Saturday, 4 June 2011

Batak dianggap penjajah identitas

Setiap orang berasal
dari Medan yang
merantau ke daerah
lain seperti ke jakarta
dianggap orang Batak
padahal orang
tersebut dari suku
Melayu atau Suku
jawa, sehingga mereka
merasa orang Batak
menjadi Penjajah
Indentitas mereka
Untuk sampai kepada
jawaban atas
pertanyaan apakah
orang Batak benar-
benar telah menjajah
identitas orang-orang
non-Batak di
Sumatera Utara,
alangkah baiknya jika
kita mengenal orang
Batak secara lebih
dekat.
Dalam sejarah orang
Batak, yang diwariskan
secara turun-temurun
dari mulut ke mulut,
dikenal sebuah
ungkapan “Madekdek
sian langit, mapultak
sian bulu. ”Secara
harfiah, ungkapan ini
dapat diartikan “Jatuh
dari langit, keluar dari
batang bambu. ”Proses
keberadaan orang
Batak yang terbilang
ajaib sehingga tak
mungkin ditelusuri
garis sejarahnya ini,
tentu saja, sangat
bertentangan dengan
berbagai teori yang
mengatakan bahwa
orang Batak
merupakan keturunan
ras Mongol yang
bergerak dariYunan,
Cina Selatan. Tetapi,
satu hal yang perlu
kita ingat adalah
bahwa ungkapan ini
akan tetap terpelihara
dengan baik, meski
dalam jangka waktu
beberapa tahun
mendatang muncul
teori dan hipotesa
baru yang mencoba
menjelaskan tentang
asal mula orang Batak.
Selain melalui
ungkapan “Madekdek
sian langit, mapultak
sian bulu ”kita juga
mengenal karakteristik
orang Batak melalui
istilah “Raja.”Karena
sifatnya yang selalu
merasa sebagai
manusia yang istimewa
dan berbeda dengan
manusia lainnya,
orang Batak selalu
menyebut dirinya
sebagai raja.
Kenyataan ini dapat
dengan mudah kita
saksikan pada
upacara-upacara adat,
seperti upacara
perkawinan atau
upacara kematian.
Pada upacaraupacara
seperti ini, semua
hadirin disapa dengan
gelar kehormatan
Raja, seperti Raja ni
Hula-hula, Raja ni
DonganTubu/
Sabutuha, Raja ni
Boru, Raja ni Dongan
Sahuta, dan lain
sebagainya. Gelar
kehormatan ini
diberikan tanpa
memandang jenis
kelamin, status
ekonomi, pendidikan,
dan lain-lain. Maka,
bagi orang
Batak, bukanlah
sesuatu yang
mengherankan jika
seorang perempuan
paruh baya yang
bekerja sebagai
pedagang kaki lima
disapa sebagai “Raja ni
Boru”pada suatu
upacara adat
perkawinan.Sifat dan
karakteristik ini
kemudian menjadi
unik dan menarik
karena telah menjadi
darah dan daging
orang Batak. Bahwa
mereka tercipta
dengan cara yang
ajaib dan seringkali
dipanggil raja,
ternyata bukanlah
ungkapan dan prinsip
yang dipelihara dan
tercermin melalui
upacara adat saja.
Bahkan dalam
kehidupan sehari-hari,
prinsip ini
mempengaruhi cara
hidup orang Batak.
Ketika harapan untuk
hidup layak di tanah
sendiri semakin kecil,
orang Batak selalu
siap untuk merantau
hingga ke pelosok
tanah air, bahkan ke
ujung dunia sekalipun,
asalkan tetap menjadi
raja atas diri sendiri.
Dan sungguh luar
biasa, dengan
berbekalkan prinsip
ini, orang Batak
mampu bertahan di
tengah kerasnya hidup
dan kezamnya zaman
dengan menjadi
seorang pemulung,
supir/kernet,
pedagang asongan/
kaki lima, hingga
pejabat tingggi di
lingkungan
pemerintahan.
Mungkin, inilah yang
membentuk orang
Batak menjadi
manusia yang dikenal
berwatak keras dan
pantang menyerah
pada keadaan.Di
tengah padatnya
aktivitas di tanah
perantauan, seperti di
Medan, orang Batak
tidak pernah
melupakan asalnya.
Hal ini tercermin dari
punguan
(perkumpulan), baik
perkumpulan se-
marga, segaris
keturunan, atau
perkumpulan
sekampung halaman,
yang sengaja dibentuk
sebagai wadah
perjumpaan dengan
sesama perantau. Di
samping sebagai
wadah untuk
mempererat
hubungan silaturahmi
dan kekerabatan
dengan sesama,
perkumpulan seperti
ini juga merupakan
wadah untuk
menanamkan suatu
prinsip agar orang
Batak selalu ambil
peduli terhadap nasib
“ sesamanya” dan
sebisa-bisanya terlebih
dahulu memberi
uluran tangan kepada
“ saudara” yang
membutuhkan.
Dengan demikian,
orang Batak akan
lebih mudah dikenal
di mana pun bumi
dipijak.
Tak dapat dipungkiri
memang, prinsip
untuk selalu
mendahulukan dan
mengutamakan
“ sesama” atau
“saudara” seringkali
dipelesetkan menjadi
sebuah tindak
“ terkutuk” yang sejak
Mei 1998 tiba tiba
menjadi momok yang
sangat menakutkan –
NEPOTISME. Batak
pun, sebagai etnis
yang sangat
menjunjung tinggi
prinsip ini, masuk ke
dalam blacklist etnis
paling nepotis di bumi
pertiwi ini. Alhasil,
ketika pucuk
pemerintahan di
Sumatera Utara atau
jabatan tertinggi suatu
instansi dipegang oleh
orang Batak, maka
orang beramai-ramai
“ mengikhlaskan diri”
sebagai orang Batak:
mereka memakai
marga Batak yang
sepadan dengan
marganya atau ketika
mereka berasal dari
etnis yang tidak
memiliki padanan
marga dengan marga-
marga Batak, mereka
akan “lumrah” saja
ketika orang lain
mengenal dan
menyebutnya sebagai
orang Batak. Banyak
orang kemudian
merasa “aman”
berlindung di balik
indentitas mereka
sebagai orang yang
“ di-Batakkan” hingga
tiba hari ketika
mereka merasa bahwa
posisi dan situasi yang
ada sangat
memungkinkan untuk
menunjukkan identitas
mereka yang
sesungguhnya.
Apakah kenyataan ini
memberi sebuah
petunjuk bahwa Batak
telah menjajah
identitas orang-orang
non-Batak di
Sumatera Utara?
Ternyata tidak. Dari
data dan fakta yang
telah diuraikan di atas,
jelas sekali bahwa
orang Batak hanya
ingin mereka dikenal
di Sumatera Utara
atau di bagian mana
pun dunia ini, bukan
agar Sumatera Utara
dikenal sebagai tanah
Batak.
Perkumpulan dan
prinsip yang ada
semata-mata
ditujukan untuk
menyatakan dan
menegaskan
eksistensinya di negeri
yang memang disadari
penuh dengan
keanekaragaman ini.
Jadi, tidak ada alasan
untuk mem-Batakkan
atau menyangkal
identitas orang-orang
non-Batak yang ada di
Sumatera Utara
karena orang Batak
sendiri menyadari
betapa keinginan
untuk dikenal sebagai
diri kita yang
sebenarnya adalah
sesuatu yang hakiki.

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.