Saturday, 4 June 2011

Siboru Natumandi Hutabarat

http://
tobings.wordpress.com/2009/07/24/
legenda-putri-
bidadari-%E2%80%9Csi-
boru-natumandi-
hutabarat%E2%80%9D/
Gadis ini selalu dipingit
oleh kedua
orangtuanya karena
parasnya yang cukup
cantik bak seorang
bidadari. Di zamannya,
gadis ini diyakini yang
tercantik diantara
gadis-gadis di
Silindung (Tarutung).
Tak heran, banyak
pria yang tergila-gila
kepadanya. Namun
gadis ini menurut
cerita masyarakat dan
keturunan
keluarganya yang saat
ini masih hidup
terakhirnya menikah
dengan seekor ular.
Berikut hasil
penelusuran wartawan
media ini, tentang
legenda Si Boru
Natumandi selama
sebulan lebih. Berawal
saat si boru
Natumandi diusianya
yang sudah beranjak
dewasa, memiliki
pekerjaan sehari-hari
sebagai seorang
petenun ulos.
Disebuah tempat
khusus yang
disediakan oleh
orangtuanya, setiap
hari Si boru
Natumandi lebih
sering menyendiri
sambil bertenun,
kesendirian itu bukan
karena keinginannya
untuk menghindar
dari gadis-gadis desa
seusianya, namun
karena memang
kedua orangtuanya
lah memingit karena
terlalu sayang.
Sayang, saat
penelusuran ke
berbagai narasumber
untuk mengetahui
siapa sebenarnya
nama kedua
orangtuanya, marga-
marga Hutabarat yang
tinggal di Desa
Hutabarat Banjar
Nauli, Kecamatan
Tarutung, Kabupaten
Tapanuli Utara
(Tempat asal kampung
halaman Si boru
Natumandi) tidak
satupun yang
mengetahui persis
siapa nama kedua
orangtuanya.
Namun salah satu
warga Desa Hutabarat
yakni Lomo Hutabarat
(51) yang mengaku
satu garis keturunan
dengan keluarga Si
Boru Natumandi
belum lama ini
berkata, bahwa
dulunya kampung
halaman Siboru
Natumandi adalah di
Dusun Banjar Nahor,
Desa Hutabarat,
namun dusun itu
kemudian pindah
sekitar 500 meter dari
desa semula dan
sekarang diberi nama
Dusun Banjar Nauli.
Dikatakan Lomo
Hutabarat, bahwa dari
3 anak si Raja Nabarat
(Hutabarat) antara
lain Sosunggulon,
Hapoltahan dan
Pohan, Si boru
Natumandi dikatakan
berasal dari keturunan
Hutabarat Pohan.
Hanya penuturan itu
yang dapat diperoleh
dari Lomo Hutabarat.
Sementara itu
keturunan Si boru
Natumandi lainnya
yakni L Hutabarat (76)
mengisahkan, bahwa
dia juga tidak
mengetahui persis
cerita yang
sebenarnya tentang Si
boru Natumandi,
menurutnya ada
beberapa versi
tentang legenda gadis
cantik ini.
Berikut kisah Siboru
Natumandi yang
diketahui L Hutabarat.
Suatu hari di siang
bolong, Si boru
Natumandi sibuk
bertenun di gubuk
khususnya, tiba-tiba
seekor ular besar jadi-
jadian
menghampirinya,
konon ular tersebut
dikatakan orang sakti
bermarga
Simangunsong yang
datang dari Pulau
Samosir. Saat ular itu
berusaha
menghampiri si boru
Natumandi, ia justru
melihat sosok ular
tersebut adalah
seorang pria yang
gagah perkasa dan
tampan. Saat itulah,
sang ular berusaha
merayu dan mengajak
Si boru Natumandi
untuk mau menikah
dengannya.
Melihat ketampanan
dan gagahnya sang
ular jadi-jadian
tersebut, Siboru
Natumandi akhirnya
menerima pinangan
tersebut, setelah
pinangannya diterima,
sang ular kemudian
mengajak Si Boru
Natumandi untuk
pergi menuju kearah
sungai Aek Situmandi
dan melewati tempat
pemandian sehari-hari
Si boru Natumandi di
Sungai Aek Hariapan.
Dari tempat itu,
mereka meninggalkan
pesan kepada
orangtua Si Boru
Natumandi dengan
cara menabur sekam
padi dari tempat
bertenun hingga ke
Liang Siboru
Natumandi sekarang.
Pesan sekaligus tanda
itu artinya agar Bapak/
Ibu dan semua
keluarga mengetahui
kalau dia telah pergi
dan akan menikah
dengan seorang pria,
dimana sekam padi
tersebut bermakna
sampai dimana sekam
ini berakhir, disitulah
Si Boru Natumandi
berada.
Sore harinya, saat
kedua orangtuanya
pulang dari
perladangan, mereka
mulai curiga melihat
putri semata wayang
mereka tidak ada
ditempatnya bertenun
dan juga tidak ada
dirumah, akhirnya
kedua orangtuanya
memutuskan untuk
memberitahukan
warga sekitar untuk
melakukan pencarian.
Melihat sekam padi
yang bertaburan bak
sebuah garis pertanda
dan tak kunjung
ditemukannya Si boru
Natumandi hingga
keesokan harinya,
akhirnya taburan
sekam di tepi sungai
Aek Situmandi dan
berujung disebuah
liang/gua yang hanya
berjarak sekitar 500
meter dari kampung
halaman Si boru
Natumandi diyakini
kalau Si boru
Natumandi menikah
dengan seekor ular.
Namun versi cerita
lainnya, ternyata Si
boru Natumandi tidak
