adalah milik saya kata
Raja Panggana. Baoa
Partigatiga balik
protes dan
mengatakan, Datu
Partawar tidak akan
berhasrat membuat
patung itu bernyawa
jika patung itu tidak
kuhias dengan pakaian
dan hiasan. Karena
hiasan itu tetap
melekat pada tubuh
patung maka Raja
Partawar memberi
nyawa padanya. Datu
Partawar mengancam,
dan berkata apalah
arti patung hiasan jika
tidak ada nyawanya ?
karena sayalah yang
membuat nyawanya,
maka tepatlah saya
menjadi pemilik Putri
Naimanggale. Apabila
tidak maka Putri
Naimanggale akan
kukembalikan kepada
keadaan semula. Raja
Panggana dan Baoa
Partigatiga
berpendapat lebih
baiklah Putri
Naimanggale kembali
kepada keadaan
semula jika tidak
menjadi miliknya.
Demikianlah
pertengkaran mereka
bertiga semakin tidak
ada keputusan. Karena
sudah kecapekan,
mereka mulai sadar
dan mempergunakan
pikiran satu sama lain.
Pada saat yang
demikian Datu
Partawar
menyodorkan satu
usul agar masalah ini
diselesaikan dengan
hati tenang didalam
musyawarah. Raja
Panggana dan Baoa
Partigatiga mulai
mendengar kata-kata
Datu Partawar. Datu
Partawar berkata :
marilah kita
menyelesaikan
masalah ini dengan
hati tenang didalam
musyawarah dan
musyawarah ini kita
pergunakan untuk
mendapatkan kata
sepakat. Apabila kita
saling menuntut akan
Putri Naimanggale
sebagai miliknya saja,
kerugianlah akibatnya
karena kita saling
berkelahi dan Putri
Naimanggale akan
kembali kepada
keadaannya semula
yaitu patung yang
diberikan hiasan.
Adakah kita didalam
tuntutan kita,
memikirkan
kepentingan Putri
Naimanggale? Kita
harus sadar, kita
boleh menuntut tetapi
jangan menghilangkan
harga diri dan pribadi
Putri Naimanggale.
Tuntutan kita harus
kita dasarkan demi
kepetingan Putri
Naimanggale bukan
demi kepentingan kita.
Putri Naimanggale
saat sekarang ini
bukan patung lagi
tetapi sudah menjadi
manusia yang
bernyawa yang
dituntut masing-
masing kita bertiga.
Tuntutan kita bertiga
memang pantas, tetapi
marilah masing-masing
tuntutan kita itu kita
samakan demi
kepentingan Putri
Naimanggale.
Raja Panggana dan
Baoa Partigatiga
mengangguk-angguk
tanda setuju dan
bertanya apakah
keputusan kita Datu
Partawar ? Datu
Partawar menjawab,
Putri Naimanggale
adalah milik kita
bersama. Mana
mungkin, bagaimana
kita membaginya.
Maksud saya bukan
demikian, bukan
untuk dibagi sahut
Datu Partawar. Demi
kepentingan Putri
Naimanggale marilah
kita tanyakan
pendiriannya. Mereka
bertiga menanyakan
pendirian Putri
Naimanggale. Dengan
mata berkaca-kaca
karena air mata, air
mata keharuan dan
kegembiraan Putri
Naimanggale berkata :
“ Saya sangat gembira
hari ini, karena kalian
bertiga telah bersama-
sama menanyakan
pendirian saya. Saya
sangat menghormati
dan menyayangi kalian
bertiga, hormat dan
kasih sayang yang
sama, tiada lebih tiada
kurang demi kebaikan
kita bersama. Saya
menjadi tiada arti
apabila kalian cekcok
dan saya akan sangat
berharga apabila
kalian damai.
Mendengar kata-kata
Putri Naimanggale itu
mereka bertiga
tersentak dari
lamunan keakuannya
masing-masing, dan
memandang satu
sama lain. Datu
Partawar berdiri lalu
berkata : Demi
kepentingan Putri
Naimanggale dan kita
bertiga kita tetapkan
keputusan kita :
a. Karena Raja
Panggana yang
memahat sebatang
kayu menjadi patung,
maka pantaslah ia
menjadi Ayah dari
Putri Naimanggale.
b. Karena Baoa
Partigatiga yang
memberi pakaian dan
hiasan kepada patung,
maka pantaslah ia
menjadi Amangboru
dari Putri
Naimanggale.
c. Karena Datu
Partawar yang
memberikan nyawa
dan berkat kepada
patung, maka
pantaslah ia menjadi
Tulang dari Putri
Naimanggale.
Mereka bertiga setuju
akan keputusan itu
dan sejak itu mereka
membuat perjanjian,
padan atau perjanjian
mereka disepakati
dengan :
Pertama, bahwa demi
kepentingan Putri
Naimanggale Raja
Panggana, Baoa
Partigatiga dan Datu
Partawar akan
menyelesaikan semua
permasalahan yang
terjadi dan mungkin
terjadi dengan jalan
musyawarah.
Kedua, bahwa demi
kepentingan Putri
Naimanggale dan
turunannya kelak,
Putri Naimanggale dan
turunannya harus
mematuhi setiap
keputusan dari Raja
Panggana, Baoa
Partigatiga dan Datu
Partawar.
Baoa Partigatiga yang
menjadi amangboru
Putri Naimanggale
Nasiddah Pangaluan
meminang langsung
Putri Naimanggale
untuk menjadi suami
anak yang bernama
Guru Hatautan, dan
atas persetujuan
mereka Guru
Hatautan dan Putri
Naimanggale Nasindak
panaluan pun menikah
dan merekapun
mengadakan pesta
ritual untuk
pernikahan ini.
Setelah mereka sudah
lama kawin sebelum
perempuan itu hamil.
Perempuan itu sangat
lama mengandung.
Selama mengandung
terjadilah kelaparan di
daerah itu. sesudah
tiba saatnya, Nan
Sindak Panaluan
melahirkan dua orang
anak kembar, seorang
anak laki-laki dan
seorang anak
perempuan.
Kisah ini menjadi aib
bagi masyarakat Batak
Toba. Anak kembar
dengan jenis kelamin
berlainan membawa
malapetaka pada
masyarakat setempat
dan sedini mungkin
secepatnya
dipindahkan.
Kemudian Guru
Hatautan dan istrinya
Nan Sindak Panaluan
memberi nama
kepada kedua anak
kembar itu sesuai
dengan adat yang
berlaku pada masa itu.
Anak laki-laki itu
disebut Si Aji Donda
Hatautan dan anak
perempuan itu disebut
Si Boru Tapi Nauasan.
Sesudah acara atau
upacara pemberian
nama, tokoh-tokoh
masyarakat pada
waktu itu
menganjurkan untuk
memisahkan kedua
anak itu. alasannya
adalah bahwa kedua
anak kembar itu tidak
akan mengindahkan
norma-norma dan
hukum adat
dikemudian hari.
umumnya sikap dan
sifat anak kembar
tidak jauh berbeda
satu sama lain. Atas
dasar pandangan ini
masyarakat setempat
pada masa itu
menghendaki kedua
anak kembar itu
dipisahkan. Lama-
kelamaan anak itu
berkembang dan
tumbuh dewasa. Rasa
cinta dan keakraban
tumbuh tanpa disadari
kedua orang tersebut.
Pada suatu ketika
mereka saling berjalan
ke hutan bersama
seekor anjing. Rasa
cinta yang tumbuh
tanpa disadari
bergejolak pada saat
itu. mereka melakukan
hubungan seksual
(incest). Sesudah
melakukan hubungan
yang tabu itu mereka
melihat pohon si Tau
Manggule yang
sedang berbuah.
Mereka ingin
memakan buah pohon
itu. si Aji Donda
Hatautan memanjat
pohon tersebut dan
memakan buahnya.
Seketika itu ia melekat
pada pohon itu.
Kemudian SiTapi Boru
Nauasan memanjat
pohon tersebut dan
memakan buahnya
dan ia pun melekat
juga pada pohon itu.
Menurut terjadinya
tunggal Panaluan
merupakan hukuman
dari Dewa-dewi,
karena kedua anak
kembar tersebut
melakukan hubungan
badan yang tidak
sepantasnya. Kedua
anak tersebut melekat
pada pohon yang
sedang berbuah
menandakan bahwa
Siboru Tapi Nauasan
telah mengandung
dari kakaknya Si Aji
Donda Hatautan.
Sesudah kedua insan
itu melekat pada
pohon tersebut,
mereka berusaha
melepaskan diri,
namun mereka tidak
berhasil. Anjing yang
ikut bersama mereka
saat itu pergi
memberitahukan
keadaan kedua insan
itu kepada
orangtuanya. Guru
Guta Balian bersama
dengan Datu datang
ketempat mereka
untuk melepaskan
mereka dari pohon
tersebut. Beberapa
Datu yang lain yang
datang kemudian ikut
berusaha melepaskan
kedua insan itu,
namun mereka semua
ikut melekat pada
pohon Piu-piu
Tunggale tersebut.
Susunan personil pada
Tunggal Panaluan itu
adalah Si Aji Donda
Hatautan, Siboru Tapi
Nauasan, Datu Pulu
Panjang Na Uli, Si
Parjambulan
Namelbuselbus, Guru
Mangantar Porang, Si
Sanggar Meoleol, Si
Upar Manggalele,
Barit Songkar
Pangurura.
Mitos terjadinya
Tunggal Panaluan
diceritakan dengan
bentuk ajaran yang
dialnjutkan secara
turun temurun. Unsur
rasionalitas mitos
tersebut ialah bahwa
Tunggal Panaluan
sungguh ada hasil
karya seni ukir
masyarakat Batak
Toba.

