Saturday, 4 June 2011

Asal usul Pangulu Balang

Timah Mendidih
Diminumkan
Kemanusia Hidup-
Hidup
Tondi Dohot Begu
Tubuhnya di kubur
dengan posisi berdiri
didalam tanah, hanya
kelihatan kepalanya
saja. Setelah beberapa
waktu ia sangat
kehausan dan lapar
kemudian
disampaikan ” kami
akan memberikan
makan dan minum
yang enak menurut
kemauanmu asal
engkau mau
kemanapun kami
perintahkan pergi”.
Karena haus dan
laparnya orang itu
menyanggupi
permintaan tersebut.
Lalu diminta untuk
membuka mulutnya
agar dapat minum,
setelah orang tersebut
membuka mulutnya
yang di tuang ke
dalam mulut orang
tersebut bukanlah air
sejuk pengobat
dahaga, tetapi cairan
timah panas yang
sedang menggelegak
sehingga orang itu pun
mati seketika itu juga.
Itulah ritual yang
dilakukan “orang
dahulu” untuk
membuat penjaga
kampung atau sejenis
santet pembunuh
“ musuh” yang di sebut
Pangulubalang
surusuruon.
Setelah beberapa hari
cairan berasal dari
lelehan mayat
tersebut disebut
” dane” dimasukkan
kedalam wadah dari
tanah (sejenis gentong
kecil), sedangkan
daging dan tulang nya
di gongseng hingga
menjadi bentuk bubuk
disebut “pupuk”
disimpan dalam satu
wadah lain. Disebut
“ pangulubalang”
setelah cairan “dane”
dan bubuk “pupuk”
dicampur dengan
ramuan-ramuan
lainnya.
Untuk penjaga
kampung didirikan
tiga buah batu dengan
sudut segitiga didalam
pondok kecil yang di
letakkan di sudut
kampung atau
disamping gerbang
masuk kampung.
Setelah di manterai di
oleskan cairan dane
dan pupuk, inilah yang
di percayai untuk
menjaga kampung.
Untuk Santet Musuh
dikumpulkan bahan-
bahan :
- Tanah Kuburan
- Tanah Longsor
- Buah enau yang
jatuh
- Air dari arus yang
berputar
- Air dari air yang
tenang
- Tanah yang banyak
di tumbuhi pohon
perdu.
Kemudian seluruh
bahan tersebut di
giling hingga halus
kemudian di campur
sedikit “dane” dan
“pupuk” . Kemudian
ramuan tersebut
diberi sajen di
manterai dan
diperintahkan untuk
membunuh musuh
yang dituju. Dikirimlah
seorang yang berani
sebagai kurir untuk
menyiram ramuan
tersebut baik
dihalaman rumah
musuh, di samping
rumah maupun di
tempat-tempat yang
sering dilalui orang
yang dituju. Inilah
yang di sebut
“ Pangulubalang
Surusuruon.
Sedangkan manusia
untuk korban
biasanya diambil dari
musuh yang tertawan
atau diculik dari
kelompok/kampung
musuhnya.
Sungguh kejam
memang perbuatan
tersebut, semoga
tidak ada lagi orang
yang melakukan
praktek tersebut.
Kegiatan ini dilakukan
di Tanah Batak pada
jaman dahulu, dimana
animisme masih
sangat kental. Bila kita
lihat di suku-suku lain
di dunia juga kita akan
menemukan praktek-
praktek animisme
yang hampir sama dan
sangat tidak
manusiawi.
Upacara Tradisi Karo
menggunakan topeng
th 1970
Upacara Tradisi Karo
Tahun 1970
Dengan masuknya
Nommensen ke tanah
Batak, terjadi
perubahan
kepercayaan
masyarakat terhadap
tradisi yang berbau
animisme tersebut.
Namun tradisi yang
dianggap tidak
bertentangan terus di
pertahankan demi
kelangsungan
kebudayaan batak
yang di warisi dari
nenek moyang orang
batak. Semoga kita
nantinya dapat
mewarisi nilai budaya
batak terhadap anak
dan cucu kita,
walaupun kita ada
dalam perantauan
jangan sampai mereka
tidak mengetahui asal
usul nenek
moyangnya dan
budayanya sendiri.

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.