menikah dengan
siluman ular yang
bermarga
Simangunsong, akan
tetapi siluman ular
tersebut malah
meninggalkan si boru
Natumandi begitu saja
disebuah hamparan
tak berpenduduk.
Setelah ditinggalkan
begitu saja, Si boru
Natumandi terus
menerus menangis
karena telah tertipu
siluman ular tersebut,
namun ketika itu
seorang pengembala
datang dan
menghampirinya,
penggembala tersebut
juga terpikat melihat
keindahan tubuh dan
kecantikannya, lalu
sipengembala
mengajaknya agar
mau menikah
dengannya. Konon
dalam versi ini, si
pengembala tersebut
dikatakan bermarga
Sinaga.
Sipengembala
kemudian membawa
Si boru Natumandi ke
Pulau Samosir untuk
dinikahi. Berselang
beberapa generasi
keturunan si boru
Natumandi dan
sipengembala
bermarga Sinaga
tersebut di Samosir,
keturunannya
dikatakan pernah
berusaha mencari asal
usul si boru
Natumandi (Untuk
mencari Tulang/
pamannya). Usaha pun
dimulai dengan
menyeberangi Danau
Toba dengan sebuah
perahu kayu menuju
Kota Tarutung dengan
membawa sejumlah
makanan khas adat
batak. Namun
sesampainya di
Sipoholon (Kota
Sebelum Tarutung
saat ini) ada
keturunan Hutabarat
Pohan bermukin
disana, yakni dari
keturunan Raja
Nabolon Donda Raja.
Saat rombongan
bertanya tentang Si
boru Natumandi,
keturunan Raja
Nabolon Donda Raja
yang tinggal di
Sipoholon langsung
mengakui kalau
merekalah keturunan
si boru Natumandi,
dan saat itu makanan
yang dibawa
keturunan si boru
Natumandi langsung
mereka terima hingga
akhirnya acara
syukuran pun
dilakukan. Padahal
keturunan Si boru
Natumandi
sebenarnya adalah
anak kedua dari si
Hutabarat Pohan
yakni si Raja
Nagodang yang
sampai saat ini masih
ada tinggal di Dusun
Banjar Nauli.
Setelah acara
syukuran dilakukan,
rombongan keturunan
Si Boru Natumandi
pun berangkat
kembali ke Samosir
untuk
memberitahukan
kabar tersebut kepada
keluarga. Namun saat
menyeberangi Danau
Toba perahu yang
mereka tumpangi
tenggelam hingga
semua yang ada
dalam perahu
meninggal dunia.
Versi selanjutnya, Si
boru Natumandi
dikatakan menikah
dengan resmi, hal ini
menurut L Hutabarat,
karena sejak dia masih
kecil pernah melihat
sebuah guci yang
terbuat dari kayu
tempat mas kawin si
boru Natumandi di
rumah saudaranya
boru Simatupang. Saat
itu, boru Simatupang
mengatakan kepada L
Hutabarat bahwa guci
tersebutl adalah
tempat mas kawin si
boru Natumandi.
Guci tersebut konon
memiliki sejarah
tersendiri, dimana isi
guci tersebut hanya
dipenuhi kunyit yang
suatu saat akan
berubah menjadi
kepingan/batangan
emas, hal ini diberikan
dan dipastikan
keluarga suami Si
boru Natumandi yang
memiliki kesaktian,
dan selanjutnya
kepada kedua
orangtuanya diminta
untuk tidak membuka
guci tersebut sebelum
tujuh hari tujuh
malam. Akan tetapi,
orangtua Si boru
Natumandi melanggar
permintaan tersebut.
Setelah kedua
orangtuanya
membuka guci itu,
ternyata kunyit
tersebut sudah mulai
berubah mejadi
batangan emas murni.
Nasib sial pun dialami
kedua orangtua si
boru Natumandi kala
itu. Tatkala usia
orangtua si boru
Natumandi beranjak
ujur, akhirnya mereka
menimbun emas
tersebut di Dolok
Siparini (Masih di Desa
Hutabarat) karena
takut akan menjadi
bahan rebutan bagi
adik-adiknya dan
keluarganya (Dari
pihak laki-laki) suatu
saat nanti, sebab
banyak diantara
keluarganya yang
mengetahui tentang
kisah guci ini.
“ Cerita saya ini
bukanlah yang
menjadi sejarah yang
pasti, saya juga hanya
mendengar cerita-
cerita dari sejak saya
masih kecil, sehingga
cerita saya tadi
bukanlah yang bisa
saya bilang pasti,
kalau cerita sejarah
yang sebenarnya tidak
ada lagi sekarang yang
tahu,” tutur L
Hutabarat sambil
meneguk kopinya
yang sudah mulai
dingin.
Saat ini, lokasi Gua
Liang Si Boru
Natumandi dijadikan
sebagai salah satu
objek wisata oleh
Pemkab Taput. Banyak
orang berkunjung ke
tempat ini untuk
meminta rejeki atau
hal-hal lain. Hal
terbukti dimana
dilokasi liang Si Boru
Natumandi terdapat
tumpukan-tumpukan
sesajen yakni berupa
puntungan-puntungan
rokok yang tersusun
teratur dan beberapa
kelopak daun sirih.
Sayangnya, penataan
objek wisata ini masih
kurang mendapat
perhatian dari pihak
Pemkab Tapanuli
Utara. Sebab disekitar
lokasi ini, masih belum
ada penataan objek
wisata yang baik, dan
masih banyaknya
sampah di areal gua
ini.

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.