Legenda Suku Batak

Agama atau
Kepercayaan Orang
Batak:
Orang Batak Percaya
kepada adanya Tuhan
Yang Maha Esa Yang
disebut: ”Ompu
Mulajadi Nabolon”
Dia yang menjadikan
apa-apa yang ada, dan
tidak kawin dan tidak
beranak, dan
menjadikan sesuatu
hanya dengan ucapan
saja, dari tidak ada
bisa dijadikan menjadi
ada. Karena itu
Mulajadi Nabolon
disebut juga Ompu
Raja Mulamula, Ompu
Raja Mulajadi,
menunjukkan Dialah
permulaan dari yang
tidak ada. (kutipan
dari Pustaha Batak
oleh WM.Hutagalung
halaman.2)
Kepercayaan
keagamaan Batak asli
bertumpu pada
kekuatan Roh yang
dinamakan Tondi
maupun hantu (begu),
untuk berhubungan
dengan Begu maka
diperlukan media
perantara yang
berbnama Datu
(dukun). Dengan
Mantera yang
dilantunkan seorang
datu dapat
berhubungan dan
berkomunikasi dengan
Roh dan begu.
Dan mengyakini
bahwa Ompu Mulajadi
Na Bolon
menciptakan 7 (tujuh)
lapis Langit, yang
setiap langitnya dihuni
oleh roh-roh yang
telah mati sesuai
dengan amal
perbuatan-nya semasa
hidup, adapun ketujuh
lapis langit itu adalah
sebagai berikut:
1. Langit Pertama:
Dijadikan untuk
tempat orang
mngerjakan pekerjaan
yang terbalik/
bertentangan (suhar),
Jadi setiap orang yang
pekerjaannnya
bertentangan (suhar)
selama hidupnya
maka dia akan di
balikkan oleh Mulajadi
Nabolon kepalanya
kebawah dan kakinya
keatas setalh dia mati
tetapi itu begunya.
2. Langit kedua :
Tempat orang-orang
kerjanya semasa
hidupnya adalah
pencuri, dan apa yang
dicuri selama
hidupnya,akan selalu
dipegangnya
3. Langit Ketiga:
Tempat orang-orang
yang suka menambah-
nambah omongan
(siganjang dila),
disinilah tempat
begunya, dan lidahnya
akan ditarik oleh
Mulajsdi Nabolon
sampai 10 sampai 100
depa agar terseret-
seret sewaktu
berjalan.Inilah
hukumannya bagi
siganjang dila.
4. Langit keempat :
Tempat orang bunuh
diri dan orang yang
selalu buat keributan
semasa hidupnya, dan
pada tempat ini
mereka saling
membuat keributan,
dan bagi orang yang
bunuh diri dia akan
dipasung dengan besi
pasung agar tidak
dapat bergerak, oleh
karena begu orang
bunuh diri tidak dapat
siar (nyusup kepada
orang hidup).
5. Langit kelima:
Adalah tempat bagi
orang-orang suka
menolong orang yang
susah dan orang
miskin. Nanti disana
dia akan berkumpul
dengan orang yang
pernah dibantunya
dan dia akan
menerima balasan
dari Mulajadi Nabolon
berlipat ganda segala
apa yang pernag yang
baik dibuatnya kerna
itu dikatakan orang
Batak : “ Ia uli sinuan,
uli do gotilon, ia duri
sinuan duri do
gotilon. ”
6. Langit keenam:
Disini Mula jadi
Nabolom
menanamkan segala
suhatsuhat setiap
manusia
(menanamkan
bentuk/ sifat ). Apabila
baik suhatsuhat yang
ditanamkan pada
manusia di langit
keenam (banua
ginjang) maka orang
itu akan memiliki
suhasuhat baik pula di
Benua Tonga (bumi),
Dan sebaliknya bila
buruk maka buruk
pula di bumi (banua
tonga).
7. Langit Ketujuh:
Disinilah tempat Mula
jadi Nabolon, karena
itu adalah langit diatas
langit. Kesinilah segala
orang-orang yang baik
terhormat
Setelah selesai
diciptakan Langit
maka Mulajadi
Nabolon menciptakan;
Mata Hari, kemudian
Bulan, dan Bintang-
bintang, dan bintang-
bintang ini dinamai:
Bintang Ilala,
Sijombut, Sigarani api,
Sidongdong,
Sialapariama,
Sialasungsang,
Marihur,
Martimus, Bisnu,
Borma, Sori dan lain-
lainnya.
Manukmanuk
Hulambujati:
Keyakinan orang
Batak yang pertama
sekali diciptakan
Mulajdi Nabolon
adalah Manukmanuk
Hulambujati,
Moncongnya besi,
berkuku gelang yang
berkilau. Dan
besarnya sebesar
kunang-kunang besar.
Alkisah Manukmanuk
Hulambujati memiliki
Telur tiga buah yang
besarnya jauh lebih
besar dari badannya.
Oleh karena itu dia
menghubungi
Leangleang mandi
untunguntung na
bolon, dan berkata:
“Wahai Leangleang
mandi untunguntung
na bolon! Kasihanilah
aku sampaikanlah
dulu keluhanku ini
pada Mulajadi
Nabolon, saya tidak
tahu apa yang harus
kubuat telur (tinaru)
yang tiga ini,
diselimutipun tidak
bisa “.
Maka pergilah
Leangleang mandi
menyampaikan pesan
tersebut pada
Mulajadi
Nabolon : ”Ale
Ompung, dahanon
dibosta do ahu na so
marlaok botabota, na
so lopa dihata na so
lolos di tona, Pesan
dari Manukmanuk
hulambungjati,
bagaimana harus
dibuatnya telur
(tinaruna) yang tiga
itu ?“.
Maka Mulajadi
Nabolon berkata:
“ Katakanlah biar
dierami telurnya itu,
aku lebih tahu, tapi
bawalah 12 petik
makanan (dahanon),
itulah yang
dimakannya setiap
petiknya dimakan
setiap bulan, kalau
sudah putus
muncungnya maka
pukulkanlah
ketelurnya, itulah
sampaikan padanya,“
kataNya pada
Leangleang mandi.
Maka kembalilah
Leangleang mandi
menyampaikan pesan
dari Mulajadi Nabolon
pada Manukmanuk
Hulambajati, setelah
mendapat petunjuk
maka dilaksanakannya
apa yang dipesankan
kepadanya melalui
Leangleang mandi.
Setelah genap 12
bulan, putus
(rumintop) lah
moncong
manukmanuk
hulambungjati, setelah
itu maka
dipukulkanlah
muncungnya itu pada
telur yang tiga, maka
lahirlah dari setiap
telur seperti manusia
laki-laki (sesuatu yang
tidak bisa terpikir
ciptaan Tuhan),
dari Telur pertama
lahir:
1- Batara Guru:
Batara Guru doli,
Batara guru
panungkunan, Batara
Guru Pandapotan
setiap kerajaan, Yang
memegang timbangan
disetiap yang
diciptakannya.
(Mula ni gantang
tarajuan, hatian sibola
timbang, ninggala
sibola tali, tu atas so
ra mungkit, tu toru
sora monggal, tu
lambung so ra teleng)
2. Telur ke dua Raja
Odapodap Ini adalah
yang mengamati
semua segala
perbuatan yan
diciptakan Dari telur
kedua lahir:
Batara Sori (debata
Sori) dari telur kedua:
Sori-sori haliapan,
Sori-sori habubuhan
na pitu hali malim,
napitu hali solam,
sinolamhon ni ibotona
si boru panolaman.
Yang bernamakan si
boru “Anting Malela”
yang tidak bisa
bersumpah dan tidak
bisa disumpahi, yang
tidak boleh mencuri
dan tidak dapat
kecurian, yang
membuat parsorion
yaitu sori Gabe, sori
Mago atau nasib dari
setiap manusia yang
dapat kita lihat dari
umpa orang batak
sebagai berikut:
” Andilo nahinan,
handangkadangan ma
nuaeng, pinangido
nahinan, jaloon ma
nuaeng. ” Inilah yang
mengirim
Sisingamangaraja.
3- Tuan Dihurmajati
dari telur ketiga: Ini
adalah ompu ni
Panenabolon yang
menempati
Dari Telur ketiga
lahirlah:
1- Balabulan.
Balabulan matabun,
Balabulan na rubunan,
na rubun di pucuknya,
Datu Paratalatal, Datu
Parusulusul,
Berkudakan
Sibaganding Tua,
Parpiso Simangan
mangeluk, Bertombak
dua ujung, dialah
mulanya hadatuaon
pada manusia.
Catatan:
Batara Guru, Batara
sori, Balabulan yang
sering dikatakan
debata na tolu, natolu
suhu, natolu harajaon
(jadi bukan Mulajadi
Nabolon)
Raja Padoha atau
Partanduk Pitu
Yang bertempat di
Banua toru, yang
menbuat Gempa (lalo)
Pemberian Nama
pada setiap yang
menetas tersebut atas
petunjuk Mulajadi Na
Bolon melalui
Leangleang Mandi dan
atas perintah Mulajadi
Na Bolon,
Setelah ketiga
putranya dewasa, ia
merasa bahwa mereka
memerlukan seorang
pendamping wanita.
Manukmanuk
Hulambujati kembali
memohon pada
melalui Leangleang
Mandi dan Mulajadi
Na Bolon
mengirimkan 3 wanita
cantik :
SIBORU PAREME
untuk istri Tuan Batara
Guru, dan
mendapatkan 2 orang
anak laki laki dan 2
orang anak
perempuan diberi
nama:
1. TUAN SORI
MUHAMMAD,
2. DATU TANTAN
DEBATA GURU MULIA
3. SIBORU SORBAJATI
4. SIBORU DEAK
PARUJAR.
Anak kedua, Tuan
Soripada diberi istri
bernama SIBORU
PAROROT yang
melahirkan anak laki-
laki bernama:
1. TUAN
SORIMANGARAJA
sedangkan anak
ketiga, Ompu Tuan
Mangalabulan, diberi
istri bernama SIBORU
PANUTURI yang
melahirkan:
1. TUAN DIPAMPAT
TINGGI SABULAN.
Dari pasangan Ompu
Tuan Soripada-Siboru
Parorot, lahir seorang
anak laki-laki, namun
karena wujudnya
seperti kadal, Ompu
Tuan Soripada
menghadap Mulajadi
Na Bolon (Maha
Pencipta). "Tidak apa
apa, berilah nama
SIRAJA ENDA ENDA,"
kata Mulajadi Na
Bolon. Setelah anak-
anak mereka dewasa,
Ompu Tuan Soripada
mendatangi abangnya,
Tuan Batara Guru
menanyakan
bagaimana agar anak-
anak mereka
dikawinkan.
Batara Guru menanya:
"Kawin dengan siapa?
Anak perempuan saya
mau dikawinkan
kepada laki-laki
mana?"
Maka dijawab Ompu
Soripada dengan
penuh kekhawatiran
karena anaknya yang
ditawarkan adalah
berwujud
Kadal:"Bagaimana
kalau putri abang
SIBORU SORBAJATI
dikawinkan dengan
anak saya Siraja Enda
Enda. Mas kawin
apapun akan kami
penuhi, tetapi
syaratnya putri abang
yang mendatangi
putra saya,".
Akhirnya mereka
sepakat. Pada waktu
yang ditentukan
Siboru Sorbajati
mendatangai rumah
Siraja Enda Enda dan
sebelum masuk, dari
luar ia bertanya
apakah benar mereka
dijodohkan. Siraja
Enda Enda
mengatakan benar,
dan ia sangat gembira
atas kedatangan calon
istrinya.
Dipersilakannya Siboru
Sorbajati naik ke
rumah. Namun betapa
terperanjatnya Siboru
Sorbajati karena lelaki
calon suaminya itu
ternyata berwujud
kadal. Dengan
perasaan kecewa ia
pulang mengadu
kepada abangnya
Datu Tantan Debata:
"Lebih baik saya mati
daripada kawin
dengan kadal,"
katanya terisak-isak.
"Jangan begitu
adikku," kata Datu
Tantan Debata. "Kami
semua telah
menyetujui bahwa
itulah calon suamimu.
Mas kawin yang sudah
diterima ayah akan
kita kembalikan 2 kali
lipat jika kau menolak
jadi istri Siraja Enda
Enda."
Siboru Sorbajati tetap
menolak. Namun
karena terus-menerus
dibujuk, akhirnya
hatinya luluh tetapi
kepada ayahnya ia
minta agar menggelar
"gondang" karena ia
ingin
"manortor" (menari)
semalam suntuk.
Permintaan itu
dipenuhi Tuan Batara
Guru. Maka sepanjang
malam, Siboru
Sorbajati manortor di
hadapan keluarganya.
Menjelang matahari
terbit, tiba-tiba
tariannya (tortor)
mulai aneh, tiba-tiba
ia melompat ke "para-
para" dan dari sana ia
melompat ke
"bonggor" kemudian
ke halaman dan yang
mengejutkan
tubuhnya mendadak
tertancap ke dalam
tanah dan hilang
terkubur!
Keluarga Ompu Tuan
Soripada amat
terkejut mendengar
calon menantunya
hilang terkubur dan
menuntut agar
Keluarga Tuan Batara
Guru memberikan
putri ke-2 nya, Siboru
Deak Parujar untuk
Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru
Sorbajati, ia menolak
keras. "Sorry ya, apa
lagi saya," katanya.
Namun karena
didesak terus, ia
akhirnya mengalah
tetapi syaratnya orang
tuanya harus
menggelar "gondang"
semalam suntuk
karena ia ingin
"manortor" juga.
Sama dengan
kakaknya, menjelang
matahari terbit
tortornya mulai aneh
dan mendadak ia
melompat ke halaman
dan menghilang ke
arah laut di benua
tengah (Banua Tonga).
Di tengah laut ia
digigit lumba-lumba
dan binatang laut
lainnya dan ketika
burung layang-layang
lewat, ia minta
bantuan diberikan
tanah untuk tempat
berpijak. Sayangnya,
tanah yang dibawa
burung layang-layang
hancur karena
digoncang NAGA
PADOHA. Siboru Deak
Parujar menemui Naga
Padoha agar tidak
menggoncang Banua
Tonga. "Ya" katanya.
"Sebenarnya aku tidak
sengaja, kakiku
rematik. Tolonglah
sembuhkan." Siboru
Deak Parujar berhasil
menyembuhkan dan
kepada Mulajadi Na
Bolon dia meminta
alat pemasung untuk
memasung Naga
Padoha agar tidak
mengganggu. Naga
Padoha berhasil
dipasung hingga
ditimbun dengan
tanah dan terbenam
ke bawah tanah
(Banua Toru).
Bila terjadi gempa, itu
pertanda Naga
Padoha sedang
meronta di bawah
sana itulah keyakinan
orang Batak .
Alkisah, Mulajadi Na
Bolon menyuruh
Siboru Deak Parujar
kembali ke Benua
Atas. Tetapi dia
memilih tinggal di
Banua Tonga (bumi),
maka Mulajadi Na
Bolon mengutus RAJA
ODAP ODAP untuk
menjadi suaminya dan
mereka tinggal di
SIANJUR MULA MULA
di kaki gunung Pusuk
Buhit. Dari perkawinan
mereka lahir 2 anak
kembar :
1. RAJA IHAT MANISIA
(laki-laki) dan
2. BORU ITAM
MANISIA
(perempuan).
Tidak dijelaskan Raja
Ihat Manisia kawin
dengan siapa, ia
mempunya 3 anak laki
laki :
1. RAJA MIOK MIOK,
2. PATUNDAL NA
BEGU dan
3. AJI LAPAS LAPAS.
Raja Miok Miok
tinggal di Sianjur Mula
Mula, karena 2
saudaranya pergi
merantau karena
mereka berselisih
paham.
Raja Miok Miok
mempunyai anak laki-
laki bernama:
1. ENGBANUA,
dan 3 cucu dari
Engbanua yaitu:
1. RAJA UJUNG,
2. RAJA BONANG
BONANG dan
3. RAJA JAU.
Konon Raja Ujung
menjadi leluhur orang
Aceh dan Raja Jau
menjadi leluhur orang
Nias. Sedangkan Raja
Bonang Bonang (anak
ke-2) memiliki anak
bernama:
1. RAJA TANTAN
DEBATA,
Dan anak dari Tantan
Debata inilah disebut
SI RAJA BATAK, Yang
menjadi leluhur orang
Batak dan berdiam di
Sianjur MulaMula di
kaki Gunung Pusuk
Buhit!

