Saturday, 4 June 2011

Mual Pancur si pitu dai (Air 7 rasa)

Adalah satu air
dengan tujuh buah
pancuran yang
masing-masing,
pancuran mempunyai
tujuh sumber mata air,
yang masing-masing
mengalir sehingga
bergabung menjadi
satu aliran dalam satu
bak yang panjang,
kemudian dari bak
yang panjang itu
dibuat pancuran yang
tujuh itu menjadi tujuh
macam pula seperti
pada sumber mata
airnya padahal telah
bergabung dalam bak
yang panjang.
Air ini disebut
“ PANSUR SIPITU
DAI” (Pansur Tujuh
Rasa), karena
pancuran yang tujuh
itu mempunyai tujuh
macam rasa, ketujuh
pancuran ini, dibagi
menurut status
masyarakat yang ada
di Limbong yaitu :
1. Pansuran ni
dakdanak yaitu
tempat mandi bayi
yang masih belum ada
giginya
2. Pancuran ni sibaso
yaitu tempat mandi
para ibu yang telah
tua, yaitu yang tidak
melahirkan lagi
3. Pansuran ni ina-ina
yaitu tempat mandi
para ibu yang masih
dapat melahirkan
4. Pansur ni namarbaju
yaitu tempat mandi
gadis-gadis
5. Pansur ni pangulu
yaitu tempat mandi
para raja-raja
6. Pansur ni doli yaitu
tempat mandi para
lelaki
7. Pansur Hela yaitu
tempat mandi para
menantu laki-laki yaitu
semua marga yang
mengawini putri
marga Limbong
KEANEHANNYA :
1. Dari tujuh macam
rasa yang dari
pancuran itu tidak ada
satupun seperti rasa
air biasa
2. tujuh macam rasa
bersumber dari tujuh
mata air telah
bergabung dalam satu
Labuan (Bak Panjang)
tetapi anehnya rasa air
yang tujuh macam itu,
dapat terpisah
kembali, sehingga rasa
air yang
mengalir melalui
pancuran yang tujuh
itu menjadi tujuh
macam rasanya.
3. selama bergabung
dalam labuan (bak
panjang), rasa lainnya
hanya satu macam
saja, walaupun
sumbernya tujuh
macam dan keluarnya
tujuh macam
4. apabila air ini
diambil dan dibawa ke
tempat jauh dan tidak
direstui oleh penghuni
alam yang ada di
tempat itu, maka
airnya akan menjadi
tawar seperti air biasa.
5. Mandi di pancuran
ini, dapat
menyembuhkan
berbagai macam
penyakit.
6. apabila ada orang
jatuh saat mandi di
Pancuran ini, kalau
pada saat jatuh
kepalanya ke arah
hulu,
maka ia akan jatuh
sakit, tetapi kalau
kepalanya ke arah
hilir, maka ia akan
meninggal dunia.
7. di pancuran ini,
orang dapat berdoa
kepada Debata Mula
Jadi Nabolon (Tuhan
Yang Mah Esa)
memohon
kesembuhan,
memohon agar murah
rejeki dan memohon
bermacam keinginan
lainnya, dan
ternyata sudah banyak
orang yang telah
berhasil
memperolehnya.
Part II
Pancur Tujuh Rasa
adalah melambangkan
angka sakti atau
bilangan sakti, karena
bilangan tujuh itu
adalah bilangan sakti
dalam kehidupan
ritual bagi suku Batak,
dan juga
melambangkan
beberapa macam
keadaan suku Batak.
Adapun berbagai
macam keadaan yang
dilambangkan Pancur
Tujuh Rasa ini ialah :
1. menurut ahli
perbintangan Batak,
bahwa dunia ini
beserta isinya, di
ciptakan oleh Debata
Mula Jadi Nabolon
(Tuhan Yang Maha
Esa) dalam tujuh hari
yaitu mulai dari artia
hingga samirasa yaitu
hari pertama hingga
hari ke tujuh, menurut
penanggalan Batak
jumlah hari penciptaan
yang tujuh inilah yang
merupakan dasar
untuk dikembangkan
menjadi nama-nama
hari yang tigapuluh
untuk mengikuti
peredaran bulan
mengelilingi bumi
selama satu bulan.
