Oleh WILLIAM
MARSDEN
Teritorial Batta
country – Tano Batak
(menurut informasi
yang diperoleh dari
Penduduk Inggris)
terbagi dalam distrik
utama sebagai berikut;
Angkola, Padambola,
Mandiling, Toba,
Selindong, dan
Singkel, dimana
Angkola mempunyai 5
sub-suku, Mandailing
menpunyai 3 sub-
suku, Toba
mempunyai 5 sub-
suku. Berdasarkan
catatan Belanda yang
dipublikasikan dalam
Transaksi Masyarakat
Batavia, yang
terperinci, Batak
dibagi dalam tiga
kerajaan. Satu
diantaranya bernama
Simamora yang
berada di pedalaman
dan terdiri dari
sejumlah
perkampungan,
diantaranya bernama
Batong, Ria, Allas,
Batadera, Kapkap
(daerah penghasil
kemenyan), Batahol,
Kotta Tinggi (tempat
rumah tinggal raja),
dengan dua kawasan
terletak di pantai
timur yang disebut
Suitara-male dan
Jambu-ayer.
Disebutkan bahwa
kerajaan ini
menghasilkan banyak
emas dari
pertambangan di
Batong dan Sunayang.
Bata-salindong juga
terdiri dari banyak
distrik, beberapa
diantaranya penghasil
kemenyan dan distrik
lainnya penghasil mas-
murni. Tempat tinggal
raja adalah di
Salindong. Bata-gopit
terletak dikaki gunung
aktif, yang pernah
meletus, dari situlah
penduduk mengambil
belerang, untuk
kemudian diproduksi
menjadi mesiu senjata
(gunpowder). Kerajaan
kecil yang disebut
Butar terletak di arah
timurlaut sampai
kearah pantai timur,
dimana tempat
tersebut dinamai Pulo
Serony dan Batu Bara
yang banyak
menikmati
perdagangan; juga
Longtong dan Sirigar.
yang berada di muara
sungai yang besar
bernama Assahan.
Butar tidak
menghasilkan
kapurbarus, juga tidak
menghasilkan
kemenyan, dan juga
tidak menghasilkan
emas, dan
penduduknya hidup
dari pertanian.
Rajanya bertempat
tinggal di kota juga
bernama sama, Butar.
BANGUNAN KUNO
Jauh ke pedalaman
sungai di Batu Bara,
yang ujungnya
bermuara ke selat
Malaka, ditemukan
sebuah bangunan
besar terbuat dari
batubata, mengenai
bangunannya
sepertinya bukan
tradisinya dibangun
oleh penduduk
setempat. Dijelaskan
bahwa bentuknya
segi-empat, atau
beberapa bentuk segi
empat, dan di satu
sisinya terdapat pilar
yang sangat tinggi,
mungkin bagi mereka
dirancang untuk
menempatkan
bendera. Bentuk-
bentuk gambar atau
reliefnya berbentuk
gambar manusia yang
dipahat di dinding
temboknya, sepertinya
mirip dewa-dewa
bangsa Cina (mungkin
juga Hindu). Batu
batanya, yang dibawa
ke Tappanuli
berukuran lebih kecil
dari yang umum
digunakan di Inggris.
