Sejak awal , Silalahi
Nabolak adalah satu-
satunya bius / bona
pasogit keturunan Raja
Silahisabungan dikenal
khalayak disekitar Pakpak
Dairi, Angkola Mandailing,
Samosir , Karo dan
Simalungun. Jauh sejak
awal, ketika keturunan
Raja Silahisabungan
merantau keluar dari
Silalahi Nabolak, mereka
sering dipanggil sesuai
negeri asalnya yang lebih
dikenal familiar, yaitu
Silalahi. Alhasil , dalam
proses waktu dan
administrasi maka
pemakaian nama Silalahi
berkembang menjadi
marga, terutama di negeri
perantauan Simalungun,
Dairi, Karo dan Samosir.
Itu sebabnya, beberapa
marga keturunan Raja
Silahisabungan dari
Silalahi Nabolak, seperti :
Sihaloho, Situngkir,
Sidebang, Pintu Batu, dan
lainya, karena adanya
sebutan Silalahi kepada
mereka ( sebagai
perantau dari negeri
Silalahi ) diperantauan ,
seiring waktu banyak
kemudian menjadikan
Silalahi sebagai marga
dalam tertib administrasi
kependudukan. Dan ada
semacam konsensus
internal antar sesama
keturunan Raja Silahi
Sabungan , bahwa semua
keturunan Raja Silahi
Sabungan berhak
memakai marga Silalahi,
sesuai nama tanah asal
mereka, yaitu Silalahi
Nabolak. Atau umumnya,
keturunan Raja
Silahisabungan dari
Silalahi Nabolak
mengakuisisi bahwa
Silalahi sebagai MARGA
PARSADAAN keturunan
Silahisabungan di
perantauan , sampai saat
ini.
Hal ini kemudian terbukti
dengan adanya marga
Silalahi keturunan
Sihaloho, Situngkir, atau
lainnnya. Artinya, masing-
masing mengerti dan
memahami kejelasan asal-
muasal klan marga
mereka. Hal ini sangat
diperlukan dan akan
penting ketika terkait
hubungan Tutur
(pangggilan antar
keturunan / kekerabatan)
maupun dalam hubungan
adat.
LOGO PUNGUAN
POMP. RAJA SILAHI
SABUNGAN
Ini bukanlah masalah
inkonsistensi dalam hal
pemakaian marga
keturunan. Pemakaian
marga Silalahi sama sekali
tidak menjadi masalah
bagi 7 (delapan)
keturunan Raja
Silahisabungan, yang
menyatakan identitas
mereka sebagai keturunan
yang berasal dari Silalahi
Nabolak. Tidak ada alasan
untuk membatasi
pemakaian marga Silalahi
bagi keturunan Raja
Silahisabungan. Justru
pemakaian marga Silalahi
juga mempertegas bahwa
seseorang itu adalah salah
satu keturunan dari tanah
(bius) Silalahi
Nabolak. Demikian juga
dengan Keberadaan
Silalahi di Toba Holbung
( Balige ) dan Samosir
yang pada awalnnya
adalah identitas yang
awam untuk menyatakan
mereka sebagai orang-
orang perantau
(pendatang) dari Silalahi
Nabolak. Jelas akan
berbeda dengan
keturunan Tambunraja
atau Siraja Tambunn,
keturunan mereka tidak
pernah memakai Silalahi
karena memang secara
defacto mereka tidak
berkembang di Silalahi
Nabolak, tetapi di Sibisa.
Belakangan marak
informasi yang sengaja
digagas yang mengatakan
keberadaan marga Silalahi
sebagai anak tertua dari
Silahi sabungan di
Panguruan dan Tolping
Samosir. Demikian dengan
ingkaran yang
menyatakan bahwa Raja
Silahi sabungan memilki 3
isteri dan sembilan anak,
dimana Silahiraja sebagai
anak tertua. Saatnya kita
tidak usah terpengaruh
namun baik-baik
mencerna dan
memehami. Belakangan,
kelompok marga Silalahi
ini menyatakan diri
sebagai Silalahi Asli atau
Silalahi Raja. Sejauh ini,
propaganda mereka
adalah rekomendasi dari
klan Parsadaan Pinompar
Naiambaton (PARNA) ,
klan Simbolon, yang
menyatakan Silalahi Raja
Parboruon (Boru
Sihabolonan) dari klan
marga Simbolon di
Pangruruan. Klan Silalahi
ini telah salah
menterjemahkan
pernyataan klan
Simbolon. Yang menjadi
Raja Parboruonklan
Simbolon adalah marga
Silalahi bukan Raja
Silahisabungan. Artinya
yang menikahi putri klan
Simbolon ialah marga
Silalahi, bukan Raja
Silahisabungan.
Bila ditinjau dari
keberadaan kompsisi
marga-marga di Bius
Sitolu Hae Pangururan,
Samosir. Keberadaan
marga Silalahi termasuk
dalam kategori marga
pendatang. Hal ini terlihat
jelas dari posisi marga
Silalahi sebagai Raja Boru
diantara marga Raja
Tanah (Partano Golat)
atau marga Suhut ni huta
di negeri Bius Pangururan
yang disebut Sitolu Hae
Horbo , yaitu : Marga
Naibaho, Marga
Sitanggang dan Marga
Simbolon
Dari marga tanah ( suhut
ni huta ) inilah kemudian
terbentuk Raja Partali dari
cabang tiap – tiap marga
atau marga pendatang
yang menjadi bagian
marga Suhut ni huta ,
misalnya : Dari marga
Naibaho, dibentuk Raja
Partali Naibaho Siahaan,
Hutaparik, Sitangkaran,
Sidauruk, dan Siagian. Dari
Marga Sitanggang,
dibentuk Raja Partali
Sitanggang, Sigalingging,
Malau, dan Sinurat. Dari
Marga simbolon, dibentuk
Raja Partali Simbolon,
Tamba, Nadeak,
dan Silalahi.
