Agama atau
Kepercayaan Orang
Batak:
Orang Batak Percaya
kepada adanya Tuhan
Yang Maha Esa Yang
disebut: ”Ompu
Mulajadi Nabolon”
Dia yang menjadikan
apa-apa yang ada, dan
tidak kawin dan tidak
beranak, dan
menjadikan sesuatu
hanya dengan ucapan
saja, dari tidak ada
bisa dijadikan menjadi
ada. Karena itu
Mulajadi Nabolon
disebut juga Ompu
Raja Mulamula, Ompu
Raja Mulajadi,
menunjukkan Dialah
permulaan dari yang
tidak ada. (kutipan
dari Pustaha Batak
oleh WM.Hutagalung
halaman.2)
Kepercayaan
keagamaan Batak asli
bertumpu pada
kekuatan Roh yang
dinamakan Tondi
maupun hantu (begu),
untuk berhubungan
dengan Begu maka
diperlukan media
perantara yang
berbnama Datu
(dukun). Dengan
Mantera yang
dilantunkan seorang
datu dapat
berhubungan dan
berkomunikasi dengan
Roh dan begu.
Dan mengyakini
bahwa Ompu Mulajadi
Na Bolon
menciptakan 7 (tujuh)
lapis Langit, yang
setiap langitnya dihuni
oleh roh-roh yang
telah mati sesuai
dengan amal
perbuatan-nya semasa
hidup, adapun ketujuh
lapis langit itu adalah
sebagai berikut:
1. Langit Pertama:
Dijadikan untuk
tempat orang
mngerjakan pekerjaan
yang terbalik/
bertentangan (suhar),
Jadi setiap orang yang
pekerjaannnya
bertentangan (suhar)
selama hidupnya
maka dia akan di
balikkan oleh Mulajadi
Nabolon kepalanya
kebawah dan kakinya
keatas setalh dia mati
tetapi itu begunya.
2. Langit kedua :
Tempat orang-orang
kerjanya semasa
hidupnya adalah
pencuri, dan apa yang
dicuri selama
hidupnya,akan selalu
dipegangnya
3. Langit Ketiga:
Tempat orang-orang
yang suka menambah-
nambah omongan
(siganjang dila),
disinilah tempat
begunya, dan lidahnya
akan ditarik oleh
Mulajsdi Nabolon
sampai 10 sampai 100
depa agar terseret-
seret sewaktu
berjalan.Inilah
hukumannya bagi
siganjang dila.
4. Langit keempat :
Tempat orang bunuh
diri dan orang yang
selalu buat keributan
semasa hidupnya, dan
pada tempat ini
mereka saling
membuat keributan,
dan bagi orang yang
bunuh diri dia akan
dipasung dengan besi
pasung agar tidak
dapat bergerak, oleh
karena begu orang
bunuh diri tidak dapat
siar (nyusup kepada
orang hidup).
5. Langit kelima:
Adalah tempat bagi
orang-orang suka
menolong orang yang
susah dan orang
miskin. Nanti disana
dia akan berkumpul
dengan orang yang
pernah dibantunya
dan dia akan
menerima balasan
dari Mulajadi Nabolon
berlipat ganda segala
apa yang pernag yang
baik dibuatnya kerna
itu dikatakan orang
Batak : “ Ia uli sinuan,
uli do gotilon, ia duri
sinuan duri do
gotilon. ”
6. Langit keenam:
Disini Mula jadi
Nabolom
menanamkan segala
suhatsuhat setiap
manusia
(menanamkan
bentuk/ sifat ). Apabila
baik suhatsuhat yang
ditanamkan pada
manusia di langit
keenam (banua
ginjang) maka orang
itu akan memiliki
suhasuhat baik pula di
Benua Tonga (bumi),
Dan sebaliknya bila
buruk maka buruk
pula di bumi (banua
tonga).
7. Langit Ketujuh:
Disinilah tempat Mula
jadi Nabolon, karena
itu adalah langit diatas
langit. Kesinilah segala
orang-orang yang baik
terhormat
Setelah selesai
diciptakan Langit
maka Mulajadi
Nabolon menciptakan;
Mata Hari, kemudian
Bulan, dan Bintang-
bintang, dan bintang-
bintang ini dinamai:
Bintang Ilala,
Sijombut, Sigarani api,
Sidongdong,
Sialapariama,
Sialasungsang,
Marihur,
Martimus, Bisnu,
Borma, Sori dan lain-
lainnya.