Nyi Roro Kidul

Raja Batak mempunyai
dua Anak
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon
Guru Tatea Bulan
Guru Tatea Bulan
mempunyai anak laki-
laki 5 orang dan anak
perempuan 5 orang.
Anak Laki-laki
1. SI RAJA BIAK-BIAK,
pergi ke daerah Aceh.
2. TUAN SARIBURAJA.
3. LIMBONG MULANA.
4. SAGALA RAJA.
5. MALAU RAJA.
Anak Perempuan
1. SI BORU BIDING
LAUT
2. SI BORU PAREME
3. SI BORU ANTING
HAUMASAN
4. SI BORU SINTA
HAUMASAN
5. SI BORU NAN
TINJO,
Jadi mereka 10
bersaudara
Ketika terjadi skandal
cinta antara Saribu
Raja dengan Boru
Pareme kedua
adeknya Limbong
Mulana dan Sagala
Raja bersekutu untuk
membunuh Saribu
Raja karena dianggap
telah membuat aib
keluarga, kemudian
Lau Raja segera
memberitahukan serta
menyuruh Saribu Raja
agar pergi dari
kampung halamannya.
Mendengar berita dari
adeknya bahwa Saribu
Raja pergi
meninggalkan
kampung halamannya
sedangkan Boru
pareme bersembunyi
ke hutan.
Karena begitu
sayangnya Binding
Laut kepada adiknya
Saribu Raja dia pergi
mencari adiknya
tersebut (Baca kisah
Kembalinya Kanjeng
Ratu Nyi Roro Kidul-
Binding Laut)
Waktu itu mereka
semua belum
mempunyai marga
Marga pomparan
Yang harus mengakui
dan membujuk Nyi
Roro Kidul adalah
keturunan marga dari
semua saudara laki-
laikinya (marga
keturunan dari ito-
itonya)
antara lain :
1.RAJA UTI (Putra
Pertama dari Tatea
Bulan)
(Tidak Mempunyai
Keturunan)
2.SARIBURAJA (Putra
Ke 2 dari Tatea Bulan)
--1.SI RAJA LONTUNG
(Putra Pertama dari
Saribu Raja)
----1.Tuan Situmorang,
(Situmorang.)
------1.Lumban Pande,
------2.Lumban Nahor
------3.Suhutnihuta
------4.Siringoringo
------5,Sitohang
------6.Rumapea
------7.Padang
------8.Solin
----2.Sinaga raja,
(Sinaga.)
------1.Simanjorang
------2.Simandalahi
------3.Barutu
----3.Pandiangan,
(Pandiangan.)
------1.Pakpahan
------2.Gultom
------3.Sidari
------4.Sitinjak
------5.Harianja
----4.Toga nainggolan,
(Nainggolan.)
Rumahombar
------1.Parhusip
------2.Lumban
Tungkup
------3.Lumban Siantar
------4.Hutabalian
------5.Lumban Raja
------6.Pusuk
------7.Buaton
------8.Nahulae
----5.Simatupang
(Sitogatorop)
------1.Sianturi
------2,Siburian
----6.Aritonang (Ompu
Sunggu)
------1.Rajagukguk
------2.Simaremare
----7.Siregar
------1.Silo
------2.Dongaran
------3.Silali
------4.Siagian
------5.Ritonga
------6.Sormin
--2.SI RAJA BORBOR
(Putra ke 2 dari Saribu
Raja
----1.Datu Dalu
(Sahangmaima).
------1.Pasaribu,
Batubara, Habeahan,
Bondar, Gorat
------2.Tinendang,
Tangkar.
------3.Matondang.
------4.Saruksuk.
------5.Tarihoran.
------6.Parapat.
------7.Rangkuti.
----2.Sipahutar
----3.Harahap
----4.Tanjung
----5.Datu
Pulungan,bermarga
Pulungan.
------1.Lubis
------2.Hutasuhut.
----6.Simargolang,
bermarga Imargolang.
3.Limbong Mulana
(Putra ke 3 dari Guru
Tatea Bulan)
--1.Palu Onggang
(Memakai marga
Limbong)
--2.Langgat Limbong
(Memakai marga
Limbong)
----1.Limbong
----2.Sihole
----3.Habeahan
4.SAGALA RAJA (Putra
keempat dari Guru
Tatea Bulan)
--Sampai sekarang
keturunannya tetap
memakai marga
Sagala.
5.SILAU RAJA (putra
kelima dari Guru
Tatea Bulan)
--1.Malau
--2.Manik
--3.Ambarita
----1.Ambarita Lumban
Pea
----2.Ambarita Lumban
Pining
--4.Gurning

Sigale gale

http://www.silitonga-
ku.co.cc/2009/04/
legenda-sigale-
gale.html
Dahulu kala ada
seorang Raja yang
sangat bijaksana yang
tinggal di wilayah
Toba. Raja ini hanya
memiliki seorang
anak, namanya
Manggale. Pada
zaman tersebut masih
sering terjadi
peperangan antar satu
kerajaan ke kerajaan
lain.
Raja ini menyuruh
anaknya untuk ikut
berperang melawan
musuh yang datang
menyerang wilayah
mereka. Pada saat
peperangan tersebut
anak Raja yang semata
wayang tewas pada
saat pertempuran
tersebut.
Sang Raja sangat
terpukul hatinya
mengingat anak satu-
satunya sudah tiada,
lalu Raja jatuh sakit.
Melihat situasi sang
Raja yang semakin hari
semakin kritis ,
penasehat kerajaan
memanggil orang
pintar untuk
mengobati penyakit
sang Raja, dari
beberapa orang pintar
(tabib) yang dipanggil
mengatakan bahwa
sang Raja sakit oleh
karena kerinduannya
kepada anaknya yang
sudah meninggal. Sang
tabib mengusulkan
kepada penasehat
kerajaan agar dipahat
sebuah kayu menjadi
sebuah patung yang
menyerupai wajah
Manggale, dan saran
dari tabib inipun
dilaksanakan di
sebuah hutan.
Ketika Patung ini telah
selesai, Penasehat
kerajaan mengadakan
satu upacara untuk
pengangkatan Patung
Manggale ke istana
kerajaan. Sang tabib
mengadakan upacara
ritual, meniup Sordam
dan memanggil roh
anak sang Raja untuk
dimasukkan ke patung
tersebut. Patung ini
diangkut dari sebuah
pondok di hutan dan
diiringi dengan suara
Sordam dan Gondang
Sabangunan.
Setelah rombongan ini
tiba di istana
kerajaan , Sang Raja
tiba-tiba pulih dari
penyakit karena sang
Raja melihat bahwa
patung tersebut persis
seperti wajah anaknya.
Inilah asal mula dari
patung Sigale-gale
(Patung putra seorang
Raja yang bernama
Manggale).

Mual Pancur si pitu dai (Air 7 rasa)

