Menurut cerita, tuak
bagot lebih dulu ada
dari tuak kelapa.
Rasanya pun tidaklah
sama. Kalau tuak
kelapa rasanya lebih
manis dan kadar
alkoholnya lebih tinggi
dibanding tuak bagot.
Sedang tuak bagot
bagot rasanya agak
asam, kadar
alkoholnya lebih
rendah. Kebanyakan
kedai tuak lebih suka
menjual tuak bagot,
karena peminatnya
juga lebih banyak.
Selain itu tuak bagot
juga dianggap mujur
untuk memperlancar
air susu ibu yang baru
melahirkan. Itu
sebabnya ibu yang
baru melahirkan
terutama di desa
selalu dianjurkan
minum tuak, agar
"tarusnya" deras
sehingga bayinya tidak
merasa kekurangan
minum.
Mungkin pula bisa
dipercaya bisa tidak,
hal itu ada
hubungannya dengan
kisah terjadinya tuak
bagot, konon bermula
dari airmata seorang
gadis rupawan yang
mengorbankan dirinya
menjelma menjadi
sebatang pohon enau
(bagot) untuk
membebaskan
ayahnya dari belenggu
hutang. Syahdan,
dahulu kala di sebuah
perkampungan di
pinggiran Danau Toba
tersebutlah seorang
anak lelaki tua hidup
berdua dengan anak
gadisnya yang
berwajah rupawan
(cantik). Lelaki tua itu
bernama Jalotua, dan
anak gadisnya
bernama Pitta Bargot
Nauli. Ada pun Jalotua
sudah lama menduda
sejak kematian
isterinya tatkala Pitta
Bargot berusia dua
tahun. Hidup mereka
sangatlah sengsara
karena kemiskinan.
Kalaupun mereka
mengusahai secuil
tanah, itu hanya dapat
menghidupi mereka
untuk jangka waktu
tidak lama.
Kesusahan bagi
Jalotua dan anak
gadisnya datang silih
berganti. Apalagi
ketika suatu ketika si
Pitta Bargot jatuh
sakit, bertambahlah
kesusahan hati lelaki
itu. sudah hidup sulit,
datang lagi penyakit
menimpa anak
tercinta. Pikir punya
pikir, akhirnya Jalotua
pergi menjumpai
orang kaya di
kampung itu minta
pinjaman uang untuk
biaya mengobati
anaknya. Tentu saja
Jalotua tidak
mempunyai borg
(jaminan) kecuali
sebidang tanah yang
mereka usahai selama
ini.
Suatu malam, Pitta
Bargot berkata pada
ayahnya: "Hidup kita
terus menerus susah.
Aku pikir kita perlu
mengadakan suatu
acara margondang
sambil berdoa kepada
Mulajadi Nabolon,
siapa tahu nasib kita
bisa berobah".
Tapi ayahnya
menjawab:
"Bagaimanalah
mungkin itu boru,
biaya untuk
margondang itu cukup
besar, apa daya kita.
Kalau kita mau pinjam
uang pun apa
jaminannya nanti,
sedang untuk makan
pun kita sulit".
Mendengar ucapan
ayahnya itu, Pitta
Bargot berkata :
"Kalau itu
persoalannya, aku
bersedia amang
berikan sebagai
jaminan. Mungkin
orang kaya itu mau
memberikan uangnya
kita pinjam. Mulanya
Jalotua tak tega
menuruti usul putrinya
itu, tapi karena Pitta
Bargot mendesak,
akhirnya jadi juga
anak gadisnya itu
ditawarkan kepada
orang kaya itu untuk
dijadikan "barang"
jaminan.
Kemudian
berangkatlah
keduanya ke rumah
orang kaya tersebut.
Setelah hal itu
diberitahu, si orang
kaya ternyata setuju
memberikan pinjaman
dengan Pitta Bargot
sebagai jaminan.
Orang kaya itu
berpikir, kalau pun
nanti Jalotua tidak
mampu
mengembalikan uang
pinjamannya maka
sesuai dengan
perjanjian, si Pitta
Bargot yang cantik itu
jadi miliknya dan nanti
bisa dijadikan istri
kelima. Setelah uang
itu diberikan kepada
Jalotua,maka Pitta
Bargot pun tinggallah
sementara di rumah
orang kaya itu.
Berangkatlah si Jalotua
membawa uang
pinjamannya, mencari
pargonsi (grup
gondang sabangunan)
sesuai saran anak
gadisnya. Setelah
pemusik gondang
sudah ditemukan, dan
hari pelaksanaannya
ditentukan, si Jalotua
pun menjumpai anak
gadisnya di rumah si
orang kaya
memberitahu rencana
tersebut.