Manukmanuk
Hulambujati:
Keyakinan orang
Batak yang pertama
sekali diciptakan
Mulajdi Nabolon
adalah Manukmanuk
Hulambujati,
Moncongnya besi,
berkuku gelang yang
berkilau. Dan
besarnya sebesar
kunang-kunang besar.
Alkisah Manukmanuk
Hulambujati memiliki
Telur tiga buah yang
besarnya jauh lebih
besar dari badannya.
Oleh karena itu dia
menghubungi
Leangleang mandi
untunguntung na
bolon, dan berkata:
“Wahai Leangleang
mandi untunguntung
na bolon! Kasihanilah
aku sampaikanlah
dulu keluhanku ini
pada Mulajadi
Nabolon, saya tidak
tahu apa yang harus
kubuat telur (tinaru)
yang tiga ini,
diselimutipun tidak
bisa “.
Maka pergilah
Leangleang mandi
menyampaikan pesan
tersebut pada
Mulajadi
Nabolon : ”Ale
Ompung, dahanon
dibosta do ahu na so
marlaok botabota, na
so lopa dihata na so
lolos di tona, Pesan
dari Manukmanuk
hulambungjati,
bagaimana harus
dibuatnya telur
(tinaruna) yang tiga
itu ?“.
Maka Mulajadi
Nabolon berkata:
“ Katakanlah biar
dierami telurnya itu,
aku lebih tahu, tapi
bawalah 12 petik
makanan (dahanon),
itulah yang
dimakannya setiap
petiknya dimakan
setiap bulan, kalau
sudah putus
muncungnya maka
pukulkanlah
ketelurnya, itulah
sampaikan padanya,“
kataNya pada
Leangleang mandi.
Maka kembalilah
Leangleang mandi
menyampaikan pesan
dari Mulajadi Nabolon
pada Manukmanuk
Hulambajati, setelah
mendapat petunjuk
maka dilaksanakannya
apa yang dipesankan
kepadanya melalui
Leangleang mandi.
Setelah genap 12
bulan, putus
(rumintop) lah
moncong
manukmanuk
hulambungjati, setelah
itu maka
dipukulkanlah
muncungnya itu pada
telur yang tiga, maka
lahirlah dari setiap
telur seperti manusia
laki-laki (sesuatu yang
tidak bisa terpikir
ciptaan Tuhan),
dari Telur pertama
lahir:
1- Batara Guru:
Batara Guru doli,
Batara guru
panungkunan, Batara
Guru Pandapotan
setiap kerajaan, Yang
memegang timbangan
disetiap yang
diciptakannya.
(Mula ni gantang
tarajuan, hatian sibola
timbang, ninggala
sibola tali, tu atas so
ra mungkit, tu toru
sora monggal, tu
lambung so ra teleng)
2. Telur ke dua Raja
Odapodap Ini adalah
yang mengamati
semua segala
perbuatan yan
diciptakan Dari telur
kedua lahir:
Batara Sori (debata
Sori) dari telur kedua:
Sori-sori haliapan,
Sori-sori habubuhan
na pitu hali malim,
napitu hali solam,
sinolamhon ni ibotona
si boru panolaman.
Yang bernamakan si
boru “Anting Malela”
yang tidak bisa
bersumpah dan tidak
bisa disumpahi, yang
tidak boleh mencuri
dan tidak dapat
kecurian, yang
membuat parsorion
yaitu sori Gabe, sori
Mago atau nasib dari
setiap manusia yang
dapat kita lihat dari
umpa orang batak
sebagai berikut:
” Andilo nahinan,
handangkadangan ma
nuaeng, pinangido
nahinan, jaloon ma
nuaeng. ” Inilah yang
mengirim
Sisingamangaraja.
3- Tuan Dihurmajati
dari telur ketiga: Ini
adalah ompu ni
Panenabolon yang
menempati
Dari Telur ketiga
lahirlah:
1- Balabulan.