Adalah satu air
dengan tujuh buah
pancuran yang
masing-masing,
pancuran mempunyai
tujuh sumber mata air,
yang masing-masing
mengalir sehingga
bergabung menjadi
satu aliran dalam satu
bak yang panjang,
kemudian dari bak
yang panjang itu
dibuat pancuran yang
tujuh itu menjadi tujuh
macam pula seperti
pada sumber mata
airnya padahal telah
bergabung dalam bak
yang panjang.
Air ini disebut
“ PANSUR SIPITU
DAI” (Pansur Tujuh
Rasa), karena
pancuran yang tujuh
itu mempunyai tujuh
macam rasa, ketujuh
pancuran ini, dibagi
menurut status
masyarakat yang ada
di Limbong yaitu :
1. Pansuran ni
dakdanak yaitu
tempat mandi bayi
yang masih belum ada
giginya
2. Pancuran ni sibaso
yaitu tempat mandi
para ibu yang telah
tua, yaitu yang tidak
melahirkan lagi
3. Pansuran ni ina-ina
yaitu tempat mandi
para ibu yang masih
dapat melahirkan
4. Pansur ni namarbaju
yaitu tempat mandi
gadis-gadis
5. Pansur ni pangulu
yaitu tempat mandi
para raja-raja
6. Pansur ni doli yaitu
tempat mandi para
lelaki
7. Pansur Hela yaitu
tempat mandi para
menantu laki-laki yaitu
semua marga yang
mengawini putri
marga Limbong
KEANEHANNYA :
1. Dari tujuh macam
rasa yang dari
pancuran itu tidak ada
satupun seperti rasa
air biasa
2. tujuh macam rasa
bersumber dari tujuh
mata air telah
bergabung dalam satu
Labuan (Bak Panjang)
tetapi anehnya rasa air
yang tujuh macam itu,
dapat terpisah
kembali, sehingga rasa
air yang
mengalir melalui
pancuran yang tujuh
itu menjadi tujuh
macam rasanya.
3. selama bergabung
dalam labuan (bak
panjang), rasa lainnya
hanya satu macam
saja, walaupun
sumbernya tujuh
macam dan keluarnya
tujuh macam
4. apabila air ini
diambil dan dibawa ke
tempat jauh dan tidak
direstui oleh penghuni
alam yang ada di
tempat itu, maka
airnya akan menjadi
tawar seperti air biasa.
5. Mandi di pancuran
ini, dapat
menyembuhkan
berbagai macam
penyakit.
6. apabila ada orang
jatuh saat mandi di
Pancuran ini, kalau
pada saat jatuh
kepalanya ke arah
hulu,
maka ia akan jatuh
sakit, tetapi kalau
kepalanya ke arah
hilir, maka ia akan
meninggal dunia.
7. di pancuran ini,
orang dapat berdoa
kepada Debata Mula
Jadi Nabolon (Tuhan
Yang Mah Esa)
memohon
kesembuhan,
memohon agar murah
rejeki dan memohon
bermacam keinginan
lainnya, dan
ternyata sudah banyak
orang yang telah
berhasil
memperolehnya.
Part II
Pancur Tujuh Rasa
adalah melambangkan
angka sakti atau
bilangan sakti, karena
bilangan tujuh itu
adalah bilangan sakti
dalam kehidupan
ritual bagi suku Batak,
dan juga
melambangkan
beberapa macam
keadaan suku Batak.
Adapun berbagai
macam keadaan yang
dilambangkan Pancur
Tujuh Rasa ini ialah :
1. menurut ahli
perbintangan Batak,
bahwa dunia ini
beserta isinya, di
ciptakan oleh Debata
Mula Jadi Nabolon
(Tuhan Yang Maha
Esa) dalam tujuh hari
yaitu mulai dari artia
hingga samirasa yaitu
hari pertama hingga
hari ke tujuh, menurut
penanggalan Batak
jumlah hari penciptaan
yang tujuh inilah yang
merupakan dasar
untuk dikembangkan
menjadi nama-nama
hari yang tigapuluh
untuk mengikuti
peredaran bulan
mengelilingi bumi
selama satu bulan.
Jumlah hari yang tujuh
itu, sama dengan
jumlah hari yang
pergunakan kalender
Internasional, yang
lazim disebut dengan
istilah seminggu,
namun perbedaan
antara kalender
Internasional dengan
kalender penanggalan
Batak ialah : kalender
Internasional
berpedoman kepada
siang, yakni
berdasarkan
peredaran matahari,
yang dimulai dari
tengah malam yaitu
jam 0.00 sampai
dengan yakni jam 0.00.
Tetapi penanggalan
Batak berpedoman
kepada malam yang
berdasarkan
peredaran bulan yaitu
dimulai dengan jam
18.00 (jam 6.00
menjelang malam)
sampai dengan jam
18.00.
Adapun nama-nama
hari yang tujuh itu,
kemudian
dikembangkan
menjadi tiga puluh,
mengikuti peredaran
bulan dalam satu
bulan, adalah sebagai
berikut :
Artia (hari pertama,
senin), suma (hari
kedua selasa), anggara
(hari ketiga rabu),
muda (hari keempat
kamis), boras pati
(hari kelima Jumat),
singkora (hari keenam
sabtu), samisara (hari
ketujuh minggu),
artian ni aek, suma ni
mangodap, anggara
sampulu, muda ni
mangodap, boraspati
ni tangkop, singkora
purnama, samisara
purnama, tula, suma
ni holom, anggara ni
holom, nada ni
holom, singkora mora
turunan, samisara
mora turunan, artian
ni angga, suma ni
mate, anggara ni
begu, muda ni mate,
boras pati na gok,
singkora duduk,
samisara bulan mate,
hurung, ringkar.
Kalender Internasional
menghitung hari 356
hari atau 12 bulan
dalam setahun, tetapi
penanggalan batak
menghitung hanya 355
hari atau 12 bulan
namun sekali 3 (tiga)
tahun, ada bulan
ke-13 yang disebut
bulan lamadu.
Dalam kehidupan suku
Batak ada ahli
perbintangan yang
namanya disebut
“ Datu Siboto Ari”.
Datu Siboto Ari ini
dapat mengetahui dan
menentukan, hari
yang baik, hari yang
sial, hari yang naas,
hari yang subur dan
hari-hari lainnya. Datu
Siboto Ari (ahli
perbintangan Orang
Batak) yang dapat
mengetahui dan
menentukan mana
hari baik dan mana
hari sial, bukanlah
ilmu ramal-meramal
tetapi sesuai dengan
ilmu pengetahuan
yang mereka kuasai
maka mereka dapat
membaca dan
mengartikan situasi
yang akan terjadi pada
saat-saat tertentu,
atau hari-hari tertentu
sesuai dengan
pengaruh dan
hubungan letak dan
posisi bulan pada garis
edarnya dan
akibatnya terhadap
manusia.
Jadi jelaslah bahwa
ilmu perbintangan
Batak itu bukanlah
ilmu ramal meramal,
melainkan adalah ilmu
pengetahuan alam
atau ilmu hukum
alam. Menurut ilmu
perbintangan batak
bahwa manusia itu
sangat erat kaintannya
dengan alam
semensta, sehingga
letak dan posisi bulan
pada garis edarnya, ini
sangat berpengaruh
dan mempunyai
akibat tertentu,
terhadap kehidupan
manusia maka oleh
karena itu untuk
mengerjakan suatu
pekerjaan tertentu,
harus dipilih hari yang
baik. Para Datu Siboto
Ari (Ahli Perbintangan
Batak), pada
umumnya mereka
menuliskan ilmu
pengetahuan
perbintangan itu pada
sepotong bambu yang
disebut “Bulu
Parhalaan”.
Didalam bulu
parhalaan ini
dituliskan daftar hari
baik dan hari sial serta
hari-hari lainnya,
sesuai dengan
pengaruh dan akibat
letak posisi bulan
pada garis edarnya
terhadap manusia
yang berhubungan
dengan bentuk
pekerjaan yang akan
dikerjakan dan juga
disesuaikan dengan
tingkatan status orang
yang akan
mengerjakan
pekerjaan itu. Hanya
sayang Bulu parhalaan
itu, sangat sederhana
sekali, jadi masih
memerlukan usaha
kita sekarang untuk
menyempurnakannya,
sehingga menjadi ilmu
yang sangat
bermanfaat luas
dalam kehidupan
manusia.
2. Pansur Sipitu Dai
(Pancur Tujuh Rasa)
juga melambangkan
bahwa penguasa Alam
Semesta, bersemayam
pada tingkatan langit
yang Ketujuh, dan
pada lapisan awan
yang ketujuh. Hal ini
dapat kita lihat dalam
Tonggo-tonggo si Raja
Batak (Doa Siraja
Batak) sewaktu si Raja
Batak mengadakan
upacara persembahan
menyembah Debata
Mulajadi Na Bolon di
Puncak Dolok Pusuk
Buhit, dengan
Tonggo-tonggo (Doa
sebagai berikut) :
“ Hutonggo hupio
hupangalu alui ma
hamu ompung,
Debata Mula Jadi
Nabolon, dohot tamu
ompung Debata
Natolu, natolu suhu
natolu harajaon,
namanggomgomi
langit dohot tano,
dohot jolma manisia”.
(Aku berdoa,
menyebutkan dan
berseru padamu
Tuhan, Tuhan Yang
Maha Kuasa, Tuhan
dengan Tiga nama
Tuhan dengan
kekuasaan, tiga
kerajaan, yang
menguasai langit bumi
serta segenap isinya).
Mula ni dungdang
mula ni sahala,
Siutung-untung
nabolon, silaeng laeng
mandi, Siraja inda-
inda, siraja indapati.
(Awal dari
“ dungdang” awal dari
kharisma, Siuntung-
untung na bolon,
burung layang-layang,
Siraja inda-inda, Siraja
idapati).
Napajungjung pinggan,
dihos ni mataniari,
Nahinsa-hinsa suruon,
nagirgir mangalapi,
nasintak sumunde-
sunde, nauja
manotari, siboto
unung-unung, nauja
manangi-nangi. (Yang
menjingjing piring di
tengah teriknya
matahari, yang
gampang disuruh, dan
mudah jemput, yang
maha tau apa yang
dibicarakan, serta
yang peka).
Napabuka-buka pintu,
napadung-dang
dungdang ari,
napasorop-sorop
ombun, di gorjok-
gorjok ni ari,
parambe-rambe
nasumurung, sitapi
manjalahi, napatorus-
torus somba, tu
ompunta Mulajadi.
(Yang membuka pintu,
yang menentukan
hari, yang
meneduhkan hari,
diatas teriknya panas
mata hari,
menenangkan yang
panas hati, dan
menunjukkan jalan
yang baik, yang
meneruskan doa
kepada Tuhan).
Tuat ma hamu
ompung, sian ginjang
ni ginjangan, sian
langit ni langitan, sian
toding banua ginjang,
sian langit na pitu
tingka, sianombun na
pitu lampis, sian
bintang na
marjombut, tu lape-
lape bulu duri, sian
mual situdu langit, tu
gala-gala napul-pulan,
hariara sangka
mandeha, baringin
tumbur jati, disi do
partungkoan ni
ompunta Mulajadi.
(Datanglah Engkau ya
Tuhan, dari tempat
yang Maha Tinggi dari
atas langit, serta alam
semesta. Dari langit
yang ketujuh dan dari
awan yang ketujuh
lapis, “sian bintang
najorbut, tu lape-lape
bulu duri ”. Dari mata
air menuju langit, tu
gala-gala napulpulan.
Hariara sangka
mendeha, baringin
tumbur jati, disitulah
bersemayam, Allah
Bapak maha Pencipta
langit dan bumi).
Jadi dalam tonggo-
tonggo ini, jelas kita
mengetahui bahwa
Allah Pencipta alam,
bersemayam di langit
yang ke tujuh.
3. Pansur si Pitu Dai
(Pancuran tujuh rasa),
juga melambangkan
bahwa ramuan obat-
obatan tradisionil
Batak, banyak yang
harus bersyarat tujuh
misalnya : harus tujuh
macam, harus tujuh
kali, harus tujuh buah,
harus tujuh lembar,
atau harus tujuh
potong.
4. Pansur sipitu Dai
(Pancur tujuh rasa),
juga melambangkan
tata tertib acara
margondang (acara
Gendang Batak). Pada
acara margondang,
acara harus dimulai
dengan Gondang si
Pitu Ombas (tujuh
buah irama lagu
Gendang dimainkan
secara non stop tanpa
di ikuti dengan tarian).
Setelah gendang sipitu
Ombas selesai, maka
dimulailah acara
menari, tetapi acara
ini, harus dimulai
dengan “Pitu Hali
Mangaliat” (Arak-
arakan tujuh kali
keliling lapangan
menari) dan untuk
menutupi acara
margondang ini, harus
dimulai dengan acara
Pitu hali mangaliat.
5. Pansur Sipitu Dai
(Pancuran tujuh rasa)
juga melambangkan
“ partuturan” (panggilan)
dalam stuktur atau
susunan Tarombo
(silsilah) karena hanya
tujuh Generasi yang
mempunyai Pertutuan
(panggilan) dalam satu
garis keturunan yaiut :
1. Ompu : Nenek
moyang yaitu semua
genarasi mulai dari
tiga generasi diatas
kita.
2. Ompung : Kakek,
yaitu orang yang dua
generasi diatas kita
3. Amang : Ayah, yaitu
yang satu generasi
diatas kita
4. Haha Anggi : Abang
Adik yaitu orang yang
segenerasi dengan kita
5. Anak : Anak yaitu
orang yang saatu
generasi di bawah kita
6. Pahompu : Cucu,
yaitu orang yang dua
generasi di bawah kita.
7. Nini : Cicit yitu
orang yang mulai tiga
generasi di bawah kita.
6. Pansur Sipitu Dai
(Pancur Tujuh rasa0
juga melambangkan
bahwa dari sepuluh
orang keturunan Guru
Tatea Bulan, hanya
tujuh orang yang
mempunyai keturunan
langsung, karena tiga
orang dari mereka
menjadi orang sakti :.
Adapun orang yang
menjadi sakti ialah :
1. Raja Uti Sakti dan
tinggal di udara, di
darat dan di laut.
2. Boru Biding laut
(boru Tunghau), sakti
dan tinggal di hutan
atau darat
3. Nan tinjo Sakti dan
tinggal di Danau Toba
atau laut.
Adapun yang
mempunyai keturunan
langsung sebanyak
tujuh orang yaitu :
1. Saribu Raja
2. Limbong Mulana
3. Sagala Raja
4. Silau Raja
5. Boru Pareme
6. Bunga Haomasan
7. Anting Haomasan
Nama yang tujuh ini di
gabung menjadi satu
ikatan yang
dinamakan “Sipitu
Tali’ (tujuh satu
ikatan), dan nama
yang tujuh ini jugalah
yang menjadi
pedoman untuk
pembagian negeri
limbong menjadi Pitu
Turpuk (tujuh daerah
perkampungan),
kemudian sipitu tali
atau sipitu turpuk ini
juga yang menjadi
dasar tata
pelaksanaan hukum
adat di negeri
limbong, baik secara
pribadi, maupun
secara kelompok.
Pemerintahan
Limbong dilaksanakan
oleh kumpulan dari
utusan dari tiap
kelompok atau
turpuk, yang disebut
dengan nama Raja
Bius (Raja Wilayah)
atau dengan istilah
Raja Ni Sipitu Tali.
Demikian juga dalam
acara kebudayaan
ritual, misalnya
mengadakan pesta
Horbo Bius atau
horbo lae-lae, maka
raja Bius atau raja ni
Sipitu tali inilah yang
paling banyak
berperan dengan raja-
raja yang lain yaitu :
‘Jonggi Manaor” dari
turpuk Sidauruk
“ Raja Sori” dari turpuk
Borsak Nilaingan
“ Raja Paradum” dari
turpuk Nasiapulu
“ Manontang Laut”
dari turpuk Sihole
“ Raja Paor” dari
turpuk habeahan
Bersamaan dengan
itu, lahirlah
Sisingamangaraja dari
marga Sinambela dan
juga Palti Raja dari
marga Sinaga.
Kesaktian Jonggi
Manaor ialah Batara
Guru Doli bertempat
tinggal di Limbong.
Kesaktian
Sisingamangaraja ialah
dari Bala Sori
bertempat tinggal di
Bakkara, dan
kesaktian Palti Raja
ialah Bane Bulan
bertempat tinggal di
Palipi.
Jonggi Manaor beserta
dan Raja Sori, Raja
Paradum, Manontang
Laut dan Raja Paor,
mereka inilah
pelaksana utama
dalam upacara “Hoda
Somba” yaitu upacara
persembahan,
mempersembahkan
kuda kepada Debata
Mulajadi Na Bolon
(Tuhan Yang Maha
Esa). Kuda ini
dipersembahkan
melalui perantaraan
Raja Uti, “Raja
Hatorusan natorus
marpangidoan tu
Debata ” (yang biasa
atau yang bisa
langsung bermohon
kepada Tuhan Yang
Maha Esa). Upacara
Hoda Somba ini
diadakan terutama
kalau terjadi kemarau
panjang di seluruh
wilayah Samosir.
Maka Hoda Somba
(Kuda Persembahan)
disediakan oleh
keturunan Lontung
dari Samosir,
kemudian kuda ini
diantarkan ke
Limbong yang
Upacara penyerahan
ini dipimpin oleh
marga Situmorang,
kemudian di Limbong
diadakan upacara
memohon turunnya
hujan mereka pergi ke
Simanggurguri dengan
membawa
seperangkat Gendang
di Simanggurguri
Jonggi Manaor
Martonggo (berdoa)
memohon turunnya
Hujan, dan pada saat
itu juga pasti datang
hujan sehingga semua
peserta upacara itu
harus basah kuyup di
Limbong di Guyur air
Hujan.
Hoda Somba (Kuda
Persembahan) ini
dipotong kemudian
dikuliti, semua
dagingnya dibagi dan
dimakan menurut tata
cara hak
(Parjambaron)menurut
status dan kelompok
masing-masing kepada
semua peserta
upacara. Hoda Somba
(Kuda Persembahan).
Kemudian kulit Kuda
itu, diantarkan kepada
Raja Uti di Barus dan
yang mengatarkannya
ialah Jonggi Manaor,
Raja Sori, Raja
Paradum, Manontang
Laut dan Raja Paon,
mereka berjalan kaki
dari negeri Limbong
melewati Hutan
belantara menuju
Barus.
Tetapi … setelah
mereka berjumpa
dengan Raja Uti di
Barus, kulit Kuda yang
mereka bawa dari
Limbong itu menjelma
menjadi Kuda yang
hidup sebagaimana
Kuda itu sebelum
dipotong.
Pansur Sipitu Dai
(Pancuran tujuh rasa)
ini juga mempunyai
kisah tersendiri dari si
Boru Pareme, karena
di Pansur Sipitu dai
inilah si Raja Lontung
bertemu dengan si
Boru Pareme, yang
kemudian mereka
kawin. Hingga
sekarang, apabila ada
orang yang kesurupan
si Boru Pareme, maka
orang itu selalu
meminta manortor
(Menari) di Pansur
Sipitu Dai. Siboru
Pareme dengan Raja
Lontung mempunyai 7
(tujuh) keturunan
yaitu : Sinaga,
Situmorang,
Pandiangan,
Nainggolan,
Simatupang,
Aritonang, Siregar.
Dari anak Lontung
yang tujuh orang ini,
anak yang paling
bungsu yaitu Marga
“ Siregar”, adalah
menantu kesayangan
bagi marga Limbong.
Hal itu dapat
dibuktikan kalau
pansur Ni Hela salah
satu Pancuran dari
yang tujuh yang di
khususkan untuk
tempat mandi semua
menantu (yang
mengawani putri
Limbong), kalau
pansur Hela ini russak,
maka hanya marga
Siregarlah yang
berkewajiban dan
berhak untuk
memperbaiki
Pancuran itu.
Demikianlah Kisah Pitu
Halongangan Opat
Batu Tolu Aek, (Tujuh
keajaiban Empat Batu
Tiga Air), yang terletak
di Kaki Dolok Pusut
Buhit Kecamatan
Sianjur Mula-mula,
semoga bukti-bukti
sejarah yang masih
mempunyai keanehan
ini, dapat dilestarikan
dan dikembangkan
oleh generasi penerus
Bangsa Indonesia
karena kebudayaan
yang ada di Sianjur
Mula-mula adalah
milik seluruh BANGSA
INDONESIA HORAS.