Pitta Bargot kemudian
menjumpai si orang
kaya meminta izin
agar diperkenankan
ikut dalam pesta
gondang pada hari
yang ditentukan
ayahnya. Tapi Pitta
Bargot juga bertanya :
"Bagaimanakah
sekiranya penyakitku
kambuh saat pesta
berlangsung, lalu aku
mati di sana, apakah
kami juga membayar
hutang yang dipinjam
damang?".
Si orang kaya
menjawab : "Baiklah,
kau boleh pergi
menghadiri pesta itu.
tapi setelah pesta
selesai, kembalilah ke
sini. Tentang kematian
yang kau sebut, itu
adalah takdir setiap
manusia kalau sudah
waktunya. Kalau
memang kau
meninggal saat pesta
gondang itu, ayahmu
tak perlu membayar
hutang-hutangnya".
Pitta Bargot lalu
menceritakan hal itu
pada ayahnya. Tapi
dalam hatinya sudah
ada pikiran tertentu,
bahwa orang kaya itu
ingin memiliki menjadi
istri. Pitta Bargot tidak
percaya dengan
ucapan orang kaya itu.
Dia juga kasihan
ayahnya tak sanggup
membayar hutangnya
setelah pesta selesai.
Pitta Bargot pun
martonggo
(memohon) kepada
Mulajadi Na Bolon
agar ia dijadikan
menjadi sesuatu yang
nantinya bisa
membebaskan
ayahnya dari
kesusahan. Saat itu
Pitta Bargot telah
merasakan bahwa
keinginannya akan
dikabulkan, sesuai
dengan mimpinya.
Berkatalah Pitta
Bargot kepada
ayahnya : "Amang,
janganlah bersedih
bila ini kukatakan.
Kalau aku mati nanti
di pesta gondang itu,
itu adalah berkat bagi
kehidupan dan
kebahagiaanmu. Tapi
ingatlah amang,
setelah aku mati,
janganlah mayatku
dikubur, karena aku
nanti akan berubah
menjadi sebatang
pohon yang tumbuh
di atas tanah yang bisa
amang saksikan
sepanjang masa. Kalau
amang membuat
rumah nanti, ambillah
rambutku menjadi
atapnya, dan
tanganku bisa
dijadikan tiang-tiang
dan urur. Kalau
badanku, amang
ambillah untuk papan
lantai atau dinding.
Dan kalau amang tak
punya uang, pukulilah
bagian mataku, agar
air mataku keluar.
Tampunglah airmata
itu, karena nanti itu
bisa dijual menjadi
minuman yang disukai
banyak orang".
Mendengar hal itu,
ayahnya sangat sedih.
Pendek cerita
gondang pun
diadakan di halaman
rumahnya. Saat pesta
sudah berlangsung
dan musik gondang
terdengar tiga
putaran, si Pitta
Bargot mendadak
kesurupan. Saat
gondang dibunyikan
untuk ke tujuh kalinya,
Pita Bargot kejang-
kejang, dan tak lama
kemudian kedua
kakinya melesak ke
dalam tanah. Yang
lebih
menggemparkan,
sekonyong-konyong
seluruh tubuhnya
berubah sedikit demi
sedikit menjadi
sebatang pohon yang
makin lama makin
besar, lengkap dengan
daun-daun
sebagaimana halnya
sebatang pohon
hidup. Seluruh hadirin
yang ada di pesta itu
terkejut dan
berhamburan kesana-
kemari, karena
peristiwa seperti itu
belum pernah terjadi.
Sejak itu pohon itu
diberi nama "bagot",
yang diambil dari
nama Pitta Bargot.
Pohon itu berurat ke
bawah, berdaun ke
atas. Lama-lama
tumbuh pula "mata"
pohon yang disebut
juga arirang. Setelah
tiba saatnya Jalotua
memukuli bagian
mata pohon itu seperti
dipesankan putrinya.
Air yang keluar deras
dari air mata bagot itu
kemudian dinamakan
tuak. Sejak itu Jalotua
menjualnya kepada
orang-orang
sekampung, yang lama
kelamaan menyebar
ke berbagai penjuru.
Pohon bagot itu pun
beranak pinak,
tumbuh di berbagai
tempat, dan memberi
kehidupan pula bagi
orang lain.
Kemudian Jalotua pun
mendirikan rumahnya.
Semua perlengkapan
untuk rumah tak ada
yang dibeli, tapi
dimanfaatkan dari
pohon bagot seperti
pesan Pitta bargot.
Mulai dari ijuk,
batang, sampai lidi
menjadi benda yang
bermanfaat untuk
manusia.
No comments:
Post a Comment
Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.