Jumlah hari yang tujuh
itu, sama dengan
jumlah hari yang
pergunakan kalender
Internasional, yang
lazim disebut dengan
istilah seminggu,
namun perbedaan
antara kalender
Internasional dengan
kalender penanggalan
Batak ialah : kalender
Internasional
berpedoman kepada
siang, yakni
berdasarkan
peredaran matahari,
yang dimulai dari
tengah malam yaitu
jam 0.00 sampai
dengan yakni jam 0.00.
Tetapi penanggalan
Batak berpedoman
kepada malam yang
berdasarkan
peredaran bulan yaitu
dimulai dengan jam
18.00 (jam 6.00
menjelang malam)
sampai dengan jam
18.00.
Adapun nama-nama
hari yang tujuh itu,
kemudian
dikembangkan
menjadi tiga puluh,
mengikuti peredaran
bulan dalam satu
bulan, adalah sebagai
berikut :
Artia (hari pertama,
senin), suma (hari
kedua selasa), anggara
(hari ketiga rabu),
muda (hari keempat
kamis), boras pati
(hari kelima Jumat),
singkora (hari keenam
sabtu), samisara (hari
ketujuh minggu),
artian ni aek, suma ni
mangodap, anggara
sampulu, muda ni
mangodap, boraspati
ni tangkop, singkora
purnama, samisara
purnama, tula, suma
ni holom, anggara ni
holom, nada ni
holom, singkora mora
turunan, samisara
mora turunan, artian
ni angga, suma ni
mate, anggara ni
begu, muda ni mate,
boras pati na gok,
singkora duduk,
samisara bulan mate,
hurung, ringkar.
Kalender Internasional
menghitung hari 356
hari atau 12 bulan
dalam setahun, tetapi
penanggalan batak
menghitung hanya 355
hari atau 12 bulan
namun sekali 3 (tiga)
tahun, ada bulan
ke-13 yang disebut
bulan lamadu.
Dalam kehidupan suku
Batak ada ahli
perbintangan yang
namanya disebut
“ Datu Siboto Ari”.
Datu Siboto Ari ini
dapat mengetahui dan
menentukan, hari
yang baik, hari yang
sial, hari yang naas,
hari yang subur dan
hari-hari lainnya. Datu
Siboto Ari (ahli
perbintangan Orang
Batak) yang dapat
mengetahui dan
menentukan mana
hari baik dan mana
hari sial, bukanlah
ilmu ramal-meramal
tetapi sesuai dengan
ilmu pengetahuan
yang mereka kuasai
maka mereka dapat
membaca dan
mengartikan situasi
yang akan terjadi pada
saat-saat tertentu,
atau hari-hari tertentu
sesuai dengan
pengaruh dan
hubungan letak dan
posisi bulan pada garis
edarnya dan
akibatnya terhadap
manusia.
Jadi jelaslah bahwa
ilmu perbintangan
Batak itu bukanlah
ilmu ramal meramal,
melainkan adalah ilmu
pengetahuan alam
atau ilmu hukum
alam. Menurut ilmu
perbintangan batak
bahwa manusia itu
sangat erat kaintannya
dengan alam
semensta, sehingga
letak dan posisi bulan
pada garis edarnya, ini
sangat berpengaruh
dan mempunyai
akibat tertentu,
terhadap kehidupan
manusia maka oleh
karena itu untuk
mengerjakan suatu
pekerjaan tertentu,
harus dipilih hari yang
baik. Para Datu Siboto
Ari (Ahli Perbintangan
Batak), pada
umumnya mereka
menuliskan ilmu
pengetahuan
perbintangan itu pada
sepotong bambu yang
disebut “Bulu
Parhalaan”.
Didalam bulu
parhalaan ini
dituliskan daftar hari
baik dan hari sial serta
hari-hari lainnya,
sesuai dengan
pengaruh dan akibat
letak posisi bulan
pada garis edarnya
terhadap manusia
yang berhubungan
dengan bentuk
pekerjaan yang akan
dikerjakan dan juga
disesuaikan dengan
tingkatan status orang
yang akan
mengerjakan
pekerjaan itu. Hanya
sayang Bulu parhalaan
itu, sangat sederhana
sekali, jadi masih
memerlukan usaha
kita sekarang untuk
menyempurnakannya,
sehingga menjadi ilmu
yang sangat
bermanfaat luas
dalam kehidupan
manusia.