SINGKEL (SINGKIL)
Sungai Singkel,
merupakan sungai
terbesar di pantai
barat pulau itu, yang
berasal jauh dari
pegunungan Daholi, di
kawasan Achin, dan
panjangnya sekitar 30
mil dari laut yang
mengaliri airnya dari
Sikere, di sebuah
tempat bernama
Pomoko, yang
mengalir sepanjang
Negri Batak. Sehabis
persimpangan ini
sungainya sangat
lebar, dan cukup
dalam untuk dialiri
kapal untuk muatan
berat, tetapi
pangkalnya sangat
dangkal dan
berbahaya, dalamnya
tak lebih dari 6 kaki
(1,8 m) saja pada saat
surut, dan kalau
sedang pasang akan
naik 6 kaki (1,8 m)
juga. Lebarnya pada
daerah ini sekitar ¾
mil. Pada dataran
rendal daerah ini
banyak yang
tergenang air sewaktu
musim hujan, tetapi
ada dua daerah yang
disebutkan oleh
Kapten Forrest tidak
tergenang air yaitu
bernama Rambong
dan Jambong, di dekat
muaranya. Kota utama
terletak sekitar 40 mil
ke hulu sungai di
pencabangan sebelah
utara. Di sebelah
selatan ada sebuah
kota bernama Kiking,
dimana ramai
perdagangan
dilakukan oleh orang
Malays (orang
Melayu) dan Achinese
(orang Aceh) di
daerah yang dulunya
gunung Samponan
atau gunung Papa
menghasilkan banyak
kemenyan daripada di
Daholi. Disebutkan
dalam sebuah catatan
Belanda bahwa
selama 3 hari
pelayaran lebih kehulu
Singkil maka anda
akan menemukan
danau yang sangat
besar, yang luasannya
belum diketahui.
Barus, tempat
berikutnya yang
berada dibagian
selatan, sudah sangat
terkenal di negri timur
yang disebut kapur-
barus atau kamfer,
bahkan yang diimport
dari Jepang atau Cina
disebut juga namanya
kapur-barus. Inilah
kawasan paling
terpencil dimana
Belanda sudah lama
membangun
pabriknya sebelum
kemudian
meninggalkannya.
Mirip seperti
pemerintahan Melayu
yang diperintah oleh
seorang raja, seorang
bandhara, dan
delapan orang
pangulus, dan dengan
kekhususan ini, bahwa
raja-raja dan para
bendahara dapat silih
berganti harus dari
kalangan keluarga
utama yang disebut
Dulu dan D ’illir.
Daerah kekuasaan
dulunya dikatakan
sampai ke Natal.
Kotanya bertempat
kira-kira 1 league (3
mil) dari tepi pantai
dan 2 league (6 mil)
ke daratan terdapat 8
perkampungan yang
semuanya dihuni oleh
orang Batak, sebagai
penduduk yang
membeli kapur barus
dan kemenyan dari
orang-orang di
pegunungan Diri, yang
memanjang dari
Singkil di selatan
sampai dataran tinggi
Lasa, di dekat Barus,
dimana daerah ini
sudah ada di distrik
Toba.
TAPPANULI
(TAPANULI)
Teluk Tappanuli yang
ramai membentang ke
pusat Tanah Batak,
dan pantainya
dimana-mana telah
dihuni oleh manusia,
berdagang barter
untuk setiap
keperluannya dari
luar, tetapi mereka
tidak melakukan
sendiri pelayarannya
ke laut. Kawasan yang
dapat dilayari ini
merupakan kekayaan
alam teluk yang
sangat
menguntungkan
dibanding kawasan
lain di seantero bumi,
sehingga semua pelaut
dari seluruh dunia
dapat mengunjunginya
dengan sangat aman
disetiap musim, bahwa
cukup sulit untuk
melepas jangkar
karena ramainya
sehingga kapal-kapal
besarpun tersembunyi
dan sulit terlihat dan
sulit dicari bila tidak
dengan cermat
melihatnya. Di pulau
Punchong kechil,
dimana kami tinggal,
menjadi memudahkan
untuk menambat
kapal pada pohon
yang tumbuh di
pantai. Balok kayu
untuk tiang kapal dan
balok layar dapat
dibeli di banyak
tempat di pinggiran
pantai dengan fasilitas
yang sangat baik.
Keadaannya kurang
menyenangkan dalam
hal jalur umum untuk
hubungan perkapalan
timbal balik, dan
jaraknya yang jauh
dari basis utama kita
di India sebagai
pertimbangannya,
masih belum banyak
dimanfaatkan untuk
angkatan laut besar;
tetapi pada saat yang
bersamaan
pemerintahan kita
harus berhatihati
terhadap bahaya yang
mungkin muncul dari
kekuatan angkatan
laut lain yang akan
tersinggung bila
menguasai kawasan
ini. Pribumi umumnya
tidak bersifat
menyerang, dan hanya
memberikan sedikit
gangguan terhadap
pendudukan kita;
tetapi kelompok
pedagang orang Aceh
(tanpa persetujuan
atau pemberitahuan,
karena ada alasan
yang dapat diyakini,
akan muncul dari
pemerintahan
mereka), cemburu
atas penguasaan
dagang kita, mereka
akan melakukan
perjuangan yang
panjang untuk
mengusir kita dari
teluk itu dengan
pemaksaan bersenjata,
dan kita ada dalam
keadaan siap dengan
senjata perang yang
baik yang cukup untuk
tahunan demi
mengamankan
penguasaan secara
perlahan dan halus. Di
tahun 1760 Tappanuli
dikuasai oleh
skwadron kapal
Prancis dibawah
perintah Comte
d ’Esting; dan di bulan
Okrober 1809,
menjadi hampir tanpa
pertahanan, namun
kemudian dikuasai
oleh Creole French
Frigate, oleh Kapten
Ripaud, yang
kemudian bergabung
dengan kapal perang
Venus dan kapal
perang La Manche,
dibawah komando
Commodore Hemelin.
Dengan syarat-syarat
untuk menyerah,
harta pribadi harus
diamankan, tetapi
dalam beberapa hari,
setelah jaminan yang
sangat bersahabat
diberikan kepada
residen yang sedang
menjabat, ditempat
mana tentara Prancis
juga tinggal,
kesepakatan ini
dilanggar paksa atas
kepura-puraan sakit
sehingga sejumlah
emas telah
disembunyikan, dan
semua yang dimiliki
oleh orang-orang
Inggris, termasuk milik
pribumi yang menjadi
sahabat, dirampas dan
dibakar, secara kejam
dalam kebrutalan
yang biadab. Rumah
taman milik pimpinan
(Mr. Prince, yang
pernah menjabat
Tappanuli) di Batu-
buru seluruhnya
dibakar, termasuk
kuda-kudanya, dan
ternaknya ditembak
dan dicederai. Bahkan
buku catatan, berisi
catatan-catatan
hutang dalam
perdagangan di
tempat itu, termasuk
perjanjian,
dihancurkan sehingga
samasekali tak
terpakai lagi tetapi
musuh menjadi tidak
mendapat keuntungan
dari catatan itu, tetap
terjaga oleh para
penderita yang
malang. Tidak dapat
dibayangkan bahwa
pemerintahan dari
sebuah kerajaan yang
besar dan agung
memberikan
hukumannya dengan
cara tak terhormat
dalam sebuah perang.
Di dalam Perjanjian
Taktertulis
(Philosophical
Transaction) selama
tahun 1778 adalah
sejarah singkat bagi
Tanah Batak dan
perilaku
penduduknya,
dikemukakan dari
surat pribadi Mr.
Charles Miller,
seorang ahli tumbuh-
tumbuhan
Perusahaan, dimana
pengamatannya yang
saya miliki telah
mengulangi kejadian
untuk dikenang. Saya
sekarang ini harus
mengatakannya
kepada pembaca
pokok-pokok dari
sebuah laporan yang
dibuat olehnya dalam
sebuah perjalanan
yang dilakukan
bersama-sama Mr.
Giles Holloway, yang
kemudian menjadi
Residen Tappanuli,
sampai ke pedalaman
Tanah Batak yanag
sedang kita bicarakan
ini, dengan sebuah
pandangan untuk
mendalami hasilnya,
khususnya kayu-manis
(cassia), yang pada
saat itu dianggap un
tuk membuktikan
bahan perdagangan
yang layak untuk
diberi perhatian.
No comments:
Post a Comment
Jika mau memberi tanggapan/komentar, di mohon dengan tulisan dan bahasa yang sopan dengan identitas yang jelas, jika identitas tidak jelas tidak akan ditanggapi.