Asal Muasal Tuak (Nira)

Menurut cerita, tuak
bagot lebih dulu ada
dari tuak kelapa.
Rasanya pun tidaklah
sama. Kalau tuak
kelapa rasanya lebih
manis dan kadar
alkoholnya lebih tinggi
dibanding tuak bagot.
Sedang tuak bagot
bagot rasanya agak
asam, kadar
alkoholnya lebih
rendah. Kebanyakan
kedai tuak lebih suka
menjual tuak bagot,
karena peminatnya
juga lebih banyak.
Selain itu tuak bagot
juga dianggap mujur
untuk memperlancar
air susu ibu yang baru
melahirkan. Itu
sebabnya ibu yang
baru melahirkan
terutama di desa
selalu dianjurkan
minum tuak, agar
"tarusnya" deras
sehingga bayinya tidak
merasa kekurangan
minum.
Mungkin pula bisa
dipercaya bisa tidak,
hal itu ada
hubungannya dengan
kisah terjadinya tuak
bagot, konon bermula
dari airmata seorang
gadis rupawan yang
mengorbankan dirinya
menjelma menjadi
sebatang pohon enau
(bagot) untuk
membebaskan
ayahnya dari belenggu
hutang. Syahdan,
dahulu kala di sebuah
perkampungan di
pinggiran Danau Toba
tersebutlah seorang
anak lelaki tua hidup
berdua dengan anak
gadisnya yang
berwajah rupawan
(cantik). Lelaki tua itu
bernama Jalotua, dan
anak gadisnya
bernama Pitta Bargot
Nauli. Ada pun Jalotua
sudah lama menduda
sejak kematian
isterinya tatkala Pitta
Bargot berusia dua
tahun. Hidup mereka
sangatlah sengsara
karena kemiskinan.
Kalaupun mereka
mengusahai secuil
tanah, itu hanya dapat
menghidupi mereka
untuk jangka waktu
tidak lama.
Kesusahan bagi
Jalotua dan anak
gadisnya datang silih
berganti. Apalagi
ketika suatu ketika si
Pitta Bargot jatuh
sakit, bertambahlah
kesusahan hati lelaki
itu. sudah hidup sulit,
datang lagi penyakit
menimpa anak
tercinta. Pikir punya
pikir, akhirnya Jalotua
pergi menjumpai
orang kaya di
kampung itu minta
pinjaman uang untuk
biaya mengobati
anaknya. Tentu saja
Jalotua tidak
mempunyai borg
(jaminan) kecuali
sebidang tanah yang
mereka usahai selama
ini.
Suatu malam, Pitta
Bargot berkata pada
ayahnya: "Hidup kita
terus menerus susah.
Aku pikir kita perlu
mengadakan suatu
acara margondang
sambil berdoa kepada
Mulajadi Nabolon,
siapa tahu nasib kita
bisa berobah".
Tapi ayahnya
menjawab:
"Bagaimanalah
mungkin itu boru,
biaya untuk
margondang itu cukup
besar, apa daya kita.
Kalau kita mau pinjam
uang pun apa
jaminannya nanti,
sedang untuk makan
pun kita sulit".
Mendengar ucapan
ayahnya itu, Pitta
Bargot berkata :
"Kalau itu
persoalannya, aku
bersedia amang
berikan sebagai
jaminan. Mungkin
orang kaya itu mau
memberikan uangnya
kita pinjam. Mulanya
Jalotua tak tega
menuruti usul putrinya
itu, tapi karena Pitta
Bargot mendesak,
akhirnya jadi juga
anak gadisnya itu
ditawarkan kepada
orang kaya itu untuk
dijadikan "barang"
jaminan.
Kemudian
berangkatlah
keduanya ke rumah
orang kaya tersebut.
Setelah hal itu
diberitahu, si orang
kaya ternyata setuju
memberikan pinjaman
dengan Pitta Bargot
sebagai jaminan.
Orang kaya itu
berpikir, kalau pun
nanti Jalotua tidak
mampu
mengembalikan uang
pinjamannya maka
sesuai dengan
perjanjian, si Pitta
Bargot yang cantik itu
jadi miliknya dan nanti
bisa dijadikan istri
kelima. Setelah uang
itu diberikan kepada
Jalotua,maka Pitta
Bargot pun tinggallah
sementara di rumah
orang kaya itu.
Berangkatlah si Jalotua
membawa uang
pinjamannya, mencari
pargonsi (grup
gondang sabangunan)
sesuai saran anak
gadisnya. Setelah
pemusik gondang
sudah ditemukan, dan
hari pelaksanaannya
ditentukan, si Jalotua
pun menjumpai anak
gadisnya di rumah si
orang kaya
memberitahu rencana
tersebut.
Pitta Bargot kemudian
menjumpai si orang
kaya meminta izin
agar diperkenankan
ikut dalam pesta
gondang pada hari
yang ditentukan
ayahnya. Tapi Pitta
Bargot juga bertanya :
"Bagaimanakah
sekiranya penyakitku
kambuh saat pesta
berlangsung, lalu aku
mati di sana, apakah
kami juga membayar
hutang yang dipinjam
damang?".
Si orang kaya
menjawab : "Baiklah,
kau boleh pergi
menghadiri pesta itu.
tapi setelah pesta
selesai, kembalilah ke
sini. Tentang kematian
yang kau sebut, itu
adalah takdir setiap
manusia kalau sudah
waktunya. Kalau
memang kau
meninggal saat pesta
gondang itu, ayahmu
tak perlu membayar
hutang-hutangnya".
Pitta Bargot lalu
menceritakan hal itu
pada ayahnya. Tapi
dalam hatinya sudah
ada pikiran tertentu,
bahwa orang kaya itu
ingin memiliki menjadi
istri. Pitta Bargot tidak
percaya dengan
ucapan orang kaya itu.
Dia juga kasihan
ayahnya tak sanggup
membayar hutangnya
setelah pesta selesai.
Pitta Bargot pun
martonggo
(memohon) kepada
Mulajadi Na Bolon
agar ia dijadikan
menjadi sesuatu yang
nantinya bisa
membebaskan
ayahnya dari
kesusahan. Saat itu
Pitta Bargot telah
merasakan bahwa
keinginannya akan
dikabulkan, sesuai
dengan mimpinya.
Berkatalah Pitta
Bargot kepada
ayahnya : "Amang,
janganlah bersedih
bila ini kukatakan.
Kalau aku mati nanti
di pesta gondang itu,
itu adalah berkat bagi
kehidupan dan
kebahagiaanmu. Tapi
ingatlah amang,
setelah aku mati,
janganlah mayatku
dikubur, karena aku
nanti akan berubah
menjadi sebatang
pohon yang tumbuh
di atas tanah yang bisa
amang saksikan
sepanjang masa. Kalau
amang membuat
rumah nanti, ambillah
rambutku menjadi
atapnya, dan
tanganku bisa
dijadikan tiang-tiang
dan urur. Kalau
badanku, amang
ambillah untuk papan
lantai atau dinding.
Dan kalau amang tak
punya uang, pukulilah
bagian mataku, agar
air mataku keluar.
Tampunglah airmata
itu, karena nanti itu
bisa dijual menjadi
minuman yang disukai
banyak orang".
Mendengar hal itu,
ayahnya sangat sedih.
Pendek cerita
gondang pun
diadakan di halaman
rumahnya. Saat pesta
sudah berlangsung
dan musik gondang
terdengar tiga
putaran, si Pitta
Bargot mendadak
kesurupan. Saat
gondang dibunyikan
untuk ke tujuh kalinya,
Pita Bargot kejang-
kejang, dan tak lama
kemudian kedua
kakinya melesak ke
dalam tanah. Yang
lebih
menggemparkan,
sekonyong-konyong
seluruh tubuhnya
berubah sedikit demi
sedikit menjadi
sebatang pohon yang
makin lama makin
besar, lengkap dengan
daun-daun
sebagaimana halnya
sebatang pohon
hidup. Seluruh hadirin
yang ada di pesta itu
terkejut dan
berhamburan kesana-
kemari, karena
peristiwa seperti itu
belum pernah terjadi.
Sejak itu pohon itu
diberi nama "bagot",
yang diambil dari
nama Pitta Bargot.
Pohon itu berurat ke
bawah, berdaun ke
atas. Lama-lama
tumbuh pula "mata"
pohon yang disebut
juga arirang. Setelah
tiba saatnya Jalotua
memukuli bagian
mata pohon itu seperti
dipesankan putrinya.
Air yang keluar deras
dari air mata bagot itu
kemudian dinamakan
tuak. Sejak itu Jalotua
menjualnya kepada
orang-orang
sekampung, yang lama
kelamaan menyebar
ke berbagai penjuru.
Pohon bagot itu pun
beranak pinak,
tumbuh di berbagai
tempat, dan memberi
kehidupan pula bagi
orang lain.
Kemudian Jalotua pun
mendirikan rumahnya.
Semua perlengkapan
untuk rumah tak ada
yang dibeli, tapi
dimanfaatkan dari
pohon bagot seperti
pesan Pitta bargot.
Mulai dari ijuk,
batang, sampai lidi
menjadi benda yang
bermanfaat untuk
manusia.