Balabulan matabun,
Balabulan na rubunan,
na rubun di pucuknya,
Datu Paratalatal, Datu
Parusulusul,
Berkudakan
Sibaganding Tua,
Parpiso Simangan
mangeluk, Bertombak
dua ujung, dialah
mulanya hadatuaon
pada manusia.
Catatan:
Batara Guru, Batara
sori, Balabulan yang
sering dikatakan
debata na tolu, natolu
suhu, natolu harajaon
(jadi bukan Mulajadi
Nabolon)
Raja Padoha atau
Partanduk Pitu
Yang bertempat di
Banua toru, yang
menbuat Gempa (lalo)
Pemberian Nama
pada setiap yang
menetas tersebut atas
petunjuk Mulajadi Na
Bolon melalui
Leangleang Mandi dan
atas perintah Mulajadi
Na Bolon,
Setelah ketiga
putranya dewasa, ia
merasa bahwa mereka
memerlukan seorang
pendamping wanita.
Manukmanuk
Hulambujati kembali
memohon pada
melalui Leangleang
Mandi dan Mulajadi
Na Bolon
mengirimkan 3 wanita
cantik :
SIBORU PAREME
untuk istri Tuan Batara
Guru, dan
mendapatkan 2 orang
anak laki laki dan 2
orang anak
perempuan diberi
nama:
1. TUAN SORI
MUHAMMAD,
2. DATU TANTAN
DEBATA GURU MULIA
3. SIBORU SORBAJATI
4. SIBORU DEAK
PARUJAR.
Anak kedua, Tuan
Soripada diberi istri
bernama SIBORU
PAROROT yang
melahirkan anak laki-
laki bernama:
1. TUAN
SORIMANGARAJA
sedangkan anak
ketiga, Ompu Tuan
Mangalabulan, diberi
istri bernama SIBORU
PANUTURI yang
melahirkan:
1. TUAN DIPAMPAT
TINGGI SABULAN.
Dari pasangan Ompu
Tuan Soripada-Siboru
Parorot, lahir seorang
anak laki-laki, namun
karena wujudnya
seperti kadal, Ompu
Tuan Soripada
menghadap Mulajadi
Na Bolon (Maha
Pencipta). "Tidak apa
apa, berilah nama
SIRAJA ENDA ENDA,"
kata Mulajadi Na
Bolon. Setelah anak-
anak mereka dewasa,
Ompu Tuan Soripada
mendatangi abangnya,
Tuan Batara Guru
menanyakan
bagaimana agar anak-
anak mereka
dikawinkan.
Batara Guru menanya:
"Kawin dengan siapa?
Anak perempuan saya
mau dikawinkan
kepada laki-laki
mana?"
Maka dijawab Ompu
Soripada dengan
penuh kekhawatiran
karena anaknya yang
ditawarkan adalah
berwujud
Kadal:"Bagaimana
kalau putri abang
SIBORU SORBAJATI
dikawinkan dengan
anak saya Siraja Enda
Enda. Mas kawin
apapun akan kami
penuhi, tetapi
syaratnya putri abang
yang mendatangi
putra saya,".
Akhirnya mereka
sepakat. Pada waktu
yang ditentukan
Siboru Sorbajati
mendatangai rumah
Siraja Enda Enda dan
sebelum masuk, dari
luar ia bertanya
apakah benar mereka
dijodohkan. Siraja
Enda Enda
mengatakan benar,
dan ia sangat gembira
atas kedatangan calon
istrinya.
Dipersilakannya Siboru
Sorbajati naik ke
rumah. Namun betapa
terperanjatnya Siboru
Sorbajati karena lelaki
calon suaminya itu
ternyata berwujud
kadal. Dengan
perasaan kecewa ia
pulang mengadu
kepada abangnya
Datu Tantan Debata:
"Lebih baik saya mati
daripada kawin
dengan kadal,"
katanya terisak-isak.
"Jangan begitu
adikku," kata Datu
Tantan Debata. "Kami
semua telah
menyetujui bahwa
itulah calon suamimu.
Mas kawin yang sudah
diterima ayah akan
kita kembalikan 2 kali
lipat jika kau menolak
jadi istri Siraja Enda
Enda."
Siboru Sorbajati tetap
menolak. Namun
karena terus-menerus
dibujuk, akhirnya
hatinya luluh tetapi
kepada ayahnya ia
minta agar menggelar
"gondang" karena ia
ingin
"manortor" (menari)
semalam suntuk.