2. Pansur Sipitu Dai
(Pancur Tujuh Rasa)
juga melambangkan
bahwa penguasa Alam
Semesta, bersemayam
pada tingkatan langit
yang Ketujuh, dan
pada lapisan awan
yang ketujuh. Hal ini
dapat kita lihat dalam
Tonggo-tonggo si Raja
Batak (Doa Siraja
Batak) sewaktu si Raja
Batak mengadakan
upacara persembahan
menyembah Debata
Mulajadi Na Bolon di
Puncak Dolok Pusuk
Buhit, dengan
Tonggo-tonggo (Doa
sebagai berikut) :
“ Hutonggo hupio
hupangalu alui ma
hamu ompung,
Debata Mula Jadi
Nabolon, dohot tamu
ompung Debata
Natolu, natolu suhu
natolu harajaon,
namanggomgomi
langit dohot tano,
dohot jolma manisia”.
(Aku berdoa,
menyebutkan dan
berseru padamu
Tuhan, Tuhan Yang
Maha Kuasa, Tuhan
dengan Tiga nama
Tuhan dengan
kekuasaan, tiga
kerajaan, yang
menguasai langit bumi
serta segenap isinya).
Mula ni dungdang
mula ni sahala,
Siutung-untung
nabolon, silaeng laeng
mandi, Siraja inda-
inda, siraja indapati.
(Awal dari
“ dungdang” awal dari
kharisma, Siuntung-
untung na bolon,
burung layang-layang,
Siraja inda-inda, Siraja
idapati).
Napajungjung pinggan,
dihos ni mataniari,
Nahinsa-hinsa suruon,
nagirgir mangalapi,
nasintak sumunde-
sunde, nauja
manotari, siboto
unung-unung, nauja
manangi-nangi. (Yang
menjingjing piring di
tengah teriknya
matahari, yang
gampang disuruh, dan
mudah jemput, yang
maha tau apa yang
dibicarakan, serta
yang peka).
Napabuka-buka pintu,
napadung-dang
dungdang ari,
napasorop-sorop
ombun, di gorjok-
gorjok ni ari,
parambe-rambe
nasumurung, sitapi
manjalahi, napatorus-
torus somba, tu
ompunta Mulajadi.
(Yang membuka pintu,
yang menentukan
hari, yang
meneduhkan hari,
diatas teriknya panas
mata hari,
menenangkan yang
panas hati, dan
menunjukkan jalan
yang baik, yang
meneruskan doa
kepada Tuhan).
Tuat ma hamu
ompung, sian ginjang
ni ginjangan, sian
langit ni langitan, sian
toding banua ginjang,
sian langit na pitu
tingka, sianombun na
pitu lampis, sian
bintang na
marjombut, tu lape-
lape bulu duri, sian
mual situdu langit, tu
gala-gala napul-pulan,
hariara sangka
mandeha, baringin
tumbur jati, disi do
partungkoan ni
ompunta Mulajadi.
(Datanglah Engkau ya
Tuhan, dari tempat
yang Maha Tinggi dari
atas langit, serta alam
semesta. Dari langit
yang ketujuh dan dari
awan yang ketujuh
lapis, “sian bintang
najorbut, tu lape-lape
bulu duri ”. Dari mata
air menuju langit, tu
gala-gala napulpulan.
Hariara sangka
mendeha, baringin
tumbur jati, disitulah
bersemayam, Allah
Bapak maha Pencipta
langit dan bumi).
Jadi dalam tonggo-
tonggo ini, jelas kita
mengetahui bahwa
Allah Pencipta alam,
bersemayam di langit
yang ke tujuh.
3. Pansur si Pitu Dai
(Pancuran tujuh rasa),
juga melambangkan
bahwa ramuan obat-
obatan tradisionil
Batak, banyak yang
harus bersyarat tujuh
misalnya : harus tujuh
macam, harus tujuh
kali, harus tujuh buah,
harus tujuh lembar,
atau harus tujuh
potong.
4. Pansur sipitu Dai
(Pancur tujuh rasa),
juga melambangkan
tata tertib acara
margondang (acara
Gendang Batak). Pada
acara margondang,
acara harus dimulai
dengan Gondang si
Pitu Ombas (tujuh
buah irama lagu
Gendang dimainkan
secara non stop tanpa
di ikuti dengan tarian).