Siboru Natumandi Hutabarat

http://
tobings.wordpress.com/2009/07/24/
legenda-putri-
bidadari-%E2%80%9Csi-
boru-natumandi-
hutabarat%E2%80%9D/
Gadis ini selalu dipingit
oleh kedua
orangtuanya karena
parasnya yang cukup
cantik bak seorang
bidadari. Di zamannya,
gadis ini diyakini yang
tercantik diantara
gadis-gadis di
Silindung (Tarutung).
Tak heran, banyak
pria yang tergila-gila
kepadanya. Namun
gadis ini menurut
cerita masyarakat dan
keturunan
keluarganya yang saat
ini masih hidup
terakhirnya menikah
dengan seekor ular.
Berikut hasil
penelusuran wartawan
media ini, tentang
legenda Si Boru
Natumandi selama
sebulan lebih. Berawal
saat si boru
Natumandi diusianya
yang sudah beranjak
dewasa, memiliki
pekerjaan sehari-hari
sebagai seorang
petenun ulos.
Disebuah tempat
khusus yang
disediakan oleh
orangtuanya, setiap
hari Si boru
Natumandi lebih
sering menyendiri
sambil bertenun,
kesendirian itu bukan
karena keinginannya
untuk menghindar
dari gadis-gadis desa
seusianya, namun
karena memang
kedua orangtuanya
lah memingit karena
terlalu sayang.
Sayang, saat
penelusuran ke
berbagai narasumber
untuk mengetahui
siapa sebenarnya
nama kedua
orangtuanya, marga-
marga Hutabarat yang
tinggal di Desa
Hutabarat Banjar
Nauli, Kecamatan
Tarutung, Kabupaten
Tapanuli Utara
(Tempat asal kampung
halaman Si boru
Natumandi) tidak
satupun yang
mengetahui persis
siapa nama kedua
orangtuanya.
Namun salah satu
warga Desa Hutabarat
yakni Lomo Hutabarat
(51) yang mengaku
satu garis keturunan
dengan keluarga Si
Boru Natumandi
belum lama ini
berkata, bahwa
dulunya kampung
halaman Siboru
Natumandi adalah di
Dusun Banjar Nahor,
Desa Hutabarat,
namun dusun itu
kemudian pindah
sekitar 500 meter dari
desa semula dan
sekarang diberi nama
Dusun Banjar Nauli.
Dikatakan Lomo
Hutabarat, bahwa dari
3 anak si Raja Nabarat
(Hutabarat) antara
lain Sosunggulon,
Hapoltahan dan
Pohan, Si boru
Natumandi dikatakan
berasal dari keturunan
Hutabarat Pohan.
Hanya penuturan itu
yang dapat diperoleh
dari Lomo Hutabarat.
Sementara itu
keturunan Si boru
Natumandi lainnya
yakni L Hutabarat (76)
mengisahkan, bahwa
dia juga tidak
mengetahui persis
cerita yang
sebenarnya tentang Si
boru Natumandi,
menurutnya ada
beberapa versi
tentang legenda gadis
cantik ini.
Berikut kisah Siboru
Natumandi yang
diketahui L Hutabarat.
Suatu hari di siang
bolong, Si boru
Natumandi sibuk
bertenun di gubuk
khususnya, tiba-tiba
seekor ular besar jadi-
jadian
menghampirinya,
konon ular tersebut
dikatakan orang sakti
bermarga
Simangunsong yang
datang dari Pulau
Samosir. Saat ular itu
berusaha
menghampiri si boru
Natumandi, ia justru
melihat sosok ular
tersebut adalah
seorang pria yang
gagah perkasa dan
tampan. Saat itulah,
sang ular berusaha
merayu dan mengajak
Si boru Natumandi
untuk mau menikah
dengannya.
Melihat ketampanan
dan gagahnya sang
ular jadi-jadian
tersebut, Siboru
Natumandi akhirnya
menerima pinangan
tersebut, setelah
pinangannya diterima,
sang ular kemudian
mengajak Si Boru
Natumandi untuk
pergi menuju kearah
sungai Aek Situmandi
dan melewati tempat
pemandian sehari-hari
Si boru Natumandi di
Sungai Aek Hariapan.
Dari tempat itu,
mereka meninggalkan
pesan kepada
orangtua Si Boru
Natumandi dengan
cara menabur sekam
padi dari tempat
bertenun hingga ke
Liang Siboru
Natumandi sekarang.
Pesan sekaligus tanda
itu artinya agar Bapak/
Ibu dan semua
keluarga mengetahui
kalau dia telah pergi
dan akan menikah
dengan seorang pria,
dimana sekam padi
tersebut bermakna
sampai dimana sekam
ini berakhir, disitulah
Si Boru Natumandi
berada.
Sore harinya, saat
kedua orangtuanya
pulang dari
perladangan, mereka
mulai curiga melihat
putri semata wayang
mereka tidak ada
ditempatnya bertenun
dan juga tidak ada
dirumah, akhirnya
kedua orangtuanya
memutuskan untuk
memberitahukan
warga sekitar untuk
melakukan pencarian.
Melihat sekam padi
yang bertaburan bak
sebuah garis pertanda
dan tak kunjung
ditemukannya Si boru
Natumandi hingga
keesokan harinya,
akhirnya taburan
sekam di tepi sungai
Aek Situmandi dan
berujung disebuah
liang/gua yang hanya
berjarak sekitar 500
meter dari kampung
halaman Si boru
Natumandi diyakini
kalau Si boru
Natumandi menikah
dengan seekor ular.
Namun versi cerita
lainnya, ternyata Si
boru Natumandi tidak
menikah dengan
siluman ular yang
bermarga
Simangunsong, akan
tetapi siluman ular
tersebut malah
meninggalkan si boru
Natumandi begitu saja
disebuah hamparan
tak berpenduduk.
Setelah ditinggalkan
begitu saja, Si boru
Natumandi terus
menerus menangis
karena telah tertipu
siluman ular tersebut,
namun ketika itu
seorang pengembala
datang dan
menghampirinya,
penggembala tersebut
juga terpikat melihat
keindahan tubuh dan
kecantikannya, lalu
sipengembala
mengajaknya agar
mau menikah
dengannya. Konon
dalam versi ini, si
pengembala tersebut
dikatakan bermarga
Sinaga.
Sipengembala
kemudian membawa
Si boru Natumandi ke
Pulau Samosir untuk
dinikahi. Berselang
beberapa generasi
keturunan si boru
Natumandi dan
sipengembala
bermarga Sinaga
tersebut di Samosir,
keturunannya
dikatakan pernah
berusaha mencari asal
usul si boru
Natumandi (Untuk
mencari Tulang/
pamannya). Usaha pun
dimulai dengan
menyeberangi Danau
Toba dengan sebuah
perahu kayu menuju
Kota Tarutung dengan
membawa sejumlah
makanan khas adat
batak. Namun
sesampainya di
Sipoholon (Kota
Sebelum Tarutung
saat ini) ada
keturunan Hutabarat
Pohan bermukin
disana, yakni dari
keturunan Raja
Nabolon Donda Raja.
Saat rombongan
bertanya tentang Si
boru Natumandi,
keturunan Raja
Nabolon Donda Raja
yang tinggal di
Sipoholon langsung
mengakui kalau
merekalah keturunan
si boru Natumandi,
dan saat itu makanan
yang dibawa
keturunan si boru
Natumandi langsung
mereka terima hingga
akhirnya acara
syukuran pun
dilakukan. Padahal
keturunan Si boru
Natumandi
sebenarnya adalah
anak kedua dari si
Hutabarat Pohan
yakni si Raja
Nagodang yang
sampai saat ini masih
ada tinggal di Dusun
Banjar Nauli.
Setelah acara
syukuran dilakukan,
rombongan keturunan
Si Boru Natumandi
pun berangkat
kembali ke Samosir
untuk
memberitahukan
kabar tersebut kepada
keluarga. Namun saat
menyeberangi Danau
Toba perahu yang
mereka tumpangi
tenggelam hingga
semua yang ada
dalam perahu
meninggal dunia.
Versi selanjutnya, Si
boru Natumandi
dikatakan menikah
dengan resmi, hal ini
menurut L Hutabarat,
karena sejak dia masih
kecil pernah melihat
sebuah guci yang
terbuat dari kayu
tempat mas kawin si
boru Natumandi di
rumah saudaranya
boru Simatupang. Saat
itu, boru Simatupang
mengatakan kepada L
Hutabarat bahwa guci
tersebutl adalah
tempat mas kawin si
boru Natumandi.
Guci tersebut konon
memiliki sejarah
tersendiri, dimana isi
guci tersebut hanya
dipenuhi kunyit yang
suatu saat akan
berubah menjadi
kepingan/batangan
emas, hal ini diberikan
dan dipastikan
keluarga suami Si
boru Natumandi yang
memiliki kesaktian,
dan selanjutnya
kepada kedua
orangtuanya diminta
untuk tidak membuka
guci tersebut sebelum
tujuh hari tujuh
malam. Akan tetapi,
orangtua Si boru
Natumandi melanggar
permintaan tersebut.
Setelah kedua
orangtuanya
membuka guci itu,
ternyata kunyit
tersebut sudah mulai
berubah mejadi
batangan emas murni.
Nasib sial pun dialami
kedua orangtua si
boru Natumandi kala
itu. Tatkala usia
orangtua si boru
Natumandi beranjak
ujur, akhirnya mereka
menimbun emas
tersebut di Dolok
Siparini (Masih di Desa
Hutabarat) karena
takut akan menjadi
bahan rebutan bagi
adik-adiknya dan
keluarganya (Dari
pihak laki-laki) suatu
saat nanti, sebab
banyak diantara
keluarganya yang
mengetahui tentang
kisah guci ini.
“ Cerita saya ini
bukanlah yang
menjadi sejarah yang
pasti, saya juga hanya
mendengar cerita-
cerita dari sejak saya
masih kecil, sehingga
cerita saya tadi
bukanlah yang bisa
saya bilang pasti,
kalau cerita sejarah
yang sebenarnya tidak
ada lagi sekarang yang
tahu,” tutur L
Hutabarat sambil
meneguk kopinya
yang sudah mulai
dingin.
Saat ini, lokasi Gua
Liang Si Boru
Natumandi dijadikan
sebagai salah satu
objek wisata oleh
Pemkab Taput. Banyak
orang berkunjung ke
tempat ini untuk
meminta rejeki atau
hal-hal lain. Hal
terbukti dimana
dilokasi liang Si Boru
Natumandi terdapat
tumpukan-tumpukan
sesajen yakni berupa
puntungan-puntungan
rokok yang tersusun
teratur dan beberapa
kelopak daun sirih.
Sayangnya, penataan
objek wisata ini masih
kurang mendapat
perhatian dari pihak
Pemkab Tapanuli
Utara. Sebab disekitar
lokasi ini, masih belum
ada penataan objek
wisata yang baik, dan
masih banyaknya
sampah di areal gua
ini.