Permintaan itu
dipenuhi Tuan Batara
Guru. Maka sepanjang
malam, Siboru
Sorbajati manortor di
hadapan keluarganya.
Menjelang matahari
terbit, tiba-tiba
tariannya (tortor)
mulai aneh, tiba-tiba
ia melompat ke "para-
para" dan dari sana ia
melompat ke
"bonggor" kemudian
ke halaman dan yang
mengejutkan
tubuhnya mendadak
tertancap ke dalam
tanah dan hilang
terkubur!
Keluarga Ompu Tuan
Soripada amat
terkejut mendengar
calon menantunya
hilang terkubur dan
menuntut agar
Keluarga Tuan Batara
Guru memberikan
putri ke-2 nya, Siboru
Deak Parujar untuk
Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru
Sorbajati, ia menolak
keras. "Sorry ya, apa
lagi saya," katanya.
Namun karena
didesak terus, ia
akhirnya mengalah
tetapi syaratnya orang
tuanya harus
menggelar "gondang"
semalam suntuk
karena ia ingin
"manortor" juga.
Sama dengan
kakaknya, menjelang
matahari terbit
tortornya mulai aneh
dan mendadak ia
melompat ke halaman
dan menghilang ke
arah laut di benua
tengah (Banua Tonga).
Di tengah laut ia
digigit lumba-lumba
dan binatang laut
lainnya dan ketika
burung layang-layang
lewat, ia minta
bantuan diberikan
tanah untuk tempat
berpijak. Sayangnya,
tanah yang dibawa
burung layang-layang
hancur karena
digoncang NAGA
PADOHA. Siboru Deak
Parujar menemui Naga
Padoha agar tidak
menggoncang Banua
Tonga. "Ya" katanya.
"Sebenarnya aku tidak
sengaja, kakiku
rematik. Tolonglah
sembuhkan." Siboru
Deak Parujar berhasil
menyembuhkan dan
kepada Mulajadi Na
Bolon dia meminta
alat pemasung untuk
memasung Naga
Padoha agar tidak
mengganggu. Naga
Padoha berhasil
dipasung hingga
ditimbun dengan
tanah dan terbenam
ke bawah tanah
(Banua Toru).
Bila terjadi gempa, itu
pertanda Naga
Padoha sedang
meronta di bawah
sana itulah keyakinan
orang Batak .
Alkisah, Mulajadi Na
Bolon menyuruh
Siboru Deak Parujar
kembali ke Benua
Atas. Tetapi dia
memilih tinggal di
Banua Tonga (bumi),
maka Mulajadi Na
Bolon mengutus RAJA
ODAP ODAP untuk
menjadi suaminya dan
mereka tinggal di
SIANJUR MULA MULA
di kaki gunung Pusuk
Buhit. Dari perkawinan
mereka lahir 2 anak
kembar :
1. RAJA IHAT MANISIA
(laki-laki) dan
2. BORU ITAM
MANISIA
(perempuan).
Tidak dijelaskan Raja
Ihat Manisia kawin
dengan siapa, ia
mempunya 3 anak laki
laki :
1. RAJA MIOK MIOK,
2. PATUNDAL NA
BEGU dan
3. AJI LAPAS LAPAS.
Raja Miok Miok
tinggal di Sianjur Mula
Mula, karena 2
saudaranya pergi
merantau karena
mereka berselisih
paham.
Raja Miok Miok
mempunyai anak laki-
laki bernama:
1. ENGBANUA,
dan 3 cucu dari
Engbanua yaitu:
1. RAJA UJUNG,
2. RAJA BONANG
BONANG dan
3. RAJA JAU.
Konon Raja Ujung
menjadi leluhur orang
Aceh dan Raja Jau
menjadi leluhur orang
Nias. Sedangkan Raja
Bonang Bonang (anak
ke-2) memiliki anak
bernama:
1. RAJA TANTAN
DEBATA,
Dan anak dari Tantan
Debata inilah disebut
SI RAJA BATAK, Yang
menjadi leluhur orang
Batak dan berdiam di
Sianjur MulaMula di
kaki Gunung Pusuk
Buhit!
No comments:
Post a Comment
Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.