http://
blogberita.net/2007/05/17/
jangan-lecehkan-
budaya-batak-dengan-
agama/
Seorang Batak di
Medan yang
mengagumi
budayanya tak bisa
menahan diri untuk
tidak “marah”. Berikut
adalah opini yang
dikirim Toga
Nainggolan via imel
kepada BatakNews.
Pertama-tama, TB
Silalahi menyatakan,
“ Tanpa Nommensen,
saat ini orang Batak
mungkin masih pakai
cawat ”. Kemudian SAE
Nababan, mantan
ephorus HKBP dan
sekarang Presiden
Dewan Gereja
Sedunia, mengkritik
tiga hal yang
disebutnya sebagai
falsafah orang Batak;
hamoraon (kekayaan),
hagabeon (banyak
keturunan), dan
hasangapon
(kehormatan).
“ Falsafah Batak” yang
disebutnya tidak
sesuai ajaran agama
(Kristen).
Tanpa mengurangi
rasa hormat kepada
kedua tokoh Batak
dengan reputasi
nasional bahkan
internasional ini, aku
harus menyatakan
bahwa pernyataan-
pernyataan itu sangat
keliru.
Nommensen benar
membawa banyak hal
baru yang baik
kepada orang Batak.
Tetapi orang Batak
juga sudah merupakan
etnis yang sangat
tinggi kebudayaannya,
bahkan sebelum
Nommensen
diciptakan Tuhan.
Anda pernah
mendalami kerumitan
geometrikal motif
pada ulos? Anda
pernah tahu orang
Batak bisa
membangun sopo
godang (rumah adat
besar) tanpa sebiji pun
paku, namun
bangunan tinggi itu
tak akan tumbang
karena gempa sekuat
apapun, dan lebih
hebat lagi, bisa
dipindah-pindahkan
lokasinya? Pernah
mendengar
differensiasi melodi
tataganing dengan
sarune, ditambah efek
sustain ogung,
melahirkan harmoni
dan ritme yang begitu
rumitnya, sehingga
nyaris mustahil
dibuatkan partiturnya,
pada gondang
sabangunan? Nanti
kalian bilang aku
sombong kalau daftar
pencapaian kultur
Batak ini kuteruskan.
Soal demokrasi? Saat
Eropa masih feodal,
orang Batak sudah
duluan menerapkan
demokrasi yang
egaliter. Pernah
dengar prinsip
sitongka ditean
harajaon hasuhuton?
Gila benar
progresivitasnya.
Bahkan kerajaan, atau
otoritas (kekuasaan)
pemerintahan yang
sah, tidak punya hak
mengatur kedaulatan
sebuah keluarga, atau
hasuhuton.
Tak ada raja di tanah
Batak, justru karena
semua adalah raja.
Raja na ro, raja
nidapotna. Kalau yang
datang itu raja, maka
yang menyambut pun
raja. Petugas
pembersih jeroan
daging hewan untuk
sebuah pesta pun
disebut dengan Raja
Pamituhai, sejajar
dengan Raja Parhata,
Raja Paranak, Raja
Parboru, dan
seterusnya.
Di sebuah even, Anda
bisa menjadi hula-hula
yang mendapat
somba atau
penghormatan.
Namun di even lain,
Anda akan menjadi
anak boru yang justru
harus marsomba-
somba. Tak ada posisi
(dan kehormatan)
permanen dalam
budaya Batak.
Inikah bangsa yang
masih pakai cawat itu?
Ingat, prinsip penting
dalam kebatakan
adalah kehati-hatian.
Manat mardongan
tubu! Jangan asal
bunyi!
Ini pula yang
mengecewakan dari
tokoh sekaliber SAE
Nababan. Di pustaha
mana pula ada tertulis
bahwa falsafah Batak
itu hamoraon,
hagabeon,
hasangapon. Setahuku
itu cuma ada di lagu
“ Alusi Ahu”. Dan kalau
disimak, bahkan lirik
lagu itu pun tidak
bersepakat dengan
apa yang disebut SAE
Nababan sebagai
falsafah Batak itu. “Di
na deba,” itu artinya
buat sebagian orang,
namun untuknya yang
lebih penting adalah
“ Asi ni roham, basami
do na huparsinta-
sinta ”. Bahkan belas
kasih seorang gadis
pujaan hati, jauh lebih
penting dari ketiga hal
itu.
Dan Pak SAE Nababan
yang terhormat, saya
tak hendak mengajari
limau berduri, atau
ikan berenang.
Falsafah Batak itu
adalah somba
(penghormatan,
bukan kehormatan!),
elek (diplomasi dan
pengayoman), serta
manat (kehati-hatian).
Menghormati yang di
“ atas”, mengayomi
yang di “bawah”, dan
berhati-hati dengan
yang “sejajar”. Ya,
benar, Dalihan na
Tolu.
Bahwa banyak orang
Batak meletakkan
“ Dalihan Na Tolu”
versi Anda itu sebagai
goals of life, itu pilihan
personal. Tidak serta
merta itu bisa kita
nobatkan sebagai
falsafah Batak dong.
Saya tidak “sekadar”
orang Batak. Orang
tua saya seorang Datu,
yang memungkinkan
saya punya banyak
kesempatan terpesona
oleh keluhuran
sesungguhnya dari
budaya ini. Saya selalu
terluka dengan
serangan ofensif
agama-agama kepada
budaya Batak; ada
yang sampai
membakar ulos,
menjatuhkan giring-
giring, dan sebagainya,
hanya karena orang
rindu mendekap erat
keluhuran budayanya.
“Pelecehan” seperti ini
tidak saja datang dari
kalangan agama
Kristen, tetapi juga
Islam. Hanya saja,
karena mayoritas
orang Batak
beragama Kristen,
benturan habatahon
dengan kekristenan ini
lebih terasa.
Hati saya memang
pernah tergetar
mendengar lantunan
ayat suci Al-Qur ’an.
Saya juga akui,
merasakan
pengalaman rohani
yang dalam
mendengar suara
koor di gereja, yang
begitu harmonik dan
agung memuji Tuhan.
Tapi tak pernah dada
ini sampai terguncang
hebat, dengan air
mata bercucuran,
seperti ketika melihat
dua pihak yang
tadinya bertengkar
hebat, bisa
berpelukan,
marsisiukan sambil
tetap mengurdot-
urdotkan badan
seiring ritme gondang
sabangunan. Peluh
dan air mata
keharuan, bercampur
di tubuh-tubuh yang
bergerak seirama itu.
Agama-agama Anda
itu bisa? Ah, setahuku
malah menambah
konflik yang sudah
ada!
Anda juga mesti ingat,
“ sebenar” apapun
agama Anda itu, tetapi
itu adalah Raja Na Ro,
pendatang, yang harus
marsantabi
(bersitabik) dengan
Raja Nidapot, yaitu
adat Batak selaku
tuan rumah yang
sudah lebih dulu ada
dan berdaulat.
Silakan yakin sampai
mati dengan ajaran
impor Anda dari
Timur Tengah itu
(agama-agama
Abrahamic berasal
dari sana kan?) tapi
plis deh, jangan
lecehkan keluhuran
orisinil yang
diturunkan Mula Jadi
Na Bolon, yang
dihadiahkan sebagai
berkat eksklusif
kepada kami di tanah
kami.
Hati-hati! Merasa
sudah memahami
Tuhan adalah awal
kesesatan, karena Dia
punya bisikan rahasia
yang tersendiri,
kepada setiap hati.
No comments:
Post a Comment
Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.