Asal usul Pangulu Balang

Timah Mendidih
Diminumkan
Kemanusia Hidup-
Hidup
Tondi Dohot Begu
Tubuhnya di kubur
dengan posisi berdiri
didalam tanah, hanya
kelihatan kepalanya
saja. Setelah beberapa
waktu ia sangat
kehausan dan lapar
kemudian
disampaikan ” kami
akan memberikan
makan dan minum
yang enak menurut
kemauanmu asal
engkau mau
kemanapun kami
perintahkan pergi”.
Karena haus dan
laparnya orang itu
menyanggupi
permintaan tersebut.
Lalu diminta untuk
membuka mulutnya
agar dapat minum,
setelah orang tersebut
membuka mulutnya
yang di tuang ke
dalam mulut orang
tersebut bukanlah air
sejuk pengobat
dahaga, tetapi cairan
timah panas yang
sedang menggelegak
sehingga orang itu pun
mati seketika itu juga.
Itulah ritual yang
dilakukan “orang
dahulu” untuk
membuat penjaga
kampung atau sejenis
santet pembunuh
“ musuh” yang di sebut
Pangulubalang
surusuruon.
Setelah beberapa hari
cairan berasal dari
lelehan mayat
tersebut disebut
” dane” dimasukkan
kedalam wadah dari
tanah (sejenis gentong
kecil), sedangkan
daging dan tulang nya
di gongseng hingga
menjadi bentuk bubuk
disebut “pupuk”
disimpan dalam satu
wadah lain. Disebut
“ pangulubalang”
setelah cairan “dane”
dan bubuk “pupuk”
dicampur dengan
ramuan-ramuan
lainnya.
Untuk penjaga
kampung didirikan
tiga buah batu dengan
sudut segitiga didalam
pondok kecil yang di
letakkan di sudut
kampung atau
disamping gerbang
masuk kampung.
Setelah di manterai di
oleskan cairan dane
dan pupuk, inilah yang
di percayai untuk
menjaga kampung.
Untuk Santet Musuh
dikumpulkan bahan-
bahan :
- Tanah Kuburan
- Tanah Longsor
- Buah enau yang
jatuh
- Air dari arus yang
berputar
- Air dari air yang
tenang
- Tanah yang banyak
di tumbuhi pohon
perdu.
Kemudian seluruh
bahan tersebut di
giling hingga halus
kemudian di campur
sedikit “dane” dan
“pupuk” . Kemudian
ramuan tersebut
diberi sajen di
manterai dan
diperintahkan untuk
membunuh musuh
yang dituju. Dikirimlah
seorang yang berani
sebagai kurir untuk
menyiram ramuan
tersebut baik
dihalaman rumah
musuh, di samping
rumah maupun di
tempat-tempat yang
sering dilalui orang
yang dituju. Inilah
yang di sebut
“ Pangulubalang
Surusuruon.
Sedangkan manusia
untuk korban
biasanya diambil dari
musuh yang tertawan
atau diculik dari
kelompok/kampung
musuhnya.
Sungguh kejam
memang perbuatan
tersebut, semoga
tidak ada lagi orang
yang melakukan
praktek tersebut.
Kegiatan ini dilakukan
di Tanah Batak pada
jaman dahulu, dimana
animisme masih
sangat kental. Bila kita
lihat di suku-suku lain
di dunia juga kita akan
menemukan praktek-
praktek animisme
yang hampir sama dan
sangat tidak
manusiawi.
Upacara Tradisi Karo
menggunakan topeng
th 1970
Upacara Tradisi Karo
Tahun 1970
Dengan masuknya
Nommensen ke tanah
Batak, terjadi
perubahan
kepercayaan
masyarakat terhadap
tradisi yang berbau
animisme tersebut.
Namun tradisi yang
dianggap tidak
bertentangan terus di
pertahankan demi
kelangsungan
kebudayaan batak
yang di warisi dari
nenek moyang orang
batak. Semoga kita
nantinya dapat
mewarisi nilai budaya
batak terhadap anak
dan cucu kita,
walaupun kita ada
dalam perantauan
jangan sampai mereka
tidak mengetahui asal
usul nenek
moyangnya dan
budayanya sendiri.

Kisah Tombak Marhusor

Kisah Bagas Marhusor
Kisah, “Tombak Milik
Si Bagas Marhusor”
berasal dari sebuah
naskah Batak yang
berjudul (Hujur Ni Si
Bagas ”. Naskah ini
diterjemahkan oleh
Proyek Penerbitan
Buku Sastra Indonesia
dan Daerah,
Departemen
Pendidikan dan
Kebudayaan, 1985.
Cerita ini mengisahkan
perjalanan hidup
Bagas Marhusor yang
penuh perjuangan dan
tantangan. Dikisahkan
bahwa Bagas
Marhusor, anak
Partiang Narbulus,
lahir bersamaan
dengan lahirnya
Panjahatua Todosdiari,
anak Raja Parsahala
Sotarihuthon yang
berkuasa di Lobu
Sotartaban. Semula
menurut ramalan
Datu Pamurpur
Mardupa, anak raja
akan menjadi anak
ajaib yang luar biasa,
tetapi pada
perkembangan
selanjutnya, teryata
justru Bagas Si
Marhusor yang
berkembang menjadi
anak biasa, baik
kecerdasan maupun
kebaikan hatinya.
Dalam setiap
perundingan Bagas
Marhusor selalu
menengahkan
Panjahatua Todoshiari.
Dikisahkan ketika
sedang berburu babi
di hutan, raja diserang
oleh seekor babi
hutan. Partiang
Narbulus, ayah Bagas
Marhusor, dapat
menyelamatkan
nyawa raja. Ia
membunuh babi itu
dengan tombak
saktinya. Untuk
membalas budi, raja
memperbolehkan
ayah Bagas Marhusor
mengajukan suatu
permintaan. Ayah
Bagas Marhusor
mengajukan
permintaan untuk
berbesan dengan raja,
yaitu menjodohkan
Bagas Marhusor
dengan anak
perempuan raja yang
bernama Lantio
Bulani. Sebenarnya
Lantio Bulani tidak
keberatan atas
lamaran itu, tetapi raja
tidak menginginkan 4
anak gadisnya
mendapat suami yang
berasal dari orang
kebanyakan. Ia
menolak lamaran itu
karena malu, Bagas
Marhusor
meninggalkan
rumahnya dengan
membawa tombak
sakti.
Dalam perjalannya
Bagas Marhusor
sampai di sebuah
perkampungan yang
tandus, lumban
Sipogos-pogos.
Ditempat itu menjadi
subur. Untuk
sementara ia tinggal
kampung itu.
Kemudian Bagas
Marhusor
meninggalkan
kampung itu dan
mengganti namanya
menjadi Lumban
Parhehean.
Selanjutnya Bagas
Marhusor sampai di
sebuah desa yang
rajanya terkenal
kejam, yaitu Raja
Panonggak Jingar. Raja
yang kejam itu berniat
untuk
mempersembahkan
dan mengorbankan
Bagas Margusor
kepada Sombaon
Ompu Raja Borotan.
Akan tetapi Bagas
Marhusor berhasil
menyelamatkan diri
dari niat kejam raja.
Bahkan raja kejam
bersama adiknya
tewas ketika mengejar
Bagas Marhusor.
Setewasnya raja itu
untuk sementara
Bagas Marhusor
tinggal di Desa
Lumban Sipogos-
pogos.. melalui berita
yang disampaikan oleh
burung enggang.
Bagas Marhusor
mengetahui bahwa
desanya akan diserang
oleh kawanan
perampok. Ia pulang
ke Desa Lobu
Sotartaban bersama
gurunya. Datu
Panampargara dan
beberapa temannya.
Berkat kesaktian
Bagas Marhusor,
kepala perampok di
Paralemu Dilaut,
berhasil ditewaskan.
Akhirnya raja
Parsahala
Sotarihuthon
menyadari
kekeliruannya selama
ini dan ia mengizinkan
Bagas Marhusor
mengawini Lantion
Bulani.
Jika disimak dengan
seksama, ada hal yang
patut diangkat dan
diungkapkan dari
cerita “si Bagas Tomba
Milik si Bagas
Marhusor ”. Berkat
ketabahan, keuletan,
dan kebaikan hatinya,
Bagas Marhusor
berhasil mencapai
cita-citanya, yaitu
mengawini anak raja.
Perjuangan hidup yang
telah ia lalui tidaklah
ringan. Bahkan Bagas
Marhusor hampir saja
menjadi korban
kekejaman Raja
Panongak Jingar dan
akan dipersembagkan
kepada Sombaon
Umpu Raja Borotan,
yang dikeramatkan
menjaga kolam air
panas.
O, Ompu Raja
Borotan, terimalah
persembahan, dari
desa kami ini.
Kembangbiakkan
ternak kami dan juga
tanaman kami.
Jadikanlah kami kaya,
buatlah kedudukan
kami yang tertinggi,
dari semua desa yang
ada. Kurban yang
paling berharga, itulah
yang kami
persembahkan
(1985:98)
Melalui petunjuk
dalam mimpinya, ia
ditemui oleh seorang
laki-laki tua yang mirip
ayahnya. Bagas
Marhusor berhasil
menyelematkan diri
dari malapetaka itu.
Cobaan yang dihadapi
oleh Bagas Marhusor
tampaknya belum
selesai, terbukti
karena merasa ikut
memiliki dan
bertanggung jawab
terhadap tanah
kelahirannya. Bagas
Marhusor segera
pulang ke desanya
ketika mengetahui
dari burung enggang
bahwa desanya akan
diserang oleh
segerombolan
perampok yang
dipimpin oleh Si
Paralemu Dilaut.
Dengan tombak
saktinya Bagas
Marhusor
membinasakan Si
Paralemu Dilaut.
Dengan
keberhasilannya
menyelematkan
kerajaan ini Bagas
Marhusor dinikahkan
dengan Lantion Bulani
oleh Raja Parsahala
Sotarihuthon.
Tampak dalam cerita
ini bahwa unsur
kesaktian sangat
menentukan bagi
Bagas Marhusor untuk
diakui derajatnya dan
kemuliaannya oleh
rajanya. Unsur
kesaktian dan
keberuntungan itu
tidak datang begitu
saja karena
merupakan imbalan
bagi Bagas Marhusor
yang telah banyak
berbuat baik terhadap
sesama, ia telah
menolong penduduk
Desa Lumban
Sipongos-pongos dari
kekeringan. Ia pun
telah menolong rakyat
yang berada di bawah
pemerintahan raja
Panongak Jingar yang
sangat kejam. Bahkan
ia telah menolong
anak burung enggang
yang hendak
dimangsa oleh
musang.
Selain unsur kesaktian,
unsur-unsur
pematangan
kepribaian Raja
Parsahala
Sotarihuthong patut
dikemukakan.
Sebenarnya
berdasarkan ramal
Datu Pamurpur
Mardupa berikutnya,
raja mengetahui
bahwa Bagas
Marhuosr kelak
menjadi orang yang
terkenal. Akan tetapi
sebagai seorang ayah,
raja secara implisit
menginginkan
putranya kelak
menjadi terkenal.
Apalagi dimata raja,
Bagas Marhusor
berasal dari kalangan
bawah. Dengan
demikian penolakan
raja atas lamaran ayah
Bagas Marhusor untuk
menikahkan Bagas
Marhusor dengan
Lantion Bulani dapat
dikatakan lebih
didasarkan pada
alasan ini. Raja tidak
ingin anaknya disaingi
oleh pemuda lain.
Pertolongan yang
diberikan oleh
keluarga Bagas
Marhusor, baik
pertolongan Partiang
Narbulus terhadap
raja ketika diserang
babi hutan,
pertolongan Bagas
Marhusor terhadap
Panjaha Tua Todas
Diari ketika diserang
oleh babi hutan
maupun pertolongan
Bagas Marhusor
terhadap Raja, rakyat
dan desanya ketika
Bagas Marhusor
berhasil membunuh
perampik Si Paralemu
Dilaut, menyadarkan
raja bahwa Bagas
Marhusor memiliki
kepribadian
bangsanya walaupun
ia berasal dari
kalangan rakyat jelata.
Dari beberapa
kejadian ini dapat
disimpulkan bahwa
budi baik dan
perjuangan yang tanpa
pamrih akan
membuatkan
kemuliaan.
Dikutip dari: http://
uun-
halimah.blogspot.com/2007_12_01_archive.html