( Perhatikan : Pada
fase ikatan Bius
Sitolu Hae di
Pangururan, posisi
marga Silalahi dan
Sinurat adalah
sama / selevel ).
Artinya Silalahi
adalah satu
generasi dengan
Sinurat, yaitu cicit
Raja Silahsabungan.
Fakta hubungan sosial
marga Silalahi dengan
marga Simbolon di Bius
Pangururan
memposisikan rendahnya
tingkat marga Silalahi di
Bius Pangururan, hal ini
karena marga Silalahi
adalah pendatang di Bius
Pangururan dan itupun
kemudian hanya menjadi
Raja Boru dari Simbolon
tertentu saja, ini artinya
tidak semua marga
Simbolon memiliki
hubungan kekerabatan
(tutur) Boru kepada
marga Silalahi di
Pangururan.
Selain itu, pada BIUS
sitolu Hae, kita perhatikan
ada marga Sinurat
dan Silalahi ( keturunan
Raja Silahi Sabungan ).
Kita tau, Sinurat
merupakan generasi
(cucu ) dari Sondiraja.
Artinya, Sinurat dan
Silalahi sebagai pendatang
( boru ) di Pangururan
adalah fakta dalam fase
waktu yang sama. Artinya,
marga Silalahi tidak lebih
dulu ada di Pangururan,
karena Bius Sitolu Hae
merupakan pengukuhan
keberadaan kaum-kaum
di ( Bius ) Pangururan. Hal
ini juga jelas bahwa
Simbolon yang mengakui
keberadaan Silalahi
sebagai Boru Sihabolonan
klan Simbolon di
Pangururan, bukan Raja
Silahi Sabungan, sebagai
mana yang sering
dikatakan kelompok
Silalahi Raja.
Sama halnya dengan
keberadaan marga Silalahi
di Tolping, Ambarita
Samosoir. Awalnya negeri
Tolping merupakan bagian
dari Bius Ambarita yang
dimiliki oleh Klan Nai
Ambaton. Dari komposisi
marga-marga yang secara
sah mendiami tanah
Tolping diketahui pula
bahwa mereka adalah
marga-marga pendahulu
yang mendiami negeri
tersebut. Itu sebabnya
mereka disebut dengan
SIPUKKA HUTA dalam
satu BIUS. Kelompok BIUS
adalah pemangku sah
akan tanah-tanah di
seluruh bius (negeri)
tersebut. Dan ini bukam
sembarang , karena
pembentukan satu BIUS
dilakukan dengan hati-hati
(sakral) dan terhormat.
Komposi marga-marga
SUHUT di ranah [golat]
TOLPING, Ambarita,
Samosir, dikuasai oleh
campuran berbagai
marga, di antaranya : Raja
Bona ni Ari, dipangku
marga Sihaloho, Raja
Pande Nabolon, dipangku
marga Silalahi, Raja
Panuturi, dipangku marga
Silalahi, Raja Panullang,
dipangku marga
Sigiro, Raja Bulangan,
dipangku Marga Sidabutar
(Nai Ambaton ), Raja
Pangkombari, dipangku
marga Siallagan
Tidak ada gambaran yang
menyatakan bahwa
Tolping merupakan negeri
yang dikuasai klan Silalahi
Raja Tolping. Asal mula
marga Silalahi di Tolping
diawali dari Siraja Tolping
yaitu keturunan
keturunan Raja Partada
bermaga Silalahi. Raja
Partada ialah anak dari
Bursokraja ( red.
Bursokraja adalah
keturunan Debang Raja
yang meninggalkan
Silalahi Nabolak dan
merantau ke Panguruan
dan menamai dirinya
Ompu Sinabang alias
Ompu Lahisabungan).
Sampai saat ini, makam /
tambak Ompu
Lahisabungan ada di
Dolok Parmasan ( tanah
pebukitan khusus tempat
pekuburan ) di
Pangururan , Samosir.
Keturunan Raja Partada
kemudian memakai
Silalahi. Jamaknya
keturunan Silahisabungan
yang telah mendiami
Tolping sehingga saat ini,
dari Tolping Ambarita
sampai ke Parbaba , Buhit,
Pasir Putih dan
Pangururan, marga-marga
keturunan Raja
Silahisabungan telah
mendiami sepanjang
pesisir daerah Samosir ini.
Tidak perlu ada istilah
Silalahi Tolping, Silalahi
Pangururan atau Silalahi
Raja, karena telah jelas
semua marga Silalahi yang
dimaksud adalah
keturunan dari Silalahi
Nabolak. Hanya saja
kelompok ini telah
menjadi apatis dan fanatik
dengan doktrin yang
mereka anut. Hal ini kami
maksidkan supaya
keturunan Raja
Silahisabungan dapat lebih
memahami bahwa
kelompok Silalahi ini
seringkali menjadi arogan.
Kalaupun kelompok
Silalahi ini memiliki tujuan
atau kepentingan
tertentu, tetapi saatnya
kini keturunan Raja
Silahisabungan bersama-
sama mengingatkan
kelompok ini. Seperti Ular
beludak, meski diingatkan,
mereka tetap bersikeras
dengan kekerdilah
mereka. Nyatanya,
kelompok ini tetap
bergabung dengan
perkumpulan keturunan
Raja Silahisabungan
lainnya di banyak tempat.
No comments:
Post a Comment
Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.