Setelah gendang sipitu
Ombas selesai, maka
dimulailah acara
menari, tetapi acara
ini, harus dimulai
dengan “Pitu Hali
Mangaliat” (Arak-
arakan tujuh kali
keliling lapangan
menari) dan untuk
menutupi acara
margondang ini, harus
dimulai dengan acara
Pitu hali mangaliat.
5. Pansur Sipitu Dai
(Pancuran tujuh rasa)
juga melambangkan
“ partuturan” (panggilan)
dalam stuktur atau
susunan Tarombo
(silsilah) karena hanya
tujuh Generasi yang
mempunyai Pertutuan
(panggilan) dalam satu
garis keturunan yaiut :
1. Ompu : Nenek
moyang yaitu semua
genarasi mulai dari
tiga generasi diatas
kita.
2. Ompung : Kakek,
yaitu orang yang dua
generasi diatas kita
3. Amang : Ayah, yaitu
yang satu generasi
diatas kita
4. Haha Anggi : Abang
Adik yaitu orang yang
segenerasi dengan kita
5. Anak : Anak yaitu
orang yang saatu
generasi di bawah kita
6. Pahompu : Cucu,
yaitu orang yang dua
generasi di bawah kita.
7. Nini : Cicit yitu
orang yang mulai tiga
generasi di bawah kita.
6. Pansur Sipitu Dai
(Pancur Tujuh rasa0
juga melambangkan
bahwa dari sepuluh
orang keturunan Guru
Tatea Bulan, hanya
tujuh orang yang
mempunyai keturunan
langsung, karena tiga
orang dari mereka
menjadi orang sakti :.
Adapun orang yang
menjadi sakti ialah :
1. Raja Uti Sakti dan
tinggal di udara, di
darat dan di laut.
2. Boru Biding laut
(boru Tunghau), sakti
dan tinggal di hutan
atau darat
3. Nan tinjo Sakti dan
tinggal di Danau Toba
atau laut.
Adapun yang
mempunyai keturunan
langsung sebanyak
tujuh orang yaitu :
1. Saribu Raja
2. Limbong Mulana
3. Sagala Raja
4. Silau Raja
5. Boru Pareme
6. Bunga Haomasan
7. Anting Haomasan
Nama yang tujuh ini di
gabung menjadi satu
ikatan yang
dinamakan “Sipitu
Tali’ (tujuh satu
ikatan), dan nama
yang tujuh ini jugalah
yang menjadi
pedoman untuk
pembagian negeri
limbong menjadi Pitu
Turpuk (tujuh daerah
perkampungan),
kemudian sipitu tali
atau sipitu turpuk ini
juga yang menjadi
dasar tata
pelaksanaan hukum
adat di negeri
limbong, baik secara
pribadi, maupun
secara kelompok.
Pemerintahan
Limbong dilaksanakan
oleh kumpulan dari
utusan dari tiap
kelompok atau
turpuk, yang disebut
dengan nama Raja
Bius (Raja Wilayah)
atau dengan istilah
Raja Ni Sipitu Tali.
Demikian juga dalam
acara kebudayaan
ritual, misalnya
mengadakan pesta
Horbo Bius atau
horbo lae-lae, maka
raja Bius atau raja ni
Sipitu tali inilah yang
paling banyak
berperan dengan raja-
raja yang lain yaitu :
‘Jonggi Manaor” dari
turpuk Sidauruk
“ Raja Sori” dari turpuk
Borsak Nilaingan
“ Raja Paradum” dari
turpuk Nasiapulu
“ Manontang Laut”
dari turpuk Sihole
“ Raja Paor” dari
turpuk habeahan
Bersamaan dengan
itu, lahirlah
Sisingamangaraja dari
marga Sinambela dan
juga Palti Raja dari
marga Sinaga.
Kesaktian Jonggi
Manaor ialah Batara
Guru Doli bertempat
tinggal di Limbong.
Kesaktian
Sisingamangaraja ialah
dari Bala Sori
bertempat tinggal di
Bakkara, dan
kesaktian Palti Raja
ialah Bane Bulan
bertempat tinggal di
Palipi.
