Saturday, 4 June 2011

Mamoholi

APABILA satu keluarga
dekat kita melahirkan
seorang anak, kita
akan turut merasakan
sukacita yang besar
sebagaimana yang
dialami keluarga dekat
itu. Pada umumnya
kita akan menyatakan
sukacita itu dengan
datang berkunjung ke
rumah keluarga itu
dengan membawa
beras (parbue si pir ni
tondi sesuai dengan
kepantasannya
menurut posisi
kekerabatan masing-
masing) serta bentuk
pemberian lain baik
berupa makanan
maupun uang.
Didaerah-daerah
rantau seperti
Jabodetabek kita lebih
sering ambil
ringkasnya saja
dengan meberikan
uang sekadar untuk
membeli keperluan si
bayi yang baru lahir
seperti sabun, bedak,
susu atau lainnya.
Diwilayah adat Toba,
mamoholi disebut
manomu-nomu yang
maksudnya adalah
menyambut
kedatangan
(kelahiran) bayi yang
dinanti-nantikan itu.
Disamping itu juga
dikenal istilah lain
utuk tradisi ini sebagai
memboan aek ni unte
yang secara khusus
digunakan bagi
kunjungan dari
keluarga hula-hula/
tulang.
Pada hakikatnya
tradisi mamoholi
adalah sebuah bentuk
nyata dari kehidupan
masyarakat Batak
tradisional di bona
pasogit yang saling
bertolong-tolongan
(masiurupan). Seorang
ibu yang baru
melahirkan di
kampung halaman,
mungkin memerlukan
istirahat paling tidak
10 hari sebelum dia
mampu
mempersiapkan
makanannya sendiri.
Dia masih harus
berbaring di dekat
tungku dapur untuk
menghangatkan
badanya dan disegi
lain dia perlu
makanan yang cukup
bergizi untuk
menjamin kelancaran
air susu (ASI) bagi
bayinya.
Untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan
itu, maka saudara-
saudara sekampung
akan secara
bergantian dari hari ke
hari berikutnya
mempersiapkan
makanan bagi si ibu
berupa nasi, lauk
daging ayam atau ikan
(na tinombur), jenis
sayuran yang
dipercaya membantu
menambah produksi
ASI (seperti bangun-
bangun) dan lain-lain.
Selain makanan siap
saji, ada juga keluarga-
keluarga yang
membawa bahan
makanan dalam
bentuk mentah seperti
beras, ayam hidup,
ikan hidup dan yang
lebih mentah lagi
dalam bentuk uang.
Sehingga paling sedikit
untuk dua atau tiga
bulan berikutnya si ibu
yang baru melahirkan
itu tidak perlu
khawatir akan
makanan yang ia
butuhkan untuk
merawat bayinya
sebaik-baiknya sampai
ia kuat untuk
melakukan tugas-
tugas kesehariannya.
Kunjungan pihak
hulahula/tulang untuk
menyatakan sukacita
dan rasa syukur
mereka atas kelahiran
cucu itu adalah
sesuatu yang khusus.
Mungkin mereka akan
datang beberapa hari
setelah kelahiran bayi
itu dalam rombongan
lima atau enam
keluarga yang masing-
masing
mempersiapkan
makanan bawaannya,
sehingga dapat
dibayangkan berapa
banyak makanan yang
tersedia sekaligus.
Untuk menyambut
dan menghormati
kunjungan hulahula itu
maka tuan rumah pun
mengundang seluruh
keluarga
sekampungnya untuk
bersama-sama
menikmati makanan
yang dibawa oleh
rombongan hulahula
itu. Setelah makan
bersama, anggota
rombongan hulahula
akan menyampaikan
kata-kata doa restu
semoga si bayi yang
baru lahir itu sehat-
sehat, cepat besar dan
dikemudian hari juga
diikuti oleh adik-adik
laki-laki maupun
perempuan (band W
Hutagalung, 1963: 245)

No comments:

Post a Comment

Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.