Asal mula Danau Silosung dan Sipinggan

Alkisah, pada zaman
dahulu di daerah
Silahan, Tapanuli
Utara, hiduplah
sepasang suami-istri
yang memiliki dua
orang anak laki-laki.
Yang sulung bernama
Datu Dalu, sedangkan
yang bungsu bernama
Sangmaima. Ayah
mereka adalah
seorang ahli
pengobatan dan jago
silat. Sang Ayah ingin
kedua anaknya itu
mewarisi keahlian
yang dimilikinya. Oleh
karena itu, ia sangat
tekun mengajari
mereka cara meramu
obat dan bermain silat
sejak masih kecil,
hingga akhirnya
mereka tumbuh
menjadi pemuda yang
gagah dan pandai
mengobati berbagai
macam penyakit.
Pada suatu hari, ayah
dan ibu mereka pergi
ke hutan untuk
mencari tumbuhan
obat-obatan. Akan
tetapi saat hari sudah
menjelang sore,
sepasang suami-istri
itu belum juga
kembali. Akhirnya,
Datu Dalu dan
adiknya memutuskan
untuk mencari kedua
orang tua mereka.
Sesampainya di hutan,
mereka menemukan
kedua orang tua
mereka telah tewas
diterkam harimau.
Dengan sekuat tenaga,
kedua abang-adik itu
membopong orang
tua mereka pulang ke
rumah. Usai acara
penguburan, ketika
hendak membagi
harta warisan yang
ditinggalkan oleh
orang tua mereka,
keduanya baru
menyadari bahwa
orang tua mereka
tidak memiliki harta
benda, kecuali sebuah
tombak pusaka.
Menurut adat yang
berlaku di daerah itu,
apabila orang tua
meninggal, maka
tombak pusaka jatuh
kepada anak sulung.
Sesuai hukum adat
tersebut, tombak
pusaka itu diberikan
kepada Datu Dalu,
sebagai anak sulung.
Pada suatu hari,
Sangmaima ingin
meminjam tombak
pusaka itu untuk
berburu babi di hutan.
Ia pun meminta ijin
kepada abangnya.
“Bang, bolehkah aku
pinjam tombak pusaka
itu ?”
“Untuk keperluan apa,
Dik?”
“Aku ingin berburu
babi hutan.”
“Aku bersedia
meminjamkan tombak
itu, asalkan kamu
sanggup menjaganya
jangan sampai hilang. ”
“Baiklah, Bang! Aku
akan merawat dan
menjaganya dengan
baik. ”
Setelah itu,
berangkatlah
Sangmaima ke hutan.
Sesampainya di hutan,
ia pun melihat seekor
babi hutan yang
sedang berjalan
melintas di depannya.
Tanpa berpikir
panjang,
dilemparkannya
tombak pusaka itu ke
arah binatang itu.
“ Duggg…!!!” Tombak
pusaka itu tepat
mengenai
lambungnya.
Sangmaima pun
sangat senang, karena
dikiranya babi hutan
itu sudah roboh.
Namun, apa yang
terjadi? Ternyata babi
hutan itu melarikan
diri masuk ke dalam
semak-semak.
“Wah, celaka! Tombak
itu terbawa lari, aku
harus mengambilnya
kembali, ” gumam
Sangmaima dengan
perasaan cemas.
Ia pun segera
mengejar babi hutan
itu, namun
pengejarannya sia-sia.
Ia hanya menemukan
gagang tombaknya di
semak-semak.
Sementara mata
tombaknya masih
melekat pada
lambung babi hutan
yang melarikan diri itu.
Sangmaima mulai
panik.
“Waduh, gawat!
Abangku pasti akan
marah kepadaku jika
mengetahui hal ini, ”
gumam Sangmaima.
Namun, babi hutan itu
sudah melarikan diri
masuk ke dalam
hutan. Akhirnya, ia
pun memutuskan
untuk kembali ke
rumah dan
memberitahukan hal
itu kepada Abangnya.
“Maaf, Bang! Aku
tidak berhasil menjaga
tombak pusaka milik
Abang. Tombak itu
terbawa lari oleh babi
hutan, ” lapor
Sangmaima.
“Aku tidak mau tahu
itu! Yang jelas kamu
harus mengembalikan
tombok itu, apa pun
caranya, ” kata Datu
Dalu kepada adiknya
dengan nada kesal. ”
Baiklah, Bang! Hari ini
juga aku akan
mencarinya, ” jawab
Sangmaima.
“Sudah, jangan
banyak bicara! Cepat
berangkat !” perintah
Datu Dalu.
Saat itu pula
Sangmaima kembali
ke hutan untuk
mencari babi hutan
itu. Pencariannya kali
ini ia lakukan dengan
sangat hati-hati. Ia
menelesuri jejak kaki
babi hutan itu hingga
ke tengah hutan.
Sesampainya di tengah
hutan, ia menemukan
sebuah lubang besar
yang mirip seperti gua.
Dengan hati-hati, ia
menyurusi lubang itu
sampai ke dalam.
Alangkah terkejutnya
Sangmaima, ternyata
di dalam lubang itu ia
menemukan sebuah
istana yang sangat
megah.
“Aduhai, indah sekali
tempat ini,” ucap
Sangmaima dengan
takjub.
“Tapi, siapa pula
pemilik istana ini?”
tanyanya dalam hati.
Oleh karena
penasaran, ia pun
memberanikan diri
masuk lebih dalam
lagi. Tak jauh di
depannya, terlihat
seorang wanita cantik
sedang tergeletak
merintih kesakitan di
atas pembaringannya.
Ia kemudian
menghampirinya, dan
tampaklah sebuah
mata tombak
menempel di perut
wanita cantik itu.
“ Sepertinya mata
tombak itu milik
Abangku, ” kata
Sangmaima dalam
hati. Setelah itu, ia pun
menyapa wanita
cantik itu.
“Hai, gadis cantik!
Siapa kamu?” tanya
Sangmaima.
“Aku seorang putri
raja yang berkuasa di
istana ini. ”
“Kenapa mata tombak
itu berada di
perutmu ?”
“Sebenarnya babi
hutan yang kamu
tombak itu adalah
penjelmaanku. ”
“Maafkan aku, Putri!
Sungguh aku tidak
tahu hal itu. ”
“Tidak apalah, Tuan!
Semuanya sudah
terlanjur. Kini aku
hanya berharap Tuan
bisa menyembuhkan
lukaku. ”
Berbekal ilmu
pengobatan yang
diperoleh dari
ayahnya ketika masih
hidup, Sangmaima
mampu mengobati
luka wanita itu dengan
mudahnya. Setelah
wanita itu sembuh
dari sakitnya, ia pun
berpamitan untuk
mengembalikan mata
tombak itu kepada
abangnya.
Abangnya sangat
gembira, karena
tombak pusaka
kesayangannya telah
kembali ke tangannya.
Untuk mewujudkan
kegembiraan itu, ia
pun mengadakan
selamatan, yaitu pesta
adat secara besar-
besaran. Namun
sayangnya, ia tidak
mengundang adiknya,
Sangmaima, dalam
pesta tersebut. Hal itu
membuat adiknya
merasa tersinggung,
sehingga adiknya
memutuskan untuk
mengadakan pesta
sendiri di rumahnya
dalam waktu yang
bersamaan. Untuk
memeriahkan
pestanya, ia
mengadakan
pertunjukan dengan
mendatangkan
seorang wanita yang
dihiasi dengan
berbagai bulu burung,
sehingga menyerupai
seekor burung Ernga.
Pada saat pesta
dilangsungkan, banyak
orang yang datang
untuk melihat
pertunjukkan itu.
Sementara itu, pesta
yang dilangsungkan di
rumah Datu Dalu
sangat sepi oleh
pengunjung. Setelah
mengetahui adiknya
juga melaksanakan
pesta dan sangat
ramai pengunjungnya,
ia pun bermaksud
meminjam
pertunjukan itu untuk
memikat para tamu
agar mau datang ke
pestanya.
“Adikku! Bolehkah aku
pinjam pertunjukanmu
itu ?”
“Aku tidak keberatan
meminjamkan
pertunjukan ini,
asalkan Abang bisa
menjaga wanita
burung Ernga ini
jangan sampai hilang.”
“Baiklah, Adikku! Aku
akan menjaganya
dengan baik. ”
Setelah pestanya
selesai, Sangmaima
segera mengantar
wanita burung Ernga
itu ke rumah
abangnya, lalu
berpamitan pulang.
Namun, ia tidak
langsung pulang ke
rumahnya, melainkan
menyelinap dan
bersembunyi di langit-
langit rumah
abangnya. Ia
bermaksud menemui
wanita burung Ernga
itu secara sembunyi-
sembunyi pada saat
pesta abangnya
selesai.
Waktu yang ditunggu-
tunggu pun tiba. Pada
malam harinya,
Sangmaima berhasil
menemui wanita itu
dan berkata:
“Hai, Wanita burung
Ernga! Besok pagi-pagi
sekali kau harus pergi
dari sini tanpa
sepengetahuan
abangku, sehingga ia
mengira kamu hilang. ”
“Baiklah, Tuan!” jawab
wanita itu.
Keesokan harinya,
Datu Dalu sangat
terkejut.
Wanita burung Ernga
sudah tidak di
kamarnya. Ia pun
mulai cemas, karena
tidak berhasil menjaga
wanita burung Ernga
itu. “Aduh, Gawat!
Adikku pasti akan
marah jika mengetahui
hal ini, ” gumam Datu
Dalu. Namun, belum
ia mencarinya, tiba-
tiba adiknya sudah
berada di depan
rumahnya.
“Bang! Aku datang
ingin membawa
pulang wanita burung
Ernga itu.
Di mana dia?” tanya
Sangmaima pura-pura
tidak tahu.
“Maaf Adikku! Aku
telah lalai, tidak bisa
menjaganya. Tiba-tiba
saja dia menghilang
dari kamarnya, ” jawab
Datu Dalu gugup.
“Abang harus
menemukan burung
itu, ” seru Sangmaima.
“Dik! Bagaimana jika
aku ganti dengan
uang ?” Datu Dalu
menawarkan.
Sangmaima tidak
bersedia menerima
ganti rugi dengan
bentuk apapun.
Akhirnya pertengkaran
pun terjadi, dan
perkelahian antara
adik dan abang itu
tidak terelakkan lagi.
Keduanya pun saling
menyerang satu sama
lain dengan jurus yang
sama, sehingga
perkelahian itu
tampak seimbang,
tidak ada yang kalah
dan menang.
Datu Dalu kemudian
mengambil lesung lalu
dilemparkan ke arah
adiknya. Namun sang
Adik berhasil
menghindar, sehingga
lesung itu melayang
tinggi dan jatuh di
kampung Sangmaima.
Tanpa diduga, tempat
jatuhnya lesung itu
tiba-tiba berubah
menjadi sebuah
danau. Oleh
masyarakat setempat,
danau tersebut diberi
nama Danau Si
Losung.
Sementara itu,
Sangmaima ingin
membalas serangan
abangnya. Ia pun
mengambil piring lalu
dilemparkan ke arah
abangnya. Datu Dalu
pun berhasil
menghindar dari
lemparan adiknya,
sehingga piring itu
jatuh di kampung
Datu Dalu yang pada
akhirnya juga menjadi
sebuah danau yang
disebut dengan Danau
Si Pinggan.
Demikianlah cerita
tentang asal-mula
terjadinya Danau Si
Losung dan Danau Si
Pinggan di daerah
Silahan, Kecamatan
Lintong Ni Huta,
Kabupaten Tapanuli
Utara.
Cerita di atas
termasuk ke dalam
cerita rakyat teladan
yang mengandung
pesan-pesan moral.
Ada dua pesan moral
yang dapat diambil
sebagai pelajaran,
yaitu agar tidak
bersifat curang dan
egois.
- sifat curang. Sifat ini
tercermin pada sifat
Sangmaima yang telah
menipu abangnya
dengan menyuruh
wanita burung Ernga
pergi dari rumah
abangnya secara
sembunyi-sembunyi,
sehingga abangnya
mengira wanita
burung Ernga itu
hilang. Dengan
demikian, abangnya
akan merasa bersalah
kepadanya.
- sifat egois. Sifat ini
tercermin pada
perilaku Sangmaima
yang tidak mau
memaafkan abangnya
dan tidak bersedia
menerima ganti rugi
dalam bentuk apapun
dari abangnya.