Jonggi Manaor beserta
dan Raja Sori, Raja
Paradum, Manontang
Laut dan Raja Paor,
mereka inilah
pelaksana utama
dalam upacara “Hoda
Somba” yaitu upacara
persembahan,
mempersembahkan
kuda kepada Debata
Mulajadi Na Bolon
(Tuhan Yang Maha
Esa). Kuda ini
dipersembahkan
melalui perantaraan
Raja Uti, “Raja
Hatorusan natorus
marpangidoan tu
Debata ” (yang biasa
atau yang bisa
langsung bermohon
kepada Tuhan Yang
Maha Esa). Upacara
Hoda Somba ini
diadakan terutama
kalau terjadi kemarau
panjang di seluruh
wilayah Samosir.
Maka Hoda Somba
(Kuda Persembahan)
disediakan oleh
keturunan Lontung
dari Samosir,
kemudian kuda ini
diantarkan ke
Limbong yang
Upacara penyerahan
ini dipimpin oleh
marga Situmorang,
kemudian di Limbong
diadakan upacara
memohon turunnya
hujan mereka pergi ke
Simanggurguri dengan
membawa
seperangkat Gendang
di Simanggurguri
Jonggi Manaor
Martonggo (berdoa)
memohon turunnya
Hujan, dan pada saat
itu juga pasti datang
hujan sehingga semua
peserta upacara itu
harus basah kuyup di
Limbong di Guyur air
Hujan.
Hoda Somba (Kuda
Persembahan) ini
dipotong kemudian
dikuliti, semua
dagingnya dibagi dan
dimakan menurut tata
cara hak
(Parjambaron)menurut
status dan kelompok
masing-masing kepada
semua peserta
upacara. Hoda Somba
(Kuda Persembahan).
Kemudian kulit Kuda
itu, diantarkan kepada
Raja Uti di Barus dan
yang mengatarkannya
ialah Jonggi Manaor,
Raja Sori, Raja
Paradum, Manontang
Laut dan Raja Paon,
mereka berjalan kaki
dari negeri Limbong
melewati Hutan
belantara menuju
Barus.
Tetapi … setelah
mereka berjumpa
dengan Raja Uti di
Barus, kulit Kuda yang
mereka bawa dari
Limbong itu menjelma
menjadi Kuda yang
hidup sebagaimana
Kuda itu sebelum
dipotong.
Pansur Sipitu Dai
(Pancuran tujuh rasa)
ini juga mempunyai
kisah tersendiri dari si
Boru Pareme, karena
di Pansur Sipitu dai
inilah si Raja Lontung
bertemu dengan si
Boru Pareme, yang
kemudian mereka
kawin. Hingga
sekarang, apabila ada
orang yang kesurupan
si Boru Pareme, maka
orang itu selalu
meminta manortor
(Menari) di Pansur
Sipitu Dai. Siboru
Pareme dengan Raja
Lontung mempunyai 7
(tujuh) keturunan
yaitu : Sinaga,
Situmorang,
Pandiangan,
Nainggolan,
Simatupang,
Aritonang, Siregar.
Dari anak Lontung
yang tujuh orang ini,
anak yang paling
bungsu yaitu Marga
“ Siregar”, adalah
menantu kesayangan
bagi marga Limbong.
Hal itu dapat
dibuktikan kalau
pansur Ni Hela salah
satu Pancuran dari
yang tujuh yang di
khususkan untuk
tempat mandi semua
menantu (yang
mengawani putri
Limbong), kalau
pansur Hela ini russak,
maka hanya marga
Siregarlah yang
berkewajiban dan
berhak untuk
memperbaiki
Pancuran itu.
Demikianlah Kisah Pitu
Halongangan Opat
Batu Tolu Aek, (Tujuh
keajaiban Empat Batu
Tiga Air), yang terletak
di Kaki Dolok Pusut
Buhit Kecamatan
Sianjur Mula-mula,
semoga bukti-bukti
sejarah yang masih
mempunyai keanehan
ini, dapat dilestarikan
dan dikembangkan
oleh generasi penerus
Bangsa Indonesia
karena kebudayaan
yang ada di Sianjur
Mula-mula adalah
milik seluruh BANGSA
INDONESIA